Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Nama untuk calon bayi


__ADS_3

Aku meletakkan Cake yang aku makan, ke meja yang ada di depanku, lalu mendekat ke Arkan.


"Arkan!"


"Kamu jangan lebay, deh!"


"Ini cuma cake, nggak akan terjadi apa - apa tau,"


"Tapi tetap aja kamu jangan makan sembarangan,"


"Aku cuma khawatir sama calon bayi kita."


"Tau ah, kamu ngerusak selera makan aku, deh."


Aku berjalan melewati Arkan, lalu pergi meninggalkan Arkan, sedangkan Arkan melihat aku yang menghilang dari pandangannya.


***


Aku mendengus kesal di kamar, sambil memeluk bantal yang aku taruh di pangkuanku.


Kreakk.....


Aku mendengar suara pintu terbuka, aku melihat sosok Arkan di balik pintu, kemudian Arkan masuk sambil menutup pintu kamar.


"Arkan?!"


Arkan mendekat ke arahku, aku memalingkan muka, lalu tidur, sambil membalut tubuhku dengan selimut.


Aku membelakangi Arkan, tapi tiba - tiba aku merasakan tangan merayap di pinggangku, lalu memeluk pinggangku dari belakang.


"Dar!"


Untuk beberapa saat aku tak menjawab panggilan Arkan, aku benar - benar kesal karena Arkan merusak selera makanku.


"Adara!"


bisikan lembut di telingaku, membuat aky bergindik, lalu tak sengaja membuat aku memutar menghadap Arkan.


Kini kami berdua saling berhadapan, dan mata kami saling bertemu pandang.


"Apa?!"


Dengan nada jutek dan raut bete, akhirnya aku menyahut Arkan.


Arkan tersenyum melihatku lalu mengelus rambutku, aku menatap tangan Arkan yang bergerak mengelus kepalaku, aku memperhatikan Arkan yang tersenyum.

__ADS_1


"Jangan ngambek dong, mamanya Ailine!"


"Ailine?!"


"Itu nama anak kita nanti,"


"Emang kamu tau dari mana anak ini perempuan?"


"Kan kita belum periksa,"


"Aku maunya anak perempuan."


Sejak saat itu aku tau, kalau Arkan menginginkan anak perempuan.


Tapi itu membuat aku berpikir, bagaimana kalau anak kami ternyata laki - laki? apa Arkan tidak mau menerimanya.


"Tapi kalau anak laki - laki gimana?"


"Kalau laki - laki, kita kasih nama Zean!"


"Kenapa?"


"Nggak ada alasan khusus, karena aku pikir nama itu bagus, hehe..."


"Jangan hanya kedengaran bagus saja, kamu harus tau arti dibalik nama tersebut,"


"Iya, sayang..."


Arkan mencubit kedua pipiku, dengan gemas, aku rasa pipiku mulai melar sekarang.


Aku mengentikan Arkan mencubit pipi, lalu menyingkirkan tangan Arkan dari wajahku.


Aku menyentuh kedua pipiku, lalu menatap kesal Arkan.


"Kamu mau bikin pipi aku melar, ya?!".


"Mana sakit banget lag."


Aku mengelus kedua pipiku, aku bisa merasakan pipi memerah karena di cubit oleh Arkan, sontak aku menatap kesal ke arahnya.


Aku melihat Arkan menggaruk tengkuk lehernya, sambil cengengesan, aku cemberut ke Arkan.


"Maaf."


"Sakit, ya?"

__ADS_1


"Menurut, kamu?"


"Yaudah maaf, habis aku gemes dengan istri aku, yang cantik ini,"


Aku memutar bola mata malas, aku tau Arkan berniat membuat aku terbujuk dan akhirnya tak ngambek lagi dengannya, dengan bujuk rayunya.


Tapi untuk kali ini, seorang Adara tak mudah di bujuk oleh apapun.


"Mau makan es cream?"


"Emang boleh?"


"Biarin deh sekali ini, dari pada ngambek,' batin Arkan.


"Boleh tapi sekali ini aja, ya,"


"Nggak ah..aku masih sebel sama kamu,"


"Yakin?"


"Iya,"


"Yakin?"


"Iya!"


Aku sebal dengan Arkan yang terus menguji diriku, sehingga membuat aku menegaskan nada bicaraku.


"Vanila atau coklat?"


"Vanila,"


"Eh?!"


"Ok, aku delivery dulu."


Arkan mengotak atik ponselnya, hingga Akhirnya Arkan memperlihatkan layar ponselnya, es cream yang tadi aku sebut sudah di pesan.


🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼


Hai....


Gimana part kali ini?


semoga suka ya

__ADS_1


Kalau ada masukkan silakan komen dibawah, kalian juga bisa ajukan pertanyaan.


Jangan lupa like and comen vote and reviewnya juga.


__ADS_2