Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Rencana pernikahan untuk Shane dan Dion


__ADS_3

Dion hanya menggelengkan kepala melihat kedua sahabatnya itu, seakan Dion sudah terbiasa melihat tingkah kedua sahabatnya itu.


"Udah ... ini gimana?" tanya Dion.


"kalian bukannya bantu, malah ribut jadinya," keluh Dion.


Dean dan Arkan menggaruk tengguknya. lalu keduanya saling melirik satu sama lain.


"Jadi gimana?" tanya Dion.


"Arkan ... kasih saran kek, kamu kan udah merid masa nggak bisa ngasih saran," sindir Dean.


Arkan memutar bola mata malas, kemudian tampak memikirkan sesuatu.


"Yaudah ... nanti aku pikirin, nanti aku kasih kabar, kalo udah dapat ide." ucap Arkan.


Dion menarik nafas lega, tak lama Arkan berdiri dari tempatnya.


"Sekarang kalian keluar, masih banyak kerjaan yang harus di selesaikan," pinta Arkan.


"Kamu ngusir kita?" tanya Dion dengan tatapan tajam.


"Kalau nggak pergi, aku tambahin kerjaan kalian, mau?" ancam Arkan.


"Iya ... iya, susah ya ... kalau berhadapan sama bos, ancamannya kerjaan," sindir Dean.


Dion hanya tertawa mendengar sindiran Dean, sedangkan Arkan bersikap acyh tak acuh.


Mereka berdua pun keluar dari ruangan Arkan. sedangkan Arkan kembali ke pekerjaannya.


***


Aku hanya terkekeh mendengar, Shane mengatakan tentang acara pernikahan impiannya.


Shane tampak begitu antusia dan bahagia saat mengatakan itu semua.


"Aku tak pernah melihat Shane ... seperti ini sebelumnya,' batinku sambil tersenyum di depan Shane.


"Semoga Dion ... memang orang yang tepat untuk, Shane!' batinku.


Tiba - tiba Bibik masuk membawa nampan berisi minuman, lalu memberikannya kepada kami berdua, setelah selesai bibik kembali ke dapur.


Shane sambil meminum - minumannya. memperhatikan sekitar.


"Kamu ganti konsep rumah kamu, ya?" tanya.


"Hah? nggak kok," jawabku.


"Sebenarnya rumah ini nggak ada konsep, cuma dekorasinya aja yang berubah," jelasku.


"Oh ... " ucap Shane seraya mengangguk faham.


***


Setelah lama mengobrol, Shane berpamitan pulang denganku, tak lama setelah Shane pulang, aku melihat mobil Arkan datang.


"Hai, sayang!" sapa Arkan begitu keluar dari mobil.


"Arkan?!"


"Kamu kok, udah pulang?" tanyaku bingung.


"Ada yang ketinggalan?" tanyaku.


Arkan hanya tersenyum, melihatku dalam kebingungan.


"Nggak ada kok, aku kesini karena aku ingin ketemu kamu," ujar Arkan.


"Apa sih ... tiap hari juga ketemu," sindirku.

__ADS_1


"Oh ... jadi kamu nggak seneng ketemu aku ... ok," Arkan berbalik, entah kenapa aku reflek mencium pipi Arkan.


"Udah ... nggak usah kayak gitu," aku meninggalkan Arkan yang mematung masuk ke dalam rumah. tak lama Arkan menyusulku ke dalam.


"Katanya temen kamu ... sama temen aku ... Dion!"


"Mereka mau, nikah?" tanya Arkan.


"Eh? kamu tau?" tanyaku seraya menoleh ke Arkan.


"Iya sih ... nggak mungkin juga kamu nggak tau," ujarku seraya mengangguk faham.


"Terus menurut kamu ... gimana?" tanya Arkan.


"Tadi Dion ... dia juga minta pendapat aku ... tapi aku nggak tau harus gimana," Jelas Arkan.


"Kok sama, Shane juga tadi minta pendapat aku ... terus gimana?" tanyaku balik.


"Sayang ... kok kamu tanya balik aku ... sih, aku pikir aku udah mikirin," ujar Arkan.


"Aku ... belum kepikiran apa-apa, sih." ucapku.


Arkan menghela nafas, kemudian menepuk pundakku.


"Yaudah ... nanti kita pikirin lagi." kata Arkan.


"Oh ya ... kamu udah makan?" tanya Arkan.


"Belum, karena kamu udah disini, gimana kita makan?" tawarku.


"Yaudah ... kita mau makan dimana?" tanya Arkan.


"Disini aja, bibik udah masak kok," jawabku.


"Yaudah ... yuk." Arkan merangkulku sampai ke dapur.


