
"Hah?!" temannya itu menatap Mesyah tak percaya.
"Kalau dia udah nikah, sebaiknya jangan." sarannya. gadis bernama Mesyah itu mengambil gelas di hadapannya kemudian meminumnya.
Setelah selesai gadis itu meletakkan kembali ke meja, lalu menatap wajah temannya itu dengan tatapan serius.
"Aku nggak bisa janji," ujarnya dengan senyum yang tak bisa di artikan.
Setelah semua urusan mereka di caffe itu selesai mereka secara bersama - sama keluar dari caffe dan menuju mobil mereka.
"Terus rencana kamu, apa?" tanyanya.
Gadis itu tampak berpikir sejenak, kemudian tersenyum.
"Aku akan cari dia, setidaknya aku harus ucapkan terimakasih, kan?" temannya itu mengangguk setuju. kemudian secara bersamaan mereka masuk ke dalam mobil.
...***...
...Malam harinya .......
Aku pergi menelpon Arkan. karena aku mendapat pirasat buruk. jadi untuk menghilangkan rasa cemas aku memutuskan untuk menelponnya.
"Kamu beneran nggak apa- apa, kan?" tanyaku dengan nada cemas.
"Sayang .... kamu nggak usah khawatir, ya." pinta Arkan nada lembut, mencoba menenangkanku.
"Yaudah ... kalau begitu aku tenang." ujarku seraya menarik nafas lega.
"Padahal ... rencananya aku mau kesana," ungkapku.
"Apa?!" sentak Arkan kaget. begitu juga aku yang terkejut mengetahui reaksi Arkan.
"Kamu kenapa?" tanyaku heran.
"Sayang ... kamu nggak usah kesini, ya," bujuk Arkan.
"Nanti anak kita kenapa - napa, gimana?" saat mendengar itu aku merasa sedikit curiga, namun aku tepis karena menurutku ada benarnya juga.
"Yaudah ... aku nggak akan kesana," ujarku, terdengar Arkan seperti menarik nafas lega.
"Tapi ... kalau itu harus, aku akan kesana." kataku. aku bisa merasakan ekpresi Arkan berubah.
"Sa-sayang ... tu-tunggu dulu," pinta Arkan dengan nada terbata - bata.
"Dan nggak ada yang bisa halangi aku, termasuk kamu," ujarku seperti nada ancaman
"Kamu ngerti kan?" setelah mengatakan itu aku mematikan sambungan telponnya.
...***...
Setelah mematikan sambungan telponnya. aku meletakkan kembali ponselku ke tempat tidur.
...Tok tok!...
Saat aku hedak berbaring, seseorang mengetuk kamarku, kemudian seseorang muncul dari balik pintu.
"Sayang ... Ibu?" Aku menatap ibu yang berjalan masuk sambil membawa segelas susu.
__ADS_1
"Ibu bawah susu untuk kamu ... jangan lupa di minum, ya." Ibu menyodorkan segelas susu yang berada di tangannya kemudian aku menerimanya.
Ibu memperhatikan aku yang meminumnya hingga habis, ibu tersenyum memperhatikanku.
Aku mengembalikan gelas tersebut, kemudian di terima oleh Ibu. setelah ibu menerimanya. Ibu duduk di sampingku.
"Kamu sudah hubungi, Arkan?" tanya Ibu sambil menyingkat rambutku.
Aku mengangguk menanggapinya, Ibu tersenyum melihat itu.
"Kamu tau perbedaan waktu di tempat kita, dengan di tempat Arkan, kan?" tanya Ibu. aku menganggukkan kepala menanggapinya.
"Tapi ... meski begitu, kamu harus tetap istirahat, kamu mengerti kan?"aku menurut dengan pasrah.
...***...
...Keesokan Harinya ......
Pagi itu hari masih begitu pagi, sebelum ke kantor Arkan menyempatkan diri untuk joging.
Setelah puas, Arkan memutuskan untuk istirahat sebentar. seraya menurunkan keringat.
"Butuh Air?" tanya seseorang seraya menyodorkan sebotol air minum.
Arkan menoleh, dia mencoba mengenali wanita di hadapannya itu.
"Hai!" sapanya dengan raut wajah bahagia.
"Kamu masih ingat sama aku, kan?" tanyanya penuh harap.Arkan mengkerutkan dahinya kemudian beranjak dari tempatnya.
"Kenalin namaku, Mesyah Kirani!" ucapnya memperkenalkan diri, seraya menyodorkan tangan di hadapan Arkan.
