Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Ada Apa Denganku Sebenarnya


__ADS_3

Ku tatap wajah Azka, bayi mungil itu tampak tertidur lelap.


Aku menatap lurus ke arahnya. aku tak percaya kalau aku sekarang adalah seorang ibu.


Aku kecup pipi kiri dan kanannya. aku terkejut melihatnya bangun.


"Sayang ... maafkan Mama, kamu jadi bangun," ujarku. seraya menggendongnya.


Aku mencoba menidurkannya kembali, ku pengang tangannya, tangannya yang mungil tampak lembut dan halus itu menggenggam jariku.


Setelah Azka tertidur, aku meletakannya kembali ke tempat tidurnya dengan hati - hati.


......****......


...Ting tong!...


Suara bel berbunyi, dengan sergapan bibik pergi ke pintu, lalu membukakan pintu.


"Aaaa!" teriak bibik. teriakkan bibik yang kecang membuat aku langsung berhambur ke lantai bawah.


"Bik!" seruku kaget karena melihat bibik tergeletak di lantai.


Aku mengguncang badan bibik, mencoba membangunkannya. tapi tak ada reaksi apapun.


Beberapa orang pengawal menghampiriku dengan tergesa - gesa. aku langsung memintanya membawa bibik ke mobil, untuk membawanya ke rumah sakit.


...****...


Saat di rumah sakit, melihat bibik terbaring tak berdaya, membuatku kehilangan kata - kata, saat akhirnya aku sadar ....


Sejak aku mendengar teriakan Bibik, aku merasa ada yang aneh, dan akhirnya aku sadar, teror itu kembali ....


Aku benar - benar tak habis pikir, ku pijat keningku, kejadian ini benar - benar membuatku sakit kepala karena aku menyadari.


Keluargaku kembali dalam bahaya ....


......***......


Seketika aku terduduk lemas di kursi tunggu, tak lama Dokter keluar setelah selesai memeriksa.


Aku langsung berdiri dan mendekati Dokter yang keluar bersamaan dan dengan Suster.


"Dokter!" panggilku.


"Bagaimana kondisinya?" tanyaku cemas.


"Tidak apa - apa, dia hanya terluka kecil, dan juga sedikit shock," ungkap Dokter.


Seketika aku menarik nafas lega, setelah dokter itu pergi, aku sadar masuk untuk melihat keadaan bibik


......***......


Aku melihat Bibik masih memejamkan matanya, lalu dengan perasaan bersalah aku duduk di samping tempat tidurnya.


Aku menatap bibik cukup lama, dalam hati aku berharap semuanya hanya mimpi, tapi aku sadar ini bukan mimpi.


Seharusnya aku tak membiarkan ini terjadi, tapi tak ada yang akan menduga semua ini akan terjadi.


...***...


Saat keluar dari ruangan, aku melihat Arkan datang dengan tergesa - gesa dan dengan nafas terengah - engah.

__ADS_1


"Adara!" ucap Arkan begitu berada di hadapnku, dengan tampak sulit mengatur nafas.


"Kamu tadi lari, sampai kesini?" tanyaku, sambil memperhatikan Arkan.


"Itu bahasnya nanti aja, bagaimana keadaan kamu dan bayi kita?" tanya Arkan. seraya melirik Azka yang berada dalam gendonganku.


"Kamu baik - baik, aja," jawabku, Arkan mulai sedikit tenang.


"Terus, Bibik?" tanya Arkan, dengan raut wajah cemas.


"Cuma luka kecil dan sedikit shock, kata dokter sore nanti juga bisa pulang," ungkapku, aku melihat Arkan menarik nafas lega.


Arkan pasti sangat khawatir, dengan keadaan kami, semua itu terlihat dari raut wajahnya, melihat itu segera aku menenangkannya.


...***...


...Sore harinya .......


Kami pulang kerumah berserta bibik, semua mengingatkanku dengan kejadian itu, saat memasuki rumah.


Bibik kembali ke kamarnya, saat bibik pergi Akan menatapku.


"Adara ... ada yang ingin aku bicarakan sama kamu,"


Ini pertama kalinya Arkan membahas lagi masalah ini denganku, sejak terakhir kali Arkan memutuskan untuk pindah rumah hingga beberapa kali.


Arkan membawaku ke kamar, Aku meletakkan Azka ke tempat tidurnya. lalu kembali ke sisi Arkan.


"Ada apa, Arkan?" tanyaku bingung.


