
seseorang masuk ke ruangannya, dan melihat Kean yang tampak memperhati kan selebar foto dengan tampak begitu serius.
"Lo, liatin foto siapa?" mendengar pertanyaan yang begitu tiba - tiba, membuatnya tersentak kaget, dan buru - buru menyimpan fotonya ke laci mejanya.
"Bu-bukan siapa - siapa, cuma foto biasa," dalihnya kemudian kembali ke pekerjaannya.
"oh, ya?" Brian orkan temen dekat Kean, dan bekerja untuk perusahaan Kean, sejak Kean menjabat sebagai CEO, di perusahaan keluarganya.
Laki - laki menyodorkan sebuah dokumen, dan disambut oleh Kean, kemudian memeriksa dokumen tersebut.
"Project dengan Adara group, udah setengah berjalan, dan itu laporannya," ujarnya.
Kean tampak begitu serius memeriksa dokumen tersebut, kemudian menutup dukumennya lalu menatap temannya tersebut.
"Yan, menurut lo, perusahaan yang di pimpin oleh Adara itu, gimana sih?" tanya Kean dengan nada ragu.
"kenapa tiba - tiba?" tanya Brian seraya menatap bingung sahabatnya itu.
"Nggak, gue cuma nanya aja," dalihnya, kemudian mengalihkan pandangannya.
"Kenapa? lo ada masalah sama CEOnya?" tanya Brian, Kean menatap Brian, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Terus?" tanya Brian.
Brian melihat Kean menghela nafas panjang, dan hal tersebut membuat bingung.
"Nih." Kean, menyodorkan dokumennya ke Brian dan di sambut oleh Brian.
"Balik kerja sana, jangan gangguin gue kerja," Brian menatap sinis Kean, kemudian pergi meninggalkan ruangan Kean.
Setelah Brian pergi, Kean kembali mengambil foto Adara dan Kean, gang sebelumnya dia simpan di laci meja kerjanya, dan Kean kembali ke pikirannya.
***
12 : 00 di moon caffe, seorang laki - laki menunggu disana, dengan segelas cangkir di tangannya.
"Sorry, lo udah lama, nunggu?" tanya Adara.
"Duduk lah, nggak terlalu lama juga, kok." Adara duduk di depan Kean, dan Adara menatap Kean.
"Ada apa, Kean?" tanya Adara heran, Adara menatap Kena dengan penasaran.
Kean menarik nafas panjang, Adara melihat Kean hendak menyampaikan sesuatu, namun tampak ragu mengatakannya.
Hal tersebut membuat Adara bingung, dan tak mengerti dengan apa yang terjadi dengan Kean.
"Kean!" panggil gadis itu, namun tak ada sahutan dari Kean.
"Kean!" teriak Adara, hal tersebut membuat Kean tersentak kaget.
"eh? ke-kenapa?" tanya Kean dengan nada terbata - bata.
Adara memasang ekspresi malas, sedangankan Arkan hanya cengengesan seraya menggosok belakang kepalanya.
"Katakan Kean, lo nggak mungkin tiba - tiba ngajak ketemuan cuma buat hal yang nggak penting, kan?" tanya Adara kemudian menyeruput minumanmya.
"mmm... Dar, apa gue, boleh tanya sesuatu?" tanya Kean dengan nada ragu, Adara menaikkan sebelah alisnya, tak mengerti dengan maksud Kean.
"kayaknya serius banget, lo mau tanya soal apa?" gadis itu tampak menunggu apa yang hendak di sampaikan oleh Kean.
"Lo, sama suami lo, gimana?" tanya Kean dengan nada ragu, sedangkan gadis itu tersentak kaget mendengar pertanyaan tersebut.
"L..lo? kenapa tiba - tiba?" tanya Adara dengan penuh ke heranan.
"L- lo, ja-jangan salah faham, gue...." Kean kembali memotong ucapannya, dan itu semakin membuat Adara semakin bingung.
#tenang dar author juga bingung, wkwkwk.
