
"Adara!" seru seseorang, suara yang tampak familiar itu sontak mencuri perhatianku.
Deg!
"Kakak?!" aku tahu cepat atau lambat ini akan terjadi, Namun aku tidak menyangka waktunya secepat ini.
Aku menghela nafas, belum sempat aku mendekat, Namun aku lebih dulu di abaikan.
"Kau mau apa, dari adikku?" tanya Kak Arsean dengan nada dingin.
"Kakak ... " lirihku, aku mencoba menjelaskan apa yang terjadi, Namun sepertinya penjelasanku tidak ingin di dengar.
"Apa kau mencoba mendekati, Adikku?" tanyanya lagi dengan wajah datar.
Arkan tampak ingin mengatakan sesuatu. Namun seperti di tahan karena tidak mempunyai kesempatan.
"Arkan ... sebaiknya kau pergi," pintaku dengan wajah memelas.
"Tapi ... " aku memberi isyarat agar ia tak mengatakan apapun, dan cepat pergi.
"Adara!" seru Kak Arsean. hingga Arksn pergi aku kehilangan kata - kata, sedangkan Kak Arsean masih berpacu dengan kemarahnnya.
"Kau ... apa kau tahu dia, siapa?!" tanyanya dengan nada meninggi.
"Cukup!" seruku.
Aku pikir aku tidak akan mudah terpancing, Namun seiring dengan terus di pancing akhrinya aku ikut terbawa.
Aku menghela nafas panjang, sebelum akhirnya berlanjut ke tahap apa yang harus aku lakukan selanjutnya.
Aku mengajak Kakakku untuk ke ruanganku, sehingga bisa mengobrol dengan tenang.
Lalu kamu berdua duduk bersebelahan, aku berusaha mengajak Kakakku itu mengobrol, Namun dia menolakku.
Tanpa memperdulikan dia mau mendengar atau tidak, aku menceritakan apa yang terjadi. Kak Arsean tampak mendengarkanku tanpa menyela sedikitpun.
"Sekarang Kakak mengerti, kan?" tanyaku penuh harap.
Tidak ada respon apapun yang di tunjukannya, seketika aku kehilangan harapan.
Di tengah aku merasa kehilangan harapan, aku di buat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Kak Arsean.
Tiba - tiba dia memelukku, aku bisa merasakan belaiannya di rambutku, seketika aku kehilangan kata - kata.
Entah kenapa mendapat itu dari Kakakku, rasanya sedikit ringan dan membuat nyaman.
Tak lama ia melepas pelukksnnya, kulihat ia tak lagi menatapku dengan kemarahan.
"Kakak?" ucapku dengan raut wajah senang.
"Akhiri kerja sama kalian," pintanya.
Seketika raut bahagia yang tadi aku perlihatkan, menghilang dari wajahku.
Di tengah pikiranku yang tak tahu kemana, tanpa mengalihkan pandangan, aku melihat Kakakku menggegam tanganku.
"Kau bisa melakukannya, kan?" tanya penuh harap.
Aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong, aku tidak harus harus menanggapinya seperti apa.
__ADS_1
"Adara?" bingung harus bagaimana, akhirnya aku mengiyakan permintaannya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya aku sadar bahwa kerja sama ini memang akan sulit untuk di lakukan.
Meski aku ingin mengubah cara pandang mereka, rasanya sulit sekali karena itu sudah berlangsung sangat lama.
Aku mencoba memikirkan cara untuk melupakan masalah yang baru saja terjadi, Namun aku terus memikirkannya.
...Drttt!...
Di tengah aku yang fokus pada masalahku, tiba - tiba ponselku berbunyi.
Aku sedikit mengabaikan panggilan tersebut, hingga akhirnya aku sadar aku tak bisa mengabaikan panggilan tersebut.
Aku menghela nafas panjang pada panggilan ke empat, akhirnya aku menjawab panggilan tersebut.
"Hallo." ucapnya.
"Hallo." balasku.
Aku menatap layar ponselku, rasanya aku ingin segera menutup panggilan terebut. Namun aku sudah terlanjur mematikannya.
Kami melanjutkan obrolan di telpon tersebut, sementara pikiranku masih mengenai Kak Arsean.
Aku tidak bisa melihat maksud sesungguhnya dari Arkan, Namun aku sadar masalah pribadi tidak bisa di campur dengan urusan bisnis.
