Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Hari pernikahan Shane


__ADS_3

Hari berlalu cepat hingga tampa aku sadari hari sudah malam, karena mengerti kondisi.


Shane, Vivia, Dean dan Dion pergi dan membiarkan aku menjalankan rencanaku untuk kembali berbaikan dengan Arkan.


***


Arkan berada di luar, aku bisa menyadarinya dari suara mobil yang terdengar jelas.


Aku sudah meninggalkan catatan di depan pintu, dan aku rasa Arkan sudah membacanya.



Aku mendengar suara pintu dari kejauhan aku melihat Arkan tengah kebingungan dengan ruangan yang amat gelap.



Arkan terlihat terkejut ketika melihat kejutan lain di depannya, tak lama aku pun keluar dari tempat persebunyianku dengan membawa kue di tanganku.



Pandangan Arkan tak lepas dari diriku, aku berdiri tepat di depannya Arkan menatap kue yang berada di tanganku.


"Kamu nyiapin ini semua?" tanya Arkan dengan tatapan setengah tak percaya.


Aku menganggukkan kepala seraya tersenyum.


"Iya aku yang siapin ini semua, tapi aku nggak sendiri kok," ungkapku.


"Aku di bantu oleh temen-teman kita dan juga, Bibik!" sambungku.


"Kamu nggak ke capean, kan?" tanya Arkan. Aku menelan ludah, aku menjawab ke khawatiran Arkan. dengan senyuman.


"Nggak, Arkan!" jawabku.


"Kita makan kuenya, yuk," ajakku.


Aku berjalan mendahului Arkan, Arkan mengiringiku dari belakang.


Begitu di dapur, aku memotong kue dan begitu selesai aku memberikan bagian Arkan.


Aku memperhatikan Arkan. aku tersenyum puas melihat Arkan. yang tampak senang dengan kue yang baru dia makan.


"Gimana apa rasanya, enak?" tanyaku penasaran.


Arkan tak langsung menjawab, dia seperti menimbang sesuatu, namun entah kenapa itu membuat jantungku berdegub kencang.


"Enak, kok." aku menarik nafas lega, kami pun menikmati kebersamaan kami berdua malam itu.


Dengan di temani lilin dan juga musik kami berdua menghabisi malam itu dengan romantis.


***


Hari pernikahan Shane.



Semuanya tampak begitu mewah, semua bernuasa putih, sesuai dengan warna kesukaan Shane.


Dion sengaja menyiapkan semuanya. karena ingin menyenangkan Shane.


__ADS_1


Shane keluar dengan gaun putihnya, dia tampak begitu anggun dan cantik.



Semua berdiri menyambut sang pengantin wanita, wajahnya yang di sinari matahari sore membuatnya semakin menawan.


Perlahan Shane berjalan ke arah Dion yang tengah menantinya di tempatnya.


Acara berlangsung sangat hikmah dan begitu sakral. sesuai harapan kami semua hingga akhirnya mereka resmi menjadi suami istri.


Semua tamu undang tengah menikmati hidangan yang telah di siapkan. terlihat dari raut bahagia mereka. mereka tampak menikmati acara tersebut.


"Syukur ya, semua berjalan lancar," ujar Vivia.


"Iya ... akhirnya mereka resmi menikah sekarang." simbatku seraya mantap kedua pengantin itu dari kejauhan.


"Kalian kapan?" sahut Arkan.


Mereka diam namun aku bisa melihat kalau mereka salah tingah saat di tanya seperti itu oleh Arkan.


Aku bahkan lupa soal mereka, aku tidak mengira semua akan berlanjut dengan kedua sahabat kami.


Meskipun begitu aku harap semua berjalan baik - baik saja, tanpa ada masalah apapun lagi.


"Sayang ... kita duduk disana, yuk," ajak Arkan.


Aku tau Arkan berencana membiarkan Dean dan juga Vivia berduaan, itu juga agar mereka mempunyai waktu untuk berbicara berdua. tapi itu justru membuat mereka makin salah tingkah.


"Tadi kamu sengaja, kan?" tanyaku curiga sambil memperhatikan Vivia dan Dean dari kejauhan.


Arkan hanya tersenyum menjawab pertanyaan ku. sedangkan aku tetap larut dalam kebingungan.


***


Aroma makanan yang enak memenuhi kamar, sontak hal itu membangunkan aku dari tempat tidur.


