Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Pisah?


__ADS_3

Adara berpikir sekeras mungkin, bagaimana caranya agar bisa terbebas dengan Arkan.


Akhirnya dia memutuskan


"Emang lo siapa, ngalangin gue?" tanya Adara menantang Arkan.


Arkan menaikkan sebelah alis, dan Arkan berjalan mendekat ke Adara.


Reflek Adara berjalan mundur, seraya menatap bingung Arkan.


"Lo serius nanya gitu?" tanya Arkan dengan senyum jahilnya seraya terus maju.


Karena Arkan terus maju, membuat Adara tersudut di dinding.


"Eh?!" gadis itu tersentak kaget.


Dalam sekedip mata Arkan mengunci Adara, dan wajah mereka saling berdekatan.


"Deket, banget!' batin Adara.


"Coba ulang, pertanyaan lo, tadi." perintah Arkan.


Karena detak jantungnya yang tak karuan, saat di dekat Arkan, membuat dia kesulitan mengendalikan diri.


"Kenapa jatung gue jadi debar kayak gini, ya?' batin Adara.


"Nggak, nggak boleh.' batin Adara.


"Gue, nggak boleh nyimpan perasaan ke, Arkan.' batin Adara.


"Dia itu cintanya sama, Maura.' batin Adara.


Adara pun mendorong Arkan, menjauh darinya, meskipun sulit, pada akhirnya dia berhasil membuat Arkan mejauh darinya.


"Gue, nggak banyak waktu." kata gadis itu.


Gadis itu langsung menuju pintu apartement Arkan untuk keluar, dengan sigap Arkan menghalangi pintu apartementnya, agar Adara tak bisa pulang.


"Lo, maunya apa, sih?!" emosi gadis itu.


"Kenapa lo, menghalangi gue?" tanya Adara.


"Dar, gue cuma mau, tau di mana apartement, lo." jawab Arkan.


"Buat apa?" tanya Adara.


"Supaya lo, bisa ngasih tau Mama dan Papa?" tanya Adara menyudutkan Arkan.


"Supaya mereka tau, kalo kita pisah rumah?" tanya Adara.


"Dar, emangnya gue nggak perlu tau dimana lo tinggal?" tanya Arkan.


"Dan keputusan lo ini, tanpa diskusi dulu sama gue, gimana orang tua kita?" tanya Arkan.


"Kalo misalnya mereka tau, kita pisah rumah." lanjutnya.


"gue, mau jelasin gimana?" tanya Arkan.


"Terus mau lo, apa?" tanya Adara.


Entah kenapa suasan disana menjadi jadi tidak enak, persetruan suami istri itu, membuat suasana disana menjadi dingin.


"Lo, mau kita tinggal satu rumah?" tanya Arkan.


"Aku, nggak bisa." ucap Adara.


"Kenapa?" tanya Arkan.


"Lo, itu istri, gue." tanpa Arkan sadari, lagi - lagi Arkan menyebut Adara sebagai istrinya.


"Istri. ya?" tanya Adara.

__ADS_1


"Kalau gue, minta pisah dari lo, gimana?" tanya Adara lagi.


Arkan tersentak kaget mendengar pertanyaan Adara, dia tak menyangka, Adara akan mengatakan hal tersebut.


"Lo, ngomong apaan, sih?!" tanya Arkan, Arkan terlihat tak senang mendengar ucapan Adara barusan.


"Kenapa?" tanya Adara.


"Bukannya bagus, ya." lanjutnya.


" lo, jadi bisah sama - sama terus, sama, Maura." sindir Adara.


"Maura?" tanya Arkan.


Arkan sedikit terkejut, karena tiba - tiba menyangkut pautkan masalah ini dengan Maura.


Dan Arkan tak mengerti mengapa Adara, sampai membawa - bawa Maura, ke dalam rumah tangga mereka.


"Bentar, kenapa lo, bawa - bawa, Maura?" tanya Arkan.


"Apa, hubungannya masalah ini sama, Maura?" tanya Arkan.


Adara terdiam, dia tak menjawab sama sekali pertanyaan Arkan.


Tanpa Adara jelaskan, seharusnya Arkan sudah tau, bahwa dia tidak suka dengan kehadiran Maura, kedalam rumah tangga mereka.


Setelah apa yang terjadi selama di paris, membuat Adara benar - benar tidak menyukai Maura.


"Udahlah, lupain." ucap Adara.