Kean akhirnya menyodorkan sebuah foto, foto itu adalah foto dirinya dan Kean sewaktu di pantai, Adara sedikit terkejut karena Kean mempunyai foto tersebut.
"L-lo dapat dari mana, foto ini?" tanya Kean masih setengah tak percaya Kean bisa mendapatkan foto tersebut.
Kean hanya diam, dia sama sekali tak mengubris pertanyaannya, sedangkan Adara sambil melihat foto yang di sodorkan oleh Kean.
"Kean, lo nggak mau jawab pertanyaan, gue?" tanya Adara dengan nada dingin.
"Maura!" Adara sedikit terkejut, mendengar Kean menyebut nama, gadis yang amat tak asing baginya itu.
"Maura?" tanya Adara setengah tak percaya, Kean menganggukkan kepalanya, Kean hanya diam sesaat.
"Lo...ada hubungan apa sama, Maura?!" tanya Adara ragu.
"Dan maksud lo, minta gue buat nemuin lo disini buat, apa?" sambungnya.
Kean yang awalnya ragu menceritakan soal dirinya dan Muara, akhirnya memberitahu kan hal tersebut dengan Adara.
"Gue, dan Maura, berteman baik," ungkap Kean, Adara hanya diam, dia tak tau harus merespon bagaimana.
"Tapi kita, udah lama nggak berhubungan, sejak dia menjadi model." jelas Kean, Adara masih diam dan mendengarkan apa yang Kena katakan.
"Terakhir gue denger, dia pacaran sama salah satu juri, waktu dia berkompetisi untuk menjadi model." lanjutnya, Adara masih mendengarkan, dan mencoba mencerna apa yang di sampaikan oleh Kean.
"Sampai akhirnya gue dengar mereka putus, dan pada akhirnya karirnya mulai meredup, karena banyaknya skandal soal dirinya." perkataan Kean kali ini membuat Adara bingung.
"Skandal?" tanya Adara, seakan meminta penjelasan lebih lanjut.
"Lo, nggak tau?" tanya Kean, Adara yang tak mengerti maksud Kean, hanya menggelengkan kepalanya.
"Maura, sih wanita yang tak bisa bertahan dengan hanya satu pria," ungkap Kean, hal tersebut membuatnya bingung, sekaligus terkejut.
Adara mulai berpikir, alasan sesungguhnya, Maura masih menginginkan suaminya.
"Lo, dari mana tau semua itu?" tanya Adara, penasaran.
"Di jaman seperti ini, tidak sulit mencari suatu informasi, Dara!" Kena meraih gelas minumnya, kemudian menyeruputnya.
Adara hanya diam, kemudian gadis itu ikut menyeruput minumannya.
"Tapi..." gadis itu menoleh ke Kean, dan menunggu Kean menyelesaikan kalimatnya.
Kean meletakkan minumannya, kemudian kembali menatap Adara, Adara masih menunggu Kean menyelesaikan kalimatnya.
"Bukan itu, sebenarnya tujuan gue, ngajak lo kesini." gadis itu menaikkan sebelah alisnya.
Adara benar - benar tidak suka berbasa - basi, karena itu hanya akan membuatnya penasaran, dan kenapa Kean sangat suka berbicara sepotong - sepotong, dan bukannya berbicara langsung.
"Maura!" Adara mulai bingung dengan Kean yang lagi - lagi menyebut nama Maura, dan dia masih belum menyelesaikan kalimatnya.
"dia berencana, menghancuri rumah tangga lo, dan meminta bantuan, gue," ungkap Kean.
bagi Adara mendengar Maura yang ingin menghancurkan rumah tangganya, bukan hal baru baginya, tapi mendengar Maura meminta bantuan Kean, untuk menghancurkan rumah tangganya adalah hal yang pertama kali dia dengar.
yang membuat tambah heran adalah, kenapa, Kean sampai memberitahukan ini kepadanya?
Apakah Kean punya maksud dan tujuan lain, jika memang ada, apa maksud dan tujuan Kean sebenarnya?
***
"Kean!" panggil gadis itu, dengan nada ragu.
