Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Ke Marahan Adara


__ADS_3

Terdengar suara ketukan pintu dari luar, sontak hal itu memecah suasana.


"Masuk!" seruku. kulihat sosok Mama Arkan yang muncul dari balik pintu.


"Mama?" Mama mendekat dengan raut wajah bahagianya.


"Mama ngapain, disini?" tanya Arkan, dengan raut wajah bingung.


"Kenapa kamu kaget, begitu?" tanya Mama Arkan, dengan heran.


"Kamu nggak tau, kalau selama kamu pergi, Mama selalu nemenin istri kamu, iya kan?" Aku mengangguk menanggapi ucapan Mama.


"Mama dengar kamu belum mandi, mandi sana," pinta Mama dengan nada tegas.


"Tapi ... "


"Sekarang!" Arkan buru - buru pergi ke kamar mandi, aku tertawa melihat tingkah Arkan.


"Adara!" panggil Mama.


"Ya?" tanyaku seraya menatap wajah Mama.


Mama terdiam sejenak, aku menatap bingung karena sepertinya ada yang ingin di sampaikan olehnya.


"Mama?" Mama menatapku, lalu tersenyum kaku.


"Nggak ... nggak ada apa - apa." ucapnya, setelah itu mama pergi meninggalkan kamarku, aku menatap bingung ke arahnya.


...***...


...Besok paginya .......


Saat terbangun dari tidur, aku merasa sesuatu yang berat seperti menimpa tubuhku, saat aku menoleh ternyata lengan Arkan sudah melingkar memeluk pinggang.


Aku menatap wajah pulas Arkan. entah kenapa aku senang melihatnya.


"Udah puas liatnya?" mataku terbelalak mengetahui Arkan sudah bangun, sontak aku memalingkan muka, berbalik membelakangi Arkan.


Aku bisa merasakan Arkan mendekat, tangan Arkan merayap ke tubuhku, lalu memeluk tubuhku dengan erat.


"A-Arkan!" Arkan mengecup tengkuk leherku, sontak aku merasa geli.


"Ka-kamu ngapain?" tanyaku dengan nada gugup, jantungku berdegub kencang, aku berusaha mengontrolnya. namun jantungku tidak mau di ajak kerja sama.


"Kenapa kamu wangi sekali, sih?" ucap Arkan dengan mata masih terpejam.


"A-apa, sih?" refleks aku berdiri, pura - pura aku merapikan rambutku, agar tidak terlihat seperti salah tingkah.


Tiba - tiba Arkan memelukku dari belakang, seraya menyandarkan kepalanya. di tengkuk leherku.


Aku hanya tersenyum, dan menikmati sikap manja Arkan di pagi hari.


"Kamu nggak ke kantor?" tanyaku, seraya melirik ke belakang.


"Boleh istirahat dulu nggak?" tanya Arkan dengan nada lemas.


"Terserah sih, kalau gitu ... aku yang ke kantor, boleh?" dengan cepat Arkan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ishh ... aku bosan, Arkan!" keluhku, Arkan melepas pelukkannya. kemudian mengusap kepalaku.


"Sabar ya sayang ... nanti kamu bisa balik lagi ke kantor kok," ujarnya. aku menghela nafas, kemudian memasang wajah memelas.


"Sayang .... " Aku mengangguk pasrah, Arkan tersenyum, kemudian medekatiku kedalam pelukkannya.


......***......


Aku menyiapkan sarapan untuk Arkan, tak lama Arkan datang, lalu duduk di tempatnya. aku menyajikan makanan sarapan untuknya.


"Terimakasih, sayang." ucap Arkan seraya tersenyum.


"Sama-sama." simbatku. aku mengamati Arkan yang tengah menikmati makanannya. dalam hatiku aku bahagia akhirnya bisa merasakan momen ini kembali.


"Arkan!" panggilku. Arkan menoleh menatapku.


"Ada apa?" tanya Arkan seraya menatap dalam ke arahku.


"Aku boleh ikut kamu, ke kantor?" tanyaku memasang wajah cemas.


Arkan tampak berpikir, dan menimbang sesuatu, kemudian mengangguk. setika wajahku menjadi sumringa karena kegirangan.


......****......


...Di kantor Arkan ......


Semua sedang menunggu kedatangan Arkan. begitu melihat Arkan mereka langsung bergerak memghampirinya.


"Pak!" ucapnya seraya membungkuk hormat.


"Sayang bisa kamu ke ruangan aku lebih dulu?" aku mengangguk menanggapinya. lalu berjalan ke ruangan Arkan.


