Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Kejutan Permintaan Maaf Adara


__ADS_3

"Eugh ... " perlahan aku membuka mata, aku terkejut ketika sadar aku berada di rumah sakit.


"Kamu sudah sadar?" tanya Arkan yang baru masuk ke ruanganku.


"Arkan!" seruku.


"Kata Dokter kamu pingsan karena kelelahan, kamu kenapa bisa ada di kantor polisi?" tanya Arkan dengan tatapan serius.


Tapi aku tak tau harus menjawab dengan bagaimana, karena aku sudah melanggar ucapannya.


"Bukannya aku sudah bilang, untuk tidak kesana?" tanya Arkan dengan nada dingin.


Aku merasa bersalah karena tidak menuruti ucapan suamiku sendiri.


Aku hanya menundukkan kepala, karena tak berani menatap wajah Arkan.


"Kenapa? nggak tau harus bilang apa?" tanya Arkan.


Cepat - cepat aku memberi penjelasan, aku tak mau Arkan nantinya bertambah marah denganku.


"Sekarang kamu sudah bertemu dengan Maura ... apa kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau?" tanya Arkan dengan nada dingin.


"A- aku ... aku hanya ingin menjenguknya," ujarku.


"Aku merasa dia kesepian disana, karena tak ada siapa pun, di sampingnya," jelasku.


Aku harap Arkan bisa menerima penjelasanku, tapi Arkan tak merespon apapun dan itu membuatku khawatir.


"Sebaiknya kamu istirahat di rumah sakit hari ini, besok baru pulang kamu setuju kan?" sebenarnya aku keberatan tapi sebaiknya ku turuti saja ucapannya.


***


Besok paginya aku sudah di bolehkan pulang oleh dokter, sejak kemarin sikap Arkan sedikit dingin, tapi dia masih menunjukkan sikap peduli.


"Arkan ... kamu mau sarapan?" tanyaku.


"Tidak usah, aku akan langsung ke kantor," ujar Arkan dengan nada dingin.


"Sebaiknya kamu ke kamar dan istirahatlah, aku pergi dulu." setelah berpamitan denganku Arkan pergi meninggalkanku ke kantor.


***


Selama seharian di rumah aku terus berpikir bagaimana caranya memperbaiki hubunganku dengan Arkan.


sesaat aku berpikir memberikan kejutan untuk Arkan. mungkin akan memperbaiki hubunganku dengan Arkan.


Aku memikirkan kejutan apa yang cocok untuk Arkan. sehingga hubunganku dengan Arkan menjadi membaik.


Setelah berhasil terpikir sesuatu, aku meraih tasku, kemudian bergegas pergi.


***


Saat dalam perjalanan, jalanan begitu ramai dan bising, tapi meskipun begitu aku tetap melanjutkan perjalanan.


Aku tiba di sebuah caffe Move, disana aku sedang menunggu seseorang.


"Adara!" panggil seseorang sontak aku menoleh dan mencari sumber suara.


Aku akhirnya mungkin bisa bernafas lega, karena seseorang yang aku minta temui kini sudah datang.


"Hai! Dar!" sapa Dean.


"Hai! Dean!" balasku seraya tersenyum.


"Hai! Dar!" sapa Dion.

__ADS_1


"Hai Dion!" balasku.


Mereka berdua duduk di depanku, kemudian memperhatikanku yang masih fokus dengan minumanku.


"Jadi ada perlu apa lo minta kita datang kesini?" tanya Dean.


"Aku butuh bantuan, kalian," ujarku.


"Batuan?" tanya Dean ulang.


"Batuan seperti apa?" tanya Dion.


Aku menjelaskan kepada mereka masalahku, aku memperhatikan reaksi mereka.Aku melihat mereka tampak menimbang sesuatu.


Setelah mereka menimbang - nimbang akhirnya mereka setuju membantuku.


Setelah pembicaraan selesai mereka pamit pulang lebih dulu, karena masih ada pekerjaan yang harus mereka urus.


Demikian juga aku, yang tak setelah mereka pergi, aku juga pergi meninggalkan caffe itu.


Ting!


Ku keluarkan ponselku yang berada di dalam tas. ada pesan masuk dari Arkan.


[ Kamu dimana? ]


Deg!


Aku menepikan mobilku sebentar, kemudian memikirkan pesan apa yang harus aku balas.


[ Aku lagi di luar, kamu nggak usah khawatir aku nggak akan kecapean dan nggak akan ke penjaran lagi ]


[ janji ]


Ting!


