Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Paket misterius


__ADS_3

"Ma-mama!" gadis itu benar - benar gugup saat ini, dan dia tidak tau harus bagaimana menjelaskan kepada orang tuanya.


"Dara...Mama harap, kamu bisa bersikap lebih dewasa, kamu pikir dengan kamu kabur, masalah kamu akan selesai?" gadis itu terdiam, dia bingung harus menjawab apa.


"Ma...sebaiknya Mama...jangan bahas lagi masalah ini, lagi pula Dara udah balik lagi, kan?" Adara menoleh ke Arkan, gadis itu tau kalau suaminya itu bermaksud melindunginya.


"Dara!" panggil Mama Arkan dengan nada lembut, Adara langsung menoleh ke ibu mertuanya itu.


"Mama tau, anak mama ini, selalu membuat masalah, tapi..." Wanita paruh baya itu memberi jeda pada ucapannya, dan gadis itu masih menyimak apa yang di sampaikan oleh ibu mertuanya itu.


"Mama harap, kamu bisa lebih besabar, ya," pinta Mama Arkan, gadis itu hanya merespon dengan anggukkan kepala dan senyum di sela wajahnya.


"Mama!" protes Arkan, sontak semua orang disana tertawa, melihat Arkan yang tampak tak terima dengan ucapan mamanya itu.


Melihat itu pun, Adara ikut tertawa, sedangkan Arkan mulai memasang raut wajah masam.


"Tapi...lain kali, kalau kamu lagi ada masalah sama Arkan, tolong jangan menghilang lagi, ya," pinta Mama Arkan.


"Kasian Arkan, kayak kehilangan induknya, Hahaha..." mereka semua kembali tertawa, sedangkan Arkan hanya menahan dirinya.


"Untung gue, orangnya sabar,' batin Arkan.


"hhh...Mama harap kalian akan selalu bersama, ingat ya Arkan kamu harus jaga perasaan istri kamu," ujar wanita paruh baya itu.


Adara dan Arkan sedikit terkejut mendengar hal tersebut, kemudian saling pandang satu sama lain.


"Karena Mama juga perempuan, itu artinya kalau kamu nyakitin istri kamu, kamu sama saja menyakiti Mama, kamu mengerti?" tanya Mama Arkan, Arkan menoleh ke Adara.


Adara yang melihat Arkan menatap dirinya, hanya tersenyum dan di balas senyum oleh Arkan, Arkan kembali menoleh ke Mamanya kemudian menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


***


"Hhh...sumpah, aku pikir ada acara apa." gadis itu merebahkan badan ke tempat tidur, serah menghela nafas.


Mereka langsung pulang, setelah acara makan malam selesai, dan selain itu karena sudah tidak ada lagi yang perlu di bahas.


"Mau langsung tidur? nggak mandi dulu?" tanya Arkan, Adara yang sebelumnya membaringkan tubuhnya, membenarkan posisinya menjadi duduk di pinggir kasur.


"Yaudah, aku mandi dulu." gadis itu beranjak dari tempatnya. dan melenggang pergi ke kamar mandi.


****


Setelah selesai dari ritual mandinya, Adara keluar dengan piama malam, yang membuat Arkan tak bisa mengendalikan dirinya.


"Arkan... kamu mau mandi juga, nggak?" tanya Adara, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Tak Ada jawaban dari Arkan, saat menoleh Adara di buat terkejut, saat melihat Adara berjalan cepat ke arahnya.


Cup....


Dengan cepat Arkan ******* bibir Adara, Adara yang matanya melotot karena terkejut, hanya diam tak membalas.


Arkan melepas ciumannya, kemudian menatap Adara seraya mengelus pipi Adara, Adara hanya menatap bingung ke Arkan.


"Sayang...apa kamu masih, kelelahan?" tanya Arkan dengan nada lembut, Adara yang mengerti gerak - gerik Arkan.


Adara melingkarkan tangannya ke leher Arkan, kemudian mencium Arkan.


Kali ini gadis cantik itu yang memulai permainannya, ciuman itu be langsung cukup lama, dan semakin menggairah kan.


πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


***


Pagi ini Arkan terbangun dari tidurnya, saat meraba tempat tidurnya dengan mata yang masih tertutup, dia tidak menemukan Adara disana saat membuka matanya


Arkan berpikir mungkin saja Adara dibawah, sedang menyiapkan sarapan untuknya.


