Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Kecewa


__ADS_3

"Gimana, udah mendingan?" tanya Arkan dengan nada dingin.


Gadis itu mengangguk dengan ragu, Arkan menatap Adara dengan tatapan mendominasi.


"Udah ingat dong, semalam lo habis ngapain?" tanya Arkan masih dengan nada dingin.


Gadis itu tampak mencoba mengingat ngingat apa yang terjadi padanya semalam.


Dan beberapa lama kemudian dia berhasil mengingat, gadis itu mengangguk, Arkan melipat kedua tangannya menunggu Adara untuk menjelaskan kepadanya.


"Emm... semalam gue pergi ke club, terus minum, udah itu aja, tau - tau gur udah disini sama lo." jelas Arkan.


"Menurut lo, kenapa lo sampai di bawa kesini?" tanya Arkan.


"Mana gue tau, kan elo yang bawa gue kesini," simbat gadis itu.


Arkan menghela nafas, dia tak menyangka reaksi Adara akan seperti itu.


"Atau jangan - jangan lo bawa gue, kesini supaya lo bisa mengambil keuntungan dari gue, ya?!" tuduh gadis itu ke Arkan.


Akan hanya tercengang, atas tuduhan yang di berikan kepadanya.


Seraya tersenyum, Arkan memberikan kode untuk mendekat.


"Apa?" tanya gadis itu yang tak mengerti kode yang di berikan oleh Arkan.


"Apa?!" tanya gadis itu dengan nada kesal, karena Arkan sendari tadi hanya melambaikan tangannya, memberi kode untuk mendekat.


Akhirnya gadis itu mendekat ke Arkan, dengan ragu - ragu.


Pletakk...


"Aw..." gadis itu meringis kesakitan karena kepalanya di jitak oleh Arkan.


Sontak gadis itu menatap kesal Arkan, dan bergerak membalas Arkan, Arkan juga tak tinggal diam, dia juga memberikan perlawanan kepada Arkan.


Tak terima kepalanya di jitak oleh Arkan, gadis itu hendak membalas pembuatan Arkan kepadanya.


Tapi bukannya menjitak kepala Arkan, dia justru jatuh kepelukkannya Arkan.


Sontak mata mereka saling beradu pandang, cukup lama mereka saling pandang, Adara yang tersadar menjauhkan dirinya dari pelukkan Arkan.


"Duh... nih jantung auto spot masa,' batin Adara.


"Arkan dengar nggak ya, kira - kira.' batin Adara.


"Malu banget kalau Arkan, sampai dengar.' batin Adara.


"See... tau kan sekarang siapa yang nyari kesempatan?" tanya Arkan.


"Ih... si-siapa juga yang nyari kesempatan." gadis itu tampak mulai salah tingkah di depan Arkan.


"orang tadinya, gue cuma mau balas perbuatan lo yang tadi jitak kepala gue." gadis itu mendengus kesal.


"Ck, pakek ngeles lagi." sindir Arkan.


"Ih... siapa yang ngeles!" seru gadis itu.


"Sekarang cerita, kenapa bisa sampai di club malam?" tanya Arkan.


"Lo anak clubbing?!" tanya Arkan sedikit memojokkan Adara.


"Nggak!" seru Adara.


Dirinya tampak tak terima saat dirinya di pojokkan oleh Arkan.


"I-itu...." Adara sedikit ragu menceritakannya pada Arkan, dia takut kalau Arkan akan marah nantinya.


Cup.


Arkan mencium kening Adara tiba - tiba, Adara yang terkejut, tak tau harus merespon bagaimana.


Pipinya menjadi merah, jantung nya berdetak lebih kencang dari sebelumnya.


Sontak membuatnya menjadi salah tingkah di depan Arkan.


"Maaf." ucap Arkan.


Adara sedikit terkejut dengan permintaan maaf Arkan, Arkan mendekap Adara kedalam pelukkannya.


Pelukkan dari Arkan, baru pertama kali dia rasakan, dan membuatnya sangat nyaman.


Adara membalas pelukkan Arkan, dan pelukkan itu semakin hangat.


"Maaf atas semua sikap, aku." ucap Arkan, Adara hanya mendengarkan di balik pelukkan hangat Arkan.


"Gue tau, seharusnya gue enggak bersikap seperti itu." Arkan melepas pelukkannya kemudian menatap wajah Adara.


"Tapi lo tau bagaimana perasaa, gue sebenarnya." ucap Arkan.


Ekpresi Adara sontak berubah, Adara tampak mengerti arah pembicaraan Arkan tersebut.


