Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Apa itu?!


__ADS_3

Setelah Arkan pergi ke kantornya, aku memutuskan untuk mencari yang, semua hal yang mengenai maksud dari ucapan Maura.


Tanpa aku sadari aku berada di ruangan kerja Arkan. akhirnya aku memutuskan untuk menggeleda tempat itu.


"Sepertinya nggak ada apapun yang bisa aku dapat, dari tempat ini." aku mendengus kesal. kemudian keluar dari ruangan kerja Arkan.


...***...


Aku begitu kesal karena tak mendapat apapun, lalu aku memikirkan cara lain yang mungkin akan berhasil.


"Tunggu! kok aku jadi ngeraguin suami aku sendiri?"


"Kenapa aku jadi temakan oleh omongan, Maura!" aku yang merasa yang aku lakukan itu salah, langsung berhenti memikirkan ucapan Maura.


"Tapi ... gimana kalau yang dikatakan Maura ... ada benarnya?"


......*** ......


Ketika sore harinya ...


Nafasku terpacu mengimbangi langkahku yang berat karena berjalan dengan kondisi hamil besar.


Aku sedang menuju taman untuk mencari udara segar, sekaligus untuk berolaraga sore santai.


Seseorang menjadi pemandu senam ibu hamil seperti kami, tempat itu agak tertutup untuk umum, jadi para ibu hamil bisa dengan rileks.


......Drrrrttt!!!......


Tiba - tiba di pertengahan ponselku berbunyi, dengan terpaksa aku harus berhenti.


[ Sayang ... kamu dimana? ] tanya ibu Arkan.


"Aku lagi di taman ... kenapa, Ma?!" tanyaku.


[ Kamu bisa kerumah? ] tanya Mama Arkan.


[ Ada yang Mama mau kasih ke kamu ] sambungnya.


"Yaudah ... habis ini aku siap - siap, nanti aku kesana, ya Ma!"


[ Yaudah ... Mama tunggu ya, sayang ]


......Tut tut !!......


Mama Arkan memutuskan sambungan telponnya. kemudian aku kembali bergabung dengan yang lain.


...Jam 5 sore aku selesai dengan aktivitas ku, aku langsung bersiap - siap pulang, dan bersiap - siap untuk kerumah Mama Arkan....


Aku ambil tas dan kunci mobilku, lalu bergegas pergi ke mobil.


...***...


Setelah bersiap aku menyadari ucapan Maura. soal ruangan rahasia di rumah Arkan. aku jadi berpikir sedekat apa Maura dengan keluarga Arkan dulunya.


Menyadari kalau aku harus segera pergi, segera ku singkirkan pikiran yang masih terlintas di benakku, lalu kembali bersiap - siap.


Sebelum pergi aku merasa aku harus memberitahu Arkan. soal kepergian ke rumah orang tuanya. itu juga agar dia tidak bingung mencariku. setelah selesai aku langsung menuju ke mobil.

__ADS_1


...***...


...Di rumah orang tua Arkan....


Aku yang tiba saat hari sudah gelap, ku lihat rumah yang tampak begitu sepih, segera ku ketuk pintu, samar - samar aku mendengar seseorang datang.


tak lama pintu terbuka.


"Non Adara?!" ternyata orang yang membuka pintu adalah bibik, aku pikir ibu mertuaku.


"Ayo silakan masuk," ucapnya mempersihlakan aku masuk.


"Nyonya dan tuan sedang menerima telpon penting," ungkapnya.


"Tapi mereka bilang, akan segera menemui nona!" sambungnya.


"Baiklah," jawabku. wanita itu membungkuk hormat kemudian pergi meninggalkan aku di ruang tamu.


Aku menoleh ke kanan dan kiri, memandangi setiap penjuru rumah. aku jadi berpikir kapan terakhir aku kesini setelah aku pikir lagi ini pertama kalinya aku kerumah Arkan.


Aku kembali membayangkan bagaimana aku dan Arkan menikah, semuanya berjalan begitu cepat, aku baru menyadari sejak menikah Arkan tidak pernah membawaku ke rumah orang tuanya.


"Adara?!" seorang wanita datang menghampriku dengan senyum bahagia di wajahnya.


Wanita itu mendekapku ke dalam pelukkannya, pelukkannya begitu hangat hingga aku merasa nyaman.


"Ayo ... Papa sudah menunggu." wanita itu menarik tanganku, dengan pasrah aku mengikutinya.


