
Adara memutar bola mata malas, kemudian membalikkan badannya.
Arkan menahan pergelangan tangan Adara, seketika Adara tertahan saat hendak ke kamarnya.
"Dar, lo kenapa sih?" tanya Arkan penasaran.
"Gue kenapa? emang gue kenapa?" Adara balik tanya ke Arkan.
"Dar, lo sadar nggak sih, sama sikap lo, belakangan ini?" tanya Arkan, tatapan Arkan begitu tajam, membuat Adara sedikit takut menghadapi Arkan.
Tapi dia harus bisa mengendalikan dirinya, dan berani menghadapi Arkan.
"Sikap gue? sikap gue yang mana, ya?" lagi - lagi Adara berbalik tanya.
"Berhenti balik tanya, Dar!" tegas Arkan.
Suara Arkan yang agak membentaknya, membuat Adara sedikit tersentak kaget.
"Ok, lo mau tau kenapa, itu karena lo masih ada di hidup gue!" seru Adara.
"Gue, nggak suka lo ada di hidup gue, Arkan." sambung dengan nada melemah.
"Lo, tau kenapa?" tanya Adara.
"Sejak lo, muncul di hidup gue hidup gue jadi kacau." ucap Adara.
"Semua jadi berantakan."
"Gue, selalu kepikiran, sama lo."
"Gue, selalu mengkhawatirin, lo."
"Dan, hati gue juga sakit karena, lo"
Tanpa sadar, Adara mengatakan semuanya kepada Arkan, Arkan hanya kaget dan diam, tak tau harus berkata apa.
"Ma-maksud lo, bicara seperti itu, apa?" tanya Arkan, dengan tatapan tak percaya.
"Dar, kan sejak awal lo tahu kalau ____" belum selesai Arkan menyelesaikan kalimatnya, ucapan Arkan sudah lebih dulu di potong oleh Adara.
"ya, gue tau." potong Adara.
"Gue tau, Arkan." sambungnya.
"Maka dari itu, pergi dari hidup gue," pinta Adara dengan nada penekanan.
"Dengan begitu semua akan jadi lebih mudah." ucap Arkan.
"Dar!" saat Adara hendak pergi Arkan menahan lengan Adara.
"Maaf, gue nggak ada maksud sama sekali nyakiti lo." ujar Arkan.
"Tapi, seharusnya lo lebih bisa mengendalikan perasaan lo," kata Arkan.
"Karena lo sendiri tau kan, bagaimana situasinya?" tanya Arkan.
"Maksud lo, soal lo dan Maura yang saling mencintai?" tanya Adara.
"Soal lo dan Maura yang saling menyayangi?" tanya Arkan.
"Soal lo dan Maura yang saling melengkapi?" tanya Adara.
"Gue tau, maaf." ucap Adara.
"Maaf, karena gue sudah berani mencintai lo." ucap Adara.
"Mungkin memang pisah jalan yang terbaik, sebelum semuanya terlanjur."
Adara pergi meninggalkan apartementnya, dengan Arkan yang masih berada di tempatnya.
Di dalam perjalanannya, Adara tak hentinya meneteskan air matanya. dia tak menyangka dia akan mengatakan hal itu pada Arkan.
Tapi dia sudah telanjur bicara, dan semua itu tak bisa di tarik.
Adara berharap Arkan akan mengejarnya, tapi Arkan tak mengejarnya
Arkan duduk terpaku, di apartement Adara, dan mencerna apa yang terjadi barusan.
Mungkin lebih baik mereka tak bertemu dulu, agar mereka bisa memikirkan masalah mereka.
Mencoba mengoreksi diri sendiri, dan memikirkan soal pernikahan mereka kembali.
****
Adara pergi ke caffe di dekat apartementnya, dan mencoba menenangkan diri.
"Dara!" seru seseorang.
Adara menoleh, dan mencari asal suara, saat dicarinya suara itu, ternyata yang memanggilnya adalah Kean.
Dengan berpakain rapi, laki - laki itu melambaikan tangan, kemudian menghampiri Adara.
"Lama nggak ketemu, ya." ucap Kean.
Adara hanya tersenyum.
"Boleh duduk?" tanya Kean.
Adara menganggukkan kepalanya.
"Ya, silakan." Adara pun mempersilakan Kean untuk duduk.