"Dan untuk mengubah itu semua, gue butuh waktu," ujar Arkan.


"Gue, masih butuh waktu, untuk memulai semuanya," sambungnya.


"Berapa lama?" tanya Adara.


"Berapa lama waktu yang lo butuhkan, Arkan?" tatapan gadis itu sontak menjadi tajam


"Kenapa lo senang sekali menggantung perasaan gue, Arkan!" seru gadis itu.


Mata gadis itu mulai berair.


"Kenapa lo senang sekali mempermainkan perasaan gue." gadis itu berjalan mundur perlahan, menjauh dari Arkan.


"Dara!" panggil Arkan.


"Kalau lo lebih mencintai Maura, biar gue yang mundur, tapi jangan lakuin ini ke gue, Arkan." gadis itu terduduk lemas.


"Jangan lakuin ini.... khisk...." gadis itu menangis sejadi jadinya.


Arkan mendekati Adara, mendekapnya dalam pelukkannya.


Adara menangis sejadi - jadinya, di dalam pelukkan Arkan.


"Maaf." ucap Arkan.


Arkan mengusap rambut Adara, membuat Adara sedikit tenang.


"Gue juga bingung dengan perasaan gue." ucap Arkan.


"Disisi lain gue mencintai Maura, tapi gue juga tidak suka, saat ada orang lain mencoba mencium lo." jelas Arkan.


"Maksud lo, apa?" tanya Adara yang tampak bingung dengan perkataan Arkan barusan.


"Ya jelas, lo nggak ingat, orang semalam lo mabuk berat," sindir Arkan.


"Ma-maksud lo semalam ada yang mencoba_" gadis itu menyentuh bibirnya dan mengingat lejadian semalam.


Adara melirik wajah Arkan, terdapat sedikit lebam di pipi Arkan.


"Jangan bilang, keributan itu asalnya dari lo!" gadis itu baru menyadari kalau keributan itu berasal dari Arkan.


"Mungkin." sahut Arkan.


"Mana biar gue liat," gadis itu meraih wajah Arkan, dan memeriksa lebam yang terdapat di pipi Arkan.


Sontak mereka bertemu pandangan, dan saling pandang satu sama lain.


****


Di bandara.


Seorang gadis tampak sudah siap berangkat dengan pesawatnya.


"Kamu, serius mau ke indo?" tanyanya


"Serius lah, mana ada aku main main sama ucapan aku sendiri," gadis itu mulai mengenakan kaca matanya, dan meraih kopernya.


"Kalau gitu aku, pergi dulu," pamit Maura.


"Bye!" Setelah berpamitan, Maura mulai pergi ke pesawatnya, sahabatnya itu hanya memperhatikan dari jauh, yang mulai menghilang dari pandangannya.


Gadis itu mulai menaiki pesawatnya, dan menempati tempatnya.


Gadis itu tampak tak sabar, untuk bertemu dengan Arkan di sana.


Dia sengaja tak memberi kabar pada Arkan, kalau dia akan menyusul, karena dia ingin membuat kejutan untuk Arkan.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, pesawatnya pun berangkat, dan hanya beberapa jam kedepan, dia bisa bertemu dengan Arkan.


****


Adara menjauh kan wajahnya, dari hadapan Arkan, dan mencoba mengontrol dirinya.


"Kayaknya udah lo obati, ya?" tanya Adara ke Arkan.


Arkan mengangguk, kemudian menyentuh lebam di pipinya.


"Bagus kalo gitu," ucap Adara dengan santai.


Mungkin dia bisa bersikap biasa saja di depan Arkan, tapi Arkan bisa merasakan ke cemasan di dalam diri Adara.


"Soal mama dan papa?" tanya Adara setelah teringat dengan yang terjadi terakhir kali sebelum dia pergi ke tempat tersebut.


"Mereka minta gue untuk bicara baik - baik sama lo," jelas Arkan.


"Dan mereka juga yang minta gue untuk mencari lo." sambungnya.


"Ternyata bukan karena kemauannya sendiri?' batin Adara.


Seketika gadis itu merasa kecewa karena Arkan, mencarinya bukan karena kemauannya sendiri.


"Dara!" ucapannya begitu lembut saat dia menyebut namanya.


Tatapannya begitu hangat, saat Arkan menatap mata Adara yang indah.


"Gue boleh minta sesuatu?" tanya Arkan.


Adara menaikkan sebelah alisnya, ia tak mengerti maksud Arkan, permintaan apa kira - kira yang akan minta.


"Gue, minta lo jangan lagi ke tempat semalam lo pergi, ya." pinta Arkan, dengan wajah memelas.