...***...


Aku tiba di sebuah tempat yang bisa aku katakan seperti gudang.


Wanita yang membawaku berjalan ke arahnya. mau tak mau aku mengikutinya.


"Papa sedang melakukan, apa?" tanyaku.


Lelaki itu melihatku, lalu menoleh ke kanan dan kiri melihat keadaan sekitar gudang.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Papa Arkan.


"Kalau kamu terkena debu, disini gimana?" sambungnya.


"Kamu kenapa membawa Adara ... kesini?" tanya laki - laki itu ke istrinya.


"Pa ... jangan khawatir, Adara baik - baik aja, kok." ucapku menenangkan.


"Kamu, yakin?" tanya Papa. aku mengangguk menanggapinya.


"Yaudah kalau begitu." laki - laki itu kembali sibuk dengan kegiatan sebelumnya. tak memperhatikan aku sama sekali.


Sedangkan aku masih dalam kebingungan untuk apa aku di bawa kesini.


Ku putuskan untuk bertanya. agar aku juga mendapatkan penjelasan.


"Ma ... kita kesini ngapain?" tanyaku. kulihat wanita itu tersenyum melihatku.


"Ikut, Mama!" pintanya. wanita itu berjalan mendahuluiku, aku mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Aku sampai di depan sebuah lemari besar, wanita itu membuka lemari itu dan mengeluarkan sebuah kotak dari dalamnya.


"Itu apa, Ma?!" tanyaku bingung melihat kotak besar itu di keluarkan.


......Drrrt!!!......


Aku mengeluarkan ponselku, ku lihat Arkan yang tengah menelponku.


Karena aku rasa aku sudah memberitahu Arkan. kalau aku akan pergi ke rumah orang tuanya. aku mematikan telponnya begitu saja.


"Kenapa?" tanya Mama aku terkejut mendengar pertanyaan tiba - tiba tersebut.


"Bukan apa - apa, kok." simbatku.wanita itu mengangguk paham.


"Jadi mau lihat isi kotak ini?" tanyanya. aku mengangguk menanggapinya.


Satu persatu wanita itu mengeluarkan setiap yang ada di dalam kotak itu.


Aku tak menyangka begitu banyak isi di dalamnya di antaranya : buku album, buku diary, dan masih banyak lagi.


"Semua ini punya siapa?" tanyaku bingung.


"Semua ini punya, Arkan!" ungkapnya.


"Apa?!" seruku karena kaget.


Wanita itu terkejut melihat reaksiku, apa dia pikir aku mengetahuinya?


"Kamu tidak tau soal ini?" tanya Mama Arkan. aku hanya diam tak menanggapi pertanyaannya.


"Apa dia tidak cerita?" tanyanya lagi. lagi - lagi aku hanya bisa diam.


"Kalau begitu, mau liat semuanya?" tanya Mama Arkan.


"Tapi ini punya Arkan ... apa kita boleh?" tanyaku dengan nada cemas.


"Tentu saja sayang ... kamu kan istrinya." ucapnya menenangkan.


"Tapi ... "


"Udah jangan khawatir," ujarnya seraya menepuk bahuku.


"Pegang ini dulu, mama mau keluar ambil sesuatu," pamitnya kemudian pergi meninggalkanku.


Sekarang hanya aku dan Papanya Arkan saja yang berada di dalam gudang, tak lama dia pun pamit untuk keluar, hingga akhirnya tinggal aku seorang diri.


Aku mengamati sekitar, tak ada yang memperhatikan aku, hal itu membuat aku teringat kembali kata- kata Maura.


Aku berjalan sambil mengamati tempat tersebut, jika memang ada ruangan rahasia, pasti akan ada sesuatu untuk membukanya.


Sialnya aku juga tak menemukan apapun, hingga aku tak sengaja menginjak lantai yang dimana lantai tersebut seperti sebuah tombol, dan sesuatu yang seperti bergerak terdengar.


Saat Aku melihat ke sisi yang lain, ternyata sesuatu terbuka dan itu menunjukkan sesuatu sepeti ruang rahasia di balik dinding.


Dengan perasaan ragu aku berjalan ke arahnya untuk memeriksa, begitu aku masuk, tiba - tiba ruangan itu tertutup.


Aku langsung panik dan tak tau harus melakukan apa.

__ADS_1


💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮


Hai ... semoga suka ya. jangan lupa di like komen vote dan juga reviewnya.


__ADS_2