
Air mataku membasahi wajahku, dengan mata berair aku fokus ke jalan raya, sambil membawa mobil.
Drttt.....
Aku mendengar ponselku berdering, sekilas aku melihat nama Arkan, saat aku melirik ponselku.
Aku menghela nafas, lalu menarik nafas panjang, kemudian memilih mengabaikan telpon Arkan.
Aku benar - benar kesal dan bete dengan Arkan, bahkan sogokan es cream pun, tak akan mempan padaku.
Drrrttt.....
Saat ponselku kembali berdering, secara reflek aku menghentikan mobilku, lalu melirik ponselku.
Saat aku melihat layar ponselku, ku lihat nama ibu di layar ponselku, tak menunggu lama aku pun menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Bu!" sapa ku.
{ Dara! }
"Ya?" tanyaku.
{ Nanti malam, kamu sama Arkan ada acara, nggak }
Saat itu aku curiga ada apa, tak biasanya ibu menanyakan hal itu.
"Nggak deh kayaknya, kenapa emangnya, Ma?!"
"Kamu dan Arkan bisa, datang?" tanya Ibu.
Sungguh aku tak mengerti kenapa tiba - tiba itu menanyakan hal itu, dan meminta kami menemui mereka, apa ada yang ingin di bicarakan?
"Memangnya ada apa, ibu?!" tanyaku.
Sungguh rasa penasaranku, tak bisa mengalahkan apapun juga, bahkan mungkin aku tak berhenti bertanya sampai aku mendapat jawaban.
"Nanti juga kamu tau," aku paling sebal dengan yang namanya rahasia.
Rasanya sudah cukup dengan yang namanya rahasia, dan tak mau lagi mendengar rahasia apapun.
"Pokoknya kamu datang aja, ya," pinta Ibu.
"Nanti ibu share lock, ok."
Tanpa menunggu jawaban dariku, ibu mematikan ponselnya, saat aku ingin menelponnya kembali, nomor ibu tiba - tiba tiba tidak aktif.
Tak lama kemudian ibu mengirimkan share lock, hhh...aku benar - benar tidak mengerti apa yang terjadi.
Aku melanjutkan perjalananku, untuk pulang ke rumah, mau tak mau aku dan Arkan harus datang ke tempat itu.
****
Aku yang sudah sampai di rumah, hanya tinggal menunggu ke pulangan pulang, meski aku yakin kali ini Arkan pasti pulang larut malam seperti kemarin.
Beberapa menit kemudian....
Mendengar suara pintu, aku yang di kamar langsung turun, dan melihat siapa yang datang.
Ternyata Arkan yang pulang, ini suatu kejutan bagiku, aku pikir Arkan akan pulang malam lagi kali ini.
__ADS_1
***
Arkan yang menyadari keberadaanku, menoleh ke arahku, dan berjalan ke arahku, sampai akhirnya dia berada di hadapan aku saat ini.
"Kamu belum siap - siap?" tanya Arkan.
Aku menatap bingung Arkan, apa itu artinya Arkan sudah tau soal ibu yang meminta aku dan Arkan datang?
Ah...iya pasti ibu yang menelpon Arkan, makanya Arkan tau, dan menanyakan hal itu.
"Ibu menelpon, kamu?!" tanyaku memastikan.
"Iya," jawab Arkan, dengan nada santai.
Sesuai dugaan, ibu yang menelponnya, sebenarnya aoa yang sedang di rencanakan ibu, sampai kami berdua harus datang.
"Yaudah aku, siap - siap dulu," ujarku, lalu meninggalkan Arkan ke kamar.
****
Beberapa menit kemudian....
Perlahan aku menuruni anak tangga, Arkan yang menyadari keberadaanku, karena mendengar suara sapatuku yang menggema di ruangan itu.
Arkan melihat ku, dan memperhatikanku dari atas dan bawah.
Aku yang memakai dress berwarna merah, dan saat di perhatikan oleh Arkan, ada rasa tak percaya diri dalam diriku.
"Cantik." puji Arkan, membuatku tersipu malu, aku bisa merasakan wajahku memerah saking malunya.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Arkan, tanpa lama - lama aku menganggukkan kepalaku.