***


Benar saja saat dia turun, dia melihat Adara yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka.


Arkan langsung menghampiri Adara, dan memeluknya dari belakang, sambil sesekali mengecup pucuk kepalanya.


"Eh?! yaampun bikin kaget aja, sih!" seru gadis itu.


"Kamu pagi - pagi udah rapi banget, sih?!" tanya Arkan heran.


"Eh?! emang ada yang salah, ya?" tanya Adara bingung.


"Nggak kok, nggak ada yang salah," jawab Arkan yang kini bergelayutan manja di belakangnya.


"Arkan! udah ih...aku susah gerak jadinya, lepas!" setelah bersusah payah melepaskan diri, akhirnya Adara terlepas dari Arkan.


"Baru juga mau manja - manjaan," dumel Arkan.


Adara hanya terkekeh geli, karena melihat tingkah suaminya itu, sontak Adara mendekati Arkan.


cup...


satu kecupan mendarat di pipi Arkan, terkejut bercampur senang yang di rasakan oleh Arkan.


"Udah, kan?" tanya Adara.


"Sebelahnya, nggak?" tanya Arkan sambil menunjuk pipi kirinya.


cup...


satu kecupan mendarat di pipi kirinya, hal tersebut membuat Arkan semakin senang, dan berniat menggoda istrinya itu.


"Yang ini?" tanya Arkan, sambil menunjuk bibirnya, sontak kedua bola mata Adara melotot, seraya berkaca pinggang.


Melihat reaksi istrinya itu, Arkan tertawa geli, entah kenapa dia senang sekali menggoda istrinya itu, apalagi melihat istrinya yang kesal setiap kali di goda olehnya.


Adara menyodorkan sarapan untuk Arkan, dan Adara duduk di depan depan Arkan.


"Mmm...Arkan!" panggil Adara dengan nada ragu, Arkan menoleh kepadanya, dan menunggu Adara menyelesaikan kalimatnya.


"Ada temen aku, yang ingin bertemu, sebenernya kita udah lama banget nggak ketemu, makanya dia ngajak ketemu, kamu...mau ketemu sama dia, nggak?" tanya Adara ragu.


Arkan tampak berpikir sejenak, kemudian kembali melihat ke arah istrinya itu.


"Sebenarnya dia cuma ngajak aku sih, tapi kan lebih baik, kalo aku kenalin suami aku, ke temen aku, ya kan?" tanya Adara.


"Mmm...siapa? cowok cewek?" tanya Arkan, ini yang membuatnya ragu untuk bilang, dia takut Arkan jadi marah kepadanya.


"Mmm...Co...wok, dan namanya Leon," ungkap Adara dengan hati - hati.


Arkan menatap dingin ke arahnya, membuat suasana jadi tidak nyaman dan canggung.


"Yaudah...nanti kita temui dia." Adara sedikit terkejut mendengar hal tersebut.


"eh? seriusan?!" tanya Adara setengah memastikan atas apa yang dia dengar.

__ADS_1


"Iya...sayang..." jawab Arkan seraya mengelus kepala istrinya itu, Adara tersenyum lega, ke arah Arkan, Arkan membalas senyumannya, kemudian kembali menikmati sarapannya.


***


Setelah selesai sarapan Adara dan Arkan kembali ke aktivitas kantor mereka.


"Selamat pagi, buk!" sapa karyawannya, seraya membungkuk memberi hormat.


"Pagi!" balas Adara, dengan senyum yang terpancar di wajah cantiknya.


"Selamat pagi, buk!" sapa sekretarisnya, seraya menunduk memberi hormat, Adara melihat karyawan yang sebelum nya menyapa dirinya pergi, Adara kembali menoleh ke sekretarisnya.


"Pagi!" balas Adara.


"Buk, pagi ini Anda kedatangan paket," ujar sekretarisnya.


"Paket? dari siapa?" tanya Adara bingung.


Sekretarisnya itu menyodorkan paket yang di maksud, dan di terima oleh Adara walau dirinya sedikit ragu untuk menerima paket tersebut.


"Itu paketnya, buk," ungkapnya.


