Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Cemburunya Seorang Arkan


__ADS_3

"Sayang!" panggil Arkan, Adara sedikit kaget karena tiba - tiba di panggil, dan membuat lamunannya buyar seketika.


"Ya?" tanya Adara, masih setengah sadar.


"Kamu, nggak nyuruh pegawai kamu, buatin sesuatu untuk temen kamu, ini?" tanya Arkan, Adara hanya mengangguk kepalanya, dan menatap bingung Arkan.


"Oh, iya...tunggu sebentar," Adara kembali ke meja kerjanya, dan meraih ponselnya, kemudian menghubungi OBnya.


Mereka berdua hanya mendengarkan Adara yang berbicara dengan OBnya, dan tak lama, Adara pun selesai menelpon pihak OBnya.


"Udah, sebentar lagi mereka datang." ucap gadis itu, sebenarnya gadis itu mulai merasa canggung namun dia berusaha mengendalikan dirinya.


"Leon!" panggil Arkan, Leon hanya


"Kamu nggak mau duduk? nggak capek emang berdiri terus?" tanya Arkan.


Leon pun duduk di sebelah Arkan, dan mereka duduk berdekatan, dan suasana pun menjadi canggung.


Adara berpikir keras bagaimana caranya memecahkan ke canggungan ini di antara mereka.


"Mmm...Leon, gimana kabar kamu?" tanya Adara, Arkan mulai memperhatikan Adara.


"Baik, seperti yang kamu lihat," simbat Leon.


"Kamu sekarang sibuk, apa?" tanya Adara, Arkan masih memperhatikan mereka berdua.

__ADS_1


"Sekarang aku, sibuk mengurusi perusahaan keluarga," jawabnya.


Diam - diam Leon memperhatikan Arkan, yang memainkan ponselnya tapi sebenarnya menyimak apa yang mereka berdua obrolkan.


"Kamu, udah berubah ya," ujar Leon, Adara menaikkan alisnya, tak mengerti maksud Leon.


"Berubah?" tanya Adara bingung.


"Iya, berubah jadi lebih cantik," pujinya, sontak wajah Adara memerah, Arkan melihat wajah Adara yang memerah karena di puji oleh Leon.


Arkan mendekati istrinya itu, dan Adara yang melihat Arkan berjalan ke arahnya, hanya menatap bingung Arkan, sambil berusaha menutupi wajahnya yang masih memerah.


Saat Arkan sudah di hadapannya, Adara menatap bingung Arkan, yang saat ini juga menatap dirinya.


Entah semerah apa wajahnya sekarang karena ulah Arkan suaminya itu, dia tak menyangka Arkan akan mencium pipinya di depan Leon, sontak hal tersebut membuatnya tersipu malu.


"Yaampun sayang, wajah kamu merah lo tadi, aku pikir kamu demam." ucap Arkan, terdengar nada dingin dari suara Arkan.


"Maaf, sepertinya saya harus meminta anda untuk pergi, karena saya dan istri saya jadi janji penting di luar," ucapan Arkan tersebut membuat Adara bingung.


Adara tak pernah mengingat kalah ada janji penting dengan siapa pun, apalagi dengan Arkan.


Apakah itu hanya Alasan Arkan untuk membuat Leon pergi?" Adara melirik ke arah suaminya itu, yang dari raut wajahnya itu terlihat amat serius.


"Yah...sayang sekali, padahal saya masih banyak yang ingin di bicarakan, terutama anda, tuan Arkan." Arkan menaikkan alisnya, kemudian kembali mengontrol ekspresi wajahnya.

__ADS_1


"Kalau begitu, silakan datang lagi lain waktu," ujar Arkan.


"Pasti, kalau begitu, permisih." Leon pun pergi dari kantor Adara, dan hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu.


Suasana hening tak luput menyelimuti ruangan tersebut, dan entah bagaimana ruangan tersebut bisa seketika menjadi hening.


"A-Arkan!" panggil Adara dengan nada ragu.


Arkan menoleh ke Adara, terlihat raut panik sekaligus bingung di wajah Adara.


"Ka-kamu nggak marahkan, dia datang kesini?" tanya Adara dengan nada terbata - bata karena gugup.


🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼


Hai


gimana part kali ini?


semoga suka ya.


Untuk masukkan dan pertanyaan author tunggu di kolom komentar.


author tunggu kalian di kolom komentar, dan jangan lupa like and comen, vote and reviewnya.


see you.

__ADS_1


__ADS_2