Lagi - lagi pesan masuk ke ponselku, ku lirik sekilas, aku memilih mengabaikan pesan yang masuk itu dan meneruskan perjalanan.


***


Aku tiba di sebuah super market, dan membeli barang - barang yang aku butuhkan. setelah selesai aku kembali ke rumah.


***


Sesampainya di rumah, aku di sambut oleh bibik, yang kemudian membantu membawakan barang - barangku.


"Wah .... non banyak sekali belanjaannya, mau ada acara?" tanya Bibik bingung.


"Hanya acara kecil - kecilan," jawabku singkat dengan senyum yang ku perlihatkan di wajahku.


"Bibik tolong bantuin aku, ya." pintaku.


"Baik, Non!" simbatnya.


Bibik dan aku mulai sibuk mengerjakan pekerjaan kami, dan fokus dengan tugas kami masing - masing.


Drrtt!


Perhatianku terpecah ketika tiba - tiba ponselku bergetar, seseorang menelponku.


Aku kebingungan saat ingin mengambil ponselku, tangan ku yang kotor kerena tepung, membuat aku tak bisa menyentuh ponselku.


Drtt!


Panggilan yang tadi sempat berhenti, kini kembali berdering, aku menghela nafas, saat akhirnya aku melihat bibik, sesuatu terpikirkan olehku.

__ADS_1


"Bik!" panggilku.


Jarak kami yang tak begitu jauh, membuat bibik langsung cepat menghampiriku.


"Ya, non?!" tanya Bibik.


"Tolong jawab telpon saya, tangan saya penuh dengan adonan tepung jadi nggak bisa," jelasku.


"Baik, Non!" aku memperhatikan bibik yang tampak kebingungan, hal itu membuat aku jadi ikut bingung.


"Kenapa, Bik?!" tanyaku bingung.


Bibik menoleh kepadaku dengan tampak ragu - ragu.


"A-anu non ... ini telpon dari Aden," ungkapnya.


"Saya tidak berani." sambungnya.


Aku menghela nafas, mau tak mau membuat aku membersikan tanganku.


Setelah tanganku selesai di bersihkan, bibik memberikan ponselku, kemudian kembali ke tempatnya.


Aku memutuskan hanya akan memberikanya pesan, Arkan pasti akan mengerti.


Setelah selesai, aku kembali ke pekerjaanku sebelumnya yang sempat tertunda. kali ini akan aku pastikan pekerjaanku tidak akan terganggu.


***


Selang beberapa jam, terdengar suara ketukan pintu dari luar, buru - buru aku ruang depan untuk membukakan pintu.


Aku terkejut, ternyata hanya Dean dan Dion yang datang, ternyata kedua sahabatku juga.


"Lo kalian?" ucapku bingung.


Mereka menyelonong masuk sebelum aku mempersihlakan mereka masuk, aku hanya terkekeh melihat sikap mereka.


"Kamu kok nggak minta bantuan, sama kita?" tanya Shane dengan nada sinis.


"Jangan-jangan dia udah nggak butuh kita lagi," tuduh Vivia dengan nada kesal.


"Apaan, sih?!" seruku.


"Aku rencananya mau nelpon kalian kok, tapi nunggu pekerjaan tinggal sedikit." jelasku.


Mereka memutar bola mata malas, aku tau mereka tidak akan dengan mudah menerima begitu saja penjelasanku.


"Jadi kalian kesini untuk membantuku? atau mau mengomeliku?" tanyaku langsung.


Shane dan Vivia langsung mendekatiku, aku menatap bingung mereka yang tengah mengambil alih pekerjaanku.


"Ibu hamil duduk diam, biar kami yang mengerjakan, ok." mereka tampak serius mengerjakan semuanya.


Aku hanya menghela nafas, dan memperhatikan mereka berdua membuat dapurku berantakan.


"Dar!" seru Dean.Sontak aku menoleh ke Dean.


"Ini semua mau diapain?" tanya Dean bingung. aku tersenyum melihat barang yang aku minta sudah dibawa oleh Dean.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Hai ... semoga suka ya, jangan lupa di like and komen, vote dan juga reviewnya.


Kalau ada masukan silakan komen di bawah, atau kalian pingin author mampir ke tempat kalian silakan tinggalkan jejak di kolom komentar.


ok sampai jumpa di cerita selanjutnya semoga kalian selalu betah membaca cerita author ya

__ADS_1


__ADS_2