
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku, Adara?" tanya Arkan dengan nada dingin.
"Meski aku tidak pecaya dengan foto itu," ujarku, tatapanku langsung berubah menjadi serius di depannya.
"Apa kau tidak ingin bercerita, bagaimana foto itu di ambil?" tanyaku hampir kehilangan sebagian kesabaranku.
"Itu berarti kau meragukanku, apa aku benar?" aku menatap Arkan tak percaya.
"Aku tidak bilang kalau aku meragukanmu, Arkan!" tekanku, tanpa aku sadari aku kelepasan hingga kehilangan kendali.
Tiba - tiba perutku keram, melihatku kesakitan ekspresi Arkan langsung berubah menjadi panik.
"A-Adara!" rasanya sulit bicara di saat rasa sakit yang tengah menyerang, melihatku seperti sangat kesakitan Arkan langsung membawaku ke rumah sakit.
......***......
...Keesokan paginya .......
Ketika aku membuka mata, aku langsung di perlihatkan dengan suasana kamar rumah sakit untuk sekali lagi.
Aku menghela nafas, tak lama Arkan masuk dengan membawa makanan untukku.
"Makanlah ini," Arkan menyuapiku dengan begitu kasih, aku terus memperhatikanya. karena pandanganku tak bisa lepas darinya. saat melihat perhatiannya.
"Kau mau makan, atau melihatku?" tanya Arkan tiba - tiba membuatku tertegu.
Karena canggung aku memalingkan wajahku, seketika suasana menjadi ikut canggung.
"Ada apa lagi?" tanya Arkan. aku kembali menoleh ke Arkan.
"Maaf ... gara-gara aku ... kau jadi sampai masuk rumah sakit lagi." aku melihat raut menyesal di wajahnya.
"Arkan ... ini bukan salahmu, ini salahku yang _"
"Cukup!" tekan Arkan, aku tertegun, amu menatap wajah Arkan yang tampak gusar.
"Adara ... semua masalah ini, benar-benar membuatku tertekan," ujar Arkan dengan nada gusar.
Aku tak pernah melihat Arka. seperti ini sebelumnya, biasanya Arkan yang lebih kuat dariku, tapi ...
Perlahan aku meraih tangan Arkan, lalu menggenggamnya. Arkan menatapku saat itu aku berikan senyum terbaikku.
"Kamu pernah bilangkan, kalau kita akan melewati ini sama-sama," Arkan hanya diam tak menanggapi perkataanku.
"Arkan ... selagi kita bersama-sama, kita akan kuat menghadapi ini semua," Arkan menatap dalam ke dalam bola mataku, seakan mencari sesuatu.
"Kumohon jangan biarkan aku sendiri ... " lirihku dengan nada lemah.
"Karena aku tidak akan kuat, menghadapi ini semua, ok?" ucapku dengan wajah memelas.
Tanpa aba - aba, Arkan mendekapku ke dalam pelukkannya. seketika tangis haruku pecah, akhirnya aku bisa kembali merasakan kehangatan dari suamiku.
......***......
__ADS_1
Orang - orang rumah sakit kembali memeriksaku, aku sudah tetapkan kalau aku tidak akan kembali ke rumah sakit, benar - benar tidak nyaman dengan semua yang ada di rumah sakit.
"Dokter bagaimana kondisi istri saya?" tanya Arkan. mendengar Arkan menanyakan kondisiku, kenapa aku menjadi gugup.
"Nona Adara!" panggil Dokter, kenapa perasaanku tidak enak, ketika dokter itu memanggilku, apa ada sesuatu yang salah denganku.
"Ya?" simbatku, aku tak bisa mengontrol detak jantungku yang berpacu sangat kencang.
"Apa belakangan ini kepala anda sering pusing?" tanya Dokter.
Kenapa? kenapa tiba - tiba dokter bertanya seperti itu, apa benar - benar ada sesuatu?
Aku melirik Arkan. ku lihat raut wajahnya menjadi cemas.
"Katakan ada apa, Dok?" tanya Arkan cemas.
"Apa masalahnya cukup serius?" tanya Arkan semakin khawatir.
"Arkan!" aku ikut panik, melihat kegelisahan Arkan.
"Sebenarnya tidak terlalu serius," ungkap Dokter.
"Tapi anda tetap harus menjaga kondisi anda." sarannya.
"Dan kalau bisa jangan terlalu banyak pikiran, ataupun tertekan," ujarnya.
"Dan kalau bisa anda harus istirahat yang cukup, apa anda mengerti?" aku menganggukkan kepala menanggapinya.
"Kalau begitu saya permisih," pamitnya.