"Ar .... kan," gadis itu seperti ingin menghampiri dan memeluk, tapi berhenti karena melihat aku yang ternyata bukan Arkan.


"Kau siapa?" tanyaku langsung.


"Kau siapa?" tanyanya balik, dengan raut wajah tidak senang.


Tak lama Arkan muncul, dan merangkulku, saat menoleh ke gadis di depanku, dia terkejut sama halnya denganku.


"Arkan!" Gadis itu berhambur, gadis itu menyingkirkan tangan Arkan yang merangkulku lalu memeluk Arkan.


Aku kehilangan kata - kata, bagaimana bisa ada orang yang berani memeluk suami di depan istrinya sendiri, Arkan menatap ke arahku dengan raut wajah menyesal.


"Bisa lepasin suami, saya?!" ucapku dengan nada kesal, menyadari aku yang telah di bakar cemburu, menyingkar gadis itu dari dekat.


Gadis itu yang terlihat tidak senang, menatap tajam ke arahku. aku yang tak takut langsung berdiri di depan Arkan, la yaknya sebuah benteng.


"Satu hal lagi, bisa jauhi suami, saya?" tanyaku dengan nada penuh penekanan.


dari raut wajahnya aku bisa tau kalau dia tidak terimah dengan ucapaku.


"Arkan!" panggilnya dengan raut wajah memelas.


"Sedang apa kau disini?" tanya Arkan dengan dahi mengkerut.


"Aku kesini untuk menemuimu," simbatnya dengan wajah sumringa.

__ADS_1


"Aku kangen ... sejak saat itu, aku selalu ingin bertemu dengan kamu," ujarnya, tanpa memikirkan aku yang ada disana mendengarkan.


"Kan kamu tau, itu." sambungnya. aku mulai terbakar cemburu, Arkan tampanya mulai mengkhawatirkan aku.


"Kamu ini ngomong apa, sih?" tanya Arkan dengan raut kesal.


Arkan menelpon scurity, tak lama dia datang dan dia menarik tangannya. sesekali gadis itu memberontak dan meneriaki kami, namun akhirnya gadis itu berhasil di seret keluar.


"Arkan!" panggilku, aku menatap Arkan dengan raut kecewa.


"Gadis itu, siapa?" tanyaku dengan menahan tangis.


"Sa-sayang ... kamu tenang, ya," pinta Arkan cemas.


"DIA, SIAPA?!" karena emosi, aku meneriaki Arkan, tampak Arkan terkejut melihat hal tersebut.


Aku merasa tidak nyaman pada perutku, tiba - tiba perutku menjadi keram, sontak aku menjadi kesakitan.


"Akkkh ... Aaaaa!" Aku meremas perutku yang kesakitan melihat ada yang salah denganku, Arkan langsung panik.


"Adara!" Aku hampir aku kehilangan keseimbangan dan jatuh, namun dengan sigap Arkan menompang tubuhku.


"Kita kerumah sakit, ya." aku sudah pasrah, aku langsung menyetujui perkataan Arkan.


......***......


Selama beberapa menit dokter memeriksaku, dan rasa sakit di perutku pun sudah agak mereda.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?!" tanya Arkan dengan raut wajah khawatir.


"Sudah tidak masalah, tapi kalau bisa di hindari untuk masalah seperti ini," sarannya.


"Karenan hal tersebut bisa patal." jelasnya.


"Baik, Dok!" setelah berpamitan Dokter itu meninggalkan kami berdua diruangan itu.


Arkan menatapku dengan raut wajah menyesal, aku memalingkan wajahku, darinya.


"Adara!" panggilnya, aku mengabaikan Arkan. dan tak menimpali Arkan sama sekali.


"Kamu marah?" tanya Arkan. lagi - lagi aku tak menanggapinya.


Arkan tiba - tiba mendekatiku, lalu mengusap kepalaku. aku tak bergeming sama sekali.dia harus tau, tidak mudah untuk membujukku.


......🌼🌼🌼🌼......


Jangan lupa like and komen vote dan juga review-nya.


Kalau ada krisan silahkan komen di bawah ya, author selalu terbuka menerima krisan kalian semua.


Jangan lupa dukung terus cerita ini, biar semakin berkembang.


Buat kalian yang ingin author mampir ke tempat kalian, silahkan komen di bawah ok.


See you, sampai jumpa di cerita selanjutnya.


Ig : S_Anastayha

__ADS_1


Facebook : Anastayhasilfa.


e-mail : putrimarita97@gmail.com


__ADS_2