Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Ancaman dari Mesyah


__ADS_3

Pernahkan terpikir olehmu, bahwa suami yang kau anggap selama ini setia, ternyata punya kenalan wanita lain selain istri dan sahabat istrinya.


Jadi masih terbilang wajarkah jika aku marah, jika suamiku mengenal wanita lain, tapi tidak memberitahu.


Dalam seminggu dia pergi, dalam seminggu juga dia sudah mendapat wanita yang menyukainya, tentu saja aku cemburu.


Nasib rumah tanggaku kembali terancam, karena kehadiran wanita baru, padahal baru tenang setelah Maura di tahan.


Dengan harapa yang tinggi, aku berharap aku bisa kembali mempertahankan pernikahanku.


Tapi sebelum aku tau tujuan wanita itu sebenarnya, aku harus berhati - hati menghadapi wanita itu.


......***......


...Besok harinya ......


Selama mamakan waktu seharian, akhirnya esokan harinya aku di perbolehkan pulang.


Selama di rumah sakit, Arkan berusaha keras untuk menjelaskan, tapi aku tidak memperdulikanya, aku rasa aku butuh waktu untuk berpikir.


Hari ini aku sudah siap untuk perjalanan pulang kerumah, Arkan juga sudah datang dan membantuku menyiapkan barang - barang.


Di depan ruanganku di rawat, ternyata gadis itu sudah menunggu, menunggu Arkan tepatnya.


"Mau apa kau, kesini?" tanyaku dengan nada dingin. gadis itu mengabaikanku. sontak aku menatap tajam ke arahnya namun dia masih tidak perduli.


"Arkan ... aku kesini untuk menemuimu," ujarnya dengan memasang wajah manis, itu semakin membuatku kesal.


"Pergilah ... apa kau tidak lihat, aku bersama istriku?" aku tersenyum puas, bisa aku lihat raut wajah kesalnya. saat Arkan mengatakan itu.


"Apa kau dengar kata, suamiku?" aku sengaja menekankan kata suamiku, agar dia semakin kesal, dan paham akan posisinya.


Aku menggandeng lengan Arkan, aku melihat matanya melihat ke arah tanganku yang menggandeng tangan Arkan. dengan tatapan kesal. lalu aku membawa Arkan pergi dari hadapan gadis itu.


Aku memperhatikan ekrpesi Arkan. saat membawanya menjauh dari gadis itu, tapi ekpresi Arkan. tampak biasa saja.


Mungkin memang tidak ada sesuatu di antara mereka, hanya saja gadis itu terlalu terobsesi mengejar Arkan. dan hal itu membuat Arkan berhutang penjelasan padaku.


...Beberapa jam kemudian .......


Kami tiba di rumah, Arkan tampak memperhatikan aku yang tampak kelelahan.


Arkan pergi ke dapur tanpa sepengetahuanku, lalu kembali dengan segelas air.


Arkan memberikan minum itu kepadaku, lalu duduk di sebelahku.


Suasana hening sesaat, sampai keheningan itu pecah karena bibik menghampiri kami.


"Non butuh sesuatu?" tanya Bibik. aku menggelengkan kepala, lalu kemudian bibik kembali ke dapur. aku tersenyum di depannya.


"Tidak, Bik." jawabku.

__ADS_1


"Terimakasih." Bibik menganggukkan kepala menanggapiku, lalu pergi meninggalkanku dan Arkan.


"Adara!" panggil Arkan, aku beranjak dari tempatku, ku lihat Arkan menahan tanganku agar tidak pergi.


"Aku rasa ... kita perlu bicara," Aku diam tidak menanggapinya. lalu kembali duduk.


"kamu masih marah?" tanya Arkan. aku tidak menjawab pertanyaannya.


Arkan kembali menjelaskan bagaimana pertemuannya dengan Mesyah, aku mendengarkan dengan seksama. dia mencoba membuatku mengerti, mau tak mau aku harus mengerti suamiku ini.


Semoga saja gadis itu akan berhenti mengganggu Arkan. tapi semuanya hanya harapan kosong, gadis itu semakin genjar mendekati Arkan.


...***...


Beberapa minggu kemudian ...


Setibanya di caffe, ternyata sudah ada Shane, dan juga Vivia. mereka selalu tau kalau aku ada masalah, dan di saat itu mereka selalu tau aku selalu membutuhkan mereka.


"Terus rencana kamu, soal dia apa?" tanya Shane, dengan tatapan serius.


