
...Drrrt!...
Bunyi ponsel langsung mengalihkan perhatianku, saat aku mengetahui yang menelpon aku langsung mematikan ponselku agar dia tidak bisa menghubungiku lagi.
Aku meletakan ponselku, lalu kembali bersandar. tiba - tiba saja Kean datang sontak aku langsung berdiri.
"Adara ... kau baik - baik, saja?" tanyanya dengan raut wajah khawatir, aku langsung menipis kasar tangannya saat dia menyentuh bahuku.
"Maaf, aku hanya khawatir, Adara." jelasnya dengan raut wajah menyesal, aku tak menanggapi perkataannya.
"Kenapa kau datang kesini?" tanyaku dengan tatapan penuh heran.
"Aku kesini kerena mencemaskanmu, Adara." ucapnya penuh penekanan.
Aku mengangguk paham, lalu mempersilahkan Kean untuk duduk, sebelum akhirnya aku duduk dikursiku.
Aku terdiam, tampak Kean memperhatikan hal tersebut.
"Apa kau ingin aku menyelesaikan, masalah ini?" tawar Kean, dengan cepat aku menggelengkan kepala, Kean tampak terkejut dengan reaksiku.
"Kean, bisa kau pergi?" tanyaku, ia tak bergeming.
"Saat ini aku ingin sendiri, kumohon." setelah mendengar aku memohon, akhirnya dia bersedia untuk pergi.
Aku memijat keningku sediri, merasa pusing memikirkan masalah yang sudah terjadi.
...Beberapa menit kemudian .......
...Drrt!...
Baru beberapa menit aku kembali menyalakan ponsel, karena tak tahu harus melakukan apa saat tidak fokus kerja. Ponselku berdering dan itu dari nomor yang tidak di kenal.
"Hallo." ucapku.
"Hai, Dar." sapanya. suara yang familiar membuat aku langsung mengenali siapa yang menelpon tersebut.
"Ada apa?" tanyaku, dengan nada malas.
"Gitu ya, nggak kangen apa?" aku memutar bola malas.
"Ra, sekarang kau pakai basa - basi, ya?" gadis itu terkekeh, aku kembali memutar bola mata malas.
Selagi menelpon, aku sibuk memeriksa e-mail di laptopku.
"Dar, kita nonton yuk, bagaimana?" tawar nya.
kebetulan aku ingin menghilangkan stress untuk memanfaatkan, aku menyetujui ajakannya. aku segera berangkat setelah selesai bersiap.
__ADS_1
Aku kemudian memasuki bioskop, aku melihat dia sudah berdiri menunggu, sementara aku berjalan santai ke arahnya.
Begitu sampai di hadapannya, aku melihat gadis itu menyodorkan tiket yang mana film itu yang tengah populer tahun ini. aku langsung menerima tiket itu dari tangannya.
"Kita masuk sekarang, bagaimana?" tanya gadis itu, aku mengangguk setuju, aku melihat gadis itu juga sudah siap dengan popcornnya.
"Kayaknya sudah di rencanakan. ya.' batinku terkekeh, sebelum akhirnya aku melanjutkan jakanku.
Aku mengamati sekeliling, mereka menonton dengan santai. sesekali mereka tertawa sampai memengang perut saking lucunya adegan yang tengah main.
Melihat itu aku ikut tertawa, aku jadi berpikir kira - kira kapan terakhit kali aki tertawa.
"Bagaimana? sudah tidak kepikiran lagi, kan?" aku langsung menoleh ke arah Naura yang berada di sampingku, dia tampak menunggu tanggapan dariku.
Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala, melihat itu dia juga ikut tersenyum. perhatian kami kembali ke layar.
...Beberapa jam kemudian ......
Seorang waiters mendatangi meja kami, dan siap untuk mencatat pesanan kami.
Aku memberitahunya apa yang aku ingin pesan, dengan lincah tangannya mulai mencatat pesananku.
"Kau ingin pesan, apa?" tanyaku, gadis itu menoleh kemudian kembali melihat menu sebelum akhirnya dia memberitahu apa yang ingin dia pesan.
"Baik, mohon tunggu sebentar." aku menanggapinya dengan anggukkan kepala. sebelum dia pergi meninggalkan meja kami.
"Kau sengaja, ya?" gadis itu hanya tertawa, sedangkan aku membalasnya dengan terkekeh.
