
Drrrrttt
Di dalam mobil, telpon Adara bergetar, di raihnya ponsel oleh Adara, di lihatnya ternyata yang menelpon adalah Arkan.
Mau tak mau Adara harua mengangkat telpon dari Arkan, jadi Adara menjawab telpon dari Arkan.
"Hallo!" ucap Adara.
"Putar balik." ucap Arkan dengan nada tinggi.
"Hah?nggak!" seru Adara.
Gadis itu telanjur sakit hati dengan Arkan, yang begitu tak menganggap dirinya.
"Putar balik, Dar!" seru Arkan.
Tut tut tut......
Tanpa berpikir panjang, Adara langsung mematikan telponnya, dan itu sukses membuat Arkan geram.
Dia benar bingung harus bagaimana, karena dia tak tau sebenarnya apa yang terjadi.
Dia berpikir keras, agar Adara mengurungkan niatnya, dan memutar balik ke apartement.
Hingga dia terpikirkan satu cara.
"***Ting"
[ mengirim gambar ]
[ mbak ini suaminya bukan? ]
[ ini suaminya pingsan*** ]
Sontak hal tersebut membuat Adara kaget, seketika Adara menjadi panik.
Dia bingung harus bagaimana, dan akhirnya Adara meminta sopirnya, untuk mengantar ke tempat semula.
Dengan rasa was - was, Adara terus menunggu sampai mobilnya sampai ke apartementnya.
****
Beberapa menit kemudian akhirnya Adara, sampai di apartementnya.
dia berlari menuju kamar apartementnya, dan persaan masih was was, dia begitu khawatir kalau sesuatu terjadi dengan Arkan.
"Arkan!" seru Adara ketika sudah di kamar Arkan.
Mata Adara melongo, dia kaget karena ternyata Arkan sama sekali tak pingsan, dia justru malah asyik membaca majalah sambil besandar di ranjangnya.
Adara menatap kesal Arkan, yang ternyata mengerjainya.
"Lo, ngerjain gue?!" tanya Adara dengan nada penuh emosi.
Arkan beranjak dari tempat tidurnya, dan mendekat menghadap Adara.
"Dar...." Adara menepis kasar tangan Arkan, yang hendak menyentuh pundaknya.
"Lo pernah mikir nggak sih, seberapa khawatirnya gue?!" emosi Adara mulai meledak, dengan air mata tak terbendung.
"Gue sampai mutar balik, cuma buat___"
"Maaf, gue nggak maksud____" potong Arkan yang di potong oleh Adara.
"Lo seneng ya, mainin perasaan gue?" tanya Adara.
Arkan menaikkan sebelah alisnya, Arkan sama sekali tak mengerti maksud Adara.
"Ma... maksud, lo?" tanya Arkan yang sama sekali tak mengerti maksud Adara.
"Lo tau nggak sih, betapa khawatirnya gue, paniknya gue tadi." ujar Adara.
__ADS_1
"Dar..."
"Lo nggak suka sama gue kan?" tanya Arkan.
Adara terdiam, dan tak menggubris pertanyaan Arkan.
"Dar?" lagi - lagi Adara terdiam, tak menjawab pertanyaan Arkan.
"Jawab kalau aku tanya jawab, Dar!" seru Arkan.
Arkan yang mulai emosi karena dari tadi Adara hanya diam dan tak menjawab pertanyaannya.
"Gue, nggak tau!" seru Adara yang terdesak.
"Gue, nggak nggak tau." gadis itu menatap mata Arkan dengan seksama.
"Tapi gue khawatir, gue panik, kalau sesuatu terjadi sama lo." mata gadis itu mulai berair.
"Jadi tolong jangan lakuin lagi hal kayak gini, ngerti?" tanya Adara.
Adara berbalik, dan berjalan menjauh perlahan dari Arkan dengan membawa kopernya.
"Sebenarnya ada apa, Dar?" tanya Arkan.
"Kenapa tiba - tiba lo, mau balik?" tanya Arkan lagi.
"Bukannya liburan ini yang lo, mau?" tanya Arkan lagi.
"Nggak ada hubungannya sama lo, kok." jawab Adara.
Adara mulai pergi, dan menghilang dari pandangan Arkan.
Arkan menghela nafas, Arkan sama sekali tak mengerti soal Adara, begitu juga dengan Adara, yang tidak mengerti soal Arkan.
