
"Aku nggak suka ya kamu ngomong kayak gitu, sampai kapan pun, rumah ini adalah rumah kamu, dan nggak ada yang bisa menggantikan posisi kamu, ngerti?" tanya Arkan.
Adara hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Aku ke ruang kerja aku dulu ya, ada yang harus aku selesain dulu," ujar Arkan.
Gadis itu menganggukkan kepalanya, Arkan mendekat ke Adara, kemudian mengecup keningnya, setelah itu dia berlalu pergi ke ruang kerjanya.
Adara hanya tersenyum, meski kaget, dengan yang baru saja di lakukan Arkan, dia tak menduga Arkan melakukan hal tersebut.
Ting...
Sebuah notif pesan, membuyarkan pikirannya, dia melirik ponselnya, dan melihat notif pesan yang baru saja masuk tersebut.
[ bisa ketemu sebentar?]
[ ada yang mau gue omongin]
Deg...
Dia menerka - nerka siapa yang baru saja mengrimkannya pesan barusan, karena nomor tersebut sama sekali tidak dia kenal tapi pirasatnya mengatakan kalau dia adalah Maura.
Tapi untuk apa Maura mau menemuinya?
Dengan ragu, dia menggunakan jadi - jarinya, untuk mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan tersebut.
[ siapa, ya ]
[ Karena gue pikir, gue nggak ada urusan sama lo]
[ jadi nggak ada kewajiban, buat gue menemui, lo]
Tak lama Adara membalas pesan misterius tersebut, orang misterius tersebut membalas kembali pesannya.
[ gue Maura, pacar suami, lo ]
Ternyata benar dugaannya, yang mengirim pesan barusan adalah Maura.
Tapi untuk apa Maura ingin menemuinya, tapi hal yang paling membuatnya kesal adalah, Maura menyebut Arkan dengan embel - embel pacar.
Padahal Arkan sendiri yang bilang kalau mereka sudah tak ada hubungan lagi, tapi kenapa dia masih berani menyebut Arkan sebagai pacarnya.
Ting.
Ting...
Adara menghela nafas, mendengar notif pesan dari Maura, yang spam dirinya.
Dengan malas, Adara mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan Maura.
[ oh, kebetulan kalau gitu, gue juga ada yang mau gue omongin sama, lo ]
[ lo sharelock aja, nanti gue bakal kesana]
Adara menghela nafas, gadis itu pun berpikir apakah dia benar - benar harus menemui Maura?
Ting.
Satu notif pesan kembali masuk, kali ini Maura mengirim sharelock, teman mereka akan mengadakan pertemuan.
Setelah mendapatkan share lock, Adara langsung bersiap - siap untuk menemui Maura.
Saat Adara sedang bersiap - siap di kamarnya, Arkan tiba - tiba masuk ke kamarnya.
"Dara!" panggil Arkan.
Adara langsung menoleh, ketika di panggil oleh Arkan.
Arkan melihat Adara yang tampak sudah bersiap untuk pergi.
"Kamu mau pergi?" tanya Arkan, seraya berjalan mendekati Adara.
Adara tersenyum, sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku izin keluar sebentar, ya," pamit Adara, dengan lembut.
"Kan baru pulang, kok udah pergi aja, sih?!" keluh Arkan.
"Maaf." ucap Adara.
Arkan menghela nafas, kemudian memandangi istrinya itu.
"Yaudah, hati - hati di jalan, ya," ujar Arkan.
Gadis itu tersenyum dan mengangguk, Adara merasa lega, Arkan tak banyak bertanya kemana, dan bersama siapa istrinya itu akan bertemu.
Itu mungkin rasa percaya Arkan, yang membuat Arkan tak banyak bertanya.
"Atau, mau aku anterin sekalian?" tanya Arkan menawarkan diri untuk mengantar.
"Eh?! nggak, nggak usah," simbat gadis itu langsung.
Arkan sedikit aneh, kenapa istrinya segitunya menolak dirinya, tapi dia memilih untuk mengabaikan hal tersebut.
