
Kini Bibik berada di hadapanku, dia tampak gugup menhadapiku, aku mencoba menciptakan suasana santai, agar bibik tidak tegang.
"Maaf, Non!" ucapnya dengan raut wajah panik.
"Saya tidak bermaksud apapun." lanjutnya aku masih memperhatikannya, tapi itu semakin membuatnya takut.
"Bibik!" panggilku. seketika dia menjadi takut saat aku memanggilnya.
"Tidak perlu takut seperti itu, aku tidak akan melakukan apapun, termasuk memecat, Bibik!" ekspresinya langsung berubah menjadi tenang.
"Tapi apa saya boleh minta sesuatu?" tanyaku, dengan kepala tertunduk, Bibik menganggukkan kepala menanggapiku.
"Jangan katakan apapun pada, Arkan!" pintaku dengan nada tegas dan penuh penekanan.
"Apa Bibik mengerti?" tanyaku. lagi - lagi bibik menganggukkan kepalanya.
"Sekarang ... Bibik bisa kembali bekerja," dia berbalik lalu pergi meninggalkanku.
...***...
Teror demi teror terus berdatangan entah siapa pengirimnya. dan ternyata tak semua bisa selalu di sembunyikan.
Arkan yang tiba - tiba pulang saat itu, melihat secara langsung teror yang aku alami tersebut.
Sadar bukan hanya aku saja yang dalam bahaya, bayi dalam kandunganku bisa bisa ikut dalam bahaya, itu sebabnya Arkan mengajakku pindah dari rumah itu.
Aku sadar itu pilihan yang terbaik dan juga tepat, jadi aku mengikuti keinginan Arkan.
Untuk sementara kami aman, bahkan Arkan sudah menyiapkan keamanan agar Arkan bisa memastikan agar aku baik - baik saja, tapi sampai kapan?
Sampai saat ini peneror misterius itu masih tidak tau alamat rumah yang sekarang kami tempati, tapi suatu saat dia pasti akan tau juga.
"Biarkan aku, Masuk!" teriak seseorang dari luar.
"Maaf, tidak bisa." ucapnya menahan agar tidak masuk.
Karena penasaran aku melihat keluar, seorang pengawal tengah menghadang Shane yang mencoba masuk untuk menemuiku.
"Shane!" panggilku, Shane dan pengawal itu menoleh.
"Nona ... kenal denganya?" aku menganggukkan kepala menanggapinya.
"Dia sahabatku, biarkan dia masuk." pintaku dengan nada tegas, pengawal itu memberi jalan untuk Shane, Shane menatap pengawal itu dengan tatapan membunuh.
"Adara ... ada apa ini sebenarnya?" tanya Shane bingung.
"Sudah ... kita masuk dulu." aku mengajak Shane masuk ke dalam, di ikuti oleh Shane.
...****...
"APA?!" teriak Shane histeris, sontak aku langsung menutup telingaku.
"Nggak usah teriak bisa kali, sakit nih telinga tau!" aku mendengus kesal, tapi Shane mengabaikan keluhanku.
"Kenapa baru cerita, sekarang?" tanya Shane dengan tatapan kesal.
__ADS_1
"Itu ... karena ... aku .... Mmm ... " Shane tampak malas mendengar cara bicaraku yang seperti belajar bicara.
"Dar ... kau bukan orang yang sedang belajar bicara, jadi bicara yang benar!" Aku seperti di marahi ibuku, karena melanggar ucapannya. hal itu benar - benar membuatku malas.
"Sabar ... yang kalem dulu mbaknya, marah-marah mulu, ntar cepat tua." aku sengaja mengajak bercanda agar suasana bisa sedikit mencair.
Tapi sepertinya Shane sedang tidak ingin bercanda, dia malah menatap tajam diriku.
"Maaf ... aku pikir aku bisa mengatasinya sendiri," ujarku dengan raut wajah menyesal.
"Tapi nyatanya?" kali ini aku benar - benar di buat mati kutu oleh Shane.
"Udah sih ... kau kesini cuma buat memarahi, aku?" tanyaku dengan wajah memelas.
"Kalau iya ... kau mau apa?!" Aku memasang wajah sedih di depannya. aku sengaja agar dia tidak marah lagi.
"Sudahlah ... tidak perlu memasang wajah seperti itu, apa kau pikir itu akan berhasil?" sontak aku langsung manyun. Shane nampaknya tidak memperdulikan hal itu.
"Terus apa saja yang sudah di lakukan oleh, Arkan?" tanya Shane. dari nada bicaranya sepertinya dia sudah melunak.
