Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Hamil


__ADS_3

"Khuek..."


Hari ini Aku merasa mual, sampai kepalaku sedikit pusing.


Sampai Aku hampir kehilangan keseimbangan, sampai Arkan datang menahanku.


"Kau tidak apa - apa, sayang?"


"Entahlah...aku merasa kurang sehat."


"Apa kita perlu ke dokter?"


"Biar aku sendiri saja,"


"Aku yakin?"


"Iya...kau ada rapat penting hari ini, jadi jangan mengacaukannya."


"Setelah itu aku juga akan ke kantor."


"No, hari ini kau harus langsung pulang dan istirahat,"


"Tapi..."


"Nggak ada tapi, Sayang..."


"Yaudah...iya,"


Arkan mengatarku ke rumah sakit, karena dia khawatir sesuatu akan terjadi kalau Aku bawa mobil dalam ke adaan kurang sehat.


Setelah itu Arkan pergi ke kantornya, dia bilang dia akan menyuruh sopir untuk menjemputku dan mengantarkan aku pulang, jadi aku tak perlu naik taxi online.


****


Tidak sampai semenit Dokter selesai memeriksa diriku, jantungku berdegub kencang mendengar dianogsanya.


"Nona aku punya kabar baik untuk, Mu!"


"Ka-kabar baik apa, dok?"


"Selamat anda hamil,"


Untuk sesaat Aku setengah tak percaya, tapi perasaanku bercampur aduk, setelah menyadari semuanya nyata.


Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bahagianya diriku sekarang, mengetahui


Bayangkan saat tangan mungilnya menyentuh jarimu, rasanya tak bisa digambarkan


***


Aku sangat bersemangat memberitahukan ini dengan Arkan, tapi setelah Arkan pulang dari kantor.


Aku mengambil ponsel dari tasku, kemudian menelpon sekretarisku.


{ Hallo buk! }


"Hallo Din!"


{ Ya, buk? }


"Pekerjaan kantor hari ini, filenya kirim lewat e-maill, saya nggak akan ke kantor hari ini."


{ Baik, buk }


Aku mengakhiri telpon, dan Aku pergi ke rumah.


Aku akan membuat kejutan untuk Arkan, dan aku pastikan Arkan akan menyukai nya.


***


Sesampainya di rumah, Aku menghias seisi rumah, dan tak ada yang akan menyangka kalau Aku akan membuat kejutan.


Beberapa jam kemudian....


Aku selesai mendekor seisi rumah, memakan waktu memang, tapi itu buka. masalah.


Selanjutnya tinggal memasak sambil menunggu Arkan pulang, dan Aku akan membuat Arkan terkejut dengan apa yang akan Aku sampaikan.


"Done!"


Jantungku bergejolak hebat, entah kenapa Aku menjadi gugup, rasa khawatir membayangkan reaksi Arkan, mulai melimuti hatiku.


***


Beberapa menit kemudian....

__ADS_1


Aku mendengar seseorang membuka pintu, Aku melihat siapa yang datang, dan Aku melihat Arkan dengan wajah lesuhnya.


"Arkan!"


"Hai, sayang..."


"Kamu kenapa?"


"Nggak papa, cuma capek aja,"


"Yakin?"


"iya."


"Yaudah, kalo gitu,"


"Kamu mandi, aku udah siapin air hangat, terus habis itu kita makan."


"Yaudah, aku mandi dulu."


"Eh...kamu nggak ke kantor hari ini?"


"Masih sakit, emang?"


"Kok kamu tau, aku nggak ke kantor?"


"Sekretaris kamu tadi nelpon aku,"


"Dia nanya kenapa kamu nggak masuk kantor hari ini,"


"Oh."


"Yaudah aku mandi dulu, nanti kita bahas lagi,"


"Hmm..."


Arkan pergi ke kamar mandi, dan Aku pergi ke dapur menyiapkan sarapan untuk Arkan.


***


Beberapa menit kemudian....


Arkan selesai dengan ritual mandinya, dan Aku memikirkan waktu yang tepat memberitahukan kalau Aku hamil kepada Arkan.


Aku melihat Arkan yang tampak menikmati makanannya, tampak dia tak menyadari kalau aku memperhatikan dirinya.


Aku menoleh, Aku melihat Arkan menatap heran ke arahku.


"Kamu nggak makan?"


"Eh?!"


Aku melihat makananku, yang sama sekali tidak Aku sentuh, Aku baru ingat kalau Aku sama sekali tak menyentuh nya.