"Oh ya, gimana dengan projek kita?" tanya Kean.
Adara tersentak kaget, dia baru teringat soal projek pertamanya dengan Kean.
Karena masalahnya dengan Kean, Adara jadi lupa soal pekerjaannya.
"Sorry, gue barusan saja kembali dari paris, jadi belum sempat melihat ke kantor," jelas Adara.
"Paris?" tanya Kean.
"Apa lo punya projek baru disana?" tanya Kean penasaran.
"Mmm... ya kira - kira seperti itu lah," ucap Arkan seraya tertawa pelan.
"Tapi besok bakal gue cek, kok." ujar Adara.
"Jadi, lo tidak perlu khawatir, ya." ucap Adara.
"Hhh... ya guw percaya, kok," simbat Kean.
Melihat Kean yang tertawa Adara pun ikut tertawa.
"Kalau di perhatikan, mata lo kok sembab ya?" tanya Kean.
"Apa lo habis menangis?" tanya Kean.
Adara terdiam, dan hanya tersenyum, Adara mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.
"Apa gue, menyinggung perasaan, lo?" tanya Kean.
Adara terkekeh, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kalau lo mau, lo bisa cerita ke gue." tawar Kean.
"Terimakasih, tapi itu sama sekali tidak perlu." Adara beranjak dari tempat duduknya, kemudian menatap Kean.
"Maaf, tapi gue ada urusan lain, gue permisih," setelah berpamitan, Adara pun meninggalkan caffe tersebut dan juga Kean.
Kean tampak memperhatika Adara, yang mulai menghilang dari pandangannya setelah melewati pintu keluar.
***
Lagi lagi dia teringat perdebatannya dengan Kean, dan membuat dirinya kembali sedih.
Adara terus berjalan, meski masih di sekitar apartementnya.
Karena dia tak menggunakan mobilnya, dia meninggalkan mobilnya di apartementnya.
di dalam perjalanannya, Adara bertemu dengan gadis kecil cantik, sedang makan ice cream.
Adara tersenyum melihat gadis kecil itu, dia teringat ucapan orang tuanya, saat membicarakan soal cucu.
Seketika ekspresi Adara berubah, Adara menjadi murung.
"Aunty, aunty." gadis kecil itu, menarik pelan lengan baju Adara.
"Eh?" Adara tersentak kaget.
"Ya?" tanya Adara.
"Aunty, kenapa?" tanya sambil memakan ice cream.
Adara menaikkan alisnya, dan kemudian mensejajarkan tubuhnya dengan gadis itu.
Adara menggosok kepala gadis itu, sedangkan gadis itu hanya menatap Adara dengan polosnya.
"Orang tua kamu, mana?" tanya Adara.
Gadis itu mengangkat bahunya, sambil masih memakan ice creamnya.
"Mereka udah pergi dari tadi, aunty." jawab gadis kecil itu
"Sebelum Queen, bangun tidur tadi." sambungnya.
"Jadi kamu di luar sendiri?" tanya Adara.
Gadis kecil itu mengangguk, dan memakan ice cream terakhirnya.
"Anak sekecil ini di luar sendiri sendirian?' batin Adara seraya menatap Queen.
"Kamu tinggal, dimana?" tanya Adara.
Queen menunjuk ke arah apartement Adara.
"Itu kan, arah ke apartement gue.' batin Adara.
"Yaudah, aunty anter pulang, ya." ucap Adara menawari bantuan.
Gadis kecil itu mengangguk, Adara menggandeng tangan mungil gadis kecil itu, kemudian membawanya ke apartementnya.
***
Saat tiba di apartementnya, Adara berpapasan dengan Arkan.
Arkan melihat Adara, yang menggandeng Quen, Arkan bingung, anak siapa yang di bawa Adara.
"Kamu, bawa anak siapa, Dar?" tanya Arkan bingung.
__ADS_1
"Eh...ini___" ucapan Adara di potong oleh gadis kecil itu.
"Bentar aku, kamu?' batin Adara.
"Aunty, dia siapa?" tanya gadis kecil itu.
"Mmm.... dia itu___" belum sempat Adara menyelesaikan kalimatnya, Arkan memotong ucapan Adara.
"Uncle suaminya aunty ini," potong Arkan.
Adara memutar bola mata malas, tiba - tiba Queen melepas genggaman tangan Adara, gadis itu menghampiri Arkan, dan menatap Arkan dengan seksama.