"Sepertinya ini sudah kelewatan," ujar Arkan dengan raut wajah geram.


"Aku juga berpikir begitu, lalu apa yang mau kamu lakukan?" tanyaku.


"Nanti kita bahas lagi, sekarang kamu istirahat, ya." meski aku merasa ada salah, aku menurut dengan kata - kata Arkan.


...***...


Sejak kemarin aku berusaha menyembunyikan rasa penasaranku, tentang apa yang di rencanakan Arkan, tapi saat aku ingin membahasnya, Arkan selalu menghindarinya.


Ternyata aku ingin kembali ke kantor polisi, untuk melaporkan kejadian yang menimpa kami, tapi Arkan menahanku.


Hal itu semakin membuatku curiga, sebenarnya apa yang di rencanakan olehnya?


...***...


Setelah selesai mempersiapkan Azka untuk jalan - jalan keluar di pagi hari, ku lirik jam dinding yang menandakan sudah waktunya untuk pergi.


Tapi Arkan yang mengetahui aku yang tidak aman, Arkan menyuruh orang untuk mengawalku.


Tidak nyaman memang ... tapi tidak ada pilihan lain, selain menuruti Arkan.


...****...


Kami yang tengah istirahat di taman, tampak mengamati sekeliling.


...Brakk!!...


Seorang anak kecil jatuh tepat di depanku, dengan sergapan aku membantunya untuk berdiri.


"Kamu tidak, apa - apa?" tanyaku, dia hanya menatapku, dengan tatapan yang tak pernah aku lihat sebelumnya.

__ADS_1


Tiba - tiba dia tersenyum, lalu pergi begitu saja, apa dia termasuk anak yang pemalu?


...***...


Setelah selesai dengan urusan di luar aku memutuskan untuk pulang, karena rasanya tidak baik juga terlalu lama di luar.


Tiba rasa sakit di kepalaku kembali menyerang, aku berhenti sebentar.


"Nona ... anda tidak apa - apa?" tanyanya. dengan raut wajah khawatir.


Sakit di kepalaku membuat aku tak bisa menjawab pertanyaannya, tiba - tiba rasa sakit itu mereda, aku mencoba mengendalikan diriku.


"Nona?" raut wajahnya semakin cemas.


"Tidak perlu khawatir, aku tidak apa - apa." ucapku menenangkan mereka.


"Jangan beritahu Arkan ... soal ini, apa kalian mengerti?" tanyaku, mereka mengangguk patuh.


Setelah rasa kepalaku menghilang sepenuhnya. aku kembali melanjutkan perjalanan.


...***...


Di halaman depan rumah, tampak Bibik tengah berdiri disana, sepertinya dia tengah menungguku.


"Nona ... anda baik - baik saja, kan?" tanya bibik dengan raut wajah khawatir.


"Aku tidak apa - apa," jawabku, seraya tersenyum di depannya.


...***...


...Keesokan harinya .......


Seorang dokter memeriksaku, tak butuh lama dia pun selesai memeriksaku.


Ku amati ekspresi dokter yang memeriksaku, aku harap ini bukan sesuatu yang buruk.


"Dokter ... saya baik - baik saja, kan?" tanyaku harap cemas.


"Tidak perlu khawatir, sakit kepala anda ... hanya sakit kepala biasa, yang di akibatkan oleh terlalu banyak pikiran." jelasnya. seketika aku bernafas lega.


"Kalau begitu saya permisih, terimakasih, dokter!" Aku mengulurkan tanganku, Dokter itupun. menjabat tanganku.


"Sama - sama." ucapnya. setelah berpamitan aku pun keluar dari ruangan itu.


...***...


Seseorang berdiri di pinggir jalan di delan rumah sakit, dari arah yang berlawan muncul sebuah mobil yang melaju pesat. seketika aku langsung panik.


"Awas!" dia sama sekali tidak merespon teriakanku, namun eksepsinya tampak begitu panik.


Aku tidak tau harus bagaimana lagi memperingatkannya, meskipun aku teriak dia sama sekali tidak menanggapiku dan ....


Untungnya kecelakaan itu bisa di hindari, mobil itu dengan cekatannya menghindari pejalan kaki itu.


Semua berkumpul mengerumuni wanita itu, aku yang penasaran siapa orangnya pun ikut menghampirinya.


Aku menerobos para pengerumun, hingga aku akhirnya bisa melihat jelas seperti apa wajahnya.


...Deg!...


...🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


Jangan lupa like and komen vote dan review.


__ADS_2