
Ku tarik nafas dalam - dalam, kemudian menepuk pundaknya. saat Vivia menoleh ke arahku, ku berikan senyum terbaikku, sebagai isyarat semua akan baik - baik saja.
"Jangan khawatirkan hal yang tidak perlu." ucapku menenangkan Vivia.
Vivia tersenyum ke arahku, kemudian memeluku hangat. akupun membalas pelukkannya.
Tiba - tiba aku merasa sesuatu yang berat seperti menimpaku, saat aku menolehkan kepalaku, ternyata di sampingku, telah ada Shane yang ikut berpelukkan bersama kami.
Seketika haru biru itu pecah, dengan keluarnya air mata dari salah satu kami, aku baru tau air mata bisa menular, sehingga kami semua larut dalam tangisan.
"Astaga ... kita kenapa jadi drama Queen." celaku.
"Eh?!" mereka berdua refleks melepas pelukkannya. aku hanya tertawa kecil melihat sikap mereka yang salah tingkah.
Aku mengemasi barang - barangku, kemudian beranjak dari tempat dudukku sebelumnya.
"Kita cabut, yuk," ajakku. mereka mengangguk setuju, berjalan mendahului.
Setelah hari ini ku harap aku tidak perlu, kehilangan kedua sahabat terbaikku.
***
Di Move Caffe. semua pengunjung tampak begitu senang, semua berbincang - bincang dengan teman mereka, sehingga membuat suasana menjadi ramai.
"Dar! "panggil Shane.
"Hmmm ... " gumamku tampa menoleh, dan masih sibuk dengan minumanku.
"Menurut kamu ... panggilan itu penting nggak, sih?" tanya Shane.
"Hah? maksudnya?" tanyaku ulang.
"Iya ... misalnya panggilan sayang, darling, atau semacamnya lah." ucapnya perjelas.
"Eh?! kenapa tiba - tiba?" tanyaku bingung.
Jujur aku sendiri bingung harus menjawab apa, karena aku sendiri tidak memanggil Arkan dengan panggilan sayang.
"Jawab aja, kenapa sih?!" serunya kesal.
"Mmm ... gimana ya, menurut aku sih, nggak terlalu," ujarku.
"Kenapa?" tanya Shane.
Aku melirik ke arah Vivia yang tampak memperhatikan dan menyimak apa yang kami bahas.
"Memangnya sayang seseorang, di ukur dari panggilan sayang?" tanyaku.
Shane dan Vivia tampak berpikir, aku menghela nafas panjang, karena sepertinya aku harus menjelaskan kepada mereka maksud dari ucapanku.
"Kenapa? kalian masih bingung?" tanyaku. mereka berdua kompak menganggukkan kepala mereka.
Aku hanya menghela nafas, kemudian menjelaskan maksudku. dan pada akhirnya mereka mengerti.
***
Saat keluar caffe seorang anak kecil, belari ke arahku, namun saat dia hampir menabrakku, dengan cekatan Shane menahan anak itu, sehingga tak menabrakku.
__ADS_1
"Duh ... kamu jangan lari - lari dong!" ucap Shane kesal. aku menyentuh pundaknya untuk menenangkan.
"Maaf ... tante." ucapnya dengan kepala tertunduk. sepertinya anak itu ketakutan.
Ku sejajaran diriku dengan anak itu, dan aku memegang kedua pundaknya. aku bisa merasakan kalau dirinya gemetaran karena takut.
"Ma-maaf, tante khisk..." anak itu mulai menangis.
"Hei ... jangan menangis." ucapku sambil mengusap wajah anak itu.
"Tante tidak akan memarahi kamu, tapi lain kali kami harus lebih hati - hati, mengerti?" dengan cepat anak itu menganggukkan kepala.
"Tante lagi hamil, ya?" tanyanya dengan nada ragu, aku tersenyum sambil mengusap kepalanya. kemudian menganggukkan kepala.
Tampak Shane dan Vivia hanya memperhatikan interaksi kami berdua.
"Wah ... selamat ya tante." ucapnya dengan wajah yang begitu periang.
"Laki - laki atau perempuan?" tanyanya semangat.
"Eh?!" aku hanya tertawa kecil karena mendengar pertanyaan itu.
"Leo!" panggil seseorang yang berjalan ke arah kami, aku pun berdiri.
"Ternyata kamu disini, sudah mama bilang jangan lari sembarangan!" ucap wanita itu memaki anaknya. anak itu hanya bisa menunduk karena di marahi.
"Anak ibuk itu hampir menabrak teman saya, kalau kenapa - napa dengan kandungannya gimana?!" sela Shane dengan nada jengkel.