"Hmmm...." gadis itu bergumam, dan memperhatikan Arkan layaknya orang dewasa.
"Ok... uncle cocok untuk aunty, hehe...." gadis itu cengengesan, Arkan dan Adara hanya tertawa geli.
"Yaudah, yuk Queen." ajak Adara.
Queen meraih tangan Arkan kemudian menggenggamnya.
"Ayo uncle." Queen meraih tangan Arkan, kemudian menggenggamnya.
"Qu... Queen." ucap Adara, Adara sedikit terkejut melihat Queen, yang mengajak Arkan.
"Jangan, unclenya sibuk tau, ya kan?" Adara memberi kode me Arkan untuk mengiyakan.
Arkan hanya melihat, dan memperhatikan kode yang Adara berikan.
Tiba - tiba Adara terseyum, Adara tampak mengerti maksud dari senyum yang Arkan berikan.
"Nggak, uncle nggak sibuk," jawab Arkan.
"Yeay, berarti bisa main sama uncle."
Queen loncat ke girangan, dengan raut wajah senang.
Arkan hanya tertawa geli, melihat tingkah anak kecil itu.
"Yaudah, kamu sama uncle aja, ya." ucap Adara, kemudian merenggangkan tangannya, untuk melepas tangan Queen dari tangannya.
Saat Adara hendak melepas tangannya, Queen dengan sigap menggenggam tangan Adara.
"Aunty, jangan pergi." pinta Queen dengan memasang wajah memelas.
"Queen, juga mau main sama, aunty." sambungnya.
Adara jadi bingung, kalau dia ikut, berarti dia akan terus bersama Arkan.
Sedangkan hatinya saat ini masih belum siap, kalau harus menghadapi Arkan.
Adara melirik Arkan, kemudian kembali menatap Queen.
Adara mulai menimbang - nimbang, sedangkan Queen memasang wajah memelas.
"Yaudah." akhirnya Adara luluh, karena melihat Queen, yang begitu lucu dan imut.
"Yeay.... " Queen bersorak kegirangan, Arkan dan Adara hanya tertawa melihat tingkah gadis kecil itu.
Gadis kecil itu pun, langsung menuntun Arkan dan Adara untuk pergi ketempatnya.
Terlihat raut bahagia, karena Arkan dan Adara mau bermain dengannya.
Dia seperti bersama orang tuanya, tapi sayangnya mereka bukan orang tuanya, dan orang tuanya sedang sibuk mencari uang.
*****
Mereka berdua tiba di apartement gadis kecil itu, ternyata apartment gadis itu, lebih dari dugaan mereka.
Apartment itu begitu besar, rapih, dan juga bersih, untuk ukuran anak kecil yang berada di rumah.
Mungkin karena gadis itu, sering bermain di luar, jadi rumahnya tidak berantakan oleh mainannya.
"Em..... Queen!" gadis itu langsung menoleh saat Adara memanggilnya.
"Aunty, boleh tanya sesuatu?" tanya Adara.
Gadis kecil itu mengangguk, sambil tersenyum.
"Apartment ini, ada bibik yang mengurusnya, kan?" tanya Adara.
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.
"Mommy, yang mengurus apartement ini, autny," jawab Queen.
Arkan memegang kedua pundak Queen, kemudian mensejajarkan dirinya dengan Queen.
"Jadi... kita mau ngapain?" tanya Arkan.
"Hmmm....." gumam gadis kecil itu sambil berpangku dagu.
"Aunty!" panggil gadis kecil itu.
"Hmmm....." gumam Adara, kemudian ikut mensejajarkan tubuhnya dengan Queen, tepat di sebelah Arkan.
"Aunty, bisa masak?" tanyanya dengan polos.
"Hmm..... bisa." jawabnya dengan nada ragu.
"Aunty... aku pengen deh, nyobain masakan aunty, boleh kan?" tanya Queen.
"Boleh, dong." jawab Adara, seraya mencubit hidung Queen, dengan gemas.
"Aunty, Queen mau cake buatan aunty ya." ucapnya seraya mengacungkan jari jempolnya.
Adara terkekeh geli, kemudian mengangguk sambil tersenyum.
