
Beberapa menit kemudian....
Aku mendengar suara bel rumah, Aku bisa menebak kalau itu tukang delivery.
Aku menutupi wajah sumringaku, dengan mencoba bersiakap biasa saja.
Entah kenapa kalau masalah es cream aku dak bisa menolaknya, kesukaan ku, mengalahkan rasa marah ku kepada Arkan, walau tak sepenuhnya marah, haha...
***
Arkan mendahuluiku keluar kamar, dan aku tak mau hanya berdiam diri di kamar, dan langsung menyusul Arkan.
Saat menyusul Arkan, aku melihat Arkan menghampiri bibik, yang habis menerima pengiriman, dan mengambil nya dari tangan bibik.
Tak lama bibik pergi ke arah dapur, Arkan melihat ke arahku, lalu berjalan ke dapur, aku mengikuti Arkan, tepat di belakangannya.
***
Arkan menyajikan di hadapanku, tampa menunggu waktu lama, aku langsung memakan es cream tersebut.
"Ingat ya, Dar!"
"Ini yang terakhir, mengerti?"
Aku tak memperdulikan Arkan, dan terus menikmati es cream tersebut, tampak Arkan masih memperhatikanku, yang sedang menikmati es cream tersebut.
***
Aku kembali ke kamar, setelah menikmati dan membereskan bekas makanku tersebut.
Aku baru sadar kalau Arkan hanya diam dari tadi, Aku melirik dan menatap bingung Arkan yang duduk di sapingku di tempat tidur.
"Arkan, kamu kenapa?"
Arkan tak menyahutku, sontak hal itu membuatku bingung, keheningan sekilas menyimuti kamar tersebut.
"Arkan!"
__ADS_1
"Kamu kenapa?"
"Kok aku tanya kamu malah diam?"
Dalam diamnya Arkan menoleh ke arahku, dan menatap diriku sedikit lama.
"Dar!"
"Aku nggak suka ya, kamu makan sembarangan, dalam kondisi kamu hamil begini,"
Ternyata itu yang membuat Arkan, yang terlihat amat kesal.
Aku mengerti kenapa Arkan bersikap seperti itu, ini bukan saja soal diriku, tapi juga bayi yang ada di dalam kandunganku.
"Yaudah, aku janji, nggak kayak tadi lagi,"
"Janji?"
"Janji."
Aku membalas pelukan Arkan, dan malam itu kami berpelukkan cukup lama.
***
Keesokan paginya...
Pagi itu entah kenapa saat aku terbangun, suasana sangat sunyi, saat aku melihat ke sampingku, pagi itu Arkan tidak ada di sampingku.
Aku terkejut mengetahui, saat aku bangun, Arkan tidak ada di sampingku, biasanya Arkan tidak pernah seperti ini.
***
"Arkan!"
Dengan masih mengenakan baju tidur, aku turun ke bawah memanggil Arkan, tapi Arkan tak menunjukkan batang hidungnya.
"Non, cari Aden?"
__ADS_1
Aku menoleh ke sumber suara, aku lihat bibik berdiri sambil membungkuk hormat.
"Bibik, liat Arkan?!"
"Aden udah berangkat non,"
"Emangnya nggak pamit, sama non?"
Untuk pertama kalinya, Arkan pergi tampa sepengetahuanku.
Perasaanku saat itu bercampur aduk, namun aku ingin tetap positif tingking dengan suamiku.
Sebisa mungkin aku memikirkan hal yang positif, agar tidak salah paham dengan yang dilakukan oleh Arkan pagi ini.
"Yaudah bik, bibik boleh pergi,"
"Makasih ya, infonya."
Bibik membungkuk memberi hormat, lalu melenggang pergi ke dapur, setelah berpamitan denganku.
Setelah bibik pergi, dalam diam aku berpikir kenapa pagi ini Arkan pergi tanpa memberitahuku.
Aku ingin menghubungi Arkan, dan bertanya kenapa dia pergi tanpa bilang sepata katapun padaku, tapi aku ragu...
Aku takut jika aku menanyakan hal itu, maka Arkan akan berpikir kalau aku meragukannya, padahal tidak.
Aku mempercayainya sepenuhnya...
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Hai...
Gimana part kali ini? semoga suka ya.
Kalau ada masukkan atau pertanyaan, silakan comen di bawah.
jangan lupa like and comen, vote and reviewnya juga.
__ADS_1