
...Beberapa bulan kemudian .......
Hidup kami kembali tenang, ketika kami kembali pindah rumah untuk kesekian kalinya. hingga beberapa bulan yang lalu aku sudah melahirkan anak yang tampan.
Di dalam kamar terlihat Arkan. yang tengah bermain dengan putra semata wayangnya. namun tiba - tiba ....
"Huek!" Arkan langsung panik, ketika putranya itu menangis.
"Arkan! kau apakan Azka!" teriakku histeris.
"Kau tau aku lagi masak!" aku melihat Arkan yang tampak kewalahan menenangkan Azka. aku hanya menghela nafas.
"Sini, biar aku urus." Arkan memberikan Azka padaku.
Arkan keluar dari kamar, membiarkanku menenangkan Azka sendirian.
Tentu saja aku senang karena Arkan. mau membantuku mengurus segalanya. tapi ada kalanya semua tak sesuai dengan ekspetasi.
Setelah Azka tidur kembali, aku pergi menyusul Arkan. kelihatannya dia ada di dapur.
"Arkan!" Arkan langsung menoleh ketika aku panggil, aku langsung mendekatinya.
"Apa Azka ... sudah tidur?" tanya Arkan. aku menganggukkan kepala menanggapinya.
Sepertinya aku salah bicara, Arkan berdiri di belakangku, menyandarkan kepalanya di tengkuk leherku, sebenarnya apa yang sedang Arkan lakukan?
Arkan mengusikku dengan, sesekali mengecup tengkuk leherku, anehnya aku hanya merasa sedikit risih.
Lalu tak lama kemudian bibik muncul, sontak Arkan langsung mengentikan aktivitasnya.
Bibik hanya tertawa melihat apa yang di lakukan oleh Arkan. Arkan tampak tersipu malu, begitu juga denganku, meski sesekali terkekeh.
...***...
Ketika aku selesai dengan ritual mandi ku, aku berdiri di depan cermin seraya menyisir rambutku.
Bayanganku terpantul di cermin, tiba - tiba Arkan datang dan memelukku dari belakang.
"Kenapa?" tanyaku, Arkan hanya menanggapiku dengan gelengan kepala.
Arkan mengubah posisiku menjadi menghadapnya, Arkan menatapku begitu dalam.
"Adara!" terdengar nafas berat saat Arkan menyebut namaku.
"Ada apa?" tanyaku bingung.
"Terimakasih sudah bertahan sampai detik ini." aku tertegun mendengar ucapan Arkan.
Pikiranku di penuhi dengan pertanyaan, ada apa dengan Arkan?
Sikap Arkan menunjukkan kalau ada sesuatu, tapi Arkan tidak mengatakan apapun.
"Kenapa tiba-tiba?" tanyaku semakin bingung. Arkan hanya tersenyum menanggapiku, aku memperhatikan Arkan yang menyikap rambutku.
"Tidak ada," jawab Arkan dengan nada tenang.
"Cuma belakangan aku berpikir, aku beruntung punya istri seperti kamu." aku menatap curiga Arkan. aku menatap dalam ke dalam mata Arkan. mencari tahu apakah yang tengah di sembunyikan oleh Arkan.
"Apasih ... kok kamu jadi aneh?" perhatianku teralihkan dengan sebuah kotak merah berukuran kecil.
"I-itu ... " Aku terkejut melihatnya, saat Arkan membuka dan ternyata isi di dalamnya adalah sebuah kalung.
__ADS_1
Arkan membuatku tengelam dalam kata, Arkan memasangkannya keleherku, aku langsung memeluk Arkan setelahnya.
"Thank you for everything." bisik Arkan. Aku tertegun mendengarnya.
"For what?" tanyaku dengan masih setengah tak mengerti dengan kejutan yang di lakukan oleh Arkan.
"For time."
"To always stay with me." aku senang dengan yang di lakukan oleh Arkan. tapi aku juga merinding.
semoga ini hanya pirasatku saja ....
...***...
Waiters menghidangkan makanan yang aku pesan, di lihat dari aromanya, kelihatannya semua tampak enak.
"Bagaimana, Dar?" tanya Shane.
"Sejauh ini ... semua baik - baik aja, kan?" tanya Shane cemas.
"Sejauh ini, semua baik - baik aja," jawabku. kulirik Vivia tengah bermain dengan Azka.
"Vi!" panggilku, gadisku menoleh.
"Apa?" tanya Vivia.
"Udah cocok tuh ... buru gih minta Dean ... buat nikahin." seketika wajah Vivia, terlihat raut wajah puas Shane. karena sudah berhasil menggodanya.
akupun ikut tertawa karenanya.