"Yaudah, aku berangkat sekarang, ya," setelah berpamitan, Adara langsung berhampur pergi keluar rumah, dan langsung menuju mobilnya.
Setelah masuk ke mobil, Adara langsung melajukkan mobilnya, saat Adara pergi, Arkan masih melihat Gerald gerik Adara, yang menurutnya ada sesuatu yang aneh, dan menjanggal.
***
Beberapa menit kemudian, Adara tiba di tempat Maura, gadis itu langsung keluar dari mobilnya, dan melenggang masuk ke dalam caffe, tempat pertemuan mereka semula.
Saat Adara masuk ke dalam, gadis itu mengedarkan pandangannya, dan mencari sosok Maura.
Karena Adara, tak melihat sama sekali sosok Maura seperti apa, Adara sedikit kebingungan mencari ke beradaan Maura.
Tiba - tiba, dia melihat seorang gadis melambaikan tangannya, dan dia pikir itu adalah Maura.
Adara langsung menghampiri keberadaan Maura, setelah mendapatkan keberadaannya.
"Dengan, Maura?" tanya Adara dengan nada lembut.
"Duduk." pintanya dengan nada dingin.
"Jadi ada apa, ya?" tanya Adara. langsung to the point.
"Lo, langsung to the point juga, ya," sindir Maura.
"Tenang aja, gue juga nggak mau lama - lama sama lo, kok." Kata Maura dengan nada nyolot.
Mendengar ucapan Maura yang begitu menyolot, sedikit membuatnya kesal, tapi dia harus mengontrol emosinya saat ini.
"Lo, bisa tinggalin pacar gue, nggak?" tanya Maura.
Mendengar ucapan tersebut, membuat hati Adara sakit, tapi gadis itu hanya bisa mengepalkan tangannya, untuk mengintrol emosinya.
Adara mencoba mengotrol ekpresinya saat ini, meskipun itu sulit, apalagi yang di hadapannya itu adalah orang yang ingin merebut suaminya.
"Kalo gitu...." ucap gadis itu seraya tersenyum, menatap Maura.
"Gue juga mau nanyain hal yang sama, sama lo." ujar Adara dengan tatapan dingin.
"lo bisa , tinggalin suami, gue nggak ya?!" seketika ekpresi Adara menjadi serius.
Seketika ruangan tersebut menjadi panas, setidaknya di sekitar mereka, Maura menatap tidak senang ke arah Maura, begitu juga sebaliknya.
Seketika suana di tempat tersebut menjadi tegang, dengan melihat raut tegang mereka berdua.
****
Adara mengehela nafas, dan mencoba mengontrol emosinya, gadis itu menatap ke arah Maura.
"Maura!" seru Adara.
"Mungkin ini terdengar menyakitkan buat lo, tapi...tetap harus gue sampaikan, ke elo." ucap Adara dengan nada ragu.
Maura tampak mendengar apa yang hendak Adara sampaikan dengan seksama.
"Lo... lo gadis yang cantik, saat semua cowok melihat lo, pasti banyak yang terpikat." ucap Adara.
Maura masih menyimak apa yang dikatakan oleh Adara.
"Apalagi karir lo, di dunia model juga cermelang, kan?" tanya Adara.
Maura sama sekali tak mengubris pertanyaan Adara, Adara hanya terkekeh.
"Bisa nggak lo, cari cowok lain? jangan suami, gue." pinta Adara.
Adara berharap Maura akan mengerti perasaannya, karena posisi mereka sama - sama perempuan.
"Lo, nggak berpikir dulu sebelum bicara, ya?" tanya Maura, seraya menatap dingin Adara.
"Mungkin iya, tapi....gue berpikir, karena kita sesama perempuan, makanya kita akan memahami perasaan satu sama lain, sama halnya gue memahami perasaan, lo." ujar Adara.
"Gue tau, lo lebih dulu bersama Arkan, jauh sebelum gue, tapi... Arkan sekarang udah punya, gue," kata Adara.