"Tadi kurir yang mengantarnya, tapi saat di tanya siapa pengirimnya, dia bilang pengirimnya tidak mau menyebutkan nama." jelasnya.


"Yasudah, kamu boleh kembali bekerja sekarang," pinta Adara, setelah membungkuk memberi hormat, sekretarisnya itu pergi ke ruangannya, dan Adara pergi ke ruangannya.


Karena penasaran, akhirnya Adara membuka paket tersebut di ruangannya, saat membuka paket tersebut Adara di buat kaget dengan isinya.


***


Saat di buka ternyata paket tersebut berisi, beberapa lembar foto, saat dilihat, gadis itu semakin terkejut saat melihat foto tersebut.


Lebaran foto itu, adalah foto kebersamaan Arkan dan Maura, entah kapan foto itu di ambil, tapi itu cukup membuat dadanya menjadi sesak.


Dan lembaran foto lain ada foto dirinya dan Kean waktu di caffe, gadis itu sangat terkejut sekaligus bingung kapan foto dirinya dan Kean di ambil.


ternyata di sisi lain foto tersebut ada catatan, yang di tujukan untuknya, dan Adara pun membaca catatan tersebut.


"Gimana? kita berdua udah kelihatan bahagia belum? lo bisa liat sendiri kan sekarang, Arkan lebih bahagia bersama gue dan bukan sama lo"


Gadis itu benar benar kesal saat membacanya, sampai dirinya ingin merobek foto tersebut, tapi masih ada beberapa tulisan yang belum dia baca.


Adara mencoba mengontrol emosinya, dan melanjutkan membaca catatan tersebut.


"Kira - kira kalau Arkan liat foto lo, lagi sama cowok lain, gimana ya reaksinya? lo tau kan Arkan itu cemburuan?"


Gadis itu langsung meremuk foto tersebut, Maura benar - benar memancing emosinya, dia bukan hanya memanasinya dengan foto ke bersamaannya dengan Arkan, tapi dia juga mengancam dirinya.


Drrrrttttt......


Telepon masuk ke ponselnya, dia penasaran siapa yang menelponnya itu, dan saat di lihat ternyata Maura yang menghubunginya, tanpa berpikir panjang Adara menjawab panggilan tersebut.


"Mau apa lagi, lo?!" tanya Adara dengan nada nyolot.


"kok...nyolot, mbaknya?" tanya Adara dengan nada santai.


"sorry...gue nggak ada waktu ngelayanin lo, gue tutup telponnya," namun saat Adara hendak menutupnya Maura manahannya.


"Jangan coba - coba, atau lo mau foto lo, sampai ke Arkan?" ancam Maura, mendengar nada ancaman Maura tak lantas membuatnya gentar, justru gadis itu melawannya.


"Lo, ngancem, gue?!" tanya Adara dengan nada menantang.


"Ini bukan sekedar anceman, tapi peringatan!" jawab Maura dengan nada penuh penegasan.


Jantung Adara berpacu sangat cepat, sepertinya dia sudah terlalu lama menahan emosinya, dan dirasa bisa meluap saat itu juga dan detik itu juga.


Adara membuang semua yang dikirim Maura ke tempat sampah setelah merobek semua lembar fotonya.


Gadis itu benar - benar sudah muak, dengan semua kelakuan Maura, namun di satu sisi dia tak tau harus bagaimana.


***


Adara yang masih berpacu dengan dengan emosinya, membuat Adara merasa tidak nyaman saat bekerja.


Memutuskan untuk menghentikan kerjanya, dan mencari ketenangan di luar .


***


Gadis itu tampak menjalankan mobilnya tampa arah dan tujuan, karena tujuan sebenarnya adalah bagaimana dia bisa tenang tanpa memikirkan masalahnya dengan Maura.


Tanpa dia sadari, gadis itu mengarahkan mobilnya ke pantai, karena sudah telanjur gadis itu pun meneruskan perjalan nya kepantai.


suana yang tenang dengan desiran ombak yang menerpa, membuat hatinya sedikit lapang.


Pandangan menjadi luas saat di pantai, dan dia merasa bisa melepas semua masalah yang membebaninya selama ini.


***


drrrt....


Setelah beberapa lama gadis itu pergi dari pantai, dan pergi ke tempat makan terdekat.