"Pfff...." ucap Adara menahan tawanya.


"Kok, malah ketawa gue serius, Dara!" seru Arkan dengan wajah serius.


"Lo ada-ada aja deh, kamu pikir gue suka pergi ke tempat kayak gitu?" Adara tak hentinya ketawa.


"Oh... berani lo ngetawain gue, ya," Arkan menarik Adara mendekat sehingga Adara terduduk di pangkuan Arkan, Arkan menyandarkan dagunya ke pundak Adara, seraya memeluk Adara dengan pelukkan yang erat.


***


"Dar!" panggil Arkan.


"Hmm...." gumam Adara seraya matanya di arahkan ke Arkan yang memeluknya di belakang.


"Lo, mau kasih kesempatan, untuk gue memperbaiki semua, kan?" tanya Arkan.


Adara terdiam, dia menunggu apa yang hendak Arkan sampaikan.


"mingkin saat ini gue masih belajar buat cinta ke lo, tapi lo masih mau bersabar menunggu, kan?" tanya Arkan.


gadis Itu hanya mengangguk, dengan senyuman di balik wajahnya.


"Arkan!' batin Arkan.


"Seandainya lo tau, cinta bukan sesuatu yang bisa lo pelajari, tapi cinta itu, tentang suatu yang lo rasakan.' batin Adara.


"Kalau lo nggak merasakan apa pun, gimana lo bisa cinta?' Gadis iTunes terhanyut kedalam pikirannya.


"Tapi gue akan kasih lo kesempatan dan juga waktu, karena gue sendiri ternyata udah terlanjur cinta sama lo, Arkan!.' batin Adara.


"Dan ini demi mempertahankan rumah tangga kita.' batin Adara.


Adara akhirnya sadar, mempertahakan rumah tangga mereka adalah yang terpenting saat ini.


Rumah tangganya mungkin awalnya tanpa cinta, tapi perlahan rumah tangga mereka akan berdasarkan cinta.


*****


18 : 00


Drrrrt.....


Tiba - tiba ponsel Arkan berbunyi, Adara yang di kamar mandi tidak mengetahui hal itu.


Arkan mengangkat ponsel tersebut, ternyata yang menelponnya adalah Maura, yang mengabarkan kalau dia ada di indonesia.


"Maura!" seru Arkan.


, mengurungkan niatnya, karena saat dia hendak membuka pintu dia mendengar Arkan menyebut nama Maura.


"Maura?!' batin Adara.


Adara sedikit terkejut mendengar nama Maura keluar dari mulut Arkan, apakah untuk apa Maura menghubungi Arkan suaminya.


Rasa sakit kembali ia rasakan, tapi dia berusaha mengontrol dirinya, dia harus mengetahui apa yang terjadi, baru bisa mengambil kesimpulan.


Suara dercitan air membuat Arkan mengira Adara masih sibuk dengan ritual mandinya dan agak sedikit lama, sehingga dia mengangkat telponnya di kamar.


Tanpa Arkan sadari, Adara menguping pembicaraan mereka di balik pintu kamar mandi.


"Apa?!" Arkan terlihat terkejut dengan kedatangan Maura yang tiba - tiba.


"Kamu, kenapa nggak bilang kalau kesini?!" terlihat raut wajah Arkan begitu serius.


"Kamu , kenapa sih?!" tanya Maura dengan merengek.


"Aku kan mau ketemu kamu, dan sama om dan tante." jelas Maura.


"Dia mau ketemu Arkan kan, Papa dan Mama?!' batin Adara.


Adara kembali menguping pembicaraan mereka.


"Nggak bisa, Maura!" ucap Arkan.


"Nggak bisa gimana?!" tanya Maura dengan nada kesal.


"Maaf, tapi aku nggak bisa ketemu kamu." Arkan langsung memutuskan telponnya, dan meletakkan kembali telponnya.


****


Hal tersebut membuat Adara senang, tapi di depan Arkan dia harus bersikap seolah tak tau apa pun.


Adara keluar dari kamar mandi, dengan pakaian piama yang melekat di tubuhnya, tampak Adara mengeringkan rambutnya dengan handuknya.


"Arkan, kamu kenapa?" tanya Adara yang bingung melihat ekpresi Arkan saat ini.


"Nggak, nggak ada apa - apa." jawab Arkan sambil tersenyum.


Arkan pergi ke kamar mandi, kini giliran Arkan yang membersihkan dirinya.


****


19 : 00


Di ruang makan, tampa mereka berdua sedang makan bersama, tiba tiba.


