Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Suami Mesum


__ADS_3

"L-lo masuk dari mana?" tanya Adara yang masih kaget melihat Arkan yang kini ada di apartementnya.


"Lo, emang punya akses apartement, ini?" tanya Adara lagi.


"Punya," jawab Arkan, Arkan memperlihatkan kunci duplikat apartement Adara dan akses untuk masuk ke apartement Adara.


"Kok, bisa?" Adara tampak bingung kenapa Arkan bisa punya akses ke apartemen miliknya.


"Ya bisa lah," jawab Arkan dengan nada santai.


"Gimana pun juga, gue ini kan suami lo, yah jelas lah, gue dapet akses ke apartement ini." jelas Arkan.


"Adara memperlihatkan raut tidak senang, terlihat dari raut cemberut Adara.


"Kok mereka main kasih aja, sih!" seru Adara.


"Liat aja ya, bakal aku tuntut mereka," dumel Adara.


Cup.


Tiba - tiba Arkan mencium pipi Adara, seketika Adara yang sebelumnya bawel, menjadi terdiam.


Pipinya seketika merah merona.


"Diam, kan." Arkan tertawa, Arkan menaiki tangga untuk menuju ke kamar.


Adara mendengus kesal, dan menatap Arkan kesal, meskipun Arkan tak begitu menghiraukannya.


"Arghhh...." geram Adara, seraya menghentakan kakinya.


Arkan masuk ke kamarnya, Adara baru sadar kalo dia melarang Arkan berada di apartementnya.


Adara belari menaiki anak tangga, dan pergi ke kamar Arkan.


"Arkan!" panggil Adara seraya menggedor pintu kamar Arkan.


"Siapa yang suruh kamu, tinggal disini hah?!" seru gadis itu sambil masih menggedor pintu kamar Arkan.


"Arkan!" panggil Adara dengan nada tinggi.


Arkan pun akhirnya membukakan pintu, dan menatap Adara, dengan tatapan biasa saja.


"Apa sih, berisik banget." dumel Arkan.


"Ini apartement gue, kali aja lo lupa," sindir Arkan.


"dan ini kamar gue, kalo aja lo juga lupa." sindir Adara lagi.


"ngapain lo disini?" tanya Adara.


"Gue, siapa lo?" tanya Adara.


Adara memutar bola mata malas.


"Suami, lo." ucap Adara dengan nada malas.


"Jadi, nggak masalah donk, kalo gue tinggak disini." ucap Arkan.


"Dan soal lo minta pisah, nggak bakal gue kabulin." sambungnya.


"Ta-tapi." ucap Adara setengah - setengah.


"Apartement ini kan, cuma punya satu kamar.' batin Adara


"Kalo dia tinggal disini, berarti.' batin Adara.


"Nggak, lo nggak boleh tinggal disini, apartement ini cuma punya satu kamar," ujar Adara.


"Emang kenapa, kalo cuma satu kamar?" tanya Arkan.


"Kita kan suami istri." sambungnya.


"Nggak, gue nggak mau!" seru Adara.

__ADS_1


"Emang lo, nggak mau main sama suami lo?" tanya Arkan.


"Ma-main, maksud lo, apaan sih?!" tanya Adara dengan nada malas.


"Jangan aneh - aneh, deh." sambungnya.


"Emang, nggak mau kasih cucu, buat mama sama papa?" tanya Arkan dengab nada menggoda.


Seketika wajah Adara memerah, karena malu, bahkan lebih merah dari pada tomat.


Adara tak menduga Arkan akan menggodanya seperti itu.


"Arkan!" seru Gadis itu.


Arkan tertawa, karena melihat Adara yang salah tinggah dengan ucapannya.


"Dasar mesum." Adara berbalik, kemudian pergi ke dapur.


"Dih, suami sendiri di bilang mesum." sindir Arkan.


Arkan kembali masuk ke kamarnya, sedangkan Adara memasak di dapur.


****


Tak berapa lama, Adara selesai memasak di dapur, setelah Selesai Adara menghidangkan masakannya.


Tak lama Arkan muncul, kemudian duduk.


Arkan melihat Adara yang sedang menyantap hidangannya, Arkan pun ikut menyantap hidangannya.


"Dar!" panggil Arkan.


"Hmmm..." gumam Adara.


"Kamu dapet dari mana, apartement sebagus ini?" tanya Arkan.


"Kenapa?" tanya Adara.


"Udah lama," ujar Adara.


"Udah lama?" tanya Arkan.


