
"Arkan!" panggilku, dalam sekejap Arkan menoleh ke arahku.
Arkan berjalan menghampiriku, Arkan langsung mengecup pucuk kepalaku.
"Maaf sayang, aku baru nyamperin kamu," ujar Arkan.
Aku menatap bingung Arkan, Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Arkan.
"Kamu dari mana? kok baru kesini?" tanyaku, seraya menatap lekat Arkan.
"Aku kan habis dari hongkong, masak kamu nggak ingat?" tanya Arkan.
Mereka yang menyimak pembicaraan Aku dan Arkan, sontak saling bertatapan, mereka mencoba mencerna maksud ucapanku.
"Kamu bicara apa, sih?!" tanyaku dengan nada heran.
"Kapan kamu bilang mau pergi ke hongkong, kan terakhir kita ketemu pas sarapan pagi tadi,"
Semua tercengang melihat ku, aku heran kenapa mereka melihatku seperti itu.
"Yasudah, lupakan saja." pinta Arkan.
"Sekarang bagaimana keadaan kamu, dan calon anak kita?" tanya Arkan.
Aku tertawa geli mendengar pertanyaan Arkan, terbanding terbalik dengan mereka yang menatap aneh ke arahku.
"Kamu lucu deh, haha..." sungguh aku tak bisa menahan tawaku, saat itu juga sedangkan mereka masih menatap aneh ke arahku.
"Aku kan belum hamil, bagaimana mana kamu bisa bilang calon bayi kita, haha..." Aku tertawa kembali, mereka terlihat terkejut, saat aku bicara seperti itu.
"Ka-kamu bilang, apa?" tanya Arkan, setengah tak percaya, dan mencoba meyakinkan atas apa yang dia dengar.
__ADS_1
"Pa!" seru Arkan sambil menoleh ke papanya, aku memperhatikan Arkan yang sedang melihat ke arah papanya.
"apa yang terjadi, dengan Adara?" tanya Arkan, dengan nada dingin.
"Tenanglah, Arkan!" pinta Papa.
"Setelah Ayah dan ibu mertuamu datang, kita akan tau apa yang terjadi," ujar Papa.
"Saat ini mereka sedang berada di ruangan, Dokter!"
"Jadi kamu bersabar, dan tunggu saja mereka." pinta papa.
Mendengar hal tersebut, membuat Arkan mau tak mau menuruti apa perkataan Papa, meski dia tidak sabar mengetahui keadaanku.
Arkan menghela nafas seraya menarik nafas dalam - dalam, dan mencoba untuk menenangkan dirinya.
***
Ayah dan Ibu kembali ke ruanganku, mereka dengan raut wajah suram, aku penasaran apa yang membuat mereka seperti itu.
Tapi mereka melihat ke arahku, mereka tersenyum, tapi aku tau itu adalah senyum palsu.
"Arkan!" panggil Ibu.
Arkan mendekat kepada ibu, Arkan menatap Ayah dan ibu tampak penuh harap, tapi ekpresi Ayah dan Ibu malah menggambarkan sebaliknya.
"Jeng, bagaimana keadaan, Adara?" tanya Mama.
"Adara!"
"Dia tidak seperti yang aku pikirkan, kan?" tanya Mama dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
Aku yang dari tadi hanya menyimak, benar - benar tidak mengerti arah pembicaraan mereka.
Dan satu hal yang membuat aku kesal, aku seperti orang bodoh, yang tidak mengerti apapun.
Apakah mereka mencoba merahasiakan sesuatu ?
"Kita bisa bicara, di luar?" tanya Ibu.
"Bicara disini saja!" sahutku, dengan nada tegas.
"Aku yang sakit, jadi aku juga harus tau," ujarku.
Ibu diam sejenak, dan seperti mempertimbangkan sesuatu.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Ibu angkat bicara.
"Kamu..." dengan nada lirih, ibu tampak ragu melanjutkan ucapannya.
"Kamu mengalami Amnesia," ungkap Ibu.
Aku yang mendengar hal tersebut, di buat kaget mendengarnya, bagaimana aku yang masih mengenal orang - orang terdekatku, di dianogsa Amnesia ?
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Hai...
Gimana suka nggak part kali ini
Semoga kalian suka ya.
Kalau ada masukkan, krisan, ataupun pertanyaan silakan komen di bawah.
__ADS_1
Jangan lupa like and komen, vote and reviewnya juga, ya...