Terlihat rasa tidak nyaman di dalam diri Maura, saat Adara mengatakan hal tersebut.
"Arkan juga bilang ke gue, kalau hubungan di antara kalian udah lama berakhir, jauh setelah elo memutuskan untuk pergi meniti karir." Maura tak kuasa menahan emosinya, tapi dia mencoba mengontrol emosinya, dengan mengepalkan tangannya.
"Lo, juga berhak bahagia Maura, tapi bukan sama suami, gue." mata Adara mulai berair.
"Gue, minta sama lo, bukan sebagai istri Arkan, tapi sebagai sesama wanita, jangan rebut suami gue, dan membuat rumah tangga gue berantakan." setelah mengatakan itu Adara meninggalkan Maura sendirian.
Maura yang menahan emosinya, langsung meluapkan emosinya saat itu juga.
Prankkk....
Semua makanan dimeja yang dia pesan, semua di hamburkannya, sontak hal tersebut memancing perhatian semua pengunjung di caffe.
"Arghhhh......." geram Maura, seraya membalikkan meja yang ada di hadapannya.
__ADS_1
***
Adara berjalan ke mobilnya, setelah sampai ke mobilnya, Adara langsung masuk ke mobilnya.
Di rumah Arkan, Arkan tampak menunggu kedatangan istrinya itu, tapi dia sama sekali tak melihat batang hidung istrinya itu.
Arkan yang menunggu kabar dari istrinya tersebut, uring - uringan karena belum mendapatkan kabar dari istrinya itu.
Tak lama kemudian, dia menyadari seseorang datang, dia langsung menoleh dan dilihatnya sosok Adara.
Arkan langsung menghampiri istrinya itu, Adara yang melihat suaminya menghampirinya, langsung menurunkan barang belanjaannya.
Saat Arkan sudah berada di hadapannya, Arkan menatap wajah Adara.
Grebbb.....
Arkan mendekapnya ke dalam pelukkannya, Adara sedikit terkejut dengan sikap Arkan, dia ikut membalas pelukkannya.
"Kenapa tiba tiba? Hmm..." tanya Adara, seraya mengusap punggung Arkan.
"Nggak papa, cuma kangen aja." jawab Arkan, seraya menyandarkan kepalanya ke pundaknya.
"Ck, baru juga di tinggal sebentar." ucap Adara terkekeh.
"Namanya juga orang kangen," simbat Arkan, Adara hanya tertawa di dalam dekapan Arkan.
"Udah ah, aku mau beres - beres barang bawaan, Aku" kata Adara seraya melepas pelukkannya.
Saat Adara hendak meraih barang bawaannya, Arkan lebih dulu meraihnya.
"Biar aku aja," Arkan berjalan mendahului, Adara hanya menggelengkan kepalanya, kemudian menyusul Arkan di belakang.
Arkan membantu Adara merapikan semua barang bawaannya, sedangkan Adara bersiap untuk memasak.
Grebbb....
Saat sedang asyik memasak, Arkan memeluknya dari belakang, dan menyadarkan kepalanya ke pundak Adara.
"Udah selesai?" tanya Adara, sambil menoleh ke belakang.
"Udah." jawab Arkan, seraya menganggukkan kepalanya.
"Yaudah kalo gitu, bisa minggir dulu nggak, mau masak soalnya." pinta Adara.
"Aku bantu, ya," Arkan mulai mengambil pekerjaaan yang semula ingin Adara kerjakan.
"Yaudah," sahut Adara, Adara mulai mengerjakan hal lain.
Ting.
Saat sedang asyik memasak ada notif masuk ke ponsel Adara.
"Siapa?" tanya Arkan sambil melirik layar ponsel Adara.
"Nggak, tau." Adara langsung mengambil ponselnya, saat Arkan belum sempat melihat nama yang tertera disana.
Ting.
Lagi lagi notif pesan masuk, dan Adara pun memeriksa pesan yang masuk tersebut.
