
Malam ini entah kenapa rasanya gadis itu kesulitan untuk tidur, justru saat ini sedang berdiri di depan jendela melihat pemandangan langit yang tampak indah dengan bulan dan bintang.
Sambil sesekali melihat ke Arkan yang tampak masih tidur pulas di tempat tidurnya, di sendiri bingung di saat suaminya bisa tertidur pulas, kenapa dirinya masih terjaga di malam hari.
Sepertinya masalah Maura benar - benar menganggu dirinya, sampai membuat dirinya tidak bisa tidur.
Saat dirinya terhanyut dengan pikiran nya, tiba - tiba gadis itu di buat terkejut dengan sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya dari belakang, dan kepala yang bersandar di pundaknya.
"Arkan!" panggil gadis itu, sambil matanya melirik ke belakang.
"Kamu... kenapa nggak tidur?hmmm...." gadis itu hanya diam, lagi - lagi dirinya hanya bisa terdiam.
Arkan melepas pelukkannya dan menghadapkan Adara kepadanya, kini mereka saling berhadapan, pandangan mereka saling bertemu satu sama lain, namun untuk sesaat Adara menunduk kan pandangannya.
Adara menangkan wajah Adara dengan tangannya, dan membuat Adara menatap dirinya.
"Katakan Ada apa?" tanya Arkan, laki - laki itu berharap kalau istrinya itu mau terbuka dengannya, meskipun dia harus membujuknya berulang kali.
Gadis itu diam sejenak, dan menimbang apakah dia akan menceritakan masalah nya dengan Arkan atau tidak.
Setelah memantapkan hatinya, gadis itu menarik nafas panjang, kemudian mengatakan semuanya.
"Tadi...di kantor, aku mendapat sebuah paket," ungkap Adara.
Arkan sedikit terkejut sekaligus bertanya tanya siapa yang mengirimkan paket ke istrinya itu, dan paket apa.
Arkan mendengarkan dengan seksama, sampai Adara menceritakan semuanya.
"Paket? dari siapa? apa isinya?" Arkan menanyainya bertubi - tubi, membuat Adara jadi bingung dan serba salah.
"Maura, dia mengirimkan foto kamu dan Maura," ungkap Adara, sepertinya memang tak ada gunanya menutupi sesuatu, lagi pula apa salahnya berbagi masalah dengan suami sendiri, mungkin Arkan punya jalan keluarnya.
Mengetahui hal tersebut Arkan sedikit kaget, dia tidak menyangka Maura akan bertindak senekat itu.
"Adara, kamu percaya sama aku, kan?" tanya Arkan, penuh harap.
Adara diam sejenak, kediamannya itu membuat Arkan menjadi cemas, namun tak lama berselang, Adara tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
mengetahui Adara mempercayainya, membuatnya merasa senang sekaligus lega.
"Makasih, sayang." ucap Arkan, kemudian mendekap Adara kedalam pelukkannya.
"Kamu, juga percaya sama aku, kan?" tanya Adara, kini giliran Adara yang berharap Arkan akan mempercayai diirnya.
Arkan terdiam, dan melepas pelukkan nya, dia menatap bingung gadis di hadapnnya itu.
"Ma-maksud, kamu?" tanya Arkan bingung.
"Kamu, percaya sama aku, kan?" tanya Adara ulang.
Arkan benar benar bingung, dengan istrinya itu, kenapa tiba - tiba istrinya itu berkata seperti itu.
"Ya jelas aku percaya sama kamu, memangnya aku pernah ragu sama, kamu?" tanya Arkan.
Arkan mengelus kepala istrinya itu, sedangkan Adara masih diam sambil menatap ke arahnya.
"Maura!" seru Adara, Arkan menatap bingung Arkan, karena tiba - tiba istrinya itu menyebutkan nama Maura.
"Dia juga ngirim foto, waktu aku bertemu sama Kean di caffe," ungkap Adara.
Arkan yang sedikit terkejut, hanya bisa terdiam, dia tidak tau harus merespon apa.
"Apa?!" dan itulah respon yang keluar dari mulut Arkan.
"Kamu ketemu sama Kean, kok nggak ngasih tau?" tanya Arkan, dengan nada dingin.
"Mau apa dia ketemu sama, kamu?" tanya Arkan lagi.
"Ka- kamu nggak percaya sama, aku?" tanya Adara setengah tak percaya.
