Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Apa Masih bisa bersahabat?


__ADS_3

"Kean?' batinku.


"Kenapa dia disini?' batinku lagi.


Kean tersenyum padaku, aku pun membalas senyumannya.


"Kamu kenapa bisa ada disini?" tanyaku.


Kean melihat tempat kosong di dekatku, lalu diapun duduk disana.


"Aku menemani kakakku, dia mau menikah," jawabnya.


"Oh ... begitu rupanya, Haha ... " meskipun tertawa, entah kenapa aku tampak begitu kaku didepannya. dan aku rasa Kean juga menyadarinya.


"Kamu sendiri ? apa yang kamu lakukan disini?" tanya Kean.


"Aku menemani temanku, dia juga mau menikah sebentar lagi," jawabku.


"Oh ... Dara!" serunya.


"Ya?" tanyaku. sambil melirik teman - temanku yang masih sibuk memilih gaun.


"Soal, Maura!"


Deg!


"Soal Maura ... aku minta jangan membahasnya lagi," pintaku.


"Aku sedang mencoba melupakannya saat ini." jelasku.


"Maaf ... aku tak bermaksud," tak lama seorang wanita dan seorang pria masuk dengan saling bergandeng tangan.


"Mereka datang, aku pergi dulu." setelah berpamitan, Arkan pergi meninggalkanku, dan bergabung dengan keluarganya.


"Dara! gimana?" tiba - tiba Vivia berdiri di hadapanku sambil berputar memamerkan gaunnya, hal itu membuat aku sedikit terkejut.


"Bagus ... tapi kamu pakai ini buat siapa?" tanyaku dengan nada menggoda.


"Buat, Dean?" tanyaku lagi.


"Hah?! e-enggak, kok," dalihnya seraya menutupi wajahnya yang memerah.


"Alah ... wajah kamu merah tuh ... jangan bohong." ujarku semakin menggoda Vivia.


"Ck, aku nggak nyangka ternyata selama ini, sahabat aku deket dengan sahabat suami aku sendiri," ujarku sambil melirik dan memperhatikan ekpresi mereka satu persatu.


"Dan aku sama sekali nggak tau," sambungku.


Ku perhatikan lagi wajah mereka, terlihat raut penyesalan di wajah kedua sahabatku itu, aku hanya terkekeh geli, karena berhasil mengerjai mereka berdua.


"Kalian kenapa serius gitu, sih?!" tanyaku sambil tertawa kecil.


"Udah santai aja." ucapku menenangkan mereka.


Mereka hanya diam tak menggubrisku sama sekali, seketika suasana berubah menjadi canggung.


Seketika aku merasa tidak enak, karena sudah membuat suasana menjadi canggung.


"Sorry ya ... gue salah," kataku dengan raut penyesalan.


"Pfff ... hahaha!" tiba - tiba keduanya tertawa lepas, aku yang tadinya menyesal, justru di buat kesal karena di kerjai oleh mereka.


Disinilah kami, tidak hanya sahabat yang baik yang berhasil aku temui, tapi juga seperti keluarga yang sangat berharga.

__ADS_1


Cinta dari kedua sahabatku, membuat aku merasa tak kurang satu apapun di dunia ini.


Shane dengan caranya sendiri menunjukkan kasih sayangnya kepada sahabatnya.


Vivia dengan tingkah lakunya, yang terkadang bisa membuat aku jengkel atau pun menghiburku.


Tapi cepat atau lambat kami akan menjalani kehidupan kami masing - masing, sampai saat itu terjadi, apa kami masih bisa bersahabat?


"Heh? kamu kenapa?" tanya Shane yang melihatku yang menunduk dalam diam.


Aku mengangkat kepalaku, seraya memberikan senyum terbaikku, sambil menggelengkan kepala.


"Kamu jangan bohong sama kita, katakan ada masalah apa?" tanya Vivia dengan raut wajah cemas.


"Apa, sih?!" tanyaku balik.


"Beneran nggak ada apa - apa, kok," jelas ku.


Mereka masih menatap curiga ke arahku, aku mengerti mereka tidak akan puas, kalau mereka tidak mendapat jawaban yang mereka ingin kan.


"Duh ... nggak usah ngeliatin kayak gitu," sindirku.


"Aku tau ... meskipun aku lagi hamil, aku tetap cantik." melihat aku yang memuji diriku sendiri, mereka hanya terkekeh geli.


"Kamu nggak ada yang muji, sampai harus muji diri sendiri?" tanya Shane dengan nada sedikit menyindir.