Terlihat raut tidak senang saat Arkan mengabaikannya, namun saat gadis itu ingin kembali mengejar Arkan, Arkan sudah keburu pergi jauh.
...****...
...Ruangan Arkan ...
...10 : 00...
Dean dan Dion membuka pintu ruangan Arkan, terlihat Arkan sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Arkan, proyek yang kamu bilang waktu itu kapan terlelasasi?" tanya Dean.
"Secepatnya." jawab Arkan. dengan mata yang fokus ke komputernya.
"Terus bagaimana, proyeknya? sudah sampai mana?" tanya Dion.
"Sedang dalam tahap penyelesaian," simbat Arkan.
"Oh ... ya, kalian jangan lupa awasi, yah." pinta Arkan, Arkan menghentikan pekerjaannya sebentar, kemudian menatap kedua temannya.
"Aku nggak mau muncul masalah nantinya, kalian mengerti kan?" tanya Arkan. Dean dan Dion menganggukkan kepalanya menanggapi Arkan.
"Oh ya ... tolong kalian periksa lagi, e-mail yang di kirim oleh F.GH group, karena aku belum sempat periksa." mereka mengangguk pasrah, sebagai orang kepercayaan Arkan. mereka harus. menjalankan apa yang di minta olehnya.
...***...
__ADS_1
Seminggu berlalu, mereka pun pulang ke tanah air. di bandara Arkan mencari keberadaanku.
Tak lama aku muncul bersama kedua temanku, mereka terlihat senang melihat kami.
Arkan menatapku begitu dalam, aku menatap bingung Arkan. aku hanya tersenyum di depannya. bukannya itu yang selalu yang ingin di lihat oleh seorang suami?
"Semua berjalan lancar, kan?" tanyaku harap cemas.
Mereka saling melirik, sepertinya ada sesuatu yang di rahasiakan oleh mereka.
"Semua pekerjaan bisnis lancar kok." jawab Dean.
"Pekerjaan bisni? apa artinya di luar itu ada masalah?' batinku mulai curiga.
"Sayang ... kita pulang yuk," ajak Arkan seraya merangkulku. aku hanya tersenyum kaku.
Aku menggandeng lengan Arkan, kemudian kami pergi meninggalkan bandara.
...****...
Sesampainya di rumah Arkan langsung membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.
"Arkan! mandi dulu sana!" setuju seraya menatap tajam.
...Bugh!...
Arkan menarik tanganku, sehingga aku jatuh kepelukannya, tanganku berbopang pada dada bidang Arkan.
"Apa sih?!" Aku memberontak hendak melepaskan diri, namun Arkan tak membiarkan aku pergi. Arkan malah melingkarkan tangannya ke pinggangku.
Arkan menatap mataku lekat, seakan mencari sesuatu di mataku, aku menatapnya dengan raut wajah bingung.
"Apa?" tanyaku, Arkan tersenyum menanggapiku.
"Kenapa setelah kamu aku tinggal, kamu jadi makin cantik, ya?" tanya Arkan. wajahku memerah, Arkan tersenyum puas karena berhasil menggodaku.
Agar aku tidak terlihat seperti salah tingkah, aku berusaha mengontrol ekpresiku.
"Mungkin karena sejak kamu pergi, aku selalu mencari Arkan yang baru." Arkan tiba bangkit refleks aku menjadi berdiri.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Arkan dengan nada mulai kesal.
"Emang enak di kerjain?" aku tertawa puas, tiba - tiba Arkan mencubit gemas hidungku, membuat aku meringis kesakitan.
"Dasar ... bikin cemas tau, nggak!" keluh Arkan. aku tersenyum jahil, seraya melingkarkan tanganku ke leher Arkan.
"Memang kamu akan sekesal itu, kalau kamu tau aku dekat dengan laki - laki lain?" tanyaku, ku perhatikan ekspresi Arkan mulai serius.
"Menurut, kamu?!" tanya Arkan dengan
nada kesal.
"Sayang ... jangan kesak begitu, aku tadi hanya bercanda," jelasku, Arkan tersenyum kemudian mengusap kepalaku.
"Anak kita baik - baik aja, kan?" tanya Arkan sambil mengelus perutku yang sudah semakin membesar.
"Kamu nggak lagi nutupi sesuatu, kan?" tanyaku, Arkan terlihat terkejut mendengar pertanyaanku, hal itu membuat aku semakin yakin, kalau ada sesuatu yang di rahasiakan oleh Arkan.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Hai ... semoga suka ya, jangan lupa di like and komen vote dan juga review-nya.