Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Pilihan Untuk Arkan


__ADS_3

Adara memutuskan untuk pergi, tanpa sepengetahuan mereka, Adara melewati semua kerumunan orang yang datang disana.


Adara memanggil taxi, lalu pergi dari tempat itu, tanpa sadar air matanya lagi lagi mengalir.


Gadis itu tampa menatap keluar kaca mobil, dengan air mata yang tak henti mengalir.


"**** banget sih, gue." ucap Adara dengan suara pelan.


"Kenapa gue, harus tangisin dia?" gadis itu menghapus air matanya, kemudian kembali menatap keluar kaca mobil.


****


Beberapa menit kemudian Adara sampai di hotelnya, dengan bergegas Adara langsung menuju kamarnya.


Adara merapikan semua barangnya, kemudian memasukkannya ke koper, Adara menggeret kopernya keluar dari kamar hotelnya, kemudian pergi ke resepsionis.


Kemudian Adara pergi meninggalkan hotel dengan menggunakan taxi yang tadi dia kendarai.


Dia pergi menuju ke bandara, tanpa sepengetahuan Arkan kali ini, dan dia berharap kali ini dia benar - benar bisa kembali.


****


Beberapa jam kemudian, Arkan pergi ke hotel tempat Adara menginap tapi dia tidak tau, kalau Adara sudah berada di pesawatnya saat ini, hanya tinggal menunggu ke berangkatannya.


"Maaf, bapak mencari siapa?" tanya orang bagian resepsionis.


"Apa nona Adara ada di kamarnya?" tanya Arkan.


"Maaf, tapi Nona Dara sudah tidak menginap di hotel ini lagi," ungkap resepsionis itu, yang berhasil mengejutkan Arkan.


"Apa?!" Seru Arkan


"Kalau tidak salah, dia pergi ke bandara." ungkap resepsionis itu.


Arkan berlari meninggal hotel tersebut, kemudian pergi ke bandara.


****


Saat Arkan tiba di bandara, Adara sudah berangkat bersama pesawatnya.


Tapi Arkan tampak belum menyadari, dan terus mencari Adara di sekitar bandara.


Puas mencari, akhirnya Arkan menyerah mencari Adara di bandara, karena dia tak menemukannya di mana pun, dia berpikir kalau Adara pasti sudah pergi dengan pesawatnya.


Dia memutuskan untuk menelpon Adara, namun telponnya sama sekali tak bisa di hubungi, karena Adaranya membuat ponselnya dalam mode pesawat.


****


Beberapa waktu kemudian Arkan kembali ke apartementnya.


Dia mencoba mencerna apa yang sudah terjadi, dan mengapa sampai pulang sendiri.


Dia tidak menyadari, bagi Adara melihat dia bersama Maura, sangatlah menyakitkan.


Dan dari pada terus tersakiti, lebih baik dia pulang, setidaknya itu lebih baik, di banding harus melihat suami sendiri bersama wanita lain.


***


Malam harinya di apartement Arkan, tampak Arkan masih menunggu kabar dari Adara, namun Adara masih belum menghubungi dirinya.

__ADS_1


Entah apa yang terjadi, Arkan telihat cemas sekali saat ini.


Dia terus berusaha menelpon, namun telponnya masih belum bisa di hubungi.


drrrrrttttt..


Arkan langsung meraih ponselnya, dan menjawab panggilan tersebut.


"Ya, hallo!" ucap Arkan.


"Arkan, kamu serius udah nikah?" suara laki - laki itu langsung melontarkan pertanyaan.


"Hah? lo ngomong apaan, sih?" tanya Arkan mencoba mengelak.


Arkan sedikit kaget, karena temannya bisa tau soal pernikahannya dan Adara.


Padahal sama seperti Adara, tak ada yang memberi tahu mereka.


"Tadi gue kerumah kamu, karena ada dukumen yang butuh tanda tangan kamu, ya jadinya aku tanya soal kamu, sama kamu," ungkapnya.


"Udah lah, kamu nggak usah ngelak lagi." lanjutnya.


Yah, sepertinya Arkan sudah tak bisa mengelak lagi, semuanya sudah di ketahui oleh temannya, apalagi yang bisa di tutupi.


"Ya, aku emang udah nikah." ucap Arkan.


"Lo, kenapa rahasiain ini ke kita, kamu udah nggak nganggep kita?" tanyanya dengan nada dingin.


