
Tap tap tap!
Suara langkah kaki yang menggema di seluruh ruangan, membuat aku terbangun.
Perlahan aku membuka mata, tak lepas lirihku menyebut nama Arkan dengan penuh harap kalau yang datang itu adalah Arkan. tapi ternyata bukan.
"Gimana rumag lo, Dar?!" tanya dengan senyum sinis do wajahnya.
"Lo!" seruku tak percaya melihat dua orang di hadapanku.
"Zen!" laki - laki mengelus pipiku, seketika aku menjauhkan wajahku dari tangannya.
"Gue nggak terkejut soal orang di samping lo, tapi lo ... kenapa?" tanyaku dengan nada lirih.
"Kenapa? lo nggak terima kalo dia kerja sama, sama gue?" tanya Maura dengan senyum sinis di wajahnya sambil melipat kedua tanganya.
"Alasannya sedeharan," ujar Zen sambil mendekatkan wajahnya kepadaku, lalu membisikkan sesuatu.
"Karena lo ... nggak bisa jadi milik gue, lo terlalu cinta sama suami lo, itu!" teriaknya membuat aku terkejut.
"Apa lo pikir ... dengan begini lo, bisa jadiin gue milik, Lo?" tanyaku dengan nada menantang.
Entah bagaimana aku berani mengatakan semua itu, tapi semua telontar begitu saja.
"Lo salah ... sampai kapanpun ... nggak akan ada berubah," ujarku.
"Makanya gue kerja sama dengan, Maura!" sahut Zen.
"Zen!" lirihku.
"Gue mohon ... gue tau lo orang hang baik, gue juga yakin lo bisa dapetin cewek lebih baik dari, Gue!" ucapku.
"Karena lo ... lebih pantas dengan yang lebih baik dari gue, Zen!" sambungku.
"Diam!" teriak Maura.
Aku melihat Zen. yang tampak diam sejak aku mengatakan itu semua.
Maura berjalan mendekatiku, lalu menjabak rambutku, rasanya sakit sekali.
"Dengar ... Dara!" ucapnya.
"Akh .... " ringisku.
sayangnya tanganku di ikat kalau tidak makan aku akan membalas semua perbuatannya sekarang.
"Gue ... nggak akan biarkan lo hidup, ngerti?"
Setelah melepas jambakannya. Maura memanggil anak buahnya yang lain.
"Bawa, dia!" perintah Maura.
"Siap, Bos!" para anak buah Maura membopongku berjalan karena takut aku akan lari lalu kabur.
"Mau lo bawa kemana, Adara!!" suara familiar terdengar olehku, sontak aku langsung menoleh ke sumber suara.
"Arkan!" seruku.
Lega sekaligus bahagia karena kini Arkan. sudah datang menyelamatkanku.
Tapi aku terdiam melihat penampilan Arkan yang kacau, banyak luka dan lebam, pasti orang - orang Maura sudah menyerangnya.
"Dara!" seru Arkan.
"kamu nggak apa - apa?" tanya Arkan dengan raut khawatir.
"Aku baik - baik aja, Arkan!" jawabku.
"Iya ... dia baik," sahut Maura.
Entah dapat dari mana, gadis gila itu tiba - tiba menodongkan pisau ke leherku.
"Maura!" teriak Arkan.
"Sttt ... jangan teriak, Arkan!" pinta Maura dengan nada manis namun menyeramkan.
"Kamu nggak mau kan ... kalo istri tercinta kamu ini ... sampai mati?"
"Cewek, gila!" gumam Arkan.
"Hahaha ... tapi kenapa harus menunggu, kalo gue bisa habisin dia sekarang, benar kan?"
__ADS_1
Bugh!
Seseorang menyerang Maura dari belakang. membuat Maura tersungkur ke lantai.
Sontak aku menoleh, ternyata yang menyerangnya adalah Zen.
"Zen!" seruku.
Zen langsung mengalihkan padangannya kepadaku, setelah melihat Maura yang tergeletak.
"Pergilah ke suami lo, Dara!" ucapnya.
"Bisa wanita gila ini gue ... yang akan mengurusnya," ujar Zen.
"Bukan lo ... tapi polisi yang akan mengurus kalian," sambar Arkan.
Polisi berdatangan dan mengepung tempat itu, lalu menahan Zen dan juga Maura yang jatuh pingsan.
"Zen!" entah sejak kapan Arkan berada di sampingku, lalu merangkulku.
Zen tersenyum melihat kami berdua.
"Tolong jaga Adara!" pinta Zen.
"Lo bisa di andalkan, kan?" tanya Zen dengan tangan sudah di borgol di belakangnya.
