Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Kepulangan Arkan


__ADS_3

Rangkulan itu menjadi penguat tak kala, saat membutuhkan ketenangan dan penenangan.


Semua orang di rumah sakit menunggu aku melewati masih kritisku, dan sampai dengan aku Arkan.


Dan mereka juga berharap saat aku sadar nanti, aku bisa menerima kenyataan kalau aku kehilangan calon bayiku.


***


Di tempat Arkan...


Arkan yang langsung panik setelah mendapat telpon dari rumah sakit, langsung berbegas, dan itu membuat teman teman Arkan jadi bingung.


Saat Arkan hendak pergi, Dean menghadang dan menghalangi jalan Arkan.


"Lo, kenapa Arkan?!" tanya Dean dengan tatapan penuh heran.


"Gue, harus balik sekarang," ujar Arkan.


"Hah?! balik?" tanya Dion mencoba menyakinkan apa yang dia dengar.


"Lo, nggak bisa gitu dong, kerjaan kita gimana?!" terlihat raut panik di wajah Dion.


"Nggak, gue mau baliksekarang," Arkan menyingkirkan Dean dari jalannya, tapi Dean dan Dion tetap mengejarnya.


"Arkan!" seru Dean.


"Lo, nggak bisa pergi gitu aja," ujar Dean.


Arkan tampak mengabaikan Dean, dan terus berjalan, dan tampa menunggu waktu yang lama, Dean yang terus mengejar Arkan berhasil mengejar dan menahan lengan Arkan.


"Lo, harus jelasin ada apa!" tegas Dean.


"Lo, nggak bisa pergi ninggalin kita, dan kerjaan gitu aja disini," Dean menatap Arkan begitu serius, tapi tak kalah serius dengan Arkan.


"Berhenti ngalangin, gue!" bentak Arkan.


Dean tersentak, Dean tak menyangka akan menerima amarah dari Arkan, sebegitu amarahnya.


"Lo, nggak tau istri gue kecelakaan, dan gue kehilangan calon anak, gue!" Dean terdiam, Dean tak tau harus berkata apa, dan kini rasa bersalah menyelimuti dirinya.


Tapi kalau Arkan pergi, itu artinya pekerjaan disana dia dan Dion yang yang harus mengerjakannya.


"Please biarin gue pergi, gue percayain yang disini sama lo, bisa?" tanya Arkan penuh harap.


Rasanya dia tidak mungkin jadi penghalang bagi dirinya dan keluarganya, jadi dean merasa dia harus membiarkan Arkan pergi.


Lagi pula kalau Arkan di paksa meneruskan pekerjaan disini, Dean yakin Arkan tidak akan fokus dengan pekerjaannya.


"Yaudah, lo bisa percayaan yang disini sama kita berdua," ujar Arkan.


"Lo, hati - hati." simbat Dion.


"Jangan lupa kabarin kita, kalau lo udah sampai, kasih tau kita kabar perkembangan istri, lo," sambung Dion.


"Ok, thanks," sahut Arkan.


"Gue tau gue bisa percaya kalian, gue pergi dulu." tanpa berlama - lama Arkan melenggang pergi.


"Jadi kita nih, yang harus nyelesain masalah disini?" tanya Dion setelah Arkan pergi.


"Mau gimana lagi, kan," Mereka berdua mengehela nafas, seraya menarik nafas panjang, sekarang pekerjaan beralih ke mereka, padahal mereka niat awalnya hanya menemani.

__ADS_1


Tapi keadaan tidak mendukung, dan siapa yang menduga semua ini akan terjadi.


***


Sesampainya Arkan di bandara, Arkan langsung membeli tiket pesawat, dan mengambil penerbangan yang paling cepat.


setelah mendapatkan tiket penerbangan nya, Arkan tinggal menunggu pesawatnya tiba, dan dia akan berangkat pulang.


"Tunggu aku, sayang."


****


Di rumah sakit, dokter yang menangani ku keluar dari ruanganku, setelah memeriksa keadaanku.


"dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya ibu.


Terlihat raut wajah lelah, di balik lingkaran hitam di balik matanya, entah berapa lama ibu tidak tidur karena menunggu aku sadar.


"Putri anda masih kritis, tapi ada sedikit kemajuan," ungkap dokter.