"Kalo ada apa apa, atau kalo lagi gabut di rumah, gue sering kesini." jawab Adara.


"Seberapa sering lo, kesini?" tanya Arkan.


"Nggak sering sih, paling seminggu 3 kali." ucap Adara.


"Hah?"


"Arkan, kamu seriusan mau nginep disini?" tanya Arkan.


"Bukan nginep, tapi tinggal." jawab Arkan.


"Hah?!"


"Heh! kamu kan punya apartement sendiri, ngapain lo mesti tinggal disini?" bukannya Adara tak ingin Arkan tinggal bersamanya, tapi dia takut tak bisa mengontrol dirinya, kalo terus bersama Arkan.


Kalo Adara terus dekat dengan Arkan, bisa - bisa perasaan Adara semakin tak terkontrol, dan akan sangat sakit, kalau suatu saat Arkan akan meninggalkan dirinya untuk Maura.


Entah kenapa, Adara sudah terbiasa dengan ke hadiran Arkan, dan hal itu membuat Adara mulai menerima dan mencintai Arkan.


Tapi saat teringat tentang Maura, dia menjadi takut.


Takut Arkan akan meninggalkannya, takut kehilangan Arkan, tapi dia tak bisa berbuat apa - apa, karena dia bukan gadis yang di cintai oleh Arkan.


"Adara, lo beneran nggak suka gue, disini?" tanya Arkan.


"Bukan nggak suka, suka banget malah.' batin Adara.


"Tapi gue takut, gue nggak bisa mengendalikan perasaan aku sendiri,' batin Adara.


"Dan akhirnya hati gue bakal sakit, kalau loblebih memilih Maura.' batin Adara.

__ADS_1


"Seenggaknya, dengan tidak adanya Arkan, di apartement gue, maka gue akan terbiasa tanpa Arkan, kalau suatu saat Arkan bakal ninggalin gue.' batin Adara.


"Mungkin ini memang yang terbaik buat kita, Arkan.' batin Adara.


"maaffin gue.' batin Adara.


"Iya, nggak suka," jawab Adara dengan ketus


" banget malah." sambung Adara.


"Pokoknya, habis ini, lo harus kembali ke apartement, lo." tegas Adara.


Adara meletakkan sendoknya, kemudian berlalu pergi ke kamar.


Arkan menyusul Adara, tapi saat Adara hendak membuka pintu, ternyata pintu kamarnya di kunci.


"Dar, bukak, Dar!" seru Arkan.


Adara yang berada di balik pintu, membelakangi pintu, kemudian duduk seraya besandar di balik di balik pintu, terduduk lemas.


Arkan membelakangi pintu, kemudian duduk seraya besandar di balik pintu.


Kini mereka saling besandar di dinding saling membelakangi.


Arkan benar benar bingung dengan sikap Adara, yang seperti menghidar darinya.


Tapi dia tidak tau, kenapa Adara begitu menghindar darinya.


Arkan tiba - tiba dia teringat dengan ucapa Alvin, kalau dia harus memilih salah satu dari mereka.


Tapi Arkan benar - benar bingung jika harus memilih salah satu dari mereka.


Entah siapa yang harus dia pilih, antara Maura dan Adara, keduanya membuat Arkan sulit untuk memilih.


***


Besok paginya.


Adara keluar dari kamarnya, setelah bangun dari tidurnya.


Ketika melihat kesekeliling Adara tak melihat Arkan disana, Adara berpikir mungkin Arkan sudah pulang.


Adara menarik nafas berat kemudian hendak pergi mandi, membalikkan badan, tiba - tiba terdengar suara memasak disana.


Prankkk....


Tiba - tiba di dapur terdengar sesuatu yang jatuh, dengan sigap, Adara langsung berlari berhambur ke dapur.


Adara tersentak kaget ketika melihat dapur yang kacau, dan Arkan yang hendak merapikan barang yang jatuh.


Ternyata Arkan belum meninggalkan apartementnya, dan saat ini masih berada di hadapannya.


Adara langsung menghampiri Arkan, dan membantu Arkan membereskan semua kekacauan di dapur.


Arkan hanya cengengesan melihat adara, yang menatapnya, seraya berkaca pinggang.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Hai...


gimana ceritanya.


Semoga suka ya


Dan semoga nggak ngebosenin.


Dan author minta maaf, atas kesalahan dalam penulisan di cerita auhtor.


Dan buat yang sudah mampir makasih banyak ya.


Jangan lupa like and comen jangan lupa kasih reveiwnya juga,


Ok see you

__ADS_1


__ADS_2