Kami harus menahan obrolan kami, ketika waiters datang dengan membawakan pesanan kami.
"Karena aku pikir kedua temanmu itu tidak akan berguna saat ini, jadi aku pikir lebih baik aku yang maju." aku mengangguk - angguk sambil tertawa, setelah itu kita berdua menikmati makanan yang sudah di pesan.
"Mereka temanmu juga, Naura." gadis itu tak begeming, aku menghela nafas berat lalu kembali fokus ke makananku.
"Mau sampai kapan, marahannya?" tanyaku, Naurah langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap dingin ke arahku.
"Mereka menuduhku melakukan sesuatu, menurutmu aku bisa untuk tidak marah?!" Aku terdiam, sebelum akhirnya kami berdua saling tak bicara hingga makanan kami berdua habis.
"Maaf ya, aku jadi marah padamu." ucapnya dengan raut wajahnya menyesal, aku tersenyum menanggapinya.
Suasana hening, dan seketika menjadi canggung, namun tak lama kemudian Naura kembali bicara.
"Mengenai gosip itu ... kau benar tidak ada hubungan, apapun dengannya?" aku tak menanggapi pertanyaannya, karna aku sendiri tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.
"Atau mungkin jangan - jangan kau, menyukainya?" tanyanya dengan raut wajah semangat. sedangkan aku hanya terdiam.
"Hei ... jawab dong, kalau diam terus aku anggap jawabnya sebagai, iya." Aku terkekeh, sedangkan gadis itu mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Aku diam sejenak, kemudisn memikirkan perasaanku pada Arkan, setelah yakin aku mulai angkat bicara.
"Tidak, lagi pula tidak boleh ada cinta di antara kami." jelaku, dia menatapku seolah masih ingin mencari kebenaran dari mataku.
"Kau yakin?" tanyanya mematikan, aku mengangguk ragu, Naura masih menatap curiga ke arahku.
"Kenapa aku merasa kau mengunci perasaanmu, ya?" aku terkekeh, kemudian memilih tak terlalu ambil pusing.
"Adara, kau _ " aku menyuapkan makananku ke mulutnya dengan senyum menahan jengkel, ia tampak terkejut dengan yang aku lakukan.
"Apa kau tau, kau terlalu banyak bicara." sindirku dengan senyum yang di paksakan.
Namun karena Naura menyingkirkan tanganku, tak sengaja membuat tanganku menyenggol minumanku sehingga basah mengenaiku.
"Adara! astaga!" aku membersihkannya, terlihat raut panik di wajahnya.
"Maaf, aku tak sengaja." ucapnya dengan raut wajah menyesal.
"Sudah tidak apa - apa, aku akan ke kamar mandi dulu." aku beranjak dari kamar mandiku, lalu pergi meninggalkannya ke kamar mandi.
Tiba - tiba saat aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Naurah tengah mengobrol dengan Kakakku, Mereka tertawa seperti asyik mengobrol. Kemudian aku kembali menghampiri mereka.
"Sedang apa Kakak, disini?" tanyaku dengan nada dingin, dia hanya menatap datar wajahku.
"Hanya ingin tahu, dengan siapa kau bertemu." Aku terkejut dengan perkataannya yang begitu prontal, seketika aku mengepalkan tanganku.
"Sekarang sudah puas, mengetahui dengan siapa aku bertemu?!" ucapku dengan sedikit meninggikan nada bicaraku.
"Kenapa kalian takut sekali, aku bersinggungan dengan keluarga, Arkan?!" tatapan menajam tanganku masih mengepal, namun yang terjadi selanjutnya tidak pernah aku duga.
...Plakkk!...
Satu tamparan cukup kerasa mendarat di pipiku, Aku dan Naurah yang ikut menyaksikan itu terdiam.
Semua pengunjung di kafe itu memperhatikan kami, sambil berbisik - bisik, setika aku menundukkan kepala karena malu.
...🌠🌠🌠🌠🌠...
Hai ... semoga kalian suka dengan cerita kali ini.
Kalau kalian suka, jangan lupa untuk like and komen, vote dan review-nya.
Kalau ada masukkan silahkan komen di bawah, silahhkan kasih masukkan dan kritikkan sebanyak - banyaknya.
sampai jumpa di cerita selanjutnya ....
dan terimakasih karena sudah menyempatkan waktu untuk membaca karyaku
__ADS_1