"Ben-bentar lagi,"


Arkan menatap heran ke arahku, Aku bisa melihat khawatiran di mata Arkan.


"Kamu kenapa?"


"Apa ada hubungannya, dengan pagi tadi?"


Aku bisa merasakan khawatiran dalam diri Arkan, karena dari cara Arkan menatapku, cukup memberitahuku semuanya.


"Arkan!"


"Apa? kamu mau bilang apa, sayang?"


Aku begitu gemas dengan ekpresi Arkan saat ini, dan itu memberiku sebuah ide, untuk menggoda Arkan.


"Kamu harus janji kalau kamu tidak akan marah,"


"Apa? Ada apa?"


"Aku...sepertinya akan membagi cinta Aku,"


Arkan meletakkan sendok makannya, lalu berdiri, selain itu Aku bisa melihat tatapan tajam Arkan saat melihat ke arahku.


"Kamu ini bicara apa, sih?!"


Ini pertama kalinya Aku melihat ekspresi marah Arkan, dan itu membuat Aku menjadi gemas.


"A-aku sepertinya juga, akan mencurahkan semua hidup Aku untuknya."


"Dara!"

__ADS_1


Arkan tampak menahan emosinya, terlihat dari caranya yang mengepalkan tangannya.


"Karena aku, hamil,"


"A-apa?"


Kenapa saat cemburu pun Arkan sangat menggemaskan, dan itu yang membuatku suka.


"Aku hamil, anak kita,"


Saat melihat ekpresi tak percaya ya, entah kenapa membuatku sedikit kecewa, raut wajah Arkan yang datar saat ini, tak terlihat bahagia sama sekali, membuat Aku sedikit sedih.


"Ka-kamu bilang, hamil?"


Aku yang cemberut, hanya menganggukkan kepala.


Grebbb...


Aku tersentak kaget, saat tiba - tiba Arkan memelukku, saat aku menundukkan kepalaku.


"Arkan!"


"Stttt...."


Aku diam tanpa kata, ketika Arkan memintaku untuk diam.


Kau tidak akan pernah tau, bagaimana perasaan orang sesungguhnya, sampai kau sendiri memahami perasaan orang itu sendiri.


Kau tau bagaimana bahagianya Arkan saat ini, bayangkan seorang anak kecil yang habis mendapatkan permen, seperti itulah Arkan.


Menjadi orang tua adalah harapan setiap pasangan yang sudah menikah.


Dan bagi seorang wanita, bisa memberikan seorang anak, adalah bukti kesempurnaan wanita itu sendiri.


Dan setelah menjadi orang tua, akan menjadi menanggung tanggung jawab besar untuk memastikan pendidikan perkembangan anak itu sendiri.


"Makasih, Dar!"


"Hah?!"


"Makasih kamu, sudah memberikan aku anak,"


"A-Aku tidak tau apa ada kabar bagus lain, yang lebih membahagiakan dari ini,"


Aku hanya tersenyum, di balik peluk kan Arkan, yang entah akan lepas.


Pelukan Arkan begitu erat, sampai Aku tak yakin, apakah aku akan bisa melepaskan diri atau tidak.


Tapi Aku tau Arkan sedang begitu bahagia, dan aku tidak boleh merusak nya.


***


Beberapa saat kemudian...


Arkan melepas pelukannya, yang Aku pikir tidak akan pernah lepas.


Arkan membawaku ke sofa, dan menuntunku duduk, kemudian Arkan menempelkan telinganya ke perutku.


"Hai sayang...."


"Ini Papa..."


Aku hanya menahan tawa di dalam hati, melihat Arkan yang mencoba berkomunikasi dengan calon bayinya.


Arkan sesekali mengelus perutku, lalu menyandarkan kembali telingannya.


Aku hanya menggelengkan kepalaku, saat melihat tingkah Arkan yang menurutku itu sangat menggemaskan.


Arkan menedekapku ke dalam pelukkan nya, ketika selesai dengan calon bayi nya.


Sejak saat itu, Aku merasakan bahagia yang tak ada duanya di dunia ini.


🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼


Hai....


Gimana part kali ini?


Semoga suka ya.


Maaf baru update sekarang karena kesibukan author yang nggak bisa di tinggal.


Tapi author sempetin hari ini untuk update, oh... ya episode yang udah di rombak bisa kalian baca hari ini juga, meski nggak semua, nanti author lanjutin lagi.


Kalau ada masukkan atau ada pertanyaan silakan komen di bawah.

__ADS_1


Jangan lupa like and komen, jangan lupa juga vote dan reviewnya.


__ADS_2