Aku beranjak dari tempat tidur, dan menuju asal aroma yang menggoda selera.


***


Arkan tersenyum ke arahku, ketika melihat aku datang dan aku pun langsung mendekat.


Aku tersenyum melihat Arkan, meghidangkan makanan yang tadi di buatnya.


Arkan menatapku yang tengah mencoba masakannya. dan sepertinya dia menunggu pendapatku.


"A-Arkan?" tanyaku yang tengah salah tingkah.


"Gimana, sayang?" tanyanya dengan wajah penuh harap.


"Enak, kok," ujarku.


"Jadi berhenti melihat aku seperti itu, mengerti?" Arkan tersenyum, kemudian membiarkan aku menikmati sarapanku.


***


Begitu selesai sarapan, Arkan pergi pergi ke kantornya. sedangkan aku kembali merasa bosan di rumah.


Aku mengirim pesan ke Mama dan ibuku agar menemaniku membeli peralatan bayi, dan seperti dugaanku, mereka selalu semangat jika mengenai cucu mereka.


"Bagaimana, ini baguskan?" tanya Mama Arkan sambil memperlihatkan topi bayi yang pegangnya.

__ADS_1


"Nggak ... ini baru namanya bagus, iya kan?" tanya ibu. sambil memperlihatkan pilihannya.


"Adara ... kamu pilih yang mana? "tanya Mama Arkan langsung.


"Tentu yang inilah, aku tau anakku itu satu selera denganku," sahut Ibu.


"Ibu!" ucapku.


"Apa maksudnya itu?!" sentak Mama Arkan yang tampak protes dengan yang di ucapan Ibuku.


Aku yang terjebak di situasi yang tampak membingungkan, cukup kualahan mengatasi situasi ini.


"Ma ... Bu ... kalian bisa berhenti berdebat? kita bisa beli keduanya, kan?" aku memilih jalan tengah, berharap masalah cepat selesai.


"Baik ... Ibu setuju," simbat Ibu. sambil meletakkannya di troli.


"Baik ... Mama setuju." Mama Arkan juga ikut meletakkan pilihannya di troli.


Aku bernafas lega, karena akhirnya bisa mengakhiri perdebatan ibu dan ibu mertua.


Aku lanjut mendorong troli, lalu kembali memilih barang berikutnya.


Aku pikir berikutnya tidak akan ada perdebatan lagi, tapi ternyata aku salah, dan lagi - lagi aku melakukan cara yang sama.


Rencana yang pada awalnya. hanya berbelanja seperlunya, jadi harus keluar dari rencana sebelumnya. kerena belanjaan untuk sih baby menjadi meludak.


***


Di rumah aku hanya merenung meratapi barang - barang yang tadi aku beli di tokoh baby.


"Bagaimana ini? semuanya jadi berlebihan seperti ini, sekarang apa yang harus aku lakukan?" aku mengusap prutasi kepalaku.


Saat tengah kebingungan aku mendengar suara mobil datang. dan aku tau mobil siapa itu.


Seseorang membuka pintu, dan keluar sosok Arkan yang datang dengan membawa buah tangan.


"Sayang ... kamu kenapa?" tanya Arkan cemas.


Arkan menyentuh pipiku, kemudian menatapku dengan rasa khawatir.


"Kamu bawa apa?" tanyaku dengan raut lesuh.


"Oh ... aku bawa makanan kesukaan kamu, dan ada buah juga," ungkap Arkan.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku, kamu kenapa?" tanya Arkan penasaran.


Aku menghela nafas, lalu kemudian berdiri. aku mengulurkan tanganku di depan Arkan.


"Mana makanan tadi?" tanyaku.


"Ini," Arkan memberikan makanan yang dia bawa, dan di terima olehku.


"Aku makan dulu, ya." aku berjalan ke dapur dengan langkah yang berat, Arkan menatap bingung ke arahku.


Arkan menyusulku ke dapur, Arkan hanya memperhatikan aku yang sibuk melahap makanan yang dia bawa.


Aku tak begitu memperdulikan Arkan yang melihatku tengah manyantap makanan yang baru Arkan bawa.


Makanan yang Arkan bawa. benar - benar membuat mood ku kembali.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Hai gaish jangan lupa di like and komen jangan lupa juga vote dan juga review-nya.


__ADS_2