Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Keluar Dari Rumah Sakit


__ADS_3

Ketika aku sadar, aku melihat Arkan yang berada di sampingku.


Tak lama dua orang suster masuk, yang membawakan makanan dan yang satunya lagi memeriksa diriku.


"Sebaiknya anda jangan memaksakan diri anda lagi, Nona Adara!" pinta Suster.


"Mengingat kondisi anda saat ini, anda mengerti?" tanya Suster.


"Saya mengerti, Sus!" jawabku.


Mereka pun pergi setelah selesai dengan urusan mereka dan kini tinggal kami berdua.


Keheningan sempat membuat canggung kami berdua, sampai aku memutuskan bicara untuk mencairkan suasana.


"Arkan!" panggilku.


Arkan menoleh dan melihat ke arahku.


"A-aku ... aku ... maafkan aku, Arkan!"


Arkan terlihat terkejut mendengar aku mengatakan itu.


"Dara!"


"Aku memang tidak ingat," ujarku.


"Tapi kalau benar aku hamil dan ternyata aku penyebabnya, Aku_"


"Bukan salah kamu, Dara!" potong Arkan.


"Tapi_"


"Kecelakaan itu tidak ada yang menginginkannya," ujar Arkan.


"Kamu sampai kehilangan sebagian ingatan kamu ... itu juga tidak ada yang menginginkannya." lanjutnya.


"Tapi aku udah bikin anak Ak_"


"Dia juga anak aku, Adara!" potong Arkan.


Aku melirik Arkan yang terlihat menahan emosinya.


Ekpresi Arkan tiba - tiba berubah saat aku mendekat lalu memeluknya.


"Semua akan baik-baik aja, Dar!"


Tangisku pecah di dalam pelukan Arkan. berharap Arkan marah atau apapun. malah Arkan bersikap sebaliknya.


Hal itu membuat aku semakin bersalah dan merasa sesak ...


***


"Adara!" panggil Arkan.


"Ya?" tanyaku.


Hati ku berkata Arkan bertanya sesuatu, itu artinya aku harus menyiapkan jawabannya.


"Apa yang terjadi, sampai kamu mengalami kecelakaan seperti ini?" tanya Arkan.


Deg!


Sepertinya Arkan lupa kalau aku mengalami amnesia, atau dia sengaja?


"A-Arkan!"


Deg!


"Ma-maaf ... aku lupa kalo _"


"Sudahlah aku tidak apa, aku mau istirahat."


Aku menenggelamkan tubuhku ke dalam selimut, Arkan hanya melihatku dengan tatapan menyesal.


***


Besok paginya ....


"Ayo di makan, Dar!"


Aku menutup mulutku, sengaja tidak mau makan makanan rumah sakit.


"Dara!"


"Nggak mau, Arkan!" seruku.


Aku yang kekeh tidak mau makan, membuat Arkan hampir prutasi.


"Yaudah ... kamu mau makan, apa?" tanya Arkan.


"Nanti aku beliin, gimana?" tawar Arkan.


"Serius?!" langsung semangat.


Arkan terkekeh karena melihatku, yang langsung melihatku semangat.


"Iya ... jadi kamu makan, apa?" tanya Arkan.

__ADS_1


"Aku mau makan yang pedas, ayam bakar pedas," ujarku.


"No!"


"Ih ... Arkan!" Aku langsung memanyunkan bibirku.


"Nggak ada yang pedas, yang lain atau enggak sama sekali." ancam Arkan.


"Yaudah ... aku nggak mau makan,"


"Dara ... kamu jangan kayak anak kecil deh ... bisa?" tanya Arkan.


"Oh ... aku kayak anak kecil?"


"Jadinya nyusahin kamu dong, iya kan?"


"Dar!" seru


"Jangan macing keributan pagi-pagi, bisa kan?"


"Iya ... terserah kamu deh, paling juga nggak aku makan kalo aku nggak mau."


Tanpa menyimbat ucapanku, Arkan memainkan ponselnya. sambil sekekali melirik ke arahku yang membelakanginya.


***


Arkan membuka pintu dengan sangat tergesa.


Aku tidak tau Arkan mau pergi kemana.


Tak lama kemudian ....


Aku mendengar suara pintu terbuka. tapi aku tidak menoleh.


"Dara!" panggil Arkan.


Aku sengaja tak merespon, agar Arkan tau kalau aku benar - benar marah dengannya.


"Dara!" panggil Arkan.


"Kamu nggak mau bicara sama aku, nih?" tanya Arkan.


"Dara!" panggil Arkan.


"Hmm ... apa?" tanyaku, masih membelakangi Arkan.


Seketika, ruanganku penuh dengan aroma makanan yang sedap.


