
Arkan yang tak mendengar suaraku, merasa bingung dan heran.
{ Dara! }
"Ya?" tanyaku.
Aku benar - benar merindukan suara Arkan, membuat aku ingin berlama - lama menelponya.
{ Kamu baik - baik aja kan, disana? }
"Aku baik - baik aja kok," simbatku.
"Anak kita juga baik - baik aja." sambung ku.
{ Hhh...aku jadi pengen pulang }
Aku juga ingin kamu pulang sekarang juga Arkan, tapi kan itu hal yang tidak mungkin mengingat Arkan yang baru tiba disana dan pekerjaan disana pun belum selesai.
"Apa sih!" seruku.
"Kamu kan harus kerja, kerjaan disana emang udah selesai?" tanyaku.
Aku inginnya Arkan menjawab pekerjaannya sudah selesai, dan kamu akan segera pulang, tapi rasanya itu tidak mungkin di dengar olehku.
{ Belum lah, kan baru juga sampai }
"Yaudah kamu selesain yang disana, dulu," ujarku.
{ Kamu kenapa nggak angkat telpon aku waktu itu? }
"Ya...iyalah kan aku udah tidur," jelas ku dengan nada sedikit jengkel.
{ Maaf, ya...aku_ }
"Yaudahlah, nggak papa," simbatku.
"Aku sangat mengerti keadaan kamu, Arkan." ucapku.
{ Makasih ya, sayang }
"Haha...apa sih!" Aku memainkan kuku ku sambil mendengar suara Arkan.
{ Yaudah, aku masih harus kerja lagi }
{ Kamu jaga baik - baik diri kamu, ya }
"Iya, Arkan!" jawabku.
{ bye, sayang }
"Bye, sayang."
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Arkan menutup telponnya, dan aku pun masuk ke mobilku.
***
__ADS_1
Awalnya hari itu aku membawa mobil, santai - santai saja, tanpa merasakan pirasat apapun.
Semuanya terkendali, sampai...
Brakkk....
Entah kenapa mobil yang aku kendarai remnya blong, saat ada mobil di depan ku, aku tak bisa berhenti, dan untuk menghindarinya agar tidak terjadi kecelakaan.
Aku membanting stir mobilku dan kemudian yang terjadi, terjadilah kecelakaan itu.
Aku bisa mendengar suara keributan, tapi saat aku ingin mengatakan sesuatu.
Aku kehilangan kesadaranku...
***
Di tempat Arkan...
Mereka baru saja menyelesaikan meeting mereka, dan kini mereka sedang berkumpul di ruangan Arkan.
"Lo, kenapa?" tanya Dean.
"Entah kenapa, kok perasaan aku nggak tenang, ya," ujar Arkan.
Terlihat raut khawatir dan tidak nyaman, saat mereka melihat Arkan, tapi mereka juga tidak mengerti hal tersebut.
"Perasaan lo, aja kali," Ujar Dion.
"Nggak, nggak...gue faham betul perasan apa ini," jelas Arkan.
"Gue nggak tenang, gue mau telpon istri gue dulu." Arkan bangkit dari kursinya, lalu menjauh dari kedua temannya.
{ Hallo! }
"Ha_" Arkan yang tak mengenali suara yang mangankat telponnya, menerka - nerka siapa yang mengakat telponnya, menggunakan ponsel istrinya.
"Maaf, Adara istri saya dimana?" tanya Arkan dengan raut cemas.
{ Oh...anda suaminya kami baru saja selesai menghubungi keluarga pasien }
{ Dan berniat akan menelpon anda }
"Tunggu anda siapa?" tanya Arkan, kecemasannya bertambah.
{ Saya suster di Hospital City Center }
{ Dan istri anda kritis }
{ Dan_ }
Deg...
Mendengar istrinya mengalami kecelakaan saja, sudah membuatnya cemas, entah bagaimana dia bisa mendengar hal yang lain.
"Dan apa, sus?!" tanya Arkan.
__ADS_1
{ Kami khawatir bayi anda tidak bisa kami selamatkan }
deg...
Arkan terduduk lemas, Arkan tak yakin bisa menerima kabar yang lebih buruk dari ini, sekarang anaknya yang bahkan belum lahir.
Arkan bukan kami harus menerima kenyataan harus menerima kehilangan anak pertama kami.
***
Di rumah sakit tempat aki mendapati penanganan, mereka berusaha agar aku melewati masa kritisku.
Bahkan orang tuaku dan Arkan yang sebelumnya sempat mereka kabari, langsung berhambur ke rumah sakit, setelah mendengar kabar dariku.
Mereka menunggu tepat di depan ruanganku, dengan harap cemas.
semua berdoa mengharapkan yang terbaik, dan semuanya baik - baik saja.
sesekali mereka melirik ke ruanganku, berharap secepatnya dokter keluar, dan memberikan kabar baiknya.
***
selama beberapa jam mereka menunggu, tapi dokter tak kunjung keluar.
Tapi tak lama kemudian dokter keluar dengan ekspresi tampak sedih.
"Dokter!" seru ibu yang langsung menghampiri dokter setelah dokter keluar.
"Bagaimana keadaan anak, saya?" tanya ibu.
Dokter menunduk kan kepala, itu sama sekali tak memberi kabar baik untuk mereka, dan mereka harus bersiap menerima kabar buruknya.
"Maaf, kami turut menyesal," ujar dokter.
Deg...
"Ma-maksud, dokter?" tanya Ibu, dengan nada terbata.
"Anak anda masih kritis, dan karena kecelakaan itu, putri anda keguguran, karena pendarahan yang hebat," ungkap dokter.
deg.
Ibu hampir jatuh pingsan karena mendengar hal tersebut, setelah ayah menangkap tubuh ibu, yang hampir ambruk.
"Kami akan berusaha sebisa kami, agar putri anda bisa melewati masa kritisnya," ujar dokter.
"Permisih." setelah berpamitan, dokter itu melenggang pergi ke ruangannya.
Ayah dan ibu, Mama dan Papa tak kuasa menahan tangis mereka, pasalnya bukan hanya anak dan menantu mereka, tapi juga kerena sekarang mereka kehilangan calon cucu mereka.
Tangis ibu pecah di pelukkan ayah, dan tangis Mama pecah di dalam rangkulan papa.
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Hai gimana part kali ini..
__ADS_1
semoga pada suka ya.
Jangan lupa like and comen, vote and review-nya juga.