"Sayang...ini bukan masalah percaya tak percaya, tapi buat apa kamu nemuin, dia?!" Arkan yang sudah terbakar oleh rasa cemburu membuatnya sedikit meragukan Adara.
"Maura!" seru Adara, Arkan kembali mendengarkan apa yang hendak Adara jelaskan.
"Dia minta Kean bekerja sama, untuk menghancurkan rumah tangga kita," ungkap Adara.
Gadis itu berharap, penjelasannya itu membuat Arkan percaya padanya.
"Kenapa dia ngasih tau, kamu?" tanya Arkan.
"Arkan! kamu curiga sama, aku?!" gadis itu kehilangan kesabaran karena pertanyaan Arkan yang seperti meragukan dirinya.
"Bukan kamu, tapi Kean!" seru Arkan, gadis itu terdiam, dan menunggu Arkan menyelesaikan kalimatnya.
"Aku nggak bisa percaya sama, dia." nada suara Arkan kembali normal.
"Tapi pertanyaan kamu tadi, kayak menaruh keraguan sama aku...kamu sadar, nggak?" tanya Adara, mata Adara mulai berkaca - kaca.
Melihat istrinya itu seperti ingin menangis, Arkan mencoba mendekati ke istrinya itu untuk menenangkannya.
Namun belum sempat mendat, Adara berjalan mundur dan menyodorkan tangannya.
"Jangan mendekat," pinta gadis itu sambil menahan tangisnya.
"Kamu tau... aku mencoba melawan pikiran buruk aku sama kamu, saat melihat foto kamu sama Maura, tapi kamu..." gadis itu menghapus air matanya yang mulai membasahi pipinya, kemudian beranjak pergi.
"Dar!" Arkan menahan lengan Adara, namun Adara memberontak, dan hendak melepas tangan Arkan.
"Lepas!" seru gadis itu sambil memukul dada Arkan, karena Arkan tak mau melepaskan dirinya, namun akhirnya keduanya di genggam erat oleh Arkan.
grebbb....
Arkan mendekap Adara kedalam pelukkannya, dan mengeratkan pelukannya karena Adara masih memberontak.
"khisk...Lepasin...hiks..." biar bagaimana pun juga, tenaga Arkan lebih kuat dari nya, sehingga sulit untuk melepaskan diri.
"Maaf." ucap Arkan, tapi gadis itu masih memberontak, sepertinya Adara tak mau mendengarkan Arkan.
"Khiks....kamu seharusnya percaya sama aku...khiks...." tangis gadis itu pecah di pelukan Arkan.
"Maaf." ucap Arkan.
"Kamu tau nggak sih, dia masih belum nyerah buat dapetin kamu..." Arkan masih mencoba menenangkan Adara, dengan mengelus kepalanya.
"Ssttt....udah ya...."
"Maaf...aku nggak ada maksud buat ngeraguin kamu," ujar Arkan.
"Aku percaya sepenuhnya sama kamu, tapi sejujurnya aku nggak bisa percaya sama, Kean," sambungnya, Adara hanya menyimak apa yang disampaikan oleh Arkan dalam dekapannya.
"Karena waktu aku ngeliat matanya saat melihat kamu, aku bisa melihat tatapan cinta untuk kamu di matanya." gadis itu terdiam dia jadi teringat saat Kena menyatakan perasaannya.
Arkan melepas pelukannya, kemudian menatap wajah Adara, dan menghapus air matanya.
"Maaf...aku nggak ada maksud buat nyakitin, apalagi buat kamu nangis," ujar Arkan.
Adara hanya diam, dan menatap wajah Arkan, sambil mendengar setiap perkataan Arkan.
"Aku terlalu sayang sama kamu, dan aku..." Arkan diam sejenak dan memegang kedua pundak Adara.
"Aku takut kehilangan kamu, Adara!" Arkan langsung kembali membawa Adara kedalam pelukannya, dan kali ini Adara membalas pelukannya.
****
"Pagi, sayang!" sapa Arkan, sambil mencium pipi istrinya itu.
"Arkan!" seru, Adara yang tampak risih dengan apa yang di lakukan oleh suami tercintanya itu.
"Jangan gangguin aku nyiapin sarapan!" Arkan hanya tertawa melihat reaksi istrinya itu.
__ADS_1
"Mau aku bantuin, nggak?" tanya Arkan, sambil mengambil beberapa makanan dari tangan Adara.