"Ya, Dok?" simbatnya.
"Tolong berikan resep obat, yang tadi saya bilang." pintanya.
"Baik, Dok!" ucapnya dengan nada patuh.
Setelah suster itu memberikan resep obat untukku kepada Arkan. suster itu pergi meninggalkan kami.
Aku menatap penuh ke heranan, entah kenapa aku merasa tidak puas dengan apa yang dikatakan dokter tersebut.
......***......
Hari berikutnya aku di bolehkan pulang oleh Dokter, ketika aku sudah di periksa kesekian kalinya.
"Kamu yakin, aku tinggal?" tanya Arkan ragu.
"Udah aku bilang ... aku baik-baik saja." jawabku dengan nada jengkel.
Aku masih melihat keraguan di mata Arkan. untuk meninggalku, lalu semua berujung dengan Arkan yang benar - benar tidak jadi pergi.
"Sebaiknya aku tidak ke kantor dulu hari ini," ujar Arkan tiba - tiba.
"Loh ... kenapa tiba-tiba?" tanyaku heran.
__ADS_1
Arkan menghampiriku, lalu berdiri di depanku, mengamatiku dari atas sampai bawah.
"Karena istri dan juga anakku, lagi lebih membutuhkanku sekarang." aku senang mendengarnya. tapi setelah di pikir lagi, bagaimana dengan kantor?
"Tapi, Arkan _" ucapku terpotong karena Arkan menempelkan jari telunjuknya di mulutku, memberikan isyarat untuk diam.
Aku tidak menyangka kalau Arkan. akan sampai seperti ini. haruskah aku membujuknya ?
Arkan menuntuku untuk duduk di sofa, kemudian menyandarkan kepalaku pada dada bidangnya. elusan tangannya di kepalaku berhasil membuat aku menjadi nyaman.
"Arkan!" panggilku, Arkan menoleh padaku.
"Apa kau yakin, ini tidak apa-apa?" tanyaku dengan raut cemas.
Arkan tersenyum, kemudian beralih pada perutku. aku mengamati Arkan dengan seksama, saat itu aku sadar, apapun yang dia lakukan, semua demi aku dan bayi kami.
"Kalian prioritasku, Adara!" ucap Arkan, lalu menatapku dengan lembut.
Lagi - lagi Arkan membuat aku semakin cinta dengannya, ucapnya membuat aku menjadi sadar, bahwa dia hanya ingin melindung kami berdua.
Kami berdua saling bertukar tatap, Arkan kembali berbicara.
"Apa masih merasa pusing?" tanya Arkan tiba - tiba. dengan cepat aku menggelengkan kepala.
"Kalau ada apa-apa, bisa kan langsung kabari aku?" tanya Arkan penuh harap. aku menganggukkan kepala menanggapinya.
"Kalau begitu ... sekarang kamu istirahat di kamar, ya," ajak Arkan. setelah mengantarku ke kamar, Arkan pergi keluar kamar, entah mau kemana dia.
Diam - diam aku keluar kamar, kemudian mencari keberadaan Arkan.
Saat itu aku melihat Arkan tengah berbicara dengan bibik, diam - diam aku menguping pembicaraan mereka.
"Bik ... bisa ceritakan, selama aku tidak ada, apa yang terjadi?" pinta Arkan penuh harap.
Bibik hanya diam sesaat. diam tampak ragu menjawab pertanyaan Arkan. Bibik menarik nafas panjang berusaha menenangkan diri.
"Maaf ... tapi kemarin ... sebenarnya _ " ucapan bibik terpotong karena kemunculan yang tiba - tiba, Arkan juga tidak menyangka, kalau aku akan menyusulnya.
Aku beruntung bisa datang tepat waktu, kalau tidak dia akan membongkar semuanya.
"Adara" ucap Arkan yang tampak terkejut melihatku.
"Sejak kapan? bukannya kau tadi istirahat di kamar, kenapa kau disini?" ucap Arkan yang langsung meghujaniku dengan pertanyaan. membuat aku kualahan mencari alasan.
"Aku haus ... tadi aku panggil tidak ada yang dengar," dalihku.
"Apa kalian sedang membicarakan hal serius? apa aku perlu keluar?" keduanya diam tak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaanku.
Tak lama Arkan memghampriku dengan segelas air di tangannya, lalu membawaku keluar dari dapur, diam - diam aku menoleh ke belakang melirik bibik yang tampak mematung.
...Dalam batinku, aku berkata ... urusan kita belum selesai ......
......🌸🌸🌸🌸🌸......
__ADS_1
Hai semoga suka sama ceritanya, jangan lupa like and komen, vote dan juga review