Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Perpustakaan : 6


__ADS_3

Karena gugup, dengan spontan aku mematikan panggilannya. Tak lama kemudian dia berbalik menelpon, dengan terpaksa aku mengangkat panggilan masuk darinya.


"Ya?" ucapnya, seraya berupaya bersikap biasa saja, padahal sebaliknya.


"Lo tadi nelpon, ada apa?" tanyanya. seketika aku prutasi, kira - kira penjelasan masuk akal apa yang harus aku berikan.


"Aduh ... gini," jedaku, seraya menarik nafas sebelum melanjutkan.


"Tapi semoga Lo, nggak marah, ya." aku kembali memberikan jeda disela ucapanku


"Tadi itu gue salah pencet nomor," jelasku, semoga ia tak marah setelah mendengarnya.


"Tadinya gue mau nelpon temen - temen gue, tapi _ "


"Ok, gue ngerti," potongnya. Meski sedikit terkejut, tapi aku cukup lega mendengarnya.


"Mmm ... Sha?" panggilnya kemudian.


"Eh? ya?" ucapku dengan sedikit terkejut.


"Lo ada waktu nggak, kira - kira?" tanyanya dengan nada sedikit ragu.


Apa ini? kenapa tiba - tiba?


"Kapan? kenapa?" tanya spontan.

__ADS_1


"Nggak gini, gue ada yang gue gue bicarain," ujarnya.


Seorang Dean yang belum lama aku kenal, bahkan aku sendiri tak begitu mengerti kenapa kami bisa begitu dekat belakangan ini. dan Sekarang Dean ingin ketemu untuk membahas sesuatu, apa itu kira - kira ?


"Kalau Lo bisa, sore ini gimana?" tanyanya.


Aku tak langsung menjawab, karena memikirkan agendaku, aku mencoba mengingat apakah aku ada janji ketemu seseorang.


"Ok, dimana?"


POV : Perpustakaan kampus


"Duh ... Nes, Lo ngapain sih, ngajakin gue ke perpus segala," dumel Dhea.


Saat ini mereka berdua sedang berada di perpustakaan di kampus mereka, Dhea yang sama sekali jarang ke perpustakaan kampus tentu saja merasa tidak nyaman.


"Yaudah, Lo boleh pergi sekarang, nggak usah nemenin gue lagi." sambung Agnes, sambil berjalan meninggalkan Dhea.


"?!!"


"Agnez!!!"


"Bisa - bisanya ya Lo, ninggalin gue!!!" seru Dhea dengan nada kesal.


"Udah gue temenin juga, Agne _ " saat hendak mengejar Agnes, tiba - tiba gadis itu tak sengaja menabrak seseorang, membuat buku berserakan di mana - mana.

__ADS_1


"Duh ... maaf, ya." gadis itu ikut membantu mengumpulkan buku yang berserakan.


"Makasih." ucap pria yang di tabraknya.


"I-iya, ka-kalau gitu pamit, ya." Dhea langsung pergi, taba mengatakan apapun. sementara pria itu menatap gadis itu yang tiba - tiba pergi dengan raut wajah bingung.


"Arggh!!! sialan!!!"


"Bikin jantung nggak aman aja, mana cakep banget lagi." di selahnya dia mendumel sendiri, ia merasakan kehadiran seseorang.


"Lo lagi ngomongin, siapa, Dhea?" tanya Agnes, Dhea yang memperhatikan semua buku yang ada di tangannya, sudah dipastikan ia sudah mendapatkan buku yang ia mau.


"Kepo aja, Lo." gadis itu pergi begitu saja. sementara Agnes menatap kesal.


"Dhea!!! dasar kutu!!!" ia berjalan dengan kesal, mengejar Dhea yang pergi mendahuluinya.


POV : Shania Dan Dean.


Canggung menyelimuti antara aku dan Dean, tak ada yang bicara di antara kami. akhirnya untuk memecah keheningan, aku membuka pembicaraan.


"Mmmm ... Dean?" tanyaku, ia menoleh ke arahku.


"Lo tadi bilang, ada yang mau di bicarain, soal apa?" ia tampak kaget mendengarku bicara, tapi ini mungkin awak yang bagus, agar keheningan di antara kami bisa hilang.


"Sorry, gue ngajak ketemuan, malah gue juga yang bikin suasana jadi canggung," ujarnya.

__ADS_1


"Nggak masalah kok, awalnya gue kaget, karena Lo biasanya nggak kayak gini, hehe ... " ia hanya merespon dengan senyuman dari ucapanku. sebenarnya ada apa, kenapa suasananya agak berbeda ?


...****...


__ADS_2