"Ya?" tanya Kean, dengan santai, gadis itu tampak begitu ragu, tapi entah kenapa dia tak bisa menahan dirinya untuk bertanya.
__ADS_1
"L- lo, kenapa ngasih tau semua ini ke, gue?" tanya Adara yang penasaran.
Kean diam sejenak, dan Adara masih menunggu Kean menjawab pertanyaannya.
"Awalnya, gue berpikir... untuk menerima tawaran Maura," ungkap Kean.
"Tawaran?" tanya Adara yang tak mengerti maksud Kean.
"Maura bilang ke gue, kalau gue bisa ngehancurin pernikahan lo...maka gue bisa dapetin, lo," jelas Kean, Adara sedikit terkejut mendengar hal tersebut, dan setengah tak percaya.
"Maura!' batin Adara, gadis itu benar - benar tak habis pikir, kenapa semuanya harus ada kaitannya dengan gadis yang hendak merebut suaminya itu.
"Apaan coba, maksudnya.' batin Adara.
yang tak mengerti dengan jalan pikiran Maura.
"Terus? apa yang ngebuat lo, ngelakuin ini?" tanya Adara heran.
Lagi - lagi Kean diam sejenak, Sesekali Kean mengalihkan pandangannya, dengan menghindar dari tatapannya.
"Dar, sebenernya.... ada yang pengen gue sampaiin, sama lo," ujar Kean, Adara menaikkan sebelah alisnya, tatapan Kean tampak begitu serius, membuat dirinya menerka - nerka ada apa sebenarnya.
"A-apa?" tanya Adara, dengan nada terbata - bata, karena gugup.
"Kok gue, jadi deg degan gini!' batin Adara, yang kebingungan karena saat ini jantungnya berdegub kencang tak karuan.
"Gue harap, apapun yang gue sampaiin, nggak akan ngaruh apapun sama hubungan kita," Adara menaikkan sebelah alisnya, dan sedikit terkejut mendengar hal tersebut.
"Ma-maksud gue, hubungan pekerjaan, dan pertemanan kita." jelas Kean, dengan nada gugup.
"O-oke, terus?" tanya Adara, Adara tak menyangka akan bertanya hal tersebut, tapi dia juga penasaran.
"Dar, gue suka sama lo." gadis itu melongok dan tak percaya apa yang barusan dia dengar.
"L- lo, barusan bilang, apa?" tanya Adara masih setengah tak percaya.
"Gu- gue tau, seharusnya gue nggak bilang ke elo, apa lagi punya perasaan ini sama, lo," Adara hanya diam, tak menggubris ucapan Kean sama sekali, dia masih fokus dengan pikirannya.
Kean?
Seorang Kean, menyatakan perasaan kepada dirinya, saat ini? benar benar sesuatu yang tidak terduga, dan bagaimana dia harus membalasnya.
"Ke-Kean, gu-gue.." ucap Adara terbata - bata, namun di potong oleh Kean.
"Lo, nggak perlu jawab apapun, karena gue udah tau jawabannya." potongnya.
Adara merasa bersalah saat ini, di satu sisi dirinya yang sudah menjadi milik orang lain, dan di satu sisi dia hanya menganggap Kean seperti sahabatnya sendiri, dan dia berharap Kean bisa mengerti hal tersebut.
"Gue, lega udah ngutarainnya ke elo, gue pikir gue, nggak bakal pernah bilang ini ke, lo." terlihat raut Kean, yang sedikit lega, dan seperti terbebas dari suatu yang membebaninya selama ini.
"Kean... gue tau, gue nggak akan pernah bisa menghalangi seseorang jatuh cinta, termasuk ke gue, sekali pun." ucap Adara, Kean tampak mendengarkan apa yang hendak di sampaikan oleh Adara.
"Tapi gue harap, lo bisa ngerti posisi gue," pinta Adara, dengan wajah memelas, Kean menganggukkan kepalanya, seraya memasang senyum di wajahnya, meskipun Adara tau, ada rasa sakit yang menjanggal di hatinya.
