
Meski ragu, Namun dengan terpaksa aku mengangkat telpon tersebut.
"Hallo." ucapku.
"Apa yang kau lakukan, Adara!" refleks aku menjauhkan ponsel dari telingaku, karena mendengar suara teriakkan Mama.
"Memangnya apa yang aku, lakukan?" tanyanya pura - pura tidak mengerti.
"Jangan pura - pura!" dengus Mama kesal.
"Kau sengaja menghindari pertemuan itu, kan?" seketika aku terdiam.
"Katakan kau dimana, sekarang?" tanyanya dengan nada dingin.
Aku tidak langsung menjawabnya, aku sangat ragu menjawabnya.
"Adara." panggilnya.
Aku masih tidak bisa memberitahu posisiku saat ini, hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidak memberitahunya.
"Aku masih di kantor, kemungkinan tidak pulang," dalihku.
"Apa?" tanyanya.
"Ma ... aku harus meneruskan pekerjaanku, jadi sudah dulu." tampa mengatakan apapapun lagi aku mematikan telponnya.
Aku masih tidak percaya mereka masih bersikeras menjodohkanku, seketika aku merebahkan tubuhku ke ranjang tempat tidur milikku.
Aku memejamkan mata, akhirnya aku membiarkan diriku tenang sejenak. Tanpa memperdulikan masalah apapaun.
...Seminggu kemudian .......
...Home Fashion...
...09 : 34...
Dari dalam ruanganku, aku bisa mengetahui ada sesuatu yang terjadi di luar.
Namun aku cukup terlalu sibuk, sehingga aku tidak bisa melihat situasi di luar saat ini.
Suara itu terdengar semakin mendekat, hingga akhirnya seseorang menerobos masuk.
Aku tidak menyangka Arkan akan memaksa masuk sampai seperti itu,
aku menatap penuh keheranan ke arahnya.
Seorang karyawanku yang lain tampak sibuk memintanya untuk segera pergi, Namun Arkan tidak bergeming.
Lagi - lagi aku terjebak pada situasi yang tidak aku inginkan, pada akhirnya aku meminta karaywanku untuk pergi dsn membiarkan kami berdua.
Meski agak ragu, aku memberanikan diri menghampirinya seraya menatap wajahnya.
Lagi - lagi jantungku berdebar saat berhadapan dengan Arkan, Namun aku masih tidak mengerti alasan kenapa jantungku berdebar.
"Ng ... Ada masalah apa?" tanyaku, aku bersikap seolah tak terjadi apapun.
"Seharunya aku yang bertanya!" serunya, aku menaikkan sebelah alisku.
"Kau ada masalah apa?" tanyanya dengan nada dingin, aku tertegun mendengar pertanyaan tersebut.
"Ma-maksudnya?" tanyaku dengan raut wajah bingung, seketika Arkan menatap tajam ke arahku.
"Kenapa kau tidak datang, ke kantorku?" tanyanya.
__ADS_1
Aku tak menyangka kalau Arkan, akan mempermasalahkan dan akan semarah ini, aku mencoba memahami apa yang dilakukan Arkan.
"Kenapa kau marah?" tanyanya dengan penuh heran.
"Bukannya asistenku, sudah mengurusnya untukku?" tanyaku.
"Jadi ini yang kau sebut dengan, profesional?" tanyanya dengan nada dingin.
Mendengar perkataan itu darinya, seketika aku tertegun.
Terlihat raut wajah kecewa di wajahnya, Namun aku tidak mengerti apa yang membuatnya kecewa.
"Maaf." ucapku, aku menatapnya serius kali ini.
"Selamanya ini aku menjalankan pekerjaanku dengan sangat baik," ujarku.
"Aku menyuruhnya disana, agar pekerjaanku jadi lebih gampang." jelasku.
"Karena aku tidak bisa berada di dua tempat sekaligus, kau mengerti sekarang?!" aku rasa aku terlalu terbawa emosi, sehingga jantungku ikut berpacu.
Aku mengamati ekpresinya, kelihatannya dia sudah sedikit melunak.
"Apa asistentku, melakukan sesuatu?" tanyaku menyelidik.
Arkan mengambil tempat duduk untuk dirinya, aku mengikuti dan duduk di sampingnya.
"Sekarang katakan, apa masalahnya?" tanyaku lagi.
Ia tak langsung menanggapiku, ia berbalik menatapku.
"Kenapa malah melihatku?" tanyaku bingung.
Tiba - tiba aku merasa ada hal aneh, Namun aku tidak menemukan kejanggalan tersebut saat mencarinya.
Tiba - tiba aku di buat terkejut dengan Arkan yang tiba - tiba memelukku, karena terkejut otakku rasanya tidak bisa berpikir.
...****...
...Flash back on...
Dean membuka pintu ruangan Arkan. Dean melihat Arkan yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Dean." ucapnya ketika Dean baru berada di hadapannya.
"Ada apa?" tanyanya sambil meletakan sesuatu yang di bawanya ke meja Arkan.
"Apa yang bekerja kali ini, asistennya lagi?" tanyanya Arkan dengan raut wajah gusar.
"Siapa?" tanya Dean yang bingung dengan orang yang dimaksud.
"Sebentar, kau kenapa?" tanya Dean dengan raut wajah cemas.
"Tidak ada apa - apa." jawab Arkan singkat.
"Baiklah, lalu siapa yang kau maksud tadi?" tanya Dean menyelidik.
Pandangan Arkan seketika berubah, ia tampak mempertimbangkan akan memberitahu atau tidak pada sahabatnya itu.
Ia menatap Dean cukup lama, Namun tak lama ia segera mengalihkan pandangannya.
