Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Menghilangnya Adara


__ADS_3

"Arkan!" seru Mama Adara, wanita paruh baya itu menyambut kedatangan menantu kesayangannya itu.


Arkan tersenyum, kemudian menghampiri mertuanya itu.


"Kamu sendiri? Adara kemana?" tanya Mama Adara sambil celingak celinguk mencari keberadaan Adara putrinya itu.


"Adara nggak bisa kesini Ma, katanya ada janji sama temannya." dalih Arkan.


"Oh..." Mama Adara mengangguk faham.


Dari kejauhan terdengar langkah kaki, sedang menuruni anak tangga, Arkan bisa menebak itu pasti adalah Papa Arkan.


"Siapa, Ma?" tanya Papa Arkan.


"Arkan, Pa!" sahut Mama Arkan.


Arkan menghampiri ayah mertuanya itu, setelah ayah mertuanya menuruni anak tangga.


"Hai!" sapa Papa Arkan.


"Cuma kamu sendiri?" tanya Papa Arkan, dia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan putrinya.


"Adara?!" tanyanya.


Arkan sudah menebak, situasi ini pasti terjadi, keadaan ini mau tak mau membuat dia harus berbohong, setidaknya sampai dia berhasil menemukan Adara.


"Adara, lagi sama temennya, Pa!" sahut Papa Mama Adara.


"Oh..."Papa Adara mengangguk faham, dia mengerti, memang seperti itu lah putrinya, kalau ada waktu luang, dia pasti akan menghabiskan waktu bersama dengan temannya.


Mereka tidak sadar putrinya pergi entah kemana, Arkan mulai merasa tak enak karena telah membohongi mertuanya.


Tapi tidak mungkin dia memberi tau Adara pergi, dan menceritakan alasan dia pergi.


Itu mungkin akan menimbulkan masalah barunya, jadi untuk sementara ini, akan akan membiarkan situasinya seperti ini.


Arkan benar benar bingung harus apa lagi, dia bingung harus mencari Adara kemana.


Adara benar - benar menghilang, dan sulit untuk di temukan.


Apakah dia harus menanyakan kepada temannya, atau tidak?


Tapi mungkin mereka tau sesuatu soal Adara.


"Ma!"seru Arkan sambil menatap Mama Adara.


"Mama, ada kontak temen Adara?" tanya Arkan penuh harap.


"Arkan, mau tanya kapan Adara akan pulang." dalih Arkan


"Hahah..." Papa Adara tertawa, melihat menantunya yang sedang rindu dengan putrinya.


"Pa!" seru Mama Adara.


"Mama punya nomor Shane, sebentar ya." ucap Mama Adara.


Mama Adara pergi, untuk mengambil sesuatu untuk di berikan kepada Arkan.


Arka berharap ada di salah satu tempat temannya itu, atau mungki mereka sedang kumpul di suatu tempat.


tak lama Mama Arkan kembali, dengan kartu nama ditangannya, dia memberikan kartu nama tersebut ke Arkan.


Di sana tertera alamat Shane, dan juga nomor terlponnya, Arkan sedikit lega, tapi tetap belum lega sepenuhnya karena Arkan belum menemukan Adara


***


Setelah mendapatkan kartu nama Shane, Arkan berpamitan pulang.


Di dalam perjalanan Arkan menghubungi Shane


"Hallo!"


"Hallo, Shane!" balas Arkan.


"Siapa, ya?" tanya Shane, Shane memang tidak mengenal Arkan, makanya dia tidak tau.


"Gue, Arkan!" ucap Arkan memperkenalkan diri.


"Suami, Adara!"serunya.


"Ok, jadi ada apa?" tanya Shane, dia masih bingung dengan tujuan Arkan menelponnya.


"Lo tau dimana, Adara?!" tanya Arkan penuh harap.


"Hah?!" Shane tampak terkejut dengan pertanyaan Arkan.


"Atau dia ada di tempat, lo?" tanya Arkan penuh harap.


"Nggak, Adara nggak ada disini." jawab Shane.


Arkan mulai putus asa, sekarang kemana lagi dia harus mencari Adara.


"Yaudah, makasih, ya." Arkan langsung mematikan telponnya.


Arkan mengusap wajahnya, dia benar - benar prutasi


***


Di rumah Shane.


Shane menghubungi sahabatnya.


"Hallo!"


"Hallo!" balas Shane.