Adara mulai menyiapkan semuanya
3 btr telur
170 gr Dark chocolate
110 gr butter
4 sdm gula pasir
Sejumput garam
1 sdt vanilla essence
2 sdm tepung serbaguna
Cetakan aluminiun kecil/ramekin
secukupnya Minyak/butter utk mengoles cetakan
secukupnya Tepung utk ditaburkan di cetakan
Garnish:
sesuai selera Strawberry
secukupnya Gula halus
Langkah
Olesi cetakan dg minyak/butter,kmudian taburi tepung smp rata, sisihkan
Tim coklat dgn butter hingga meleleh dan bercampur rata sempurna
Kocok telur,gula pasir dan garam hingga adonan telur mengembang,light yellow
Kemudian tambahkan vanilla ess dan tepung, aduk rata
Preheat/panaskan oven di suhu 200℃ (saya di 180℃ krn oven panas skali,sesuaikan oven msg2)
Campur adonan telur,dg lelehan coklat&butter hingga tercampur rata
Tuang adonan ke cetakan
Panggang selama 10menit
Diamkan smp dingin, baru kluarkan dr cetakan
Taburi gula halus,beri strawberry sbg garnish
Setelah semua selesai Adara menyajikan masakannya ke meja makan.
Disana sudah tampak semua sudah tak sabar, ingin mencoba mencicipi masakan Adara.
Terlihat raut senang Arkan dan Queen, setelah masakan Adara sudah tersaji di meja makan.
Mereka membelah molten cake dan mulai menikmati lava coklat yg meleleh selagi meleleh.
"Wuaa... enak banget aunty!" seru Queen, yang kemudian malahap cakenya dengan lahap.
Arkan dan Queen hanya terkekeh geli, dan menyaksikan tingkah gadis kecil itu.
Mereka berdua mecicipi makanan mereka, tak sengaja Arkan dan Adara bertemu pandang.
Adara hendak mengalihkan pandangannya, tapi Arkan memberi kode yang tidak di mengerti oleh Adara.
Arkan hanya memberi kode, kalau ada sesuatu di pinggir bibirnya.
Adara menaikkan sebelah alisnya, dan mencoba membersikan arah yang di tunjuk oleh Arkan.
Tapi Adara yang tak mengerti, membuat Arkan turun tangan langsung.
Arkan mengusap ujung bibir Adara, yang terdapat noda coklat cake buatannya sendiri.
Sontak mereka bertemu pandang satu sama lain, dan saling menatap satu sama lain.
Arkan menatap dalam bola mata Adara, begitu juga dengan sebaliknya.
"Cieee..." gadis kecil itu menggoda Arkan dan Adara, hingga mereka jadi salah tingkah sendiri.
"Queen!" seru Adara.
Queen yang cengengesan, kabur dari Adara, kemudian Adara belari mengejar Queen.
Adara yang berhasil menangkap Queen, langsung mengangkat tubuh Queen, kemudian memutarkannya.
Terlihat raut bahagia di wajah mereka, dan Arkan hanya memperhatikan mereka.
Entah seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati Arkan, begitu juga dengan Adara.
Tapi apa itu?
Perasaan apa itu?
__ADS_1
Arkan berlari menghampiri Adara dan Arkan, kemudian Adara menurunkan Queen.
Arkan berlari mengejar Queen, dan Queen berlari menghindar.
Dengan raut wajah bahagia mereka bermain kejar - kejaran, layaknya sebuah keluarga.
Adara hanya tersenyum melihat, Arkan dan Queen bermain bersama, mereka begitu terlihat akrab, layaknya ayah dan anak.
Adara benar - benar senang melihat ke akraban mereka berdua.
****
Saat melihat ke sekeliling, Adara melihat ada sebuah piano.
Adara berjalan mendekat ke piano, Queen dan Arkan yang menyadari Adara pergi menuju kesuatu tempat langsung mengikutinya.
Adara duduk di kursi piano, ketika sudah di depan piano.
"Ini punya daddy." ungkap Queen.
"Tapi udah lama nggak di mainin oleh daddy," sambungnya.
"Aunty boleh kok mainin, kalo aunty mau." ucap Queen.
"Hmmm..." gumam Adara karena masih ragu antara mau main atau tidak.
"Ayo aunty, Queen juga pengen denger." Queen menggenggam tangan Adara.
Terasa lembut, saat tangan mungil itu menggenggam tangannya.
"Yaudah kalo, gitu."