"Room chat"
"Maura Chat Adara"
[ setelah di pikir pikir]
Ting.
[ gue nggak akan nyerah soal Arkan ]
[ Sejak awal Arkan milik gue, dan gue akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik gue.]
[ gue akan mengambil Arkan dari lo]
"Room chat end"
"Real life"
Tak tahan melihat isi chat yang masuk dari Maura, Adara langsung mematikan layar ponselnya.
Ekpresi Adara langsung berubah jadi serius, sedangkan Arkan yang tak mengerti dengan apa yang terjadi, hanya menatap bingung ke Adara.
"Ada apa, Dara?!" tanya Arkan.
"Gue pikir bakal lebih mudah bicara sama lo, kalau bicara sebagai sesama perempuan,' batin Adara.
"Ternyata lo, bukan tipe orang yang bisa di ajak bicara baik - baik. ya.' batin Adara.
"Dara!" panggil Arkan lagi, tapi lagi - lagi Adara tak menggubris, dan masih dengan pikirannya.
"Kalo gitu, berikutnya gue bakal hadapin lo, sebagai istri, Arkan.' batin Adara.
"Dan sebagai istri Arkan, gue nggak bakal biarin dia jatuh ke tangan lo, dan membuat rumah tangga, gue dan Arkan.' batin Adara.
"Gue, bakal pertahanin keduanya.' batin Adara.
"Dar!" teriak Arkan.
"Eh?! kenapa Arkan? kok teriak - teriak gitu?" tanya Adara.
"Gimana nggak teriak, orang di panggil, malah nggak nyaut," sindir Arkan.
"Eh? maaf, ada yang aku pikirin soalnya," jelas Adara.
"Soal apa? ada hubungannya sama yang barusan ngirmin kamu pesan tadi?" tanya Arkan.
Adara tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
"Bukan apa - apa, kok." jawab Adara.
"Yakin?" tanya Arkan curiga.
Gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Aku balas pesan ini dulu, boleh?" tanya Adara, Arkan hanya menganggukkan kepalanya.
Gadis itu mulai mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan Maura.
"Room chat"
"Adara chat Maura"
[ silakan kalo kamu bisa ]
[ tapi aku akan berusaha keras untuk mempertahankan pernikahan ini]
[ dan aku akan membuat Arkan nggak akan pernah menemui kamu lagi]
[ aku pikir bakal lebih mudah karena kita sesama perempuan, tapi nyatanya nggak]
[ sekarang kita liat aja nanti akhirnya]
"Room chat end"
"Real life"
"Udah?" tanya Arkan, yang sendari tadi memperhatikan Adara yang membalas chat Maura, tapi dia tidak tau kalau yang Adara chat barusan adalah Maura.
Gadis itu mengangguk kan kepalanya, dan bersikap seperti biasanya, Arkan menatap bingung istrinya itu, karena dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
***
Di sebuah caffe tampak dua sahabat itu, mengadakan janjian pertemua.
"Duh, gimana, ya keadaannya, Dara!" tampak raut wajah cemas di wajah Shane.
"Iya, gue juga khawatir." simbatnya.
"Tumben banget ya, kalau Adara ada malasah nggak nemuin kita, biasanya nemuin kita," ujar Shane.
"Mungkin takut suaminya cari dia ke kita, emang masalah mereka berat banget, ya?" tanyanya.
Shane hanya mengangkat bahu, kemudian menyeruput minumannya, sedangkan Aqilla hanya menghela nafas berat.
"Apa kita tanya aja, ya?" pikir Shane.
"Boleh." simbat Aqilla.
Shane mulai mengetikkan sesuatu untuk mengirim pesan ke Arkan, untuk menanyakan soal keadaan Adara.
***
Di tempat Adara dan Arkan, terlihat mereka sedang asyik menikmati makanan mereka. Saat sedang asyik menikmati makanan mereka.
__ADS_1
Ting...
Suara notif pesan di ponsel Arkan, membuat Adara dan Arkan menghentikan kegiatan mereka.
