Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Kejutan Untuk Keluarga


__ADS_3

"Kamu udah kasih tau, yang lain?"


Aku terdiam sesaat, Aku lupa untuk memberitahu, Ayah, ibu, Mama dan juga Papa.


Aku yakin mereka akan sangat bahagia, dan Aku berencana membuat kejutan untuk mereka.


"Besok aja, ya,"


"Aku mau buat kejutan untuk mereka."


"Yaudah, terserah kamu, kalau gitu."


"Hehe..."


****


besok harinya....


Ketika melihatku yang sedang memasak untuk sarapan, Arkan memelukku dari belakang, dan mengambil alih pekerjaanku.


"Arkan!"


Arkan menahan kedua pundakku, kemudian menatapku.


"Aku akan Aku akan pekerjakan seseorang, untuk mengurus rumah,"


"Hah?!"


"Untuk sekarang kita makan roti dan selai aja, ya,"


"Sampai aku dapat orangnya."


"Kamu yakin?"


Tanpa berpikir panjang Arkan menganggukkan kepalanya.


Aku merasa Aku tidak memerlukan Asisten rumah tangga, tapi mengingat sepertinya Arkan khawatir denganku, apa sebaiknya aku menurutinya?


Mungkin ada baiknya menuruti apa mau Arkan, dan tak ada salahnya mempunyai asisten rumah tangga.


"Kamu jadi memberitahu keluarga kita?"


"Atau perlu aku aja?"


"Nggak usah, biar aku aja."


"Terus rencana kamu, apa sekarang?"


"Nanti malam, aku ingin mengajak keluarga kita makan malam,"


"Ide bagus."


"Aku pasti dukung kamu, sayang."


"Aku tau, makasih sayang."


"Tapi kamu nggak, ngatorkan hari ini?"


"Kenapa emang?"


"Kamu nggak boleh, ngantor,"


"Loh, kok."


Aku senang Arkan peduli, khawatir, dan begitu memperhatikanku, tapi untuk urusan bekerja, tak yakin.


"Kamu lagi hamil muda sayang..."


"Tapi, aku masih bisa kok."


"Dar..."


"Please...biarin aku kerja, ya..."


Aku harap Arkan mau mengerti dan membiarkanku tetap bekerja.


Aku berusaha membujuk Arkan, tapi sepertinya akan sulit membujuk Arkan.


"Kamu yakin?"


"Apa kamu nanti, nggak kelelahan jadinya?"


Meskipun rasa khawatir Arkan di batas wajar, tapi apakah ini tidak terlalu berlebihan?


"Aku masih bisa, kok."


"Tapi...."


Sudah Aku duga ini nggak Akan mudah, Aku menjinjikan kakiku sedikit, lalu mencium pipi Arkan, dan semoga dengan begitu Arkan menjadi luluh.


"Kamu curang,"


"Loh, kok."


"Kalo kayak gini, gimana aku bisa nolak,"


"hehe..."


Arkan mengelus rambutku, lalu mencium pucuk kepalaku, setelah itu mengelus pipiku.


"Kamu jaga kesehatan, dan jaga anak kita, ya."

__ADS_1


"Iya..."


"Percaya sama, aku,"


"Aku percaya kok, sama istri aku ini."


Arkan mendekap Aku kedalam pelukannya, setelah melepaskan pelukannya, Arkan kembali menempel kan telinganya keperutku.


"Sayang...kamu yang kuat disana, ya,"


"Jangan nakal, sama mama."


"Jaga kesehatan juga, ya."


"Iya, papa...."


Arkan lasung menghentikan kegiatan nya, setelah mendengar Aku menggoda nya.


Entah kenapa ekspresi malu - malu Arkan begitu menggemaskan, membuat Kau ingin kembali menggodanya.


"Kamu senang ya, hmm..."


"Hehe..."


***


Kami menghentikan canda tawa kami, dan menghabiskan sarapan kami, sebelum berangkat ke kantor.


melihat ekspresi Arkan yang terlihat bahagia, Aku jadi tak sabar melihat ekspresi Ayah, Ibu, Mama dan juga Papa.


Pasti mereka yang paling bahagia setelah mendengar hal ini, di banding siapapun.


***


Beberapa menit kemudian...


Kami berdua menyelesaikan sarapan, kemudian berangkat ke kantor.


Benar - benar hari yang sibuk, belum lagi macet di jalan, untungnya jalan hari ini sedang lancar, karena seharusnya ini sudah jam berangkat ke tempat kerja ataupun sekolah.


***


beberapa menit kemudian....


Aku tiba di kantorku, sambil menyandarkan kepalaku di kursi, sambil memandang lurus ke depan.