Gadis itu terkejut mendapatkan ponselnya yang tiba - tiba bergetar, dengan cepat gadis itu melihat ponselnya yang ternyata yang menelponnya adalah Arkan.


Dengan entah kenapa gadis itu seperti menimbang - nimbang apakah dirinya akan menjawab telpon tersebut atau tidak.


drrttt....


Ponsel gadis itu kembali bergetar, namun gadis itu masih tak bergeming, dan hanya melihat nama Arkan yang tertera di layar ponselnya.


Drrrt...


ketiga kalinya Arkan menelpon, akhirnya gadis itu mengangkat juga telponnya, dengan menarik nafas panjang.


"Ya, Arkan?" tanya Arkan.


"Dara, kok jam segini kamu belum pulang?" tanya Arkan heran.


Gadis itu melirik jam tangannya, gadis itu ternyata tak sadar kalau hari sudah menunjukan pukul 5 sore.


Biasanya Adara sudah berada di rumah nya, pantas saja Arkan menelpon, ternyata Arkan mencari dirinya saat ini.


"Kamu baik - baik aja, kan?" tanya Arkan terlihat raut khawatir di wajah Arkan, kalau saja Adara melihatnya saat ini.


"Apa kamu banyak kerjaan, atau macet di jalan?" tanya Arkan, gadis itu hanya menghela nafas karena suaminya iti terus menghujani dirinya dengan pertanyaan tampa memberinya waktu untuk menjawab.


"Dar! kok kamu diem aja, sih?!" tanya Arkan heran, dengan suara agak tinggi.


"Kamu nanyanya satu - satu dong, kamu kayak nanya kayak apa aja, sih!" gerutu gadis itu, Arkan hanya cengengesan karena mengetahui kalau sekarang sedang membuat istrinya itu kesal.


"Hehe...maaf sayang, kamu dimana, sekarang?" tanya Arkan.


Gadis itu terdiam, tampaknya dia ragu apakah dirinya harus memberi tau posisinya saat ini.

__ADS_1


Apakah dia bisa bersikap biasa saja, sedangkan hatinya sendiri sedang tidak biasa saja.


"A-aku bentar lagi pulang, kok," ujar gadis dengan nada sedikit terbata - bata.


"Aku...harus menyelesaikan beberapa lagi, pekerjaan." dalihnya, entah itu cukup atau tidak untuk membuat Arkan diam, tapi setidaknya dia tidak akan bertanya lagi tentang dirinya.


"Apa ada masalah, di kantor?" tanya Arkan dengan nada khawatir.


"Hanya masalah kecil,"


Masalah kecil? sungguh ? siapa yang dia bohongi, kalau saja benar masalah di kantornya tadi masalah kecil, mungkin dia tidak akan merasakan sesakit ini.


"Mau aku bantu?" kalau saja dia bisa menjawab iya, tapi mulutnya sama sekali tidak mau bicara.


"Entalah sayang...mungkin biarkan aku sendiri yang menyelasaikannya," terkadang hati dan mulut kita tidak singkron, tidak bisa di ajak kerja sama.


Menyelesaikan sendiri? bagaimana? apa yang akan dia lakukan untuk menyelesaikan masalahnya.


"Dar! ada masalah apa?" tanya Arkan dengan nada serius.


Gadis itu hanya diam, gadis itu tak mampu berkata - kata, entah apa yang memberat kan bibirnya, sehingga dia hanya diam tak menjawab pertanyaan Arkan sama sekali.


"Mm...kamu mau di bawain makanan, nggak?" tanya Adara, tampaknya gadis itu mencoba mengalihkan pembicaraannya.


"Dia ngalihin pembicaraan?' batin Arkan, dan tampaknya Arkan menyadari kalau Adara mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Nggak sayang, kamu pulang aja, ya," pinta Arkan.


"Yaudah ini aku juga udah mau pulang, kok." simbatnya.


"Yaudah, kamu hati - hati, ya," setelah Adara mengiyakan ucapannya Arkan mematikan ponselnya.


Gadis itu pun mau tak mau, harus pulang ke rumahnya, gadis itu membereskan barang - barangnya, kemudian melenggang pergi ke mobilnya.


***


Sebelum pulang ke rumahnya, gadis itu mampir ke rumah makan, karena mungkin dia tidak akan sempat untuk memasak makan malam untuk mereka.


