Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Pertemanan ?


__ADS_3

Saat aku mencoba mencerna maksud dari ucapannya, Arkan tampak masih menunggu tanggapan dariku.


"Hei! jangan bicara sembarangan, ya!" seruku, sambil menatap tajam.


"Kau tidak tahu, masalah apa yang akan timbul nanti? hah?!" Arkan mengubah posisinya, aku menatap serius ke arahnya.


"Kau pikir aku peduli?" aku menatap laki - laki itu tak percaya, aku bertanya - tanya sebenarnya apa yang dia pikirkan?


"Kalau aku tidak, mau?" Arkan langsung berdiri dihadapku.


"Akan aku buat kau mencintaiku," aku masih mencerna maksud dari setiap perkataannya, sebelum akhirnya dia pergi dari hadapanku.


Aku termenung seorang diri, aku menampar pelan kedua pipiku, berharap yang baru saja terjadi adalah mimpi, Namun sayangnya itu bukanlah mimpi.


Aku segera masuk ke apartementku, sepanjang malam aku berusaha keras untuk tidak memikirkannya, Namun pada kenyataannya sulit untuk tidak memikirkannya.


...5 hari kemudian .......


Sesuai yang sudah di rencana, hari ini pelucuran produk, dan memperkenalkan situs kami secara bersamaan. beruntungnya semua berjalan lancar hingga acara berakhir.


Karena aku belum memutuskan kerja sama, Arkan bermaksud mengadakan pesta untuk merayakan keberhasilan dan kelancaran launching produk baru.


Malam harinya tamu mulai berdatangan, Arkan datang bersama dengan teman - temannya, kemudian menghampiriku.


Salah satu dari teman Arkan menunjukkan gestur ingin berkenalan, sambil tersenyum aku menyambut perkenalan itu.


"Jadi ini desainer jenius, kita?" tanya Glen, aku yang mengerti maksudnya hanya terkekeh.


"Perkenalan saya, Glen." laki - laki itu mengulurkan tangannya, kemudian aku menjabat tangannya.


"Adara." ucapku sambil tersenyum ramah.


"Aku rasa anda terlalu berlebihan, Tuan muda Glen." ia terkekeh, kemudian mendekat kepadaku.


"Kau terlalu fomal, bisa-bisa aku tidak bisa dekat dengan gadis cantik sepertimu, Nona Adara." aku tertawa, kedua teman Arkan juga ikut tertawa, kecuali Arkan. dari tatapannya aku merasa ada yang menjanggal.


"Kau baik-baik saja, Tuan Arkan?" ketiganya mengikuti arah pandangku, Arkan hanya diam kemudian meninggalkan kami berempat.


"Apa dia selalu seperti, itu?" tanyaku dengan tatapan bingung.


"Tidak juga, kecuali kalau dia sedang cemburu." Dean dan Dion tertawa menanggapi perkataan Glen, aku termenung menatap ke arah Arkan.


"Sudahlah ... tidak perlu di pikirkan, nanti juga dia akan baik sendiri," Aku mengangguk paham, Tak lama suara musik mengalihkan perhatian kami.


"Kami pergi dulu, kau nikmati saja acaranya." aku mengangguk paham, lalu kemudian mereka pergi meninggalkanku seorang diri.


Aku mencari tempat untuk bersantai di tengah keramaian, Namun aku di buat terkejut dengan Arkan yang tiba - tiba muncul di hadapanku.


"Kau mengagetkanku, saja!" dengusku kesal.

__ADS_1


"Apa kau senang mengobrol dengan, temanku?" tanynya dengan nada dingin, aku menatap penuh heran.


"Apa? apa aku tidak boleh berkenalan dengan temanmu?" Arkan tidak menanggapi pertanyaanku, aku masih bisa melihat raut kesal diwajahnya.


"Kau kesal? kenapa?" saat aku ingin melihat wajahnya kesal dari dekat, Namun Arkan memalingkan wajahnya.


"Kalau lebih dekat dari ini, bisa lebih bahaya loh." ancam Arkan, seketika refleks aku berjalan mundur.


Suasana semakin tidak kondusif, mana


kala Arkan berjalan maju mendekatiku, aku memperhatikan sekeliling aku melihat semua orang memperhatikan kami.


"Bisa gawat kalau ini jadi perhatian semua orang, kalau mereka salah paham.' aku terdiam memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.