Ting...


Ada notif pesan terdengar di hp Arkan, Adara mencoba bersikap biasa saja, meski rasa penasaran bergejolak dalam dirinya.


Arkan tampak melihat chat tersebut, dan tampak serius membaca isi pesan tersebut.


Adara memperhatikan dengan seksama Ekpresi Arkan yang setiap kali berubah, saat membaca pesan tersebut.


"Emm... Dara!" panggil Arkan dengan nada ragu


Adara sedikit terkejut, karena Arkan tiba - tiba memanggilnya.


"Gue, keluar bentar, ya," pamit Arkan.


"Kemana?" tanya Adara.


"gue ada urusan bentar di luar, gue janji akan cerita setelah gue kembali." gadis mengangguk, sambil tersenyum.


Arkan pun pergi meninggalak tempat tinggal mereka, sedangkan Adara masih dengan kebingungannya.


Sebenarnya ada apa dengan Arkan, kenapa dia pergi setelah dia membaca pesan itu?


Apa ada masalah?


Kalau seandainya benar ada masalah besar, bukankah sebagai istrinya, Adara harus tau?


Tapi Arkan malah membuatnya menunggu, tapi ada mencoba mengerti dan memahami kondisi suaminya.


Dia tidak mau dia dan Arkan menjadi bertengkar gara gara hal ini.

__ADS_1


Adara melanjutkan makan malamnya, dengan pikiran mengenai Arkan yang masih menyangkut di pikirannya.


***


Malam yang begitu tenang, gadis itu tampak melihat keluar jendela kamarnya, melihat apakah Arkan sudah kembali.


Gadis itu menunggu, sambil menatap langit malam, yang di penuhi oleh bulan dan bintang.


Dia berharap masalah yang di hadapi oleh Arkan, tidak terlalu besar, sehingga Arkan bisa melewati semuanya.


Hinga larut malam, Arkan belum juga kembali, rasa cemas menghantui Adara.


Adara menbosa menelpon, tapi nomor Arkan sama sekali tak aktif.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Adara juga mengirim pesan ke Arkan, namun tak ada jawaban.


Adara mulai cemas, dan dia mulai panik, gadis itu menjadi gelisa semalaman.


Tak ada kabar sama sekali dari Arkan, dan saat dia tanya ke orang tua Arkan, mereka bilang Arkan tak ada di rumah.


Jadi kemana Arkan sebenarnya?


jika ada hal mendesak hingga ia tak bisa bukankah seharusnya menghubungi, agar seseorang yang menunggunya jadi tidak khawatir.


Adara kian malang kabut, karena malam kian larut, dan Arkan belum juga kembali, dan tak ada orang yang bisa ia tanyai.


****


Pada akhirnya gadis itu tertidur, karena menunggu Arkan semalaman.


Matahari mulai memancarkan sinarnya, dan mulai menyilaukan matanya, membuat dia terbangun dari tidurnya.


Adara mengedarkan matanya secara perlahan, dia di buat terkejut di saat dia mendapati Arkan sudah tertidur di sampingnya.


Dia menatap Arkan dengan tatapan bingung, kapan Arkan kembali, dan kenapa dia tak menyadari kepulangan Arkan.


Dia menangkap sosok Arkan, yang tampak tidur dengan pulasnya, membuat dirinya jadi tak tega membangunkannya.


Tapi ada sesuatu yang harus di selaikan, dan ada sesuatu yang harus Arkan jelaskan soal kepergiannya.


Arkan membuka matanya, sontak Adara mengalihkan pandangannya.


Adara bangkit dari tempat tidur, dan meninggalkan Arkan sendirian di kamar.


****


Di dapur Adara mulai sibuk dengan peralatan dapurnya untuk memasak sarapan untuk mereka berdua.


Arkan tampak memperhatikan Adara, yang sedang fokus memasak.


Saat dia berbalik, Adara baru menyadari kalau Arkan memperhatikan dirinya memasak.


Hal tersebut membuat Adara menjadi salah tinggkah, tapi gadis itu mencoba untuk menyembunyikannya dari Arkan.


Adara tetap fokus ke masakannya dan mengabaikan Arkan pagi itu.


****


Beberapa lama kemudian, Adara selesai dengan masakannya, setelah memasak dia membersihkan dirinya.


****


Pagi itu mereka menghabiskan waktu pagi dengan sarapan bersama, tampak tak ada obrolan dalam waktu cukup lama.


"Emmm... Arkan!" panggil Adara, dengan nada ragu.


"Kenapa, Dar?" tanya Arkan.