"Makasih, sayang...." ucap Adara sambil mencium kanan Arkan.
Arkan hanya diam mematung, karena saking terkejutnya, dan melihat Adara berjalan ke tempat duduknya.
"Sayang...kamu nggak mau sarapan, apa?" tanya Adara, Arkan berjalan ke tempat duduknya, di depan Adara, dan Adara menghidangkan sarapan untuk Arkan.
****
setelah menghabiskan sarapan mereka, Adara dan Arkan kembali ke aktivitas perkantorannya.
"Selamat pagi, buk!" sapa sekretarisnya.
"Pastikan jangan sampai paket kayak kemarin, datang lagi," perintah Adara.
"Baik, buk." jawabnya, Adara langsung melenggang pergi ke ruangannya.
Adara benar - benar tidak ingin mendapat kan masalah apapun hari ini, yang bisa mempengaruhi pekerjaannya.
Dia ingin fokus tanpa beban pikiran apapun saat bekerja, karena dia sangat membutuhkan konsentrasi tinggi dan pikiran tenang saat bekerja.
****
di tempat lain tepatnya di kantor Arkan, tampak Arkan sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Drrrttt.....
Tiba - tiba panggilan masuk, tanpa melihat siapa yang menelpon, Arkan langsung menjawab panggilan tersebut, dengan mata masih fokus ke kompute rnya.
"Aku senang akhirnya kamu menjawab telpon aku, sayang."
deg.
"Maura!" seru Arkan.
"Mau apa lagi, kamu!" teriak Arkan.
"Duh....jangan marah - marah dulu, kenapa sih..." Maura benar - benar memancing emosinya saat ini.
"Maura...aku nggak ada waktu buat ini, mending aku matiin telpon kamu sekarang,"
"Kalau kamu matiin telponnya, siap - siap sesuatu akan terjadi di kantor istri kamu." ancam Maura.
Deg....
Adara? apa yang mau di lakukan gadis gila ini sekarang, kenapa dia tidak bisa membiarkannya hidup tenang.
"Berani kamu lukai Adara, aku akan cari kamu saat itu juga, dan aku pastikan kamu nggak akan lolos dari jerat hukum." kini gilaran Arkan yang mengancamnya.
Gadis itu hanya terkekeh, entah apa yang di pikirkan oleh gadis gila itu, yang pasti dia benar - benar sudah muak berurusan dengan gadis gila yang terobsesi dengannya itu.
"Haha...kamu pikir, aku akan takut dengan ancaman, kamu?" gadis ini benar - benar sudah gila, dia malah menantang balik dirinya.
Gadis gila ini benar - benar membuatnya kehilangan kesabaran, kalau hukum tidak pernah ada, mungkin sudah lama dia menghabisi wanita gila ini.
***
"Percuma bicara sama orang kayak, lo." tamba menunggu waktu lama dan berpikir panjang Arkan mematikan telponnya.
Arkan benar - benar kebingungan saat ini, dia khawatir Maura akan bertindak lebih nekat, dan menyakiti istrinya itu.
Arkan melirik ponselnya, dan dia berpikir untuk menelpon Adara.
"Hallo!"
"Ha-Hallo!" balas Arkan.
"Arkan! ada apa? apa terjadi sesuatu?" tanya Adara, tampaknya gadis itu bingung, karena tiba tiba suaminya itu menelponnya.
"Nggak ada apa - apa sayang, aku cuma mau ngobrol aja sama, kamu," dalihnya.
"Hah?"
"Nggak tau sih...soalnya aku udah larang paket apa pun, datang,"
"Bagus deh." jawab Arkan spontan.
"Hah?"
"Mmm....kamu tau nggak sih, kalau Maura tadi habis nelpon, aku." Adara yang mendengar hal tersebut, hanya diam tapi tetap dengan perasaan terkejut.
"Terus?" tanya Adara penasaran.
Arkan diam sejenak, dia ragu apakah dia harus mencerikan soal ancaman Maura atau tidak.
Tapi dia khawatir itu akan mempengaruhi Adara, yang harus dia pikirkan adalah bagaimana caranya agar bisa melindungi istrinya itu.
"Arkan..." panggil Adara namun tak Ada sahutan dan dari Arkan karena terlalu terhanyut dengan pikirannya.
"Arkan!" teriak Adara, sontak hal tersebut membuat Arkan terkejut.