Telpon kami berakhir beberapa jam kemudian, setelah mengobrol dengan Arkan aku semakin banyak pertimbangan.
...****...
...Beberapa jam kemudian .......
Aku tidak mengerti apa lagi yang lebih sial, dari pada mobil yang mogok di pertengahan perjalanan.
Nafasku berpacu, mengimbangi diriku yang mencoba memperbaiki mobilku.
Aku sedang dalam perjalan menuju apartement, karena dirumah pasti tidak akan tenang.
Tak berapa lama tiba - tiba aku merasa ada yang menghalangi hujan membahasiku, ternyata salah aku melirik ke belakang. Terlihat Arkan tengah mamayungiku.
"Kau? sedang apa kau disini?" tanyaku seraya menatap heran.
"Kau sendiri, sedang apa?" tanyanya berbalik menatapku heran ke arahku.
Sebelum aku sempat aku menjawab pertanyaannya, aku melihat Arkan tengah mengamati mobilku.
Aku tidak pernah menduga, kalau aku akan terjebak hujan bersama Arkan.
Arkan tampak serius, sampai ia tak mengatakan apapun hingga ia selesai memperbaiki mobilku.
Arkan menatapku yang tengah memayunginya, aku tampak gugup saat di lihat olehnya.
"Kau sudah kehujanan, sebaiknya kau pulang," sarannya.
"Kau bagaimana?" tanyaku cemas.
Setelah mengatakan hal itu tampa sadar, seketika wajahku memerah mengetahui bentuk perhatianku yang tampa sadar.
"Tidak usah khawatir, aku akan baik - baik saja." ucapnya seolah memenangkanku, sepertinya dia sudah salah mengartikan ucapanku.
__ADS_1
Aku hendak pergi meninggalkannya, Namun aku sadar aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja setelah mendapat bantuan darinya.
"Apartemenku, berada di dekat sini." ujarku, aku melihat Arkan tertegun mendengar ucapanku.
"Bagaimana, kau mengeringkan dirimu disana?" tawarku.
"Apa kau tidak salah?" tanyanya setengah terkejut.
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Aku ini laki - laki, apa kau tidak khawatir ?" aku tertegun mendengar perkataannya tersebut.
Aku hanya bisa terdiam, perkataannya itu membuat aku kehilangan kata - kata.
"Aku hanya mencoba menjadi baik," ujarku dengan berusaha menutup rasa malu.
"Tapi kalau kau tidak mau, itu bukan masalah untukku." ucapku dengan nada nyolot.
Pandangannya seketika berubah, ia menatapku dengan aneh.
Tiba - tiba Arkan mendekatkan wajahnya, lalu kemudian berbisik.
"Lain kali saja, ya." bisiknya. aku tertegun mendengarnya.
Entah kenapa ucapannya membuat jantung berdegub kencang, rasanya aku ingin kabur dari situasi yang mendebarkan itu.
"Aku pergi dulu." pamitnya, sambil menggusap kepalaku.
...Beberapa menit kemudian .......
Aku menatap keluar jendela, di tengah rintiknya hujan. Aku memandangi langit yang gelap tanpa bintang.
Aku sengaja membuka kaca jendela kamar agar aku bisa menghirup udara di luar di tengah gerimisnya hujan, disaat itu juga, angin berhembus kencang, membuat rambutku berterbangan.
Aku segera menutup kaca jendelaku, agar menghalangi sesuatu yang terbawa angin masuk.
Aku hanya bisa pergi tidur, karena tak ada lagi yang bisa ku nikmati dari langit tanpa bintang.
...Keesokan paginya .......
"Buk, kantor kita terdaftar di peragaan busana tanun ini," ucapnya dengan raut wajah bahagia.
"Kau tau dari mana?" tanyaku karena masih setengah tak percaya.
"Kami melihat sebuah situ web di internet, dan kami menemukan nama kita di dalamnya," ungkapnya.
Aku segera membuka situs web di laptopku untuk memastikan, sementara gadis itu hanya melihatku dari tempatnya seraya memperhatikanku.
"Dan bukan hanya itu ... sejak peluncuran pruduk kita di F.H group, kita banjir pesanan akhir - akhir ini." ucapnya.
Itu artinya bisnis sudah dimulai, aku melakukan metting dengan para keryawan untuk membahas semua segala kemungkinan yang akan terjadi.
...🌼🌼🌼🌼...
Hai ...
Semoga suka ya
jangan lupa like and komen vote dan juga review.
__ADS_1