"Kamu nggak mungkin biarin dia, kan?" sahut Vivia. aku tak menanggapi mereka aku hanya sibuk mengaduk minuman yang aku pesan.


"Adara!" seru Shane. seraya menatap tajam ke arahku.


"Aku nggak tau ... kalau aku selalu mengikuti Arkan ... yang ada Arkan merasa terkekang," keluhku.


"Aku nggak mau dia berpikir aku istri yang posesif, atau yang lainnya." sambungku.


"Jadi dia ... mau kamu biarin gitu aja, Dar?!" tanya Shane setengah tak percaya.


"Karena itu aku minta kalian temuin aku, aku ingin minta pendapat sama kalian," ujarku. mereka saling melirik satu sama lain. lalu kembali menatapku.


...***...


Setelah pertemuan itu, aku langsung pulang ke rumah, setibanya di rumah aku di kejutkan oleh kedatangan tamu tak di undang.


"Bagaimana kamu ... bisa tau alamat ini?" tanyaku dengan tatapan tidak senang.


"Arkan!" jawabnya dengan nada santai.


"Apa?!" tanyaku setengah tak percaya. wanita itu tersenyum miring.


"Jangan kaget dulu ... aku masih punya banyak hal, yang lebih mengagetkan untuk kamu, Adara!" ucapnya dengan nada menantang.


"A-apa, maksud kamu?" tanyaku dengan nada gugup.


Gadis itu mendekatkan bibirnya ke telingaku, lalu membisikkan sesuatu di telingaku.


"Misalnya menghabisi, bayi yang berada dalam kandungan kamu sekarang."


...Deg!...

__ADS_1


Bahuku melemas, aku merasakan tubuhku gemetaran karena ketakutan.


"Kenapa, takut?" tanya Mesyah dengan senyum sinis di wajahnya.


"Jangan takut dulu, karena itu tidak akan seru." aku merinding ketakutan, karena sikap saiko gadis di depanku saat ini.


"Bersiaplah, Adara!" serunya.


"Hidup kamu mulai dari sekarang, akan sangat tidak tenang, kecuali kamu menyerahkan, Arkan!" sampai di situ perkataannya. gadis itu melenggang pergi tampa pamit.


...***...


Arkan pulang lebih larut dari biasanya, hal itu membuatku sangat cemas.


Bersamaan dengan itu, Arkan menghampiriku yang duduk di tempat tidur, lalu ikut duduk di sampingku.


"Kamu kenapa?" tanya Arkan dengan raut wajah cemas.


"Arkan!" seruku.


"Kenapa, sayang?" tanya Arkan seraya mengelus rambutku.


"Tadi wanita itu ... dia datang ke rumah," ujarku, Arkan tampak menyimak ucapanku dengan sesama.


"Apa? kok bisa?" tanya Arkan dengan raut wajah terkejut.


"Terus? dia nggak lakuin sesuatu dengan kamu, kan?" tanya Arkan cemas.


Aku tersenyum mencoba menenangkan Arkan. lalu Arkan mendekapku dalam pelukkannya.


"Maafin aku ya sayang ... nanti aku akan bicara tegas sama dia, ok?" Aku bingung harus bereaksi seperti apa. karena aku tak yakin gadis itu akan bisa di ajak bicara, karena sepertinya dia sudah terlalu terobsesi.


......***......


...Ting!...


Sebuah notif pesan yang masuk saat sarapan di ponsel Arkan. cukup menyita perhatianku, aku diam - diam mencuri pandang untuk mengetahui siapa yang mengirim pesan.


"Sayang?" Aku langsung mengalihkan pandangan ke Arkan. ketika Arkan memanggilku.


"Kamu liatin, apa?" tanya Arkan, tatapan Arkan benar - benar menghanyutkan, membuat siapapun terbawa suasana.


"Bukan apa - apa, kok," aku langsung mengalihkan perhatian ke makananku, namun diam - diam aku memperhatikan Arkan. yang tengah membalas pesan tersebut.


"Mesyah!" ucap Arkan tiba - tiba. sembuat aku sedikit terkejut.


"Kenapa? ada apa dengan dia?" tanyaku dengan sikap biasa - biasa saja.


"Dia bilang dia ingin ketemu," ungkapnya. aku terdiam dalam pikiranku, sudah berapa lama dan sejak kapan Mesyah mengirim pesan dengan Arkan.


......🍁🍁🍁🍁🍁......

__ADS_1


Hai ... semog suka ya, Jangan lupa like and komen, vote and review.


Kalau ada masukkan silakan komen di bawah, ok see you


__ADS_2