Adara mulia tampak malas, berdebat dengan Arkan.


"Dar!" seru Arkan, seraya menahan lengan Adara.


Gadis itu melepaskan tangan Arkan dengan perlahan, dan kemudian menatap mata Arkan dengan mata yang mulai berair.


"Lo, tau nggak, sih," kata Adara.


Arkan menaikkan sebelah alisnya, seraya menunggu Adara menyelesaikan kalimatnya.


Arkan hanya diam, dan mencoba mencerna maksud dari ucapan Adara.


Meski mencoba, Arkan tetap kesulitan untuk mencerna maksud dari ucapan Adara.


Arkan memijat keningnya, karena kepalanya tiba - tiba pusing.


Arkan pun berbaring di tempat tidurnya, tak beberapa lama Arkan pun tertidur.


****


09 : 00


Besok paginya, di Caffe of the year.


"What?!" seru Shane dan Aqilla bersamaan.


"Lo, serius ngomong gitu?" tanya Shane.


Adara hanya mengangguk kan kepalanya.


"Lo, serius mau pisah?" tanya Aqilla.


Lagi - lagi Adara hanya mengangguk.


"Dar, coba Lo pikirin lagi, deh." pinta Shane.


"Iya, Dar!" sahut Aqilla.


"Lo, pikir - pikir lagi, ya." Aqilla ikut membujuk Adara.


Adara hanya diam, tak menjawab ucapan mereka.

__ADS_1


"Dar!" panggil Shane dengan lembut.


"Gue, nggak tau." ucap Adara.


"Dar..." Aqilla tak tau harus berkata apa.


Dia melihat masalah sahabatnya itu tampak berat bagi sahabatnya itu.


Tapi, dia tak tau harus apa, untuk menyelesaikan masalah sahabatnya itu.


"Menurut kalian, pernikahan kayak gini, perlu di pertahanin nggak, sih?!" tanya Adara dengan nada tegas.


Mereka bingung harus menjawab apa, bisa - bisa hal itu akan berakibat buruk pada sahabatnya nanti.


"Dar, lo bicarain lagi ya, sama suami lo, Arkan." bujuk Aqilla


"Iya Dar, lo bicarin lagi baik - baik sama dia, ya." sambung Shane.


"Menurut gue, nggak ada yang perlu di bicarain." sahut Adara.


Ini lah yang paling mereka tak suka, sifat keras kepala Adara, paling susah untuk di rubah.


Kalau Adara sudah keras kepala dan sudah mengambil keputusan, sulit sekali untuk mengambil untuk di rubah.


Adara paling tidak bisa di bujuk, dan paling tidak bisa di ajak bicara kalau sudah keras kepala.


Satu - satunya cara adalah dengan mempertemukan mereka, tapi bagaimana ?


Ting.


Tiba - tiba sebuah notif masuk di ponsel Adara.


Dengan malas Adara meraih ponselnya, dan membaca notif pesan yang masuk itu.


"***Room chat"


[ Dar, kita harus bicara***]


Adara memutar bola mata malas, kemudian mulai mengetikan sesuatu untuk membalas pesan Arkan.


[ nggak ada yang perlu di bicarain ]


Adara meletakkan ponselnya, kemudian meminum - minumannya.


Shane dan Aqilla hanya memperhatikan gerak - gerik Adara.


[ kamu serius soal pisah ]


Saat hendak mengetikan sesuatu, entah kenapa jari adara tampak berat untuk mengetik.


Setiap Adara mengetik sesuatu, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, dan membuatnya menghapus apa yang sudah dia ketik


Hal tersebut berulang - ulang, dan membuatnya mengurungkan niat untuk membalas pesan Arkan.


"Kenapa, Dar?" tanya Aqilla.


"Nggak papa." ucap Adara.


Shane dan Aqilla hanya menghela nafas, dan memutuskan untuk meminum minuman mereka.


****


Setelah pertemuanya dengan sahabatnya, Adara kembali dari apartementnya.


Saat masuk ke dalam, Adara di buat terkejut dengan kedatangan Arkan di apartementnya.


Entah Arkan masuk dari mana, yang jelas, Arkan sekarang sudah berada di dalam apartementnya.


Dengan duduk santai di sofanya, sambil membaca majalah di meja tamu, dengan secangkir minuman, yang sudah siap di minum di meja tamu.


Adara menatap Arkan, seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Jangan lupa like and comen, dan kasih reveiwnya juga ya.


__ADS_2