"Ada apa, nelpon?" tanyanya.


"Adara, ada di tempat longgak?" tanya Shane harap cemas.


***


Arkan melanjutkan perjalanannya, mencari Adara.


Dia berharap secepatnya bisa menemukan Adara, agar dia dapat menyelesaikan masalahnya dengan Adara.


agar dia dan Adara bisa baik - baik kembali seperti sebelumnya, dia benar - benar merindukan istrinya itu.


Tapi sampai saat ini dia tidak tau di mana istrinya itu, dia mencoba mencari kebeberapa tempat, tapi tak berhasil menemukannya.


Selama perjalanan mengunnakan mobilnya, mata Arkan tak luput dari jalan, mata terus tertuju pada jalan, barang kali saja dia akan bertemu Adara.


Kemana Adara sekarang?


Bagaimana keadaannya?


Arkan benar - benar menghawatirkannya.


Drrtttt......


Arkan di buat terkejut, saat mendengar panggilan masuk ke ponselnya, dengan segera Arkan menepikan mobilnya, dia berharap yang menelponnya adalah Adara.


Saat di lihat ternyata bukan Adara terapi Maura, dia sedikit kecewa karena yang menelpon bukan Adara.


Arkan melajukan kembali mobilnya dan mengabaikan panggilan dari Maura.


Dia sudah tidak peduli lagi dengan Maura, karena ulahnya dia jadi kehilangan Adara.


Flash back.


"Ra!" Laki - Laki itu mengerutkan dahi.


"Kamu, ngapain nelpon gue, hah!" seru Arkan dengan memasang focer face.

__ADS_1


"Kamu kenapa, sih?!" tanyanya dengan kebingungan melihat sikap Arkan terhadapnya.


"Maura! gue ini udah nikah," ungkap Arkan tampa sengaja.


Terlihat senyum sinis di wajah Maura.


"Aku tau, kok," jawabnya sambil melipat tangannya.


"Kalau lo udah tau, tolong jangan ganggu aku lagi." pinta Arkan.


Arkan hendak pergi, namun di tahan oleh Maura.


"Arkan!" seru Maura.


"Kamu bilang, kamu akan menikah sama, aku!" gadis itu mengatakan semuanya di depan Arkan.


"Kamu, bakal cuma setiap sama, aku!" gadis itu mulai memojokkan Arkan.


"Tapi mana!" Arkan terdiam, dia tak tau harus menjawab apa.


"Kamu malah nikah, sama wanita lain kamu pikir gimana perasaan aku." Maura begitu sedih, dadanya terasa sakit.


"Maaf, Maura!" Arkan menatap ke arah Maura.


"Mungkin kita memang ditakdirkan untuk tidak bersama." Arkan mencoba membuat Maura mengerti.


"Sekarang aku, sudah mempunyai Dara, dan aku sayang sama dia, tolong kamu ngertiin itu juga." ada rasa tidak enak di dalam diri Arkan, tapi itu kenyataannya.


Kenyataan bahwa mereka tak di takdirkan untuk bersama.


Arkan hendak pergi, namun Maura lagi - lagi menghalagi.


Arkan di buat tambah terkejut, di tambah dia menodongkan pisau kelehernya sendiri.


"Ma-Maura!" ucap Arkan, saat ini Arkan benar - benar panik, bagaimana kalau dia benar - benar nekat.


"Kalau kamu pergi, aku Akan bunuh diri!" gadis itu mengarahkan pisaunya kelehernya sendiri.


Mata Arkan melotot, gadis itu benar benar sudah kehilangan akal, Arkan setengah tak percaya Maura akan melakukan itu, tapi kalau gadis itu dengan dia bisa saja melakukannya.


Arkan berusaha membujuknya, tapi hasilnya nihil, hingga pada akhirnya mau tak mau Arkan menuruti kemauannya.


Karena dia sendiri tak mau mendapatkan masalah, karena hal tersebut, apalagi harus sampai berurusan dengan polisi.


"Flash back off"


itu adalah keputusan yang membuat Arkan sangat menyesal, keputusan yang membuat dirinya harus kehilangan istrinya.


Sepanjang perjalanan dalam pencarian nya, Arkan terus menyesali hal tersebut, tapi biar bagaimana pun dia tak bermaksud menyakiti Adara.


Arkan yang mencari kemana - mana, dan melihat tak ada hasil sama sekali, membuat Arkan menyerah dan putus asa.