"Hari ini kenapa banyak banget ya, ngirim pesan, ya?' batin Adara seraya menghela nafas.
Adara memperhatikan Arkan, yang mengecek pesan di ponselnya.
"Dara!" panggil Arkan.
"Hmmm..." gumam Adara, seraya masih fokus ke makanannya.
"Ini temen kamu nanyain kamu, kamu bales gih." Arkan memberikan ponselnya ke Adara, agar Adara bisa membalas pesannya.
Adara menerima ponsel Arkan, kemudian melihat isi pesan sahabatnya itu, seketika gadis itu terkekeh saat membaca isi pesan tersebut.
[ Arkan, gimana Adara? ]
[ udah ketemu, kan? ]
[ kalau udah ketemu jangan lupa kabarin kita, ya ]
[ kita khawatir, nih* ]
Tangan Adara pun langsung mengetikkan sesuatu untuk membalas isi pesannya tersebut.
Setelah selesai Adara langsung mematikan layar ponselnya.
"Udah?" tanya Arkan, gadis itu mengangguk kemudian mengembalikan ponselnya ke Arkan.
Mereka pun kembali menikmati makanana mereka
***
Di tempat Shane dan Aqilla, tampak dua orang tersebut sedang menunggu balasan dari Arkan, dan berharap sahabat kesayangan mereka itu baik - baik aja.
Ting....
Mereka berdua langsung bersemangat ketika mendengar notif pesan masuk, dan mereka berharap itu dari Arkan.
Wajah mereka langsung sumringa ketika mereka mendapat balasan langsung dari Arkan.
Mereka langsung membaca balasan dari Arkan, dan saat membaca balasan tersebut, mereka terkekeh.
[ hai gaish ]
[ sorry, udah buat khawatir ]
[ tapi kalian nggak usah khawatir ]
[ gue baik baik aja, kok ]
[ sambung chat di hp gue aja ya, jangan di hp Arkan ]
[ nggak enak soalnya ]
[ Dara ]
Mereka berdua langsung menutup layar ponsel mereka, kemudian meletakkan nya di samping mereka.
"Huaa... gue, jadi pengen nikah." kata Aqilla, sambil memanyun kan bibirnya.
"Ck, yaudah sana nikah, udah ada calonnya emang?" goda Shane.
Mendengar hal tersebut, Aqilla hanya cemberut, kemudian memainkan makananya, Shane yang melihat hal tersebut hanya tertawa geli.
"Tapi gue seneng, Adara dan Arkan, nggak lama berantemnya." ucap Aqilla.
"Iya, gue pikir masalah mereka serius, dan bakal panjang, tapi syukur deh, nggak berlarut - larut ternyata." ujar Shane.
Aqilla mengangguk setuju, mereka berdua pun melajukan kegiatan makan mereka.
****
19 : 00
Selesai makan malam, Adara membereskan bekas makan mereka, tak ketinggalan Arkan ikut membantu Adara.
"Dar!" panggil Arkan.
"Hmmm..." gumam Arkan seraya menoleh ke Arkan.
"Mulai sekarang kita satu kamar, ya," ujar Arkan.
"Eh?!" Adara sedikit terkejut mendengar ucapan Arkan barusan, tapi biar bagaimana pun mereka suami istri.
"dan.... " ucap Arkan terpotong.
"Dan?" tanya Adara, seraya menaikkan sebelah alisnya.
Arkan menatap wajah Adara, sedangkan Adara menatap bingung Arkan.
Cup..
Arkan mencium bibir Adara, kemudian ******* bibir Adara, Adara sedikit terkejut dengan apa yang di lakukan Arkan, namun Adara tetap membals ciuman Arkan.
Arkan semakin memainkan permainan nya, hingga turun ke tengkuk leher Adara, Adara yang terkejut sontak menahan Arkan.
Mata mereka berdua saling bertemu, Arkan menahan tangan Adara, kemudian kembali memainkan permainannya.