Aku ingat haru mengundang Keluarga, untuk makan malam, lalu aku mengirim pesan Agar mereka datang pas jam makan malam.


Setelah mengirim pesan, aku kembali ke pekerjaanku, yah...pekerjaan memang tidak pernah selesai kan?


***


Beberapa jam kemudian.


Aku langsung merapikan meja kerjaku, lalu bergegas pulang.


***


Masih ada waktu sebelum mereka datang, bahkan akh masih sempat untuk mandi.


Setelah selesai memasak, Aku terbebas membersihkan diriku.


***


ting tong....


tepat saat Aku baru selesai dengan ritual mandi ku, Aku mendengar bell rumahku berbunyi.


Aku bergegas turun, dan membukakan pintu, untuk orang yang datang.


Saat Aku membuka pintu, Aku melihat Arkan, dan seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintu.


"Sayang..."


"Ini ART kita,"


"Mulai sekarang aku nggak amu lihat kamu, ngurus rumah lagi, ya."


"Ta...tapi,"


"Nggak ada tapi, kan tadi kita udah sepakat."


"Bik!"


"Kenalkan, ini istri saya, Adara!"


"Wah...istri aden, cantik ya,"


"Makasih, bik!"


"Sama - sama, non!"


"Yaudah masuk,"


Aku mempersilakan Arkan dan bibik masuk ke dalam, dan bibik pergi ke tempatnya.


***


Tak lama kemudian....


"Non!"

__ADS_1


"Aden!"


"Ada tamu!"


"Siapa, bik?!"


"Itu pasti mereka,"


"Yaudah kita temui."


Aku dan Arkan keluar dari kamar, karena sebelumnya membantu Arkan mempersiapkan dirinya.


"Aya! Ibu!"


Aku berhambur memeluk Ayah dan ibu, dan mereka membalas memelukku.


"Gimana kabar kamu, sayang?"


"Baik, Bu!"


Aku melepas pelukkanku lalu melihat ke Papa dan Mama.


Aku menghampiri mereka, lalu berhambur memeluk mereka.


"Duh...anak kesayangan Mama...makin cantik, ya,"


"Mama!"


"Hahaha.."


Mereka tertawa ketika melihatku tersipu malu, tanpa aku sadari aku ikut tertawa.


Bibik menghampiri kami, seraya membungkuk hormat.


"Non, semua sudah siap,"


"Terimakasih, bik!"


Bibik membungkuk memberi hormat, lalu meninggalkan kami, yang masih di ruang tamu.


"Loh, tumben kamu pakai tenaga ART,"


"Hehe..."


"Yaudah yuk."


Arkan langsung membawa kami ke ruang makan, terlihat hidangan yang sebelumnya aku masak, sudah tersaji di meja makan.


Mereka duduk di tempat mereka masing masing, lalu menatap heran makanan di depan mereka.


"Kami masih tidak mengerti dalam rangka apa, kamu mengadakan ini semua,"


"Kita makan dulu ya, Pa!"


"Nanti Adara kasih tau, semuanya."


"Baiklah."


Mereka mulai memakan makan malam mereka, dan sekekali menatap bingung ke arahku.


Aku yakin mereka sedang menahan rasa penasaran mereka dengan mati matian.


Sebaiknya aku tak membuat mereka menunggu, atau mereka nanti akan kesal denganku.


***


Mereka meletakkan sendok makan mereka, saat mereka sudah selesai dengan makan malam mereka.


Saat aku melihat cara mereka menatap ku, aku yakin mereka ingin mengetahui nya saat itu juga.


"Sekarang katakan, ada apa?"


Aku menarik nafas dalam - dalam, lalu menatap wajah mereka satu persatu.


Entah kenapa mereka menjadi tegang, bahkan aku belum mengatakan apapun.


"Jadi...ada yang ingin kami sampaikan,"


Mereka memasang telinga mereka, lalu mendengarkanku dengan seksama.


"Aku...hamil,"


Mereka seperti terkejut saat dengan apa yang baru saja aku sampaikan, namun langsung berubah dengan raut wajah bahagia.


Ibu memelukku sontak hal tersebut membuatku terkejut, dan membuat aku bingung harus melakukan apa.


Aku merasakan basah di pundakku, saat itu aku menyadari kalau, ibuku menangis....


🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼


Hai.....


Gimana ceritanya?


semoga suka, ya


dan nggak membosani kalian


Kalau ada masukkan atau pertanyaan silakan comen di bawah.


Jangan lupa like and comen, vote and reviewnya juga ya

__ADS_1


See you next part


#salammanisdariauthor


__ADS_2