Mungkin dia harus membiarkan Adara pergi sebentar, dan membiarkan dirinya menenangkan pikirannya.


Dia sudah terlalu capek, dan di tengah itu semua dia tak tau harus minta bantuan pada siapa.


Akhirnya Arkan menghentikan pencarian dan mengarahkan mobilnya ke tempat lain.


Beginilah akhirnya, kedua pasangan itu, saling menutup diri, mungkin mereka memang membutuhkan waktu sendiri.


Baik untuk berpikir, maupun untuk mencari jalan keluar dari masalah mereka.


Mungkin dengan mereka mempunyai waktu sendiri akan membuat mereka menjadi bertambah dewasa.


Sehingga mereka bisa mengatasi masalah mereka, dengan pemikiran dewasa.


Masalah dalam kehidupan rumah tangga pasti akan terjadi, tapi butuh pemikiran dan hati yang dingin untuk menyelesaikannya.


Karena sebuah masalah tidak akan selesai, jika hati mereka masih penuhi dengan amarah.


Arkan memutuskan untuk pergi ke pantai, menurutnya dengan kepantai, dia berharap setelah melihat suasana laut, akan membuat pemikirannya menjadi tenang.


Dia ingin mencurhkan semuanya, dan membuang semua yang membebani pikirannya.


Udara pantai, dan cuaca yang cerah dan panas, tak menggoyahkan Arkan


****


Beberapa menit kemudian, Arkan sampai di pantai, pantai terlihat tak begitu ramai pengunjung.


Arkan menarik nafas panjang, lalu melepasnya, Arkan pergi mengitari pantai.


Arkan terlihat menikmati pemandangan pantai yang bersih meski ada pengunjung.


Pantai tersebut tampak dijaga kebersihannya, terlihat dari tempat sampah yang disediakan oleh penjaga pantai.


Arkan melihat pengunjung yang tampak menikmati liburan bersama pasangan mereka.


Arkan mulai membayangkan Adara, Arkan kembali mengedarkan pandangannya.


Di sudut pinggir bibir pantai, terlihat Sesosok wanita, tapi dia tak terlalu jelas melihat sosok gadis tersebut.


Arkan mendekati gadis itu, agar bisa melihatnya dengan jelas, entah kenapa tapi gadis itu membuat Arkan penasaran.


dengan perlahan Arkan mendekati gadis tersebut, dan berhati - hati, kalau saja nantinya gadis itu malah kabur jika melihat dirinya yang mendekatinya.


****


"Adara!" panggil Arkan, gadis itu pun menoleh, ternyata benar dia adalah, Adara.


"Arkan?!" gadis tersebut tampak terkejut karena melihat Arkan, yang tiba - tiba ada disana.


Grebbb.....


Tampa berpikir panjang Arkan mendekapnya dalam pelukkannya, Adara menangis dalam pelukkan Arkan.


"Kamu kok, bisa disini?" tanya Adara bingung.


"Aku, nyari kamu ke kemana - mana, tapi nggak berhasil, dan akhirnya aku kesini, dan nggak sengaja liat, kamu." jelas Arkan.


"Terimakasih tuhan, kau pertemukan lagi, aku dengan istri hamba.' batin Arkan, dia sangat bersyukur bertemu lagi dengan istrinya itu.


Arkan memeluk erat istrinya itu, seakan takut kalau Adara akan pergi lagi.


"Arkan, nyariin aku?' batin Adara, gadis itu merasa terharu, karena ternyata suaminya itu mencarinya.


"Bentar dia pakek aku kamu? bukan lo gue lagi?' batin Adara.


"Arkan!" seru Adara.


"Hmm..." gumam Arkan.


"Ini, pelukkannya mau sampai kapan, aku udah mulai sesak nih." ujar gadis itu, sontak Arkan, melepaskan pelukkannya.


"Eh... maaf - maaf." ujar Arkan.


Adara hanya tersenyum dan menatap ke arah ombak pantai.


"Liat deh, Arkan!" seru gadis itu, seraya menunjuk ke arah ombak pantai.


"Ombaknya kenceng banget ya," ujarnya, dengan pandangannya yang masih ke ombak pantai.


Arkan mengikuti arah pandang Adara, kemudian melihat ke Adara lagi.


Angin pantai, yang kencang membuat rambut Adara terbang, rambut hitam dan luruh itu, terbang tertiup angin pantai.


