
[ Arkan! ]
teriak Mama Arkan. membuat Arkan refleks menjauhkan telinganya dari ponselnya.
"Mama ... " lirih Arkan.
[ Apa?! ]
Lagi - lagi Arkan terpaksa menjauhkan ponselnya. karena lagi - lagi Mama Arkan meneriakkinya.
"Mama kenapa sih?!" keluh Arkan.
"Kenapa teriakki, Arkan?!" tanya Arkan terselip nada kesal.
[ Kenapa? kamu masih tanya kenapa? ]
Mama Arkan menarik nafas panjang, sikap anaknya ini benar - benar membuatnya sakit kepala.
"Mama?" Arkan memanggil Mamanya. mengetes apakah telponnya masih terhubung.
[ Apa kamu sudah menghubungi, Adara? ]
"Belum, Ma!" jawab Arkan.
[ Kamu ini! apa kamu tidak khawatir?! ]
Untuk ke tiga kalinya. Arkan menjauhkan ponselnya. dari telinganya.
"Aku khawatir Ma ... tapi kerena sibuk aku jadi lupa, nanti aku akan telpon, Adara!"
...Tut tut tut...
Belum selesai Arkan. menyelesaikan kalimatnya. telponnya di putus lebih dulu oleh Mamanya. melihat itu Arkan hanya bisa menghela nafas. lalu Arkan mencoba sekali lagi menelponku.
...***...
Malam harinya masih di tempat Arkan ..
Arkan tengah berjalan - jalan di luar, sekaligus membeli keperluan untuk makan.
Tak jauh dari tempat Arkan. seorang wanita tengah di kepung oleh segerombolan laki - laki brandalan.
Salah satu dari mereka menyentuh tangannya. hendak menarik untuk membuatnya mendekat. tapi reflek gadis itu menarik tangannya dan berjalan mundur menjauh.
Situasi gadis itu semakin terdesak dan membuatnya di selimuti rasa panik.
"Tolong!!" teriaknya. Arkan yang sudah berada sangat dekat sontak mendengar hal tersebut, dan langsung berhambur mencari asal sumber suara.
Setelah melihat apa yang terjadi di depan matanya. Arkan langsung menghajar satu persatu dari mereka.
Satu persatu dari mereka tumbang, namun tak menyerah begitu saja. salah satu dari mereka menodongkan pisau, kemudian menyerang Arkan dengan pisau itu.
Srakk!!!
Lengan Arkan terkena goresan dari pisau tersebut, namun Arkan tak diam dia bahkan menyerang balik.
Perlawanan sengit yang Arkan berikan, berhasil mengusir mereka, namun lengan Arkan mengeluarkan darah segar yang tak berhenti keluar.
"Lengan kamu ... " lirih gadis itu.
Arkan meringis kesakitan seraya menutupi lengannya dengan tangannya. berharap itu berhasil menghentikan darahnya keluar.
__ADS_1
"Ini bukan apa - apa," jawab Arkan seraya menahan sakit.
"Tapi .... " Arkan mengabaikan gadis itu, lalu pergi meninggalkan gadis itu begitu saja dengan darah yang masih sedikit mengalir di sela jarinya.
Arkan mencari sebuah apotik, setidaknya dia bisa membeli perban dan obat luka, agar darahnya bisa berhenti mengalir.
Sepanjang dia berjalan dia hampir putus asa, karena tak menemukan tanda - tanda akan adanya tokoh apotik.
Arkan yang tak hilang akal, melilitkan dasinya di lengannya yang terluka setidaknya itu akan berhasil.
......***......
Dean dan Dion yang melihat Arkan yang pulang dalam keadaan terluka, langsung terkejut dan berhambur menghampiri Arkan.
"Kamu kenapa?!" tanya Dean dengan sedikit terkejut.
"Kok bisa kayak gini?" simbat Dion.
"kalian bisa bantuin dulu nggak?" tanya Arkan dengan masih menahan sakit.
"Tanya-tanyanya nanti, aja bisa kan?" sambung Arkan.
Dean dan Dion memapa Arkan ke kursi tamu, setelah itu Dion pergi mengambil P3K.
Tak lama Dion kembali dengan kotak P3K, kotak itu di ambil oleh Dean. lalu Dean menggunakannya untuk mengobati Arkan.
"Luka sudah di obati, sekarang cerita," pinta Dean dengan nada serius.
Arkan menghela nafas, kemudian beranjak dari duduknya. Dean dan Dion memperhatikan Arkan yang berdiri.
"Besok aja, kayak nggak ada hari esok aja." setelah mengatakan itu, Arkan melenggang pergi meninggalkan Dean dan Dion di ruang tamu.