Setelah selesai, gadis itu melanjutkan perjalanan nya menuju rumahnya.


selama perjalannya, gadis itu memutuskan dan memantapkan hatinya saat di depan Arkan dia akan mencoba bersikap baik - baik saja.


***


satu jam kemudian, Adara tiba di rumahnya, terlihat Arkan sudah menunggu di depan rumahnya.


Gadis itu pun keluar dari mobilnya, dan dengan santai berjalan ke Arkan.


"Kamu...sedang apa di luar?" tanya Adara.


"Oh ya... lihat," gadis itu memperlihatkan makanan yang sebelumnya dia beli, sebelum sampai di rumah.


"aku juga udah bawa makanan, untuk makan malam kita, hehe..." wajah riang gadis itu mungkin bisa menutupi dirinya yang sedang dalam masalah, namun tidak dari Arkan, yang tampa jeli memperhatikan sikap Adara dari telpon tadi.


Tapi Arkan berusaha menutup diri, dia menunggu Adara untuk bercerita ke dirinya.


Tapi...mungkinkah Adara akan bercerita ke dirinya? entah kenapa dia ragu akan hal tersebut.


"Yauda... ayo masuk." ajak Arkan, dengan senyum di wajahnya, dan mereka berdua pun masuk ke rumah mereka.


****


Saat masuk ke dalam rumah, Arkan meminta Adara untuk membersihkan dirinya, setelah itu baru makan malam bersama.


Adara pun menurut, dan pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


***


beberapa menit kemudia Adara pun selesai dengan ritual mandinya, dan menghampiri Arkan yang menunggunya di ruang makan.


di ruang makan terlihat Arkan yang sedang menata makanan mereka ke meja makan, Adara diam sejenak kemudian menghampiri Arkan.


"Arkan!" panggil Adara, Arkan langsung menoleh mendengar Adara memanggil dirinya.


"Oh sayang...kamu sudah selesai?" Adara berjalan menghampiri Arkan, dan Arkan tersernyum ke arahnya.


Arkan menyiapkan kursi untuk Adara duduk, dan Adara pun duduk.


Arkan memberikan makan malam untuk Adara, Adara sedikit dengan semua yang di lakukan oleh suaminya.


"Adara!" panggil Arkan, gadis itu menoleh dan mengentikan kegiatannya.


"Hmmm..." gumamnya.


"Kamu nggak lagi nutupin sesuatu, kan?" tanya Arkan


deg...


Apa yang harus dia katakan? apa dia harus bercerita tentang semuanya?


bosok ya...apa dia yakin, ada hari esok? gadis itu menghela nafas, kemudian menarik nafas dalam - dalam.


"Kenapa? ada apa?" tanya Adara, pura - pura tak mengerti maksud Arkan.


Ada rasa geram dalam diri Arkan, karena istrinya itu masih belum juga terbuka dengannya


Tapi dia juga tidak bisa memaksa istrinya itu, kalau dia masih ingin *** apa yang terjadi, dia harus mencari tau dengan hati - hati.


Adara melanjutkan makan malamnya, Arkan juga ikut memakan makan malamnya, namun Arkan kadang mencuri - curi pandang dengan Adara.


Saat melihat istrinya yang sedang menikmati makan malamnya, dia berpikir rahasia apa yang sudah di sembunyikan oleh istrinya itu.


Karena pikirannya terus memaksa dirinya, untuk berpikir kalau istrinya itu ada masalah, dan dia tidak tau akan hal itu.


Meski istrinya itu terus bilang tidak ada apa - apa, tapi pikirannya entah kenapa menolah hal tersebut.


Kok maksa? bukan maksa tapi itulah pirasat seorang suami.


Dia ingin sekali tau, dan membantu istrinya itu tapi bagaimana dia bisa bantu kalau istrinya itu tetap diam


🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼


Hai gimana part kali ini ? semoga suka ya, kalau ada masukkan apapun atau krisan silakan komen dibawah.


author tunggu krisan dan masukkannya, atau mungkin kalian ada pertanyaan, kalian juga bisa komen di bawah.


Jangan lupa like anda comen, vote and reviewnya.


ok see you


sampai ketemu di part selanjutnya. ya


ingat pantengin terus, siapa cerita favorite kalian udah update.

__ADS_1


__ADS_2