Arkan meletakkan tanganku, ke lengannya, membuat aku merangkul lengannya.
Hari itu rasanya kami berdua seperti pasangan yang baru menikah, berjalan gandengan tangan, dengan raut wajah yang bahagia, padahal tadi kami berdua sedang marahan.
Ajaib memang, atau mungkin aneh, tapi begitulah, semuanya mengalir begitu saja, bahkan kalau sedang marahan saja bisa lupa.
***
Beberapa jam kemudian, kami berdua tiba di tempat yang ibu share lock, tapi tak ada apapun disana.
"Arkan!" seruku, sambil melihat ke Arkan yang berada di sampingku.
"Kita dimana?" tanyaku, dengan rasa mulai takut.
"Ini benar tempatnya, kan?" tanyaku lagi.
Aku masih sesekali melihat sekitarku, tempat itu gelap, dan seperti di hutan, aku tak mengerti kenapa mama memintaku untuk datang kesini.
"Turun, yuk," ajak Arkan.
Sontak aku menoleh ke Arkan, dengan mata melotot.
"Hah?! turun?!" tanyaku.
"Kamu liat ini dimana?" tanyaku.
"Kita aja nggak tau, ini dimana Arkan?!"
__ADS_1
Aku menggenggam erat seatblet yang masih terpasang di tubuhku.
"Yaudah, kamu sendiri kalo gitu," Arkan turun dari mobil setelah melepas seatbletnya.
"Hah?! masa dia tega ninggalin istrinya yang lagi hamil, sih?!" mau tak mau aku ikut turun.
Aku mengikuti Arkan meski agak kesulitan, tapi Arkan membantuku berjalan.
Sungguh aku ingin segera ingin pergi dari tempat itu, tempat itu gelap dan menakutkan.
"Sekarang tutup mata, kamu," pinta Arkan.
"Hah?!" aku tesentak kaget, sekaligus menatap heran Arkan.
"Ayo tutup," mau tak mau aku menutup mataku, lalu tak lama kemudian Arkan memintaku membuka mata.
Dan saat aku membuka mata, aku dikejutkan dengan kejutan yang sempurna.
Aku sungguh tak bisa berkata - kata, aku kehilangan kata - kata malam itu.
"Happy Birthday!" tiba - tiba seruan ucapan selamat ulang tahun, mengalih kan pandanganku, yang mengagumi keindahan yang baru saja aku lihat.
Aku tak percaya saat melihat semua orang berkumpul di tempat yang sama, dan beberapa banyak orang lainnya.
Semua keluarga dan sahabat semua berkumpul, dan itu membuat aku menjadi terharu.
Shane dan Vivia berjalan ke arahku, dengan kue ulang tahun, dan kue itu di pegang oleh Shane.
"Selamat ulang tahun, kesayangan!" wajahnya begitu sumringa, sambil menyodorkan kue di hadapanku.
"Ingat make waish dulu," aku memejamkan mata, dan mengucapkan make waish di dalam hati.
Aku berharap aku selalu bahagia bersama keluarga dan sahabat - sahabatku, dan aku berharap selalu bersama dengan mereka sampai kapanpun juga.
"Selamat ulang tahun, sayang!" Aku teharu saat Arkan berlutut sambil menyodorkan bunga di hadapanku, tanpa menunggu lama
Aku mengambil bunga itu, lalu memeluk Arkan dengan hangat.
Sungguh aku tak bisa menahan air mata ku, tapi ini bukan air mata kesedihan, tapi ini air mata bahagia.
Aku bahagia dengan apa yang Arkan lakukan untukku, aku bahagia dengan Arkan, dari perhatian, dan segala hal tentang Arkan.
Aku harus bersyukur karena di karuniai suami, sahabat dan keluarga seperti mereka.
Mereka hanya tersenyum bahagia, menyaksikan, aku dan Arkan yang larut dalam pelukkan kami berdua.
Tak lama kemudian kami melepas pelukan kami berdua, dan sekarang giliran mereka yang aku peluk.
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Hai...
gimana part kali ini
semoga suka ya
Kalau ada masukkan atau pertanyaan, silakan komen di bawah.
__ADS_1
jangan lupa like and komen, vote and review.