"Ya...kenapa?" tanya Arkan.
"Ya...ampun kamu tuh ya, di panggil juga,"
"Ma-maaf, tadi ada yang aku pikirin." jelas Arkan.
"Hah? soal apa?"
"Nanti aku cerita ya, aku tutup dulu telponnya," ujar Arkan,
"Kok."
"Nanti aku telpon lagi, aku kerja dulu, bye sayang..." belum sempat gadis itu bilang apa - apa Arkan malah menutup telponnya, sontak hal tersebut membuat Adara kesal di tempatnya.
***
Arkan melirik ponselnya, di pikirannya saat ini, benar - benar bagaimana caranya agar dia bisa melindungi Adara.
Dia benar - benar sampai sesuatu yang tak di inginkan terjadi, dan dia berharap Maura tidak akan benar - benar menyakiti istrinya.
***
"Lo, udah gila, ya!" teriak seorang gadis di telponnya.
"Maura!" ternyata Maura sedang menerima telpon dari temannya.
"Lo, masih ngincer dia juga!" ucapnya setengah tak percaya.
"Sadar Maura, sadar...." lirihnya.
"Dia itu suami orang, udah sih lepasin aja, lagian lo nggak cinta lagi kan, sama dia?" tampaknya teman wanitanya itu sedang membujuk Maura.
"Siapa, bilang?" tanya balik Maura.
"Apa?"
"Gue bilang, gue udah nggak perduli lagi, tapi bukan berarti gue nggak cinta!" ucap Maura dengan nada penuh penegasan.
"Cukup Maura, cukup...."
"Jangan bertindak lebih jauh lagi...sebelum lo, nyesel nantinya." dia berharap Maura mendengarkan ucapannya, sebelum semuanya menjadi telanjur dan terlambat akhirnya.
"Gue udah muak ya...denger semua ceramah lo!" Maura mulai berteriak dengan sahabatnya itu.
"Lo...sebenarnya, sahabat gue bukan, sih!" ucap Maura dengan nada penuh penekanan.
"Justru karena gue sahabat lo, gue ngingetin lo!" sahabatnya itu mulai kehabisan kesabaran.
__ADS_1
"Sekarang terserah lo deh, lakuin yang lo mau," ujarnya.
"Satu hal lagi," ucapnya terpotong.
"Jangan lagi, lo hubungi gue." setelah mengatakan hal tersebut, sahabatnya itu mematikan telponnya, hal tersebut membuat Maura menggeram kesal.
***
Siang ini setelah jam makan sehabis jam makan siang, Adara bertemu kolega nya untuk membicarakan kerja sama mereka.
Sebuah kesepatkan baru, baru saja terjadi dalam pertemuan ini, dalam kerja sama ini, tentu saja ini akan memajukan perusahaannya.
Setelah pertemuan selesai, Adara kembali ke kantornya, karena kerja sama yang baru ini, Adara bertambah sibuk dengan pekerjaannya.
Tok, tok....
"Masuk!" seru Adara dengan mata masih fokus ke komputernya.
"Hai, sayang!" panggil Arkan dengan wajah penuh riang.
Adara yang menoleh karena mengenal suara yang sangat familiar baginya, yang membuatnya terkejut adalah, karena melihat Arkan yang tiba - tiba datang ke kantornya.
"Arkan!" seru Adara yang terkejut melihat Arkan.
"Kamu ngapain disini?" tanya Adara heran.
"Kamu bilang banya kerjaan, kenapa malah kesini?" sambungnya.
"Kenapa? nggak boleh ke tempat istri sendiri?" tanya Arkan.
"Bukan gitu...." Arkan berjalan ke meja meja kerja Adara, dan Adara menatapnya dengan tatapan bingung.
"Aku udah mutusin," ujar Arkan, Adara menaikkan sebelah alisnya, dan menatap Arkan dengan tatapan bingung.
"Aku, akan pindah kerja disini." mendengar hal tersebut, membuat Adara sedikit terkejut, dan membuat Adara benar - benar kebingungan.
"Gimana?" tanya Adara yang meminta perjelasan dengan Arkan.
"Sayang...kita nggak bakal tau, apa yang akan di lakuin, Maura!" ujar Arkan, Adara menyimak apa yang di katakan oleh Arkan.
"Jadi...biar aku bisa ngawasin kamu, dan jagain kamu, aku kerja dari tempat kamu aja." ucap Arkan.