"Bukan gitu, jadi....." Arkan menceritakan semuanya secara detail.


"Jadi lo masih berhubungan sama, Maura?" tanyanya.


"Dan dia nggak tau kalau lo, udah nikah?" tanyanya lagi


"Iya." jawab Arkan lagi.


"Dan lo rahasiain pernikahan lo, supaya lo, bisa terus berhubungan sama, Maura?" tanyanya lagi.


"Iya." jawab Arkan.


Arkan hanya bisa menjawab iya, karena dia sudah tak tau harus menjawab apa.


Semua itu adalah kenyataannya, dia menikahi Adara dan merahasiakan nya agat masih dapat berhubungan dengan Maura.


Meskipun, dia dan Adara menikah secara resmi.


Namun cinta membuat Arkan melakukan itu semua.


Dia sama sekali tak mencintai Adara, dan dia menikahi Adara hanya demi orang tuanya.


Dan orang yang sangat Arkan cintai adalaha Maura, gadis yang sudah di kenalnya sejak lama.


Sedangkan dia dan Adara hanya mengenal dalam hitungan hari, mana mungkin cinta bisa tumbuh di antara mereka.


"Arkan, kamu harus pilih salah satu di antara mereka," ujarnya.


"Lo nggak bisa lakuin ini ke istri, lo Arkan." sambungnya.


"Lo, sama aja nyakitin istri lo, tau nggak." sambungnya.

__ADS_1


Arkan mengusap kasar wajahnya, kemudian duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Gini ya, lo pikirin aja perasaan nyokap lo kalau ada di posisi Dara, kalau bokap lo, seandainya ngelakuin hal yang sama kayak, lo gimana?" tanyanya.


Arkan terdiam dia tak bisa berkata - kata, Arkan seperti di skamat, oleh kata - kata temannya itu.


"lo pikir baik -baik, dan tentuin pilihan, lo." ucapnya.


Tut tut tut.....


Setelah mengatakan itu, teman Arkan tersebut memutuskan telponnya.


Hal tersebut membuat Arkan berpikir panjang, soal yang di katakan oleh sahabatnya itu.


Jika Arkan di suruh memilih, mampukah dirinya membuat pilihan yang tepat.


Adara adalah gadis pilihan orang tuanya, sedangakan Maura adalah gadis pilihannya sendiri.


Haruskah dia memilih salah satu dari mereka, lalu siapa yang harus dia pilih.


Apakah Adara yang sudah jelas menjadi istrinya, atau Maura yang masih mengatas segalakan karirnya.


Apakah yang harus dia lakukan, dan siapa yang sebenarnya harus dia pilih.


Maura gadis pilihannya, tapi masih mengutamakan karirnya, dan masih memikirkan pernikahan.


Itulah sebabnya setiap kali Arkan membicarakan pernikahan, dia selalu menghindar, atau mengalihkan topik.


Kadang itulah yang membuatnya ragu akan perasaan Maura, apakah Maura benar - benar mencintainya, atau hanya sekedar permainan.


Adara meski baru beberapa hari, dia mengatahui, Adara gadis yang baik, jago dalam mengurus rumah, dan memasak.


Mungkin hal itulah yang membuat Mama Arkan, memilih Adara sebagai istrinya.


Dengan Adara sebagai istrinya, Arkan jadi lebih terurus.


Tapi hanya satu hal, yang masih menjadi kunci masalahnya, Arkan sampai saat ini belum mencintai Adara.


Mungkin hanya waktu yang akan menjawab, apakah dia akan bisa mencintai Adara.


Tapi itu masih memerlukan waktu, waktu sampai kapan, Arkan sendiri tidak tau.


Sampai saat itu, apakah dia masih punya pilihan, apakah dia masih waktu untuk memilih.


Sedang dia harus memilih antara Maura dan juga Adara.


Jika Arkan memilih Maura, tanpa memberi Adara kesempatan.


Apakah itu akan adil untuk Adara ?


Tanpa memberikan Adara kesempatan, untuk membuat Arkan menjadi mencintainya.


Haruskah Arkan memberikan Adara kesempatan untuk membuat Arkan menjadi mencintai Adara ?


Apakah Arkan harus memilih Maura ?


Karena Maura gadis yang dia cintai.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Jangan lupa like and comen, dan kasih reviewnya ya


__ADS_2