Sontak aku membalikkan badan, aku melihat makanan yang aku minta berada di hadapanku.


"Sedikit aja ya, jangan terlalu banyak," ujar Arkan.


"Ini juga nggak pedes banget, nih kamu makan ya sekarang."


Arkan memberikannya kepadaku, tanpa menunggu lama aku langsung melahap semua.


Makanan ini sangat enak dan membuat aku ketagihan.


"Udah nggak marah lagi, kan?" tanya Arkan.


"Hmm ... iya udah enggak ... lagian aku juga nggak marah beneran," ujarku.


"Aku kayak gitu supaya kamu beliin apa yang aku mau." sambungku.


Arkan memang tidak pernah bisa menolak permintaanku, tapi aku tidak boleh seperti itu secara terus menerus.


Yang ada Arkan jadi lelah sendiri, lalu pergi kelain hati.


"Sekarang kamu minum obat, ya,"


Aku menganggukkan kepalaku, Arkan memberikan obat dan air minum.


"Arkan ... kapan aku bisa pulang?" tanya ku.


"Aku juga tidak tau, nanti aku coba tanya, ya,"


"Atau ... kamu mau aku tanya sekarang?" tanya Arkan.


"Terserah kamu, Arkan!" jawabku.


"Yaudah ... kamu tunggu dulu ya, aku mau ke dokter dulu."


Arkan pun pergi ke ruangan Dokter.


***


Tok tok tok!


Arkan membukan pintu ruangan itu, lalu berjalan masuk.


"Tuan Arkan!"


"Apa ada apa?" tanya Dokter.


"Apa ada masalah?" tanya Dokter lagi.


"Tidak ada, Dokter!" jawab Arkan.

__ADS_1


"Aku kesini hanya ingin bertanya," ujar Arkan.


"Soal apa?" tanya Dokter.


"Kapan istri saya bisa pulang, Dokter?!" tanya Arkan.


"Oh ... soal itu ... kita lihat kondisinya dulu," ujar Dokter.


"Kalau membaik Adara bisa pulang," ungkap Dokter.


"Jadi istri saya ... belum bisa pulang, Dokter?" tanya Arkan.


"Selain kecelakaan ... istri anda juga habis keguguran," ujar Dokter.


"Jadi perlu waktu lama agar segera pulih."


Seketika, Arkan menjadi diam, Arkan tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Dokter.


***


Tak lama kemudian ....


Arkan kembali ke ruanganku, dengan santai aku melihat ke arah Arkan.


"Bagaimana?" tanyaku.


"Kamu belum boleh pulang, sampai keadaan kamu benar-benar pulih," ungkap Arkan.


"Tapi aku kan baik-baik aja, Arkan!"


"Sudahlah jangan berdebat," ujar Arkan


"Kita turuti saja perkataannya, ya," pinta Arkan


Aku menganggukkan kepalaku, memang tidak ada pilihan lain selain menuruti perkataan dokter.


***


5 hari kemudian ....


Aku yang tengah merapikan barangku, merasa risih kerena di perhatikan oleh Arkan.


"Kamu kenapa liatin aku terus, sih?!"


Greb!


Aku di buat terkejut dengan Arkan yang memelukku dari belakang.


"Akhirnya aku bisa meluk kamu lagi kayak gini ... " bisik Arkan di telingaku.


"Apa sih!" Aku melepaskan pelukan Arkan.


"Aah ... kamu mah ... nggak asyik tau nggak!"


"Nanti aja pelukkannya ya ... yang ada nanti nggak pulang," ujarku.


Aku bisa merasakan Arkan yang masih mendumel sendiri, sedangkan aku masih fokus dengan barangku.


"Sini aku bantu biar cepat."


Dengan sigap Arkan meraih tasku, lalu membantu memasukkan semuanya.


"Udah semua, kan?" tanya Arkan.


"Udah, Arkan!" jawabku.


"Yaudah kita pulang sekarang, yuk."


Dengan perasaan senang, aku keluar dari rumah sakit.


Tapi saat berdiri di depan mobil, sekujur tubuhku gemetar.


Kaki dan seluruh badanku terasa kaku dan juga lemas.


Ingatan tentang kecelakaan itu tiba - tiba samar - samar terlintas.


Dan itu memperparah semuanya. untuk pertama kalinya aku merasakan seperti trauma.


Brukk!


Aku kembali jatuh pingsan.


🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼


Hai ....


Gimana part kali ini ?


semoga suka ya.


Kalau ada masukkan, krisan atau pertanyaan silakan komen di bawah.


Jangan lupa like and comen vote and reviewnya juga ya.


Ok see you.


Love you gaish.

__ADS_1


__ADS_2