"Puas yah ... kalian berdua, nih satu ibu hamil, nggak takut apa?" Aku berdua saling melirik satu sama lain.
"Takut apa?" tanya Shane bingung.
Meskipun mereka sering bertengkar setiap kali bertemu, aku merasa senang setiap kali melihat interaksi mereka.
......***......
...Ting!...
Sementara aku menikmati minumanku sambil mengamati mereka. sebuah notif pesan masuk di ponselku.
Ku buka isi pesan itu, ternyata isinya Mama yang memintaku untuk datang dengan membawa cucunya.
Tiba - tiba aku kembali teringat dengan ruangan rahasia di rumah itu, tapi aku tidak terlalu memikirkan masalah itu, karena sudah aku anggap Maura tengah mempermainkanku.
Aku letakkan kembali ponselku dimeja, aku kembali memperhatikan kedua temanku yang kembali dengan perdebatan mereka.
......****......
Aku tiba di rumah Mama Arkan, setelah semua pertemuanku dengan kedua temanku selesai.
Setibanya di rumah, Mama dan Papa langsung bermain dengan cucu mereka.
"Adara!" panggil Mama di sela bermainnya.
"Ya?" tanyaku.
"Kapan kamu akan kasih adik untuk, Azka?!" tanya Mama.
...Khukk!!...
__ADS_1
Mendengar pertanyaan yang tiba tiba itu, sontak membuat aku tersedak.
Aku menatap Mama dengan tatapan tak percaya. kemudian aku mengalihkan pandanganku.
"Kamu kenapa?" tanya Mama seraya menatap bingung ke arahku.
Aku berharap ucapan yang barusan aku dengar itu hanya bercandaan belakang, tapi setelah aku amati lagi, ekpresi Mama sama sekali tak sedang seperti orang yang bercanda.
Aku meletakkan cangkirku kembali ke meja, lalu perhatianku terpokus pada Azka yang tengah dalam gendongan Mama.
Aku terdiam tak tau harus menjawab apa, tapi sepertinya Mama tetap menunggu jawabku.
......***......
Aku yang sejak dari rumah Mama langsung menjadi pendiam, tampaknya di sadari oleh Arkan.
memelukku dari samping untuk menarik perhatianku dan itu berhasil.
"Ada apa? " tanya Arkan cemas.
"Apa ada sesuatu yang terjadi di rumah, Mama?!" tanya Arkan.
Wajahku memerah ketika mengingat perkataan Mama dan aku pun mejadi malu untuk cerita ke Arkan.
"Adara!" panggil Arkan membuyarkan lamunanku.
"Kamu baik - baik aja?" tanya Arkan mulai khawatir.
"Benar terjadi sesuatu, dirumah?" tanya Arkan tak hentinya.
"Ti-tidak ada, jangan tanya lagi, ok." Arkan memperhatikan wajahku yang memerah, tatapan Arkan berubah seperti mencurigai sesuatu.
"Kamu bohong, terus kenapa wajah kamu merah?" tanya Arkan makin penasaran.
"Kyakkk! masih juga kamu tanya, tau ah!" untuk menghindari ke curigaan Arkan. aku pura - pura marah dengannya.
Arkan menatap bingung ke arahku, namun aku tidak begitu memperdulikannya.
...*** ...
...Keesokan harinya ......
Pagi ini aku merasa Arkan menyembunyikan sesuatu, sontak aku menatap curiga Arkan.
"Arkan ... kamu kenapa?" tanyaku bingung. Arkan seperti menahan tawa. aku semakin curiga.
"Kamu yakin, nggak apa - apa?" tanyaku curiga. Arkan menanggapiku dengan anggukkan kepala. hal tersebut membuatku semakin penasaran.
Arkan kembali menikmati sarapanku, aku mengamati Arkan dengan seksama.
Tak lama Arkan berdiri, lalu mendekat kepadaku, wajah Arkan mendekat lalu mendekat ke telingaku, lalu membisikkan sesuatu ke telingaku.
"Kalau mau nambah adik untuk, Azka!" bisik Arkan dengan nada lembut.
...Deg!...
"Aku nggak keberatan, kok." lanjutnya, sontak wajahku memerah, Arkan tampak menikmati ekspresiku saat ini.
Arkan tertawa puas karena berhasil menggodaku, lalu Arkan pergi meninggalkanku.
"Yakk! Arkan!" seruku, seraya menatap tajam ke arah Arkan, aku masih bisa mendengar Arkan tertawa.
__ADS_1
......💮💮💮💮💮......
Hai ... jangan lupa like and komen, vote dan juga review