
Kalau aku ingin mencari tau soal Arkan itu berarti aku harus tau, harus memulai dari mana.
Melihat perubahan Arkan pasti dari kantornya, apa mungkin aku harus mencari tau dari kantornya.
Bagiku sangat tidak mungkin untuk mencari tau langsung dari karyawan, karena akan memicu pikiran buruk untuk Arkan.
Aku sangat ingin mempercayai Arkan, tapi aku juga sangat ingin tau, ada apa dengan Arkan.
***
Tanpa sepengetahuan Arkan, aku pergi ke kantor Arkan, mereka yang mengenal diriku membungkuk hormat kepadaku, dan yang lain mengikuti.
Tak jauh dari tempatku, aku melihat seorang gadis.
"Ada keperluan apa, ibuk dara datang kesini?"
"Kenapa emangnya?"
"Saya tidak boleh ke kantor suami, saya?"
"Maaf buk, saya tidak bermaksud,"
"Tapi pak Arkan sedang rapat, buk!"
"Rapat?"
"Yasudah,"
"Ingat semua karyawan disini, jangan sampai ada yang bilang kalau ada saya disini, mengerti?"
"Baik, buk!"
Aku melenggang pergi meninggalkan karyawan itu, lalu pergi meninggalkan karyawan itu, dan pergi ke ruangan Arkan.
***
Di ruangan Arkan ....
Aku masuk ke ruangan Arkan, Aku mengedar di ruangan Arkan, aku melihat lihat isi ruangan Arkan.
__ADS_1
Saat melihat meja Arkan, aku melihat ada bingkai foto, yang berisikan foto pernikahan diriku dan Arkan, yang fi letakkan di samping komputernya.
Aku tersenyum melihat foto tersebut, lalu aku mengedar ke tempat yang lain.
Berharap menemukan sesuatu, tapi aku tak menemukan apapun, atau mungkin memang tidak ada apa - apa.
Aku berdiri penuh keheranan, kalau memang tidak ada apa - apa lalu apa penyebab perubahan sikap Arkan?
Tiba - tiba aku mendengar suara pintu, itu pasti Arkan, apa yang harus aku katakan.
"Dara?!"
Aku berbalik menghadap Arkan, lalu tersenyum canggung.
"Kamu ngapain, disini?"
Apa yang harus aku katakan, pikir Adara! Ayo pikirkan sesuatu!
"A..aku, mau...ngajak kamu makan siang bareng, hehe..."
"Oh...tapi kan, belum waktunya,"
Sekarang aku harus berpikir lagi, agar alasan aku bisa di terima oleh Arkan.
"Memangnya kenapa, sih?!"
"Aku nggak boleh kesini?"
"Aku juga bosen di rumah, ayah sama kamu dan yang lain melarang aku kerja,"
"Tadi juga, kamu pergi tanpa bilang lagi,"
"Bikin bete tau nggak."
Aku memanyunkan bibirku, lalu duduk di kursi tamu, sambil memasang raut wajah bete.
Aku melihat Arkan berjalan ke arahku, lalu duduk di sampingku.
"Dara!"
__ADS_1
"Bukan gitu, maksud aku,"
"Maaf."
"Yaudahlah, aku nggak di inginkan kan, disini?"
"Jadi aku pergi, ya,"
Aku berdiri, Arkan ikut berdiri dengan menahan pergelangan tanganku.
"Dar!"
Aku melepas paksa tangan Arkan, dari pergelangan tanganku, lalu melenggang pergi.
Arkan berusaha mengejarku, tapi aku mempercepat langkahku, drama kejar - kejaran kami, berlanjut sampai aku mendekati mobilku.
Saat aku berhasil sampai ke mobil dan hendak membuka pintu, Arkan menutup pintu mobilku sehingga aku tak jadi pergi dengan mobilku.
"Kamu apa - apaan, sih?!"
"Kamu yang apa - apaan, kamu kenapa sih?!"
"Aku kenapa, kamu yang kenapa!"
"Sekarang terserah mau kamu apa, aku nggak peduli!"
Aku mendorong menjauh Arkan, lalu bergegas aku masuk ke mobil lalu pergi dengan mobilku.
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Hai...
Gimana part kali ini.
semoga suka, ya
Kalau ada masukkan ataupun pertanyaan, silakan komen di bawah.
Jangan lupa like and komen, vote and review.
__ADS_1