"Arkan...sayang dengar." pinta Adara. Arkan menaikkan sebelah alisnya.
"Aku tau, kamu berniat menjaga aku, tapi...nggak kayak gini juga," ujar Adara.
"Lagian...Maura nggak bakal bisa ngelukain aku, jadi kamu nggak usah khawatir, ya." ucap Adara sambil tersenyum.
"Tapi Dar...kamu nggak kenal Maura, dia bisa bertindak nekat!" terlihat raut khawatir di raut wajah Arkan.
"Kamu takut?" tanya Adara dengan nada santai.
"Kamu kenapa sesantai ini, sih?!" tanya Arkan heran.
"Aku nggak akan lari Arkan, terserah Maura mau ngapain, aku nggak peduli," ujar Adara.
"Yang terpenting, bagaimana sebisa aku jaga diri, aku." Arkan benar - benar nggak habis pikir dengan istrinya itu, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Dara..." Arkan mendekati Adara, dan hendak menggenggam tangan Adara.
"Arkan...kamu nggak usah khawatir, ya," pinta Adara.
Arkan hanya mengehela nafas, dan mau tak mau dia menuruti kemauan istrinya itu, semoga saja Maura tidak berbuat nekat.
tok tok....
Suara ketukan pintu yang tiba - tiba, memecahkan suasana, mereka berdua menoleh ke pintu, melihat siapa yang datang.
"Permisih, buk!" ucapnya.
"Ada apa?" tanya Adara bingung.
"Ada tamu untuk ibuk," ujarnya
"Hah? siapa?" tanya Adara bingung.
"Gue!" seru seseorang, Adara menoleh ke sumber suara, dia sedikit terkejut melihat siapa yang datang.
Yah, dia adalah Leon, gadis itu tak menduga kalau Leon akan datang ke tempatnya, dan disaat Arkan datang ke tempatnya.
Arkan yang tak mengenali Leon hanya menatap laki - laki yang menyelonong masuk ke kantor istrinya, dan dengan bersikap seperti sudah biasa datang.
"Sayang...dia, siapa?" tanya Arkan.
Gadis itu diam seribu bahasa, dia bingung bagaimana mengatakannya, kepada Arkan kalau dialah orang yang mengajaknya ketemuan.
"Lo...pasti, Arkan!" serunya, Arkan menaikkan alisnya, dia menatap heran Leon, yang mengenalnya padahal mereka tidak pernah bertemu sebelum nya.
"Maaf...lo, siapa?" tanya Arkan.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Arkan.
"Belum, kita belum pernah bertemu sebelumnya, tapi dengan istri, lo," Arkan menatap ke arah istrinya, seolah meminta penjelasan.
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Hai gimana Part kali ini, semoga suka, ya sama ceritanya, dan semoga ceritanya nggak membosenin bagi kalian para raiders kesayangan.
Buat Kalian para raiders kesayangan kalau ada masukkan apapun, atau atau krisan atau pertanyaan silakan komen di bawah.
author tunggu masukkan dan krisannya, agar cerita kesayangan kalian jadi lebih baik lagi.
Jangan like and comen vote dan review nya.
sekalian nih author mau ngucapin sesuatu buat para raiders setia secret Marriage.
بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
Ramadhan dan idul fitri di tengah pandemi virus corona. Kita pun tak bisa saling bersua, berjabat tangan, Mengucap maaf dan doa. Tapi, tali silaturahmi tetap terjalin lewat kiriman WA.
Dengan Kerendahan Hati,
Di Penghujung Bulan Ramadhan Ini Izinkan Saya Beserta keluarga Memohon Maaf Atas Segala Khilaf & Kesalahan Selama Ini, Serta Izinkan Kami Sekeluarga Mengucapkan :
*SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI*
*1 SYAWAL 1441 H.*
*Mohon Maaf Lahir Dan Bathin.*
تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَا وَ مِنْكُمْ صِيا منا وَ صِيَامكم كُلُّ عَامٍ
وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ
*Semoga Allah SWT Memberikan Kita Umur Panjang Dan Kesehatan Serta Bisa Bertemu Dengan Ramadhan Tahun Depan.*
آمــــــــــــــين.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
dari kami sekeluarga
🙏🙏🙏
ok, sekian dari author, see you next time
sampai jumpa di cerita selanjutnya
__ADS_1
bye bye