Arkan mengangkat tubuh Adara, dan membawanya ke kamar, ada rasa gugup bergejolak dari diri Adara, pasalnya ini pertama kali, sejak mereka berdua menikah.
Dengan perlahan Arkan menurunkan Adara ke tempat tidur, saat berada di kamar, kemudian melanjutkan permainan nya, dan pada malam itu mereka melakukan hubungan suami istri untuk pertama kalinya.
***
06 : 00
Pagi harinya Adara terbangun, dengan keadaan hanya berbalut selimut, dia baru ingat kalau dirinya dan Arkan, semalam melakukan hal tersebut.
Adara melirik ke Arkan, yang masih tertidur pulas, melihat Arkan yang masih tertidur, Adara langsung bangkit dari tempat tidurnya, dan membersih kan dirinya.
Setelah membersihkan dirinya, Adara yang melihat Arkan masih tertidur pulas di tempat tidur, berkaca pinggang dan kemudian menghampiri Arkan.
"Arkan!" panggil Adara dengan nada lembut, seraya menghuncangkan tubuh Arkan.
"Hmmm...." gumam Arkan.
"Ayo bangun, jangan cuma gumam doang, Arkan!" Adara masih mencoba membangunkan Arkan dari tidur.
"Bentar lagi, ya..." ucap Arkan dengan nada pelan.
"Nggak ada, ayo bangun..." akhirnya Arkan membuka matanya.
Arkan memandangi wajah Adara, yang sudah cantik dengan polesan makeup di wajahnya, Arkan menatap heran istrinya itu.
"Mau kemana, kamu?" tanya Arkan penasaran.
"Ih... kita kan harus ngantor, kamu lupa, ya?" tanya Adara.
"Oh, ya?" tanya balik Arkan.
"Makanya bangun, nanti telat." entah kenapa Arkan sangat gemas dengan istrinya itu yang pagi - pagi sudah bawel.
"Biarin, boss ini," simbat Arkan.
"Nggak boleh gitu dong, justru karena boss jadi harus ngasih contoh yang baik." ujar Adara.
Arkan hanya menghela nafas, karena mendengar ke bawelan istrinya itu.
"Morning kissnya, mana?" tanya Arkan, dengan nada menggoda.
Sontak hal tersebut membuat Adara jadi salah tingkah, apalagi membayangkan dirinya dan Arkan semalam, sontak wajah Adara memerah.
"Hahaha.. wajah kamu kenapa, masah gitu aja, langsung merah kayak tomat," ledek Arkan.
Sontak hal tersebut membuat Adara kesal, padahal karena dia, sekarang dirinya jadi salah tingkah.
"Ih.....udah jangan godain aku terus, cepetan siap - siap, nanti telat ke kantor." Kata Adara.
Arkan menghela nafas, kemudian menarik Adara, sontak mata mereka bertemu pandang, sekekali dia melirik tangannya yang berada di dada bidang Arkan, jantungnya langsung berdetak lebih kencang.
Arkan merapikan rambut Adara, kemudian menatap wajah Adara, sebaliknya juga begitu.
"Bawelnya istriku...." ucap Arkan seraya tersenyum.
Cup....
Adara di buat kaget, saat tiba - tiba Arkan mengecup bibirnya, wajahnya langsung memerah.
"Arkan!" teriak Adara, mendengar teriakkan istrinya itu, Arkan hanya cengengesan, sedang Adara mendengus kesal.
Arkan yang melihat ekpresi istrinya yang sudah kesal, langsung melarikan diri ke kamar mandi, tapi Adara masih menatap kesal Arkan.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Hai...
Gimana ceritanya semoga suka, ya
Kalau ada masukkan untuk author, silakan comen dibawah.
Jangan lupa like and comen, vote dan reviewnya.
Dan jangan lupa, tinggalin jejak, biar author bisa mampir ke tempat kalian
Ok see you
Sampai jumpa di cerita selanjutnya.
#salam manis dari author.
__ADS_1