"Posisi lo, dimana sebagai istri seorang, Arkan?!" tanya Kean.
"Kok, nadanya kayak ada yang beda ya, dari pengucapan, lo," sindir Adara.
"Ck...apanya?" tanya Kean dengan sambil terkekeh.
"hahaha..." Adara tertawa merespon ucapan Kean, Kean juga ikut tertawa melihat Adara yang tertawa bahagia.
***
Kean melirik jam ditangannya, seketika Kean menjadi kaget, karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang sudah berakhir, dan itu artinya dia harus kembali ke kantor.
"Thanks untuk waktunya, tapi gue rasa, gue harus balik ke kantor sekarang," pamit Kean, seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Kalau gitu, gue permisih dulu, kalau ada sesuatu yang bisa gue bantu, soal Maura, lo bisa minta bantuan, gue." Adara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, kemudian Kean pergi meninggalkan Adara di caffe tersebut.
Adara masih diam di tempatnya, tampak sesuatu terlintas di pikirannya, Adara kemudian merogo tasnya, dan meraih ponselnya, dan mencari nomor kontak seseorang yang kemudian di hubungi nya.
{ hallo! }
"Hallo!" balas Adara.
{ Buk Adara, apa ada perintah untuk saya, karena tak biasanya buk Adara mengubungi saya }
Laura, salah satu orang kepercayaan Adara entah sejak kapan, tampak begitu faham tentang dirinya.
"Lo, selalu tau tau ya, Laura!" puji Adara sambil tersenyum.
"Jadi ada tugas apa, kali ini?" tanyanya, Adara tersenyum, kemudian mengatakan apa yang harus di lakukan oleh Laura.
***
Gadis itu baru kembali ke kantornya, setelah selesai menghubungi Laura, dengan langkah sedikit buru buru.
drrrrtt.....
tiba - tiba Adara mendapatkan telpon, yang membuatnya menghentikan langkahnya.
Gadis itu meraih ponselnya yang di letakkin di dalam tas, kemudian melirik layar ponselnya untuk mengetahui siapa yang menghubunginya.
Tapi tak ada nama yang tertera disana, ada memutuskan untuk mengabaikan nya, karena menurutnya itu nomor yang tidak penting.
Drttt.....
namun panggilan itu datang lagi, dan akhirnya Adara memutuskan untuk menjawabnya.
"Hallo!" panggil Adara dengan nada ragu.
"Hallo, udah lama ya, Rara!"
deg....
siapa orang ini, kenapa suaranya tak asing, kediaman Adara tampak tak menjawab semua pertanyaannya.
Sudah lama tidak ada yang memanggil nya begitu hanya satu orang, dan itu adalah seseorang di masa kecilnya.
Rara adalah panggilan yang biasa di gunakan, teman laki - lakinya sejak kecil, yang sudah lama tak ada kabar sejak orang tuanya membawanya pergi ke luar negeri.
dan sampai saat ini Adara tak pernah mendapat kabar darinya, jadi tak heran Adara masih setengah tak percaya.
"Leon? apa lo Leon?" Adara bertanya dengan penasaran, dan mungkin juga dia berharap itu adalah sahabat masa kecil yang selama ini di tunggu kabar nya.
***
"Gue seneng, lo masih inget sama gue, Ra!" kalau saja Adara bisa melihat senyum di wajahnya, entah seperti apa responnya.
"Gimana, kalau kapan - kapan kita ketemu?" ajak laki - laki itu dengan semangat.
Adara hanya diam, entah apa yang di pikirkan oleh gadis itu, apakah dia akan menemuinya, atau dia malah menolak nya.
"Rara! Hallo!" panggilnya, hal tersebut membuyarkan lamunan Adara.
"Eh? ya?" tanya gadis itu, yang masih setengah kaget.
"Lo, nggak suka ngobrol sama gue, ya?" tanyanya, gadis itu kaget mendengar hal tersebut, dan merasa tidak enak karena Leon sudah salah sangka.
"Nggak...bukan gitu," gadis itu buru - buru menyanggah, sepertinya tak ingin laki - laki tersebut salah faham pada dirinya.