"Lo nggak perlu khawatir soal istri gue ... biar bagaimanapun dia tanggung jawab, Gue!" seru Arkan.
"Arkan!" lirihku sambil menoleh ke Arkan.
Zen tersenyum dan polisi mulai membawanya bersama Maura.
Greb!
Arkan menarikku ke dalam pelukkannya. tangisku pecah saat itu juga.
"Kamu nggak papa, kan?" tanya Arkan.
"Aku baik-baik aja, kok," ujarku.
"Mereka nggak nyakitin kamu, kan?" tanya Arkan.
"Apa?!" teriak Arkan.
"Untung udah di habisin mereka," ujar Arkan
"Apa?" tanyaku tak mengerti.
"Bukan apa- apa, " simbat Arkan.
"Arkan!" seruku.
"Bukan apa-apa, sayang ...."
"Yaudah kita pulang, yuk." ajak Arkan.
Aku mengangguk, lalu mengikuti Arkan pulang.
***
D tempat Arkan memakirkan mobil ....
"Kalian!" seruku kaget.
Aku kembali melihat Dean dan Dion dan dua lagi bersama mereka.
"Kok bisa ada mereka?" tanyaku bingung.
"Dan mereka berdua, siapa?" tanyaku.
"Nggak tau tuh ... mereka maksa ikut, kalo mereka berdua juga aku nggak kenal."
"Sialan!" seru Glen.
"Mau gue tikung?" ancam Glen.
"Eh?!"
"Berani?!" simbat Arkan dengan nada kesal.
"Apa, sih!" sahutku sambil mengikut lengan Arkan.
__ADS_1
"Habisnya ... " lirih Arkan sambil mengusap lengannya.
"Hahaha ... kenalkan aku, Glen!" ucapnya memperkenalkan diri.
"Aku teman lama, Arkan!" jelasnya.
"O ... oh ... namaku, Adara!" ucapku memperkenalkan diri.
"Namaku, Julian!" ucapnya.
"Adara!" balasku.
"Dar ... lo nggak papa, kan?" tanya Dion.
"Iya ... gue baik-baik aja, kok," ujarku.
"Bagus kalau gitu, nggak sia - sia kita datang bawa pelacak dan penembak terbaik," sambar Dean.
"Apa?!" tanyaku
pletak!
"Aww ... woii ... Dion!" teriak Dean.
"Lo apaan sih, Hah?!" dumel Dean.
"Kan udah di bilang, lo jangan kasih tau ... gimana sih!" bisik Dion.
"Kalian ngomongin apa, sih?!" tanyaku penasaran.
"Bu-bukan apa-apa, hehe ... lo tenang aja," ujar Dean.
"Gue lupa, Dio!" bisik Dean ke Dion.
"****, sih!" sindir Dion dengan pelan.
"Apa?!" teriak Dion.
"Yaudah yuk, kita pergi dari sini," ajak Arkan.
"Arkan!" seruku sambil padangan ke baju Arkan ada bercak darah setelah di perhatikan.
"Kenapa?" tanya Arkan.
"Baju kamu kenapa?" tanya Arkan.
Arkan melihat bajuku, seketika Arkan seperti orang gelagapan.
"Bajuvkamu, kenapa ada bercak darah?" tanyaku.
Setelah aku memperhatikan yang lainnya. ternyata mereka juga sama.
"Kalian habis melakukan, apa?" tanyaku dengan nada sedikit tinggi.
"Sayang ... i-ini karena aku melawan mereka, mereka nyerang aku, Dar!"
"Tapi kamu nggak ngehabisin mereka, kan?" tanyaku.
"Arkan!" seruku.
Arkan diam, tak menjawabku.
"Arkan ... mereka pasti juga punya keluarga ... kamu nggak ngebunuh mereka, kan?" tanyaku lirih.
"Nggak sayang ... enggak ... kamu nggak usah khawatir, ya," pinta Arkan.
"Gila ... bukannya suami yang di khawatirin, malah orang lain, kalah penting lo, Ar!" sahut Dion.
"Bukan gitu ... Arkan penting bagi aku, jadi ... keselamatannya itu lebih penting dari pada aku," jelasku
"Dan soal mereka ... ada banyak cara menghukum mereka dari pada menghabisi mereka, penjara misalnya." sambungku.
"Yasudah ... aku mengerti ... bisa kita pulang?" tanya Arkan.
Aku mengehela nafas, lalu menganggukkan kepalaku.
Keinginan aku untuk pergi dari tempat itu, akhirnya terwujud.
Tiba - tiba, aku teringat bagaimana aku di tampar dan di jambak di tempat itu.
Tapi sekarang aku sudah bersama Arkan. mereka juga sudah di tangkap, mereka tidak akan menyakitiku lagi.
__ADS_1