"Ada yang mau lo omongin?" tanyanya lagi.


Adara menatap Arkan tak percaya, dia seperti tak merasa bersalah sama sekali, dan seperti tak terjadi apa-apa.


"Nggak." Adara pun mengurungkan niatnya, padahal dia ingin minta penjelasan kepada Arkan, kemana perginya dia semalaman tampa kabar.


Rasa kecewa kembali menghampiri Adara, namun dia tahan di hadapan Arkan.


Adara kembali bersikap seperti biasa, dan kembali mencoba memahami Arkan, mungkin dia punya alasan sendiri untuk tak cerita kepadanya.


tapi bukankah Adara berhak tau kemana suaminya, dan Arkan sama sekali tak memberitaunya.


Adara bangkit dari tempatnya, dan meninggalkan Arkan sendiri di meja makan.


Arkan pergi menyusul Adara, yang pergi ke kamarnya.


*****


"Dar, kamu nggak mau ngabisin makanan, kamu?" tanya Arkan.


Adara tak menggubris pertanyaa Arkan, dan itu membuat Arkan heran.


"Dar, kamu nggak apa - apa?" tanya Arkaj yang terlihat khawatir.


Terlihat air mata mengalir, di pipi Adara, dan itu membuat Arkan bingung, Adara menghapus air mata yang mengalir di pipi Adara dengan menggunakan tangannya.


"Dar, lo kenapa?" tanya Arkan, Adara masih diam, dan itu semakin membuat Arkan bingung sekaligus khawatir.


Lagi - lagi air mata mengalir di pipi Adara, tapi kali ini dia menghapus air matanya sendiri.


"gue, baik - baik aja," gadis itu kini tersenyum.


Gadis itu beranjak dari tempatnya, dan keluar dari kamar.


Adara hendak keluar dari rumahnya, namun di tahan oleh Arkan.


"Lo, mau kemana, Dar?" tanya Arkan.


Gadis itu melepas tangan Arkan, dari pergelangan tangannya, dan menatap Arkan dengan tatap dingin.


"gue mau keluar bentar." gadis itu hendak pergi, namun lagi - lagi di tahan oleh Arkan.


"Tapi kemana, Dar?" tanya Arkan.


"Biar gue, yang antar." gadis itu menggeleng kan kepalanya, dan melepas tangan Arkan dari pergelangannya.


Sebelum keluar, gadis itu sempat mengambil kunci mobil, dengan cepat dia masuk ke mobil, kemudian melajukan mobilnya.


"Dara!" seru Arkan, Arkan masuk ke dalam rumah, dan mencari kunci mobil yang satunya untuk menyusul Adara.


Setelah menemukan kunci mobil, Arkan langsung kemobil, dan pergi menyusul Adara.


***


Arkan mengedarkan pandangannya, untuk mencari keberadaan mobil Adara, namun dia tak melihat mobil Adara sama sekali.


Arkan terus mengedarkan pandangannya, seraya fokus menyetir.


"Maaf, ini salah gue." ucap Arkan menyesali perbuatannya.


"Seharusnya gue, jelasin ke elo, kemana gue pergi." laki - laki itu tampak memukul stir mobilnya.


***


Sudah cukup lama Arkan mencari Adara, tapi dia tak bisa menemukannya.


Arkan berpikir keras, kemana Adara pergi dan bersama siapa.


Tak tau harus kemana, Arkan akhira memutuskan mencarinya ke rumah orang tua Adara.


Dia berpikir mungkin saja Adara ada disana , tampa berpikir panjang Arkan langsung mengarahkan mobilnya ke rumah Adara.


***


"Dara! kamu pergi kemana, sih?!" dalam perjalananmya ke rumah Adara, Arkan terus melihat sekelilingnya, mungkin dia akan melihat mobil Adara.


Tapi tetap saja tidak ada, satu satunya harapannya saat ini, adalah rumah orang tua Adara.


Arkan menarik nafas dalam - dalam, dan besiap - siap manakala orang tuanya menanyai soal Adara.


****


Beberapa lama kumudian Arkan tiba di rumah Adara, dia melihat tak ada mobil yang tadi di pakai oleh Adara, dan itu berarti Adara tak ada disini


Arkan perlahan masuk ke rumah mertuanya, dengan mempersiapkan mental, dan jawaban untuk pertanyaan yang mungkin akan telontar oleh mertuanya itu.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Hai gimana, semoga suka ya

__ADS_1


Penasaran bagaimana kelanjutannya? pastikan kalian nggak sampai ketinggalan ya


__ADS_2