"Kalau putri anda terus memperlihatkan perkembangannya, maka putri anda akan melewati masa kritisnya, dan akan segera sadar." jelas dokter.


Ibuku terduduk lemas, tapi sedikit merasa lega, kalau putrinya sedikit membaik.


Semua yang ada disana, semakin berharap kalau aku akan segera melewati masa kritis, dan akan segera sadar.


***


"Bagaimana?" tanya seorang gadis dengan berpangku tangan, di sebuah caffe, dengan menatap laki - laki di depannya.


"Beres bos, sekarang aku minta bayaran," ujar laki - laki itu, dengan wajah liciknya.


"Bagus, ini bayaran lo." gadis itu menyodorkan uang di hadapan laki - laki itu, dan dengan wajah sinis, laki - laki itu mengambil uangnya.


***


Masih di rumah sakit, terlihat ibu yang berada di sampingku meneteskan air mata, sambil menggenggam tanganku.


Terlihat raut penuh harap agar putrinya itu segera sadar, begitu juga dengan ayah yang berada di samping ibu.


Tak lama...


Aku menggercapkan mata, sambil mencoba mengenali sekelilingku.


"Dara!" seru ibu.


Rasa tak percaya, bercampur haru, saat melihat anaknya kini telah sadar.


Ayah pergi memanggil dokter, sedangkan yang lain menangis haru bahagia, melihat aku yang kini sudah sadar.


Aku mengedarkan pandanganku, melihat ke sekeliling, dapat aku kenali kalau aku kini berada di rumah sakit.


Aku beralih melihat ke orang - orang ke sekelilingku, mereka terlihat sangat bahagia melihatku.


"Ayah!" panggilku, sambil melihat ke ayah.


"Ibu!" panggilku, ibu langsung mendekapku ke dalam pelukkannya, saat aku memanggilnya.


"Mama! Papa!" panggilku.


"Apa yang terjadi? dan kenapa aku bisa berada disini?" tanyaku.

__ADS_1


Mereka tampak melirik satu sama lain, dan tampak mereka bingung menjelaskannya kepadaku.


Tak lama dokter datang, dokter itu mendekatiku, lalu mulai melakukan pemerikasaan terhadapku.


"Nona, Adara!" serunya.


"Apa ada ingat kecelakaan yang baru saja anda alami?" tanya dokter itu.


Aku menatap bingung ke arahnya, aku tak mengerti dengan maksud dokter tersebut.


"Kecelakaan?" tanyaku untuk memastikan.


"Iya, apa anda tidak?" tanya dokter itu.


Aku hanya menggelengkan kepalaku, dan pada dasarnya aku tidak ingat apa yang terjadi denganku hari itu.


"Ibu, dimana Arkan?!" tanyaku, sambil menoleh ke ibu.


"Oh, iya dia pasti masih di kantor," sambung ku.


"Dara..." lirih ibu.


Saat itu aku tidak tau dan tidak ingat kalau Arkan sedang pergi ke hongkong, dan itu membuat mereka semakin bingung.


"Tuan dan nyonya, bisa kita bicara?" tanya dokter itu, sambil melihat ke orang tuaku, ayah dan ibu mengangguk kan kepala, aku hanya memperhatikan mereka.


Mereka pun pergi ke ruangan dokter itu, dan aku tidak tau apa saja yang mereka bicarakan.


***


Beberapa jam kemudian...


Arkan pun tiba, dan tak ada yang mengetahuinya, sesampainya disana, setelah Arkan menghubungi Mama dan meminta lokasi rumah sakit tempat aku di rawat.


Dengan taxi online, Arkan langsung menuju rumah sakit tempat aku di rawat.


***


Beberapa menit kemudian...


"Arkan!" semua kaget melihat Arkan berada disana, kecuali aku.


"Arkan?!" seru Papa.


"Bukannya kamu lagi di hongkong?" tanya Papa.


"Aku langsung pulang setelah, mendapat kabar soal, Adara!" jelas Arkan.


Aku yang menyimak pembicaraan Papa dan Arkan, menatap bingung ke arah mereka.


Apa yang sebenarnya terjadi denganku...


🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼


Hai...


Siapa nih yang setia menunggu SM


gimana part kali ini , semoga suka ya.


Jangan lupa like and comen vote and reviewnya juga.

__ADS_1


Ok, see you gaish.


__ADS_2