"Berhenti disana, Tuan Arkan." ucapku dengan nada penuh penegasan. seketika Arkan langsung menghentikan langkahnya.


"Maaf semua, karena sudah larut malam aku permisih." aku membungkuk hormat, sebelum akhirnya aku segera pergi dari tempat itu.


Di tengah kebisingan yang terjadi setelah aku pergi, Arkan pergi meninggalkan acara dan menyusulku.


Sebelum aku sembat memasuki mobil, Arkan segera menarikku menjauh dari mobil.


Setelah menutup kasar pintu mobilku, dengan kasarnya dia mendorongku ke pintu mobil hingga membentur pintu mobil, terlihat kemarahan dari sorot matanya.


"Kau sudah gila, ya!" seru dengan tatapan tajam.


"Jangan membuat masalah, kau mengerti?" aku segera memasuki mobil, lalu buru - buru aku menjalankan mobilku.


Dari balik kaca mobil, aku bisa melihat Arkan terdiam mematung, melihat itu seketika perasaanku menjadi tidak karuan.


Aku tidak menyangka acara itu akan berakhir seperti ini, aku kembali memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi akibat ulah konyol Arkan.


Sedangkan yang terjadi pada acara tersebut setelah aku pergi, satu - persatu tamu undangan pergi sambil berbisik - bisik. sepertinya yang mereka lihat tentang kami benar - benar mengundang kehebohan.


...***...


Hingga pagi harinya, aku kembali kepekerjaanku yang normal dan santai.


Namun ketika baru saja aku berpikir tentang santai, seseorang datang dan membuat ekspetasiku langsung buyar.


"Apa maksudnya ini, Adara!" aku mencoba menenangkan kakakku itu, Namun sepertinya dia sudah terbawa emosi.


Saat kakakku berjalan maju mendekatiku, aku refleks bergerak mundur, tatapannya yang tajam dan mengintimidasi membuatku takut.


"Kau tahu apa akibatnya kalau ini sampai ke Mama, dan Papa?" aku terdiam, saat itu juga aku tak berani menatap matanya.


"Kakak .... Kau su _"


"Katakan kau ada hubungan apa dengannya?" tanynya dengan tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


"Makanya dengarkan aku ... " lirihku, aku menarik nafas panjang, sebelum akhirnya aku mulai bicara.


"Aku tidak ada hubungan apapun dengannya." wajahnya masih terlihat meragukan perkataanku, tapi entah apa yang membuatnya langsung merubah ekspresinya.


"Dengar, Adara."ucapnya dengan nada penuh penekanan, sambil menatap tajam ke arahku.


"Dengarkan baik - baik," aku hanya diam, aku tidak mau memperkeruh keadaan.


"Jauhi dia." aku hanya diam tak menjawab, bahkan aku tidak menunjukkan reaksi keberatan sama sekali.


"Berpikir untuk dekar dengan nyapun jangan." pikiranku seketika di penuhi argumen tentang mengapa mereka begitu bermusuhan.


"Apa lagi berpikir untuk menjalin hubungan." Kakak berbicara semakin serius, akhirnya aku masih memilih untuk diam, dan mendengarkan.


"Jangan pernah, kau mengerti?" lalu aku bersandar pada mejaku, aku terduduk lemas ketika kakaku pergi dari kantorku, entah apa yang membuat perasaanku terasa bercampur aduk.


"Lalu bagaimana kalau aku jatuh cinta dengannya?' batinku, aku masih mencoba mengatur nafasku yang tak beraturan.


Otakku memutar memory di mana Arkan mengatakan sesuatu, yang membuatku terkejut pertama kali.


"Akan aku buat kau mencintaiku."


...Deg!...


...***...


...Ketika kau akhirnya menyadari perasaanmu yang sesungguhnya...


...Ketika itu juga kau akan menyadari...


...Bahwa bagian yang paling menyedihkan adalah...


...mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang yang ingin selalu ingin selalu habiskan waktu bersama...


...Dan pada akhirnya cintamu menjadi terbelenggu...


...***...


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Hai ... semoga suka, ya ...


Dan kalau kalian suka, jangan lupa like and komen vote dan juga review-nya.


Kalau ada masukkan kalian juga bisa komen di bawah, silahkan komen sebanyak - banyaknya ya


sampai jumpa di cerita selanjutnya


semoga harimu menyenangkan

__ADS_1


__ADS_2