"Dara!" panggil Arkan, sontak gadis itu langsung menoleh.


Adara tampak menunggu apa yang akan, yang ingin Arkan katakan kepadanya.


"Ya?" tanya gadis cantik itu, seraya menyingkati rambutnya yang sendari tadi tertiup ombak.


"Jangan kabur lagi," ujar Arkan, seraya memasang wajah murung.

__ADS_1


"Aku akan kabur lagi, kalau kamu masih kayak sebelum - sebelumnya, Ar!" seru gadis itu dengan nada penuh penegasan.


"Kamu tau nggak sih, aku sampai nggak tidur semaleman, dan besoknya kamu bersikap seakan tak terjadi apa - apa, menurut kamu gimana perasaan aku." Arkan terdiam mendengar penuturan gadis tersebut.


"Maaf..." lirih Arkan.


"Dara, maaffin aku, aku nggak ada maksud nyakitin, kamu." ujar Arkan yang masih memeluk Adara.


"Khisk.... aku nggak marah, aku cuma kecewa, kenapa kamu nggak ada cerita sama aku." simbat gadis itu, seraya tangisannya yang mulai pecah.


"Maaf..." lirih Arkan, Arkan melepas pelukkannya, kemudian menangkup wajah Adara.


"Belum terlambat kan, buat aku jelasin, semuanya?" tanya Arkan, gadis itu tersenyum kemudian mengangguk.


Arkan, mulai menceritakan semuanya, dan menjelaskan kepada Adara, Adara hanya diam tak merespon apa pun.


"Kenapa kamu diam, Dar?' batin Arkan, dia merasa cemas dengan sikap diamnya Arkan


"Kenapa kamu diam?" tanya Arkan, lagi - lagi Adara hanya diam, tak merespon pertanyaan Arkan.


"Arkan!" gadis yang awalnya diam, kini membuka suaranya.


"Y-ya?" Arkan tampak gugup dengan apa yang di katakan Adara.


"Apa kamu bahagia dengan, Maura?" tanya Adara, pertanyaan yang telontar dari mulut Adara, membuat Arkan diam.


Arkan tak mengerti maksud pertanyaan Adara, dan dia tak tau harus menjawab apa.


"Kalo aku bilang aku lebih bahagia sama kamu, kamu bakal percaya nggak?" Arkan menatap ke dua matik mata Adara, yang membuat dirinya menjadi tenang saat melihatnya.


"ck... masa, bukankannya kamu cintanya cuma sama, Maura..." ucap Adara dengan Nadia menggoda Arkan.


"Iya, itu dulu, tapi sekarang aku cuma cintanya sama, Adara!" Arkan melingkarkan tangannya ke pinggang Adara. Gadis itu tersenyum, seraya menatap Arkan.


"I love you, Mrs. Arkan." ucap Arkan, sederhana, tapi mampu membuat jantung Adars berdegub lebih kencang.


"I you too, Mr. Arkan." Arkan tersenyum mendengar ucapan yang telontar dari bibir manis istrinya tersebut.


Arkan mendekatkan wajahnya ke Adara, hingga menyentuh bibir manis milik Adara, Arkan ******* bibir manis Adars, dan Adara membalas ciuman dari Arkan.


Tak lama kemudian, Arkan melepas ciumannya, kemudian mendekap Adara kedalam pelukkannya.


Sekarang kebahagiaan tengah menghampiri mereka, demikian juga Arkan, yang merasa senang karena telah mendapatkan istrinya kembali.


Dan yang ada pikirannya saat ini, bagaimana dengan Maura, apa yang akan dia lakukan dengan Maura.


Arkan berharap dia bisa menerima keputusannya, dan tidak menganggu rumah tangganya bersama dengan Adara.


Sejauh yang dia kenal, Maura adalah gadis baik, dan mau mengerti, dan dia berharap dia akan mengerti tentang hak ini.


Arkan juga berharap Maura akan mendapat penggantinya, dan juga hidup bahagia bersama pasangannya yang baru.


Maura adalah masa lalunya, dan akan selamanya menjadi masalalunya, sedangkan Adara adalah masa depannya, dan akan selamanya menjadi masa depannya, bersama dengan anak - anak mereka nantinya.


Arkan benar benar beruntung memiliki Adara, dan Arkan Adara masih mau menerima dirinya kembali.


Akhirnya dia bisa mengambil keputusan, dan semoga dia tak akan menyesal keputusannya.