"Dia sudah lapor polisi, dan polisi tengah mencarinya," ungkapnya, Shane menganggukkan kepalanya.
"Bagus kalau begitu, aku pikir kalian akan diam saja," ujar Shane.
"Tentu saja tidak!" jawabku dengan penuh keyakinan tingkat tinggi.
"Ma-maksudku ... Arkan tidak akan membiarkannya begitu saja." jelasmu, dengan mengendalikan sedikit nada bicaraku.
"Kalau ada seperti ini lagi, harusnya kau cerita," sindir Shane.
"Kau ingin aku ... mengalami ini lagi?" tanyaku.
Sontak Shane yang menahan emosinya dari tadi, meluapkannya dengan menjitakku.
"Shane!" seruku dengan menatap tajam Shaen.
"Hhh ... akhirnya aku turun tangan juga, padahal sudah aku tahan dari tadi." aku memutar bola mata malas, Shane kembali menatap tajam ke arahku.
"Dasar gadis bar-bar." gumamku.
"Aku masih bisa dengar .... " aku hanya cengengesan melihat mata Shane yang sudah seperti hampir keluar.
Tak lama Bibik datang dengan membawakan hidangan untuk aku dan juga Shane.
Setelah meletakkan semuanya di meja bibikpun pergi, kami berdua lanjut mengobrol.
...***...
Tiba- tiba sebuah pikiran terlintas di benakku, bagaimana jika peneror itu mengikuti Shane saat menuju kesini?
"Shane!" panggilku.
"Tadi ... tidak ada yang mengikutimu, kan?" tanyaku cemas. Shane tampak berpikir terlebih dulu.
"Sepertinya tidak ada, tapi aku juga tidak yakin." ucap Shane dengan nada ragu.
__ADS_1
...Deg!...
"Tapi tidak perlu khawatir, penjagaan disinikan cukup ketat," ujar Shane serah menggenggam tanganku.
"Semua akan baik-baik saja." Shane tersenyum kepadaku, aku membalas senyumannya.
Kehadiran Shane saat itu cukup menenangkanku, namun sekaligus membuat kecemasan itu muncul lagi. aku khawatir peneror itu muncul lagi.
......***......
"Bagaimana?" tanyaku pada pengawas cctv di rumah baruku.
Arkan sengaja memasang cctv di beberapa area tertentu, agar pemantauan bisa lebih efektif.
Tatapan kami tertuju pada layar komputer, yang menunjukan aktivitas di area yang sudah di pasang cctv.
"Semua aman, tidak ada orang lain," ungkapnya.
"Kau yakin?" tanyaku memastikan. pengawas itu menanggapiku dengan anggukkan.
Sementara ini aku bisa bernafas lega, karena kita tidak pernah tau kedepannya seperti apa.
...***...
Malam itu aku ingin keluar kamar dengan niat untuk mengambil minum.
Aku pun akhirnya keluar kamar sendiri, karena Arkan sangat sulit untuk di bangunkan.
Tatapan ku tertuju dengan sosok bayang di jendela, aku memfokuskan pandanganku. terus sampai aku berhasil melihat dengan jelas.
...Prankk!!!...
Tubuh gemetar, hingga gelas di tanganku pun ikut terlepas dari genggamanku.
Orang - orang berdatangan, karena lemas aku sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhku.
Melihat diriku yang terlihat shock, semua orang ikut menjadi panik, terutama Arkan.
"Dara ... ada apa?" tanya Arkan cemas.
Aku mencoba terlihat baik - baik saja di depan Arkan, tapi nyatanya aku tidak bisa.
Arkan menangkup wajahku, ekspresinya langsung berubah saat melihat kedalam bola mataku, sepertinya dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres denganku.
"Apa saja kerja kalian, Hah?!" teriak Arkan memaki semua pengawalnya. sontak mereka menunduk karena takut.
"A-Arkan ... " aku yang merasa kasihan dengan para pengawal itu, biar bagaimanapun mereka tidak bersalah. aku mencoba menenangkannya. namun Arkan menahanku.
"Bik!" panggil Arkan. Bibik langsung menghadap ke Arkan.
"Ya ... Tuan?!" tanya Bibik dengan kepala menunduk.
"Tolong bawa, Adara!" pinta Arkan. Bibik mengangguk faham lalu membawaku pergi. diam - diam aku menoleh ke belakang, ku lihat mereka masih di marahi oleh Arkan.
Keesokan harinya mereka di pecat, dan di ganti dengan pengawal yang baru.
__ADS_1
...🌼🌼🌼🌼🌼...
Hai semua ... jangan lupa like and komen, vote dan juga reviewnya.