****
16 : 49
"Apa?!" seru gadis itu yang tampak terkejut.
"Jadi pesawat saya sudah berangkat, 20 menit yang lalu?" tanya Adara.
Ternyata pesawat yang akan membawa gadis itu, sudah berangkat lebih dulu, karena menemui Arkan gadis itu jadi ketinggalan pesawatnya.
"Terus gimana, saya udah beli tiketnya," gadis itu tampak bingung, dengan tiket yang ada di tangannya.
Sedangkan orang itu, hanya menggelengkan kepalanya.
Gadis itu pun pergi, gadis itu tampak sedih dan kecewa karena kepulangannya jadi batal, dan sekarang gadis itu tak tau harus di apakan tiket yang sudah hangus itu.
Setelah gadis itu pergi, seorang laki - laki keluar dari bersembunyianya, dan menemui orang yang di temui Adara tadi.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Semua sesuai permintaan bapak," jawabnya.
"Bagus, terimakasih banyak." ucapnya.
Ternyata itu adalah Arkan, Arkan sengaja menyuruhnya untuk bilang ke Adara kalau pesawatnya sudah berangkat.
Karena sebenarnya penerbangan masih 30 menit lagi.
Entah apa tujuan Arkan, tapi itu berhasil membuatnya batal kembali pulang.
****
Adara yang berada dalam mobil taxi, masih bingung harus kemana setelah pergi dari apartement Arkan, dan tidak mungkin baginya, untuk kembali ke apartment Arkan.
"Apa ke hotel aja, ya?" pikir Adara.
Setelah berpikir panjang.
__ADS_1
"Pak, antar saya ke hotel, ya." pinta Adara.
Sopir taxi itu pun mengantarkan Adara ke tempat yang dia minta.
Arkan yang sendari tadi mengikuti Adara tampak bingung, mau ke mana Adara, karena itu bukan arah ke apartmentnya, Arkan pun terus mengikutinya.
*****
beberapa menit kemudian Adara tiba di sebuah hotel.
Arkan yang masih setia mengikuti dari belakang, secara diam - diam, tampak bingung kenapa Adara ke hotel, bukannya kembali ke apartmentnya.
Adara masuk ke hotel, dan Arkan ke keluar dari mobil, Arkan mengikutinya dari belakang, secara diam - diam.
Setelah mendapatkan kamar untuknya, Adara langsung menuju ke kamarnya.
Adara tiba - tiba merasakan kalau seseorang sedang mengikutinya, namun saat ia menoleh ke belakang tak ada siapa pun disana.
"Kok, perasaan gue, ada yang nginkutin, ya?' batin Adara.
Gadis itu lagi - lagi menoleh ke belakang, tapi lagi - lagi tak ada siapa pun.
"Apa cuma perasaan gue, ya?" Adara mengangkat bahu, kemudia lanjut berjalan.
****
Adara tiba di kamar 204. Arkan tampak mengingat nomor kamar Adara, dan Adara pun masuk ke kamarnya.
Setelah mengetahui tempat tinggal Adara, Arkan pergi dan kembali ke apartementnya.
****
Di kamar hotel.
Adara menarik nafas panjang, dan menatap langit - langit hotel, seraya membaringkan badannya.
"Apa yang harus gue lakuin sekarang?" Adara melirik tiket pesawatnya.
Adara meraih tiket pesawatnya, kemudian mengamati tiketnya.
"Masa iya sih, gue ketinggalan pesawat? " Adara melihat jam ke berangkatannya.
"Jam berangkatnya 17 : 00." gadis itu semakin bingung.
"Aku tiba di bandara, 16 : 30, berarti seharusnya aku masih ada waktu 30 menit lagi." Adara jadi semakin tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Kalau dia seharusnya masih ada waktu 30 menit, itu artinya seharusnya pesawatnya belum berangkat.
Dan itu berarti orang yang tadi di temui olehnya, sudah berbohong kepadanya.
Hal tersebut membuat Adara shok dan juga kesal, karena ulahnya, dia jadi batal pulang, dan masih haru terjebak di kota yang sama dengan Arkan dan juga pacarnya.
***Hai 🤗
Gimana ceritanya.
Semoga sukanya, maaf juga kalo gaje 😀
Ok see you 😊
__ADS_1
Jangan lupa like and comen, dan kasihl reviewnya ya 😉, ***jangan sungkan buat kasih author kritik dan sarannya******