Entah sejak kapan Arkan mulai mencintai Adara, tapi dia mulai menyadari itu sejak Adara pergi meninggalkannya.


Saat Adara pergi, di situlah dia baru sadar, bahwa dia tak bisa hidup tampa Adara.


Dan semoga tak akan ada yang merusak ke bahagian mereka.


Karena mereka hanya ingin memperbaiki dan memulai semuanya dari awal.


Dan semua di mulai dengan gaya bicara mereka, semua di mulai dari sana.


Mereka pun menghabiskan waktu bersama di pantai, layaknya pasangan pengantin baru, yang sedang berbulan madu, mereka terlihat begitu bahagia, dan sekali lagi, semoga tak ada yang merusak ke bahagian mereka.


***


Di tempat Maura, terlihat Maura yang masih kesal karena Arkan sama sekali tak bisa di hubungi, sepertinya Arkan sengaja menghindar darinya.


Karena kesak Maura membanting ponselnya ke atas kasurnya, kemudian melipat kedua tangannya.


"Arkan kenapa, sih?!" dengus kesal Maura.


"Kenapa Arkan nggak bisa di hubungi dari tadi?" tanya Maura heran.


"Berani banget dia ngabain, gue!" gadis itu duduk di pinggir tempat tidurnya, seraya memukul kasurnya


"Pasti dia lagi sama istrinya, arghh...." geram Maura.


"Gue harus lakuin sesuatu, gue nggak bisa biarin Arkan jatuh ke istrinya itu." Gadis itu mulai memikirkan suatu rencana untuk menghancurkan rumah tangga Arkan dan Adara.


Gadis itu mulai beranjak dari tempat tidurnya, dan kemudian berjalan mondar - mandir, seraya memikirkan rencananya.


Saat sudah berhasil menemukannya rencananya, gadis itu memasang wajah sinis.


Entah apa yang ada di kepala gadis itu, tapi suatu rencana sudah berada dalam kepalanya itu.


Selama beberapa jam, menghabiskan waktu bersama di pantai, Adara dan Arkan memutuskan untuk pulang kerumah mereka.


Arkan, mengendarai mobilnya dengan wajah yang bahagia, begitu juga dengan Adara, di tambah lagi, Arkan yang sendari tadi tak melepas gandengan tangannya.


Mereka sudah seperti pasangan yang baru menikah, padahal sudah beberapa minggu sejak mereka menikah.


Beberapa jam kemudian, Adara dan Arkan dan Adara tiba di rumah mereka.


Terlihat raut bahagia Adara, karena kembali ke rumahnya, Adara mengedarkan pandangannya, padahal dia belum lama pergi, tapi entah kenapa dia merasa merindukan rumahnya.


Grebbb...


Tiba - tiba tangan Arkan melingkarkan memeluknya dari belakang, sambil menyandarkan sagunya ke pundaknya.


"Selamat datang kerumah, sayang." ucap Arkan di dekat telingannya.


"Senang bisa kembali," simbat Adara, tangannya ikut memeluk tangan Arkan yang melingkarkan di pinggangnya.


"Aku pikir aku nggak akan, pernah kembali...." lirih gadis itu, seraya menundukkan kepalanya.


"Sssttt... kamu ngomong apa, sih?!" Arkan melepas pelukkannya, kemudian menghadapkan Adara ke hadapannya.


Kini mereka berdua saling berhadapan, dan pandangan mereka saling bertemu satu sama lain.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Hai.


Gimana ceritanya semoga suka, ya.


Kalau ada masukkan apapun untuk author silakan comen di bawah.


author akan selalu menunggu masukkan kalian dari semua, dan ini juga demi bikin cerita ini jadi belih baik, kalian jadi lebih enak bacanya


Jangan lupa like and comen, vote dan reviewnya ya, kalau ada masukan untuk author ingat komen di bawah.


Comen di bawah. Ok


Jangan lupa tinggalin jejak biar author bisa mampir ketempat kalian, pasti kalian pengen author juga mampir ke tempat kalian kan, makannya mampir dan tinggalin jejak ok


Ok, see you.


Sampai jumpa di cerita selanjutnya.


Bye bye all


ingat jangan lewatkan cerita ini ya, selalu pantengin terus ya, ceritanya, heheh... semoga kalian suka sama ceritanya.


bye bye gaish.


#salammanisdariauthor

__ADS_1


__ADS_2