Arkan menatap diriku, yang makan dengan tatapan kosong, lalu melihat itu Arkan menegurku.


"Adara!" seru Arkan sambil menggegam tanganku.


"Eh? ya?" tanyaku setengah sadar.


"Kamu ngelamun? kamu itu lagi hamil jangan banyak ngelamun, mengerti?" tanya Arkan dengan nada penuh penekanan.


"Iya ... tadi lagi ada yang aku pikirin aja, kok." jelasku.


"Mikirin soal apa, emangnya?" tanya Arkan.


"Soal, Maura!" ekpresi Arkan langsung berubah menjadi murung, lalu menyingkirkan makanannya.


"Kamu kenapa masih mikirin, Maura?" tanya Arkan.


"Arkan ... "


"Sayang ... hidup kita udah tenang tanpa dia, kamu nggak usah mikirin dia, ya," pinta Arkan dengan wajah memelas.


"Tapi ... "


"Tapi, apa?" tanya Arkan dengan nada tegas.


"Arkan ... "


"Udah ... kita nggak usah bahas dia, ya," pinta Arkan.


"Kamu habisin aja makanan kamu, bisa?" dengan perasaan yang bercampur aduk, aku buru - buru menghabiskan makananku, lalu bergegas pergi keluar dapur, lalu kembali ke kamar.


Saat aku sudah kembali ke kamar, aku duduk di pinggir tempat tidur, aku melihat Arkan mengintip di baling pintu kamar.


"Biar bagaimana pun, Maura ... pernah menjadi bagian hidup kamu,' batinku.

__ADS_1


"Bagaimana aku ... bisa mengabaikannya begitu saja?' batinku.


Sebuah tepukkan di pundak membuat aku terkeju dan membuyarkan lamunan ku.


"Kamu ngelamun lagi?" tanya Arkan.


Aku terdiam, aku melihat Arkan ikut duduk di sampingku.


"Kali ini mikirin, apa?" tanya Arkan.


Aku menghela nafas, lalu mencoba memberanikan diri menatap Arkan.


"Arkan ... aku berpikir, aku ingin bertemu dengan Maura ... di penjara," ujarku.


Arkan terdiam, Arkan sama sekali tak bersuara.


"Arkan ... "


"Kenapa tiba - tiba? " tanya Arkan dengan nada dingin.


"Lagian mau apa, kamu disana?" tanya Arkan lagi.


"Tapi, Arkan ... "


"Adara ... dengerin aku, " pinta Arkan seraya mencangkup wajahku.


"Aku bisa aja ngizini kamu, tapi kalau dia nyakitin kamu disana, gimana?" tanya Arkan dengan raut wajah khawatir.


"Kamu juga harus pikirin kadungan kamu, kalo kenapa-napa waktu kamu ketemu sama dia, gimana?" tanya Arkan.


"Aku ngerti kamu khawatir, tapi aku yakin aku bisa jaga diri," ujarku dengan penuh keyakinan yang tinggi.


"Lagian dia nggak mungkin, bisa nyakitin aku di kantor polisi." pikirku.


"Nggak!" sentak Arkan.


"Aku nggak mau, ngambil resiko," ujar Arkan dengan kerut didahinya.


"Dara ... aku nggak mau debat sama kamu, aku mohon kamu dengerin aku, ya," pinta Arkan dengan wajah memelas.


Aku hanya mengangguk dengan kepala tertunduk, aku tak sanggup berdebat dengan Arkan. tak lama sebuah kecupan mendarat di keningku.


"Aku benar-benar nggak mau terjadi apa-apa lagi, sama kamu dan anak kita Dar!" ucap Arkan.


"Ku harap kamu bisa ngerti, kalau aku cuma mau jagain kalian." Arkan mendekapku ke dalam pelukkannya, aku hanya diam terpaku di dalam pelukannya.


"Aku ngerti ... " lirihku pelan.


Tanpa aku sadari air mataku, sudah mengalir bahkan mungkin sudah membasahi jas Arkan.


Tapi Arkan tak bergeming dan tetap mendekapku ke dalam pelukannya.


Tak lama Arkan melepas pelukannya, lalu menyikap air mataku yang sudah membasahi wajahku.


"Kamu nangis, karena sikap aku tadi, ya?" tanya Arkan, dengan raut wajah menyesal.


"Bukan ... ini bukan karena kamu," ujarku.


Aku tak mau menambah masalah, hanya karena aku menangis, lagi pula aku memang harus menurut kata suami kan?


🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵


Hai ... semoga suka ya


Jangan lupa like and komen, vote dan review.


kalau ada masukkan silakan komen di bawab, author tunggu masukkan dari kalian ya.


sampai juga di cerita selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2