Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Kepulangan Mendadak Arkan


__ADS_3

Drrtttt.......


"Hallo!" ucap Adara.


"Astaga, Dara!" seru Arkan.


"Lo kenapa baru ngangkat telpon, gue sih?!" emosi Arkan meluap saat itu juga.


"Maaf, soalnya gue baru nyampe." jawab Adara dengan nada santai.


Santainya Adara membuat Arkan memijit kepalanya, karena berbanding berbalik dengan dirinya yang sendari tadi khawatir menunggu kabarnya.


"Dar, lo dimana sekarang?" tanya Arkan.


"Arkan, nanya aku dimana?' batin Adara.


"Seriusan?' batin Adara.


"Dara!" panggil Arkan.


"Di apartment." jawab Adara.


"Bagus deh, kalo gitu, aku____" ucapan Arkan di potong oleh Adara.


"Tapi bukan di apartment, kamu." ucap Adara.


Arkan terdiam, sekaligus bingung dengan maksud Adara.


"Ma-maksud, kamu?" tanya Arkan ragu.


"Kamu di apartement siapa, Dar?" tanya Arkan lagi.


"Kasih tau nggak, ya?' bantin Adara.


"Nggak usah, deh.' Adara pun memutuskan untuk tidak memberitahu kalau dia ada di apartementnya.


"Udah, kamu nggak usah khawatir," ujar Adara.


"Kamu, nikmatin aja liburan kamu, sama Maura." sindir Adara.


Tut tut tut......


Adara mematikan telponnya, tanpa kata kata.


Hal tersebut membuat Arkan kesal, sekaligus bingung dengan apa yang di maksud oleh Adara.


Arkan benar - benar bingung sekarang, kepulangan Adara, di luar rencana sebelumnya.


Dan dia juga tidak mungkin pulang tanpa Adara, jika dia pulang tanpa Adara, pasti akan timbul pertanyaan di keluarga mereka berdua.


Entah apa yang harus di lakukan, hal tersebut membuat Arkan bingung.


****


08 : 00


Di Fine Caffe


"Hai, sayang." ucap Maura seraya mencium pipi Arkan.


Maura pun duduk di hadapan Arkan, dan menatap Arkan dengan senyuman.


Arkan meraih tangan Mauran, lalu menggenggamnya, kemudian menatap Maura dengan serius.


"Maura!" ucapnya menyebut nama Maura.


"Hmm... " gumamnya, seraya menatap balik Arkan.


"Aku, harus kembali sekarang." ungkapnya.


"Loh, kok buru - buru, katanya bakal lama," gadis itu memasang wajah bete dan memelas.


"Maaf, tapi pekerjaan aku, lagi butuh aku sekarang." ucap Arkan mencoba membuat Maura mengerti.


"Jadi kamu, lebih milih pekerjaan kamu, di banding, aku?" tanya gadis itu, seraya melepas tangannya, dari genggaman Arkan.


"Sayang, bukan gitu, tapi kantor lagi ribet sekarang, makanya butuhin aku." jelas Arkan, dan mencoba sekali lagi membuat Maura mengerti.


"Kamu nggak bohong, kan?" tanya Maura.


"Maksud kamu?" tanya Arkan, yang tak mengerti dengan maksud Maura.


"Ya, siapa tau, kamu balik cuma buat cewek lain." sindir Maura, seraya memasang wajah bete.


"Kamu ini ada-ada aja, sih." Arkan mengelus rambut Maura, dengan lembut, dan itu membuat Maura nyaman.


"Yaudah, kapan kamu berangkat?" tanya Maura penasaran.


"Emm... nanti siang, jam 12." jawab Arkan.

__ADS_1


"Yaudah, nanti aku antar kamu ke bandara, ya." gadis itu berjalan mendekati Arkan, kemudian meraih lengan Arkan, kemudian besandar di lengan Arkan.


Arkan mengangguk, kemudian menggosok rambut Maura.


****


di tempat Adara.


Tampak Adara sedang berkumpul dengan teman - temannya, di sebuah caffe.


"What!" seru Shane dan Aqilla bersamaan.


"Dan lo, mau aja gitu?" tanya Shane.


"Yah, mau gimana lagi." jawab Adara.


"Emang nggak ada cara lain, Dar?" tanya Aqilla.


Adara hanya menggeleng kan kepala, menundukkan kepalanya.


"Lo kenapa baru bilang sekarang, sih!" seru Aqilla.


"Iya, kan jadinya kita bingung, harus bantuin lo, kayak gimana." sambung Shane.


Adara tersenyum menatap kedua temannya itu, dengan tersenyum.


"Makasih, ya." ucap Adara.


"Surpot dari kalian, udah lebih dari cukup kok." ujar Adara seraya tersenyum.