Ibu anak itu menatap tajam kepada anaknya, anak itu semakin tertunduk, aku menjadi tidak tega melihatnya.
"Duh ... maafkan anak saya, ya." ucapnya. terlihat raut tidak enak di wajahnya.
"Tidak ... tidak apa - apa," simbatku.
"Lagi pula saya tidak apa - apa." sambungku.
"Sekali lagi maaf ya ... kalau begitu kami permisih." ucapnya dengan menggandeng tangan anaknya dan membawanya pergi.
"Dar ... kok kamu biarin aja, sih?!" tanyanya dengan nada kesal.
"Udah ... kamu tenang, lagian dia cuma anak kecil, dia pasti nggak sengaja kok." ucapku menenangkan Shane.
"Kita pulang, yuk." ajakku kemudian lebih dulu masuk ke dalam mobil.
***
Ketika malam harinya. aku tengah melihat keluar jendela kamar, tak menyadari keberadaan Arkan.
Tiba - tiba sebuah kalung terjuntai panjang di depan wajahku. sontak aku berbalik dan melihat siapa yang melakukannya.
"Arkan!" seruku karena kaget. Arkan tersenyum kemudian melingakarkan tangannya ke leherku, tak butuh lama kalung itu melingkar erat di leherku.
"Gimana, kamu suka?" tanya Arkan. dengan cepat aku menganggukkan kepala sambil tersenyum, kemudian beralih memeluk Arkan.
"Kenapa tiba - tiba memberikan aku kalung, hemm?" tanyaku kemudian melepaskan pelukkanku.
"Kenapa emangnya? harus ya ... ada alasan khusus?" tanya Arkan.
__ADS_1
"Kayaknya sih enggak, hehe ... "jawabku seraya cengengesan, Arkan hanya terkekeh melihat itu.
"Dara! kamu itu istri aku ... jadi aku harus manjain kamu," ujarnya dengan nada lembut.
"Oh ya? bukan karena ada maunya, kan?" tanyaku seraya memberikan tatapan curiga ke Arkan.
"Yaampun sayang ... kamu ini kenapa, sih?!" Arkan lebih sedikit kesal.
Cup!
Arkan terlihat diam mematung ketika aku mencium pipi Arkan. aku hanya terkekeh melihat ekspresinya itu.
"Udah bisa tenang, kan?" tanyaku dengan nada menggoda.
"Yah ... masa pipi, disini dong." ucapnya seraya menunjuk bibirnya. aku memutar bola mata malas, kemudian berjalan ke tempat tidur.
"Oh ya ... tadi aku sempet bikin susu untuk kamu, kamu minum ya," pinta Arkan seraya menyodorkan segelas susu ke hadapanku.
Aku tipikal orang tidak terlalu suka minum susu, tapi karena kali ini aku di awasi jadi mau tak mau aku harus meminumnya.
Arkan terlihat tersenyum puas ketika aku meminum susu buatannya. aku pun ikut tersenyum meski sedikit terpaksa.
"Sekarang kamu istirahat, ya." Arkan membantuku berbaring di tempat tidur. kemudian Arkan ikut tidur sambil memelukku dari samping.
***
Besok paginya. aku pergi ke penjaran untuk menemui Maura. dan tentu saja tanpa sepengetahuan Arkan.
"Ada perlu apa?!" tanya Maura dengan nada nyolot.
"Gimana kabar, kamu?" tanyaku. dengan nada tenang.
"Kenapa? nggak usah sok baik deh!" jawabnya sinis.
"Sok baik?" tanyaku ulang.
"Kamu yang menyebabkan semuanya seperti ini, Maura!" ucapku tanpa sadar meninggikan nada suaraku.
"Lalu kenapa kamu masih menyalahkan aku?!" tanyaku dengan nada kesal.
Aku sebisa mungkin mengontrol emosiku, kemudian menyodorkan kotak bekal makanan.
"Ini." ucapku seraya menyodorkan kotak bekal makanan di hadapannya.
"Seterah lo mau makan, atau enggak," ujarku kemudian beranjak dari tempat dudukku.
Setelah di pakiran, saat aku hendak membuka pintu aku berhenti sebentar karena rasanya ada yang salah dengan diriku.
Baru saja aku mengatakannya, kepalaku tiba - tiba berkunang. aku berusaha melawan sensasi berputar ini, tapi sara pusing ini sulit di lawan.
Di saat aku merasa diriku akan tumbang, tiba - tiba tangan yang menyanggahku.
Disaat aku ingin melihat wajahnya. pandanganku begitu kabur, sehingga aku tak mengenali siapa yang sedang menyanggah.
💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐
Jangan lupa
__ADS_1