"Sialan! ... selalu aja menghindar tuh anak," ketus Dean.
Dean tampak mempertimbangkan sesuatu. Dion memperhatikan Dean dengan serius.
"Boleh ... tapi kamu yang bilang, setuju?" tawar Dean.
"Caranya?" tanya Dion.
"Itu kamu sendiri yang pikirin, gimana?" tanya Dean.
"Kalau dia khawatir, gimana?" tanya Dion.
"Itu maksud aku, Dion!" ketus Dean. setelah mengatakan itu, Dean ikut meninggalkan Dion dan pergi ke kamarnya.
"Semuanya aja, pergi." dengan perasaan kesal Dion pergi ke kamarnya.
...***...
...Keesokan harinya .......
Arkan Group 07 : 23 semua keluar untuk menyambut kedatangan Arkan. seorang menghampiri Arkan dan menyerahkan dokumen. Arkan memeriksa sekilas, kemudian menyerahkannya kembali.
"Perbaiki!" pinta Arkan dengan nada tegas. lalu lanjut pergi bersama Dean dan dion yang mengiringi dari samping.
...Di ruangan Arkan .......
Arkan dan Dion tak hentinya memperhatikan Arkan. terutama lengan Arkan yang sedang mengalami luka.
"Kamu yakin masih mau kerja, dengan kondisi kamu sekarang, Arkan?!" tanya Dean dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
"Ini ke 10 kali, harus berapa kali lagi harus aku bilang, supaya kalian yakin ... kalau aku baik - baik aja, hah?" tanya Arkan.
"Kita cuma khawatir, Arkan!" jelas Arkan.
Arkan pura - pura fokus ke komputernya. Arkan berpikir dengan Dean melihatnya bekerja. maka Dean akan berhenti menceramahinya.
"Arkan!" mata Dean dan Dion melongo saat melihat darah muncul di lengan Arkan yang telah di beri perban.
"Masih mau kerja?" tanya Dean dengan nada kesal.
"Kita kasih tau, Adara!" Dion meraih ponsel dan mencoba menghubungiku. tapi tiba - tiba Arkan merampas ponsel Dion.
"Ar!" seru Dion seraya menatap tajam Arkan. Dion hendak mendapatkan kembali ponselnya. namun Arkan menjauhkannya.
"Balikin, Arkan!" teriak Dion dengan raut wajah memanas.
"Nggak akan ... sebelum kalian janji ... nggak akan kasih tau, Adara!" pinta Arkan dengan nada ancaman.
"Iya ... iya," simbat Dion dengan nada kesal. dengan sigab Dion merampas kembali ponselnya dari tangan Arkan.
"Memangnya kenapa?" tanya Dean heran.
"Pokonya awas aja, kalau sampai kalian telpon, Adara!" ancam Arkan.
Arkan pergi meninggalkan Dean dan Dion. Dean dan Dion yang masih berada di ruangan Arkan hanya termenung.
...***...
...Di sisi ruangan yang lain .......
Arkan tak bergeming, saat lengannya di obati oleh pegawainya. dengan tatapan serius karyawannya itu tampak hati - hati dalam mengobati Arkan.
"Sudah selesai, Pak!" ucapnya. dengan menahan sakit, perlahan Arkan memasang kembali jasnya.
"Terimakasih, pak Han!" balas Arkan.
laki - laki itu tersenyum canggung, kemudian berpamitan pergi dari hadapan Arkan.
...***...
Di sebuah Caffe, terdapat seorang gadis tengah berkumpul dengan kedua temannya.
"Jadi .... siapa namanya?" tanya seorang gadis yang lain.
"Itu dia ... aku lupa tanya." jawabnya seraya menyandarkan kepalanya ke meja.
"Gimana orangnya ... kamu masih ingat, Syah?" tanyanya lagi.
Gadis itu tampak berpikir sejenak, kemudian menganggukkan kepala dengan ragu.
"Sepertinya." ucapnya dengan nada setengah tak yakin.
"Tapi yang bikin aku, sedih itu ... kalau nggak salah dia pakai sesuatu seperti cincin nikah, gituh," ungkapnya.
"Cincin nikah?" tanyanya.
"berarti dia udah nikah, dong." gadis yang menjadi lawan bicaranya itu. langsung memasang wajah sedih.
"Aku harap sih belum, karena aku udah jatuh cinta sama dia." gadis itu mulai membayangkan sosok Arkan.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
__ADS_1
Hai gaish ... semoga kalian suka, ya
dan jangan lupa buat like and komen, vote dan reviewnya juga.