Adara mulai menggerakkan jarinya, menjadi menciptakan melody yang indah.
****
Nabila jkt 48 : sunshine becomes you
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
🎶 Sekian lamanya dalam sepiku
🎶 Menanti hiasi di hatiku
🎶 Hanya bersamamu ku temukan
🎶 Segala harapan yang ku impikan
🎶 You're the light of my life
🎶 You're the light of my love
🎶 You're the light in my sky
🎶 You're my only one
🎶 You're the lighting i need
🎶 You're the light shining down
🎶 All my life
🎶 Sunshine becomes you***
Semua tampak menikmati lantunan piano, yang di mainkan oleh Adara.
Arkan yang tampak begitu menikmati lantunan piano yang di mainkan oleh Adara, tak menyangka bahwa Adara ternyata bisa bermain piano.
Jari - jemari Adara yang tampak lincah memainkan piano, seperti seseorang yang sudah terbiasa bermain piano.
🎶 Beribu bintang yang hiasi malam
🎶 Tak seindah sinar yang
🎶 kau pancarkan
🎶 Segenap cahaya yang terbentang
🎶 Tak sehangat terang yang ku
🎶 rasakan
🎶 You're the light of my life
🎶 You're the light of my love
🎶 You're the light in my sky
🎶 You're my only one
🎶 You're the lighting i need
🎶 You're the light shining down
🎶 All my life
🎶 sunshine becomes you
🎶 Huuu...
🎶 you're my sunshine
🎶 Sunshine becomes you
🎶 You're the light of my life
🎶 you're the light of my love
🎶 You're the light in my sky
🎶 you're my only one
🎶 You're the lighting i need
🎶 you're the light shining down
🎶 All my life
🎶 sunshine becomes
🎶 you You're the light of my life,
🎶 you're the light of my love
🎶 You're the light in my sky,
🎶 you're my only one
🎶 You're the lighting i need
🎶 you're the light shining down
🎶 All my life
🎶 sunshine becomes you**
Terdengar riuh tepuk tangan, dari Arkan dan Queen Adara hanya tersipu malu.
"Wah... ternyata aunty jago main piano, ya." puji Queen.
"Nggak juga kok," Adara tersipu malu, karena di puji oleh Queen.
"Kamu, sejak kapan bisa main piano?" tanya Arkan.
"Kok, aku nggak pernah tau?"sambungnya.
"iya, aunty keren banget lo tadi." Sahut Queen.
"Nggak terlalu lama sih, dan aku juga udah lupa sejak kapan." jelas Adara.
Krekkkk.....
Tiba - tiba suara pintu terdenga, semua orang menoleh ke arah pintu.
Terlihat seorang gadis muda cantik, dengan penampilan seperti wanita karir.
Terlihat raut bahagia di wajah Queen, saat melihat wanita itu.
"Mommy!" seru gadis kecil itu, yang kemudian berlari berhambur menghampiri wanita itu.
Gadis itu memeluk putri, dengan hangat, terlihat kenyamanan di wajah Queen, saat memeluk ibunya.
Seperti sedang meluapkan rasa rindunya.
Gadis itu berdiri, seraya benggendong Queen, dan berjalan mendekati Adara dan Arkan.
Arkan dan Adara saling melirik satu sama lain, kemudian kembali ke gadis itu, yang perlahan mendekat ke padanya.
"Kalian siapa?" tanya gadis itu ketika sudah di hadapan Adara dan Arkan.
"Kenapa kalian bisa ada di apartement saya?" tanya gadis itu lagi.
Adara dan Arkan diam sejenak, kemudian saling menoleh satu sama lain.
Mereka bingung harus memberi penjelasan dengan bagaimana dengan ibu dari gadis kecil tersebut.
Sedangkan ibu dari gadis kecil tersebut, masih menunggu Arkan dan Adara memberikan penjelasan terhadapnya.
Queen menatap mommy, kemudian menatap Arkan dan Adara secara bergantian, gadis kecil itu tampak mencoba mencerna apa yang terjadi.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Hai....
Author come back
Gimana?
Semoga nggak ngebosenin ya
Jangan lupa like and comen, dan kasih reviewnya juga ya.
Ok see you
Tungguin terus cerita kelanjutannya ya
Yang insyaallah nggak bakal kalah seru
Bye...
__ADS_1