Sontak kedua sahabat itu saling berpelukkan, hal tersebut memperlihat kan kehangatan di antara mereka.


*****


12 : 00


Arkan tiba di bandara, dan pesawatnya siap untuk berangkat.


Arkan pun, mengirim kan pesan ke Adara.


[ Dar, aku hari ini balik, jangan lupa , jemput Aku di bandara. ]


Adara yang sedang asyik mengobrol dengan kedua sahabatnya itu, di buat terkejut dengan notif pesan di ponselnya.


Ting.


"Eh?"


"Bentar." Adara meraih ponselnya, dan melihat notif pesan yang masuk.


"What!!" Adara secara reflek teriak, g


hingga menjadi pusat perhatian di caffe tersebut.


"Hehe... maaf." setelah gadis itu meminta maaf, semua kembali pada aktivitas mereka.


"Ada apaan, sih?" tanya Aqilla.


"Tau, sampai segitunya." sambung Shane.


"Ini, laki gue ngasih tau, kalau dia balik hari ini." ungkap Adara.


"Lah, terus?" tanya Aqilla.


"Ya, gue kaget lah, secara dia belum ada bilang ke gue, kalo dia balik hari ini." jelas Adara.


"Mana dia minta jemput lagi." Adara meletakkan ponselnya, kemudian meminum minumannya.


"Udah sih, kalo laki minta jemput itu ya, di jemput aja, Dar." ujar Shane.


"Males." sahut Adara.


"Lo mau jadi istri durhaka?" tanya Aqilla.


"Tau gimana juga pun, itu suami lo, Dar." sambung Shane.


Adara menghela nafas, dan akhirnya menuruti apa perkataan kedua sahabatnya itu.


"***Room chat"


[ kok baru bilang***? ]


Tak ada balasan dari Arkan.


[ ***p ]


[ p ]


[ p*** ]

__ADS_1


[ Arkan, lo ngerjain gue, ya ?! ]


Masih tak ada balasan dari Arkan.


[ ***Arkan ]


[ Arkan ]


[ Hallo***]


"Ish......" gadis itu berdesis kesal, karena Arkan dari tadi tak menjawab telponnya.


"Kenapa, Dar?" tanya Aqilla.


"Nggak di balasnya chat, dari gue." ucap Adara dengan nada dingin.


"Lagi di pesawat, kali." ucap ucap Shane.


"Udah lo tunggu aja kabar selanjutnya." ucap Shane.


Adara menghela nafas, kemudian meminum - minumannya.


***


Beberapa jam kemudiam, dibandara.


"Kok, lo nggak ngabarin kalo mau pulang?" tanya Adara, seraya menatap kesal Arkan.


"Suami baru nyampe, udah di introgasi." sindir Arkan.


"Hah?" ucap Adara yang bingung dengan kata - kata barusan.


"Barusan dia bilang suami?' batin Adara.


"Gue yang nggak salah dengar kan, barusan?' batin Adara.


"Arkan, lo nggak lagi sakit, kan?" tanya Adara, seraya menempelkan telapak tangannya di kening Arkan.


"Apaan, sih." ucap Arkan, seraya menyingkirkan tangan Adara.


"Udah balik yuk, udah capek banget nih," Arkan berjalan mendahului.


Sedangkan Adara menatap punggung Arkan, dengan tatapan bingung.


*****


Beberapa menit kemudian Adara dan Arkan, sampai di apartementnya.


Mereka masuk ke dalam apartementnya.


"Udah, sampai." ucap Adara.


"Udah, kan?" tanya Adara.


"Kalo gitu, gue pergi dulu." ucap Adara.


Adara hendak berbalik, dan beranjak dari tempatnya, namun tangannya di tahan oleh Arkan.


"Apa?!" tanya Adara dengan nada dingin.


"Lo, mau kemana?" tanya Arkan.


"Balik, lah." ucap Adara.


"Balik kemana?" tanya Arkan.


"Apartement gue, lah." ucap Adara tanpa sadar.


"Ups...." Adara menutup mulutnya karena keceplosan.


"Kamu, punya apartement?" tanya Arkan, seraya menatap Adara.


"Emm... i-iya." ucap Arkan.


"Dimana?" tanya Arkan.


"Em....lo nggak perlu tau." ucap Adara.


"Kalo lo, nggak ngasih tau," ujar Arkan.


"apa?" tanya Adara.


"Jangan harap, lo bisa pergi dari sini." ancam Arkan.


Adara terdiam, dan tak tau harus menjawab apa.


Arkan pasti tak akan membiarkannya pergi dengan mudah, lalu apa yang harus dia lakukan sekarang.


__ADS_1



***Jangan lupa like and comen, dan jangan lupa kasih reviewnya ya, dan kasih kritikan yang membangun***.


__ADS_2