
Akran tersenyum ke arahnya, dia mengelus pipi istrinya itu dengan lembut.
"Arkan!" tangan Arkan menangkap tangan Arkan yang menyentuh pipinya, Arkan melirik tangannya yang di genggam oleh Adara.
"Aku nggak marah sayang...aku percaya sama kamu,"
Entah bagaimana tapi satu kata itu cukup membuatnya menjadi lega, dia lega Arkan masih percaya kepadanya.
"Tapi...kayaknya dia suka ya, sama kamu," Adara hanya tertawa geli melihat sikap suaminya itu.
Arkan yang cemberut sambil melipat kedua tangannya karena cemburu, benar - benar membuat Adara menjadi gemas.
"Nggak mungkin, tapi kalau dia suka pun, aku bakal nolak." Arkan menoleh ke arah Adara sambil manaikkan alisnya.
"Kenapa?" tanya Arkan heran.
Adara melingkarkan tangannya ke lengan Arkan, kemudian menyandarkan kepalanya.
Arkan hanya memperhatikan sikap istrinya itu, meski dia masih tidak mengerti.
"Karena sekarang aku udah jatuh cinta sama suami aku ini," Arkan hanya tersenyum mendengar jawaban dari Adara.
"Aku juga udah jatuh cinta sama wanita lain," mendengar ucapan Arkan tersebut sontak membuat Adara melepas rangkulannya.
"Maksud kamu?" tanya Adara, dengan mata yang mulai berair.
"Iya, aku udah jatuh cinta sama wanita lain."
__ADS_1
Adara mulai merasakan sesak di dadanya dan tidak mungkin dia ingin menangis saat itu juga.
"Si-siapa?" tanya Adara sambil menahan tangisnya.
"Kamu mau tau, siapa?" tanya Arkan, dengan cepat gadis itu menganggukkan kepalanya.
" Namanya Adara, dia istri ku, dan akan menjadi ibu dari anak aku." tangis gadis itu pecah, sontak hal tersebut membuat Arkan menjadi panik.
"Hiks.." Isyak tangis Adara yang tak berkesudahan membuat Arkan menjadi panik.
"Sayang...kenapa kamu nangis?" Arkan mendekap Adara ke dalam pelukkannya, dia berpikir itu akan membuat Adara menjadi tenang, tapi justru tambah menjadi.
"Aduh...udah dong sayang...aku bingung kalau kayak gini,"
Adara mulai mengontrol dirinya, dan mulai bersikap tenang.
"Yaampun sayang... stop dong ...jangan buat aku panik."
Adara kembali mengontrol emosinya, dan sekarang Adara sudah kembali tenang.
"Maaf," ucap Adara.
"Enggak papa sayang...nggak papa." Arkan kembali mendekap Adara kedalam pelukkannya, dan mengusap kepalanya.
"Arkan!" panggil Adara.
"Hmm..." gumam Arkan.
__ADS_1
Adara melepas pelukkannya, dan menatap wajah Arkan.
"Kamu beneran, pengen punya anak?" tanya Arkan.
"Memangnya kapan aku bilang aku nggak pengen punya anak?" tanya Arkan.
Gadis itu menundukkan kepalanya, sambil memegang perutanya, sudah beberapa minggu sejak mereka menikah, dan sampai sekarang dia belum juga hamil.
"Hei..sabar, kita juga belum ada setahun nikah, kita pasti punya anak," Adara hanya tersebut untuk menyahutin ucapan Arkan tersebut.
Bagi seorang wanita yang sudah menikah, ini salah satu yang akan menjadi beban pikirannya.
Kekhawatiran akan tidak bisa memberikan keturunan mulai tidak bisa lepas dari pikiran Adada.
Dia berpikir bagaimana kalau dirinya tak bisa memberi anak, apakah Kean akan meninggalkannya.
Meski Arkan tidak pernah membicarakan soal anak saat bersama nya, dan meskipun Arkan terlihat tidak begitu memaksakan dirinya, tetap saja ini menjadi beban pikirannya, pikiran akan takut kehilangan Arkan.
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Hai gimana part kali ini
semoga part kali ini kalian suka
Kalau kalian ada masukkan atau pu pertanyaan silakan komen di bawah.
Author tunggu kalian di kolom komentar, dan jangan lupa like and comen vote dan reviewnya juga.
__ADS_1