"Ada." jawabku dengan cepat.


"Suami aku," sambungku dengan memasang senyum bangga.


Mereka semakin terkekeh, melihat sikapku yang menurut mereka terlalu prontal.


"Iya ... iya, yang punya suami dan sebentar lagi jadi emak - emak." sindir Vivia aku hanya melihat Shane tertawa sedangkan aku menatap kesal mereka berdua.


"Aku pulang aja." mereka berdua seketika menahanku, aku masih dengan perasaan kesal yang sama.


"Duh ... Bumil jangan marah, jangan baper juga," ujar Shane.


"Kan kamu juga yang mulai, jangan marah ya ... ya-ya-ya," bujuk Shane.


Shane memeluk dari samping begitu juga Vivia yang juga ikut - ikutan dengan Shane. aku tersentak kaget oleh ulah mereka berdua.


"Udah, cukup!" teriakku seraya memberontak melepaskan diri. mereka berdua pun melepaskan pelukkan mereka.


"Cepet pilih, biar habis ini kita bisa cari makan," pintaku.


Mereka berdua mengangguk setuju, kemudian pergi memilih kembali gaun untuk mereka.


Aku menatap pakaian yang terpajang di tokoh itu, pakaian di tokoh itu sangat cantik.


Kalau aku tidak hamil, mungkin aku juga sudah ikut membelinya, sayangnya dengan kondisi yang sedang hamil tidak mungkin aku mengenakan gaun.


Ting!


Sebuah pesan masuk di ponselku, ku buka isi pesan itu kemudian membacanya. ternyata itu dari Arkan.


[ Sayang kamu dimana? ]


Segera ku gerakan jariku untuk membalas pesan Arkan.


[ Aku sedang menemani Shane dan juga Vivia ]


[ Bolehkan? ]

__ADS_1


Setelah selesai membalas pesan Arkan, Sekarang tinggal menunggu balasan dari Arkan lagi


Ting!


Dengan sigap ku buka isi pesan itu, kemudian kembali membacanya.


[ boleh tapi jangan terlalu kecapean, ya ]


[ Aku nggak mau kami, dan bayi kita kenapa - napa ]


Aku hanya tersenyum membaca pesan dari Arkan, segera kembali ku gerakan jariku untuk kembali membalas pesan Arkan.


[ Iya sayang ]


Diam - diam ku perhatikan Shane dan Vivia apakah sudah selesai dengan kegiatan mereka, kemudian meletakkan ponselku ke dalam tas.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya mereka berdua menghampiriku.


"Bagaimana?" tanya Shane dengan raut bahagia.


"Bagus, kamu ambil itu aja," saranku.


"Beneran? yaudah." Shane buru - buru ke kasir, pandanganku berahli ke Vivia yang sedang memegang gau di tangannya.


"Vivia!" panggilku.


"Eh?!" ucapnya kaget.


"Kamu kenapa?" tanyaku cemas.


"Eng-enggak, kok." jawabnya.


Aku menatap curiga Vivia, menyadari itu segera Vivia memalingkan wajahnya.


"Hei ... katakan ada masalah apa?" yang aku khawatir.


Vivia tak menjawabku, kalau seperti ini aku bingung harus apa, apa aku harus membujuknya.


"Vivia ... kitakan sahabat sejak lama, kamu tau kan, kalau kamu bisa cerita apa aja?" Vivia tampaknya mulai terpengaruh dengan ucapanku.


"Sebenarnya ... "


"Sebenarnya?" tanyaku ulang.


"Sebenarnya ada sesuatu yang menggangguku, Dar!" ucapnya dengan raut sedih.


Aku menatap bingung Vivia, aku tak *** harus menanggapi dengan bagaimana.


"Vivia ... katakan ada masalah apa?" tanyaku yang semakin cemas.


"Setelah kalian berdua menikah, apakah kita akan tetap sama?" tanya Vivia dengan nada ragu.


"Apa maksud kamu?" tanyaku bingung


"Dar ... kita sama - sama tau, sejak kamu menikah, kamu lebih sibuk dengan pekerjaan dan rumah tangga kamu," ujar Vivia.


Anehnya aku tak bisa menanggapi ucapan Vivia, seolah aku tak menyangkal hal tersebut.


Aku hanya diam dalam kata, aku harus menanggapi Vivia seperti apa?


🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵


Hai gaish maaf baru update lagi, tapi semoga kalian tetap suka ya

__ADS_1


Jangan lupa di like and komen vote dan reviewnya juga


__ADS_2