__ADS_1
"Gue, masih kaget aja, tiba - tiba dapet telpon dari lo, secara udah lama banget lo, nggak ada kabar." jelas gadis itu, lagi - lagi laki - laki itu tersenyum, kalau saja gadis itu bisa melihatnya.
"Kalau gitu, secepatnya kita harus ketemu, lo setujukan?" tanya Leon, de dengan penuh harap.
Adara diam sejenak, kemudian menimbang ajakan Leon tersebut, setelah menimbang, akhirnya Adara mengiyakan.
"Boleh, nanti sekalian gue kenalin sama suami gue, nggak masalah kan?" tanya Adara ragu.
"Su-suami? bentar...lo udah, merid?" tanya Leon setengah tak percaya.
"I-iya," jawab gadis itu, seraya melihat ke sekeliling, melihat semua karyawan sedang melihat ke arahnya, Adara melenggang pergi ke ruangannya.
setelah berada di ruangannya, mereka melanjutkan obrolan santai mereka.
"Kok, nggak ngasih tau gue, sih!" protes Leon, gadis itu seketika gelagapan, dia bingung harus menjelaskan dengan bagaimana.
"Y-ya...kan gue, belum tau lo dimana," jelas Adara.
"Alesan aja lo, yaudah lo ajak aja suami lo sekalian, siapa tau kita bisa jadi temen." Adara tersenyum, dia senang mendengar sahabatnya itu, mempunyai niat berteman dengan suaminya.
"Yaudah, kasih tau aja waktu dan tempatnya, nanti pasti kita dateng," ujar Adara.
"Yaudah, gue tunggu ya," simbat Leon, yang terlihat tak sabar ingin bertemu sahabat masa kecilnya itu.
"Kalau gitu gue tutup, Bye." Leon menutup telponnya, Adara pun meletakkan ponselnya, kemudian kembali bekerja.
****
sore ini Adara hendak bersiap untuk pulang, Adara mulai membereskan barang - barangnya dan akhirnya siap untuk pulang ke rumahnya.
drrrrttttt......
Saat perjalan menuju mobilnya, tiba - tiba ponsel Adara bergetar, seseorang menelponnya disaat dirinya menuju ke mobilnya dan hendak pulang.
Adara mengeluarkan ponselnya, dan melirik layar ponselnya, ternyata yang mengubunginya adalah Arkan.
Arkan?
Gadis itu langsung menjawab panggilan Arkan, dan terdengar suara Arkan yang terdengar parau.
"Ya, Arkan?!" tanya gadis itu, seraya melanjutkan berjalan menuju mobilnya.
"Sayang, kamu dimana?" tanya Arkan, yang terdengar parau.
"Aku...masih di kantor, ini baru mau pulang, kenapa?" tanya Adara, yang sudah sampai ke mobilnya, dan mulai membuka pintu mobilnya.
"Kamu, langsung ke rumah Mama kamu aja, ya," ujar Arkan, gadis itu menaikkan sebelah alisnya, gadis itu tak mengerti.
Rumah mama aku? memangnya ada apa.
"Emangnya ada, apa?" tanya Adara heran.
"Ada acara, apa?" tanya Adara lagi, gadis itu tampak penasaran.
"Ya...nggak ada acara apa - apa, sih," ujar Arkan, Adara masih mendengar kan apa yang di sampaikan oleh Arkan.
"Cuma tadi mama bilang ada yang mau di bahas, sama kita." jelas Arkan, gadis itu tambah tidak mengerti.
ada yang mau di bahas? memangnya apa yang perlu di bahas.
"Loh, tumben banget, biasanya mama ngubungin aku, dulu kalau ada apa - apa, emang apa yang perlu di bahas?" tanya Adara yang saat ini rasa penasarannya sudah sampai ke ubun - ubunnya.
"Udahlah sayang... kan sama aja, udah ya....kamu datang aja, aku juga udah di jalan," ujar Arkan.
"Y-yaudah, aku ini aku juga udah di dalam mobil." Adara menyalakan mobilnya, dan Arkan sedikit samar - samar mendengar suara mesin mobil milik Adara tersebut.
"Yaudah, kamu kamu hati - hati ya, kita ketemu disana." ucap Arkan.
"Hmm..." jawab Adara, yang kemudian mematikan sambungan telponnya.
Adara yang selesai menelpon Arkan, menjalan mobilnya, dan mengarahkan mobilnya ke rumah mamanya.
****
beberapa jam kemudian, Adara tiba di rumah Mamanya, disana Adara juga melihat mobil Arkan yang terpakir di depannya.
Setelah melepas seatblet yang terpasang di tubuhnya, Adara keluar dari mobilnya.
Adara memasuki rumah nya dengan langkah yang berat, dan tampak ragu - ragu.
Saat memasuki rumahnya terlihat semua tampak berkumpul, dan itu membuat Adara semakin bingung.
Ini sebenarnya ada apa? apa ada masalah serius. itulah yang terlintas di pikirannya sendari tadi.
Langkah kakinya yang memenuhi seluruh ruangan, membuat semua orang disana menyadari keberadaan nya, tampak semua orang menoleh ke arahnya yang saat ini menghampiri mereka.
"Mama!" panggil Adara dengan nada lembut, Mama Adara hanya tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya.
"Yaudah, berhubung Adara sudah disini, kita langsung aja, gimana?" tanya Mama Adara, mereka semua mengangguk, Arkan dan Adara hanya diam dalam kebingungan.
"Ma...ini sebenarnya ada, apa?" tanya Adara, gadis itu tampak tak dapat lagi menahan rasa penasarannya.
"Jangan sekarang ya sayang, kita makan malam dulu," simbat Mama Adara, gadis itu hanya bisa menghela nafas.
"Sebelum itu, kamu ganti pakaian kamu, dan bersihkan diri kamu, kamu pasti belum sempat bersihin diri kamu, kan?" gadis itu mengangguk, Mama Adara dan orang tua Arkan pergi meninggal kan Adara kecuali Arkan, yang masih bersamanya.
"Kamu bersihin diri kamu, aku tunggu disini, ya," gadis itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, kemudian melenggang pergi ke kamarnya.
***
Beberapa menit kemudian, Adara yang selesai mempersiapkan dirinya, pergi menghampiri Akran yang masih menunggunya, kemudian pergi bersama menyusul orang tuanya yang menunggu di ruang makan.
***
Di ruang makan tampak semua keluarga sudah menunggu, mereka berdua pun duduk dan bergabung dengan keluarga mereka.
Di sela - sela menikmati makan malam mereka, Adara di buat terkejut dengan panggilan yang di lakukan Mamanya.
"Adara!" panggil Mama Adara.
"Eh? i-iya, Ma?!" tanya gadis itu dengan nada terbata - bata, tampaknya gadis itu gugup di panggil oleh Mamanya sendiri.
"Ada yang mau Mama tanya kan sama, kamu," ujar Mama Adara dengan nada dingin.
"So-soal?" tanya gadis itu dengan nada gugup, entah kenapa dia meredakan cemas dengan pertanyaan yang akan di ajukan oleh Mamanya itu.
memangnya Mama mau tanya soal, apa? itulah yang di pikiran gadis itu
"Apa kamu, habis kabur dari rumah?" tanya Mama Adara, gadis itu sedikit terkejut mendengar hal tersebut, dari mana Mamanya tau, soal itu? itu lah yang di pikiran gadis itu.
Semua mata tertuju padanya, seolah meminta jawaban dan penjelasan akan perbuatannya tersebut.
padangannya berakhir pada Arkan, yang tampak diam namun memikirkan sesuatu, dirinya berharap Arkan akan membantunya untuk menjelaskan semuanya di depan kedua keluarganya.
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Hai gimana ceritanya, semoga suka ya, kalau ada masukkan atau krisan buat author, silakan komen di bawah, author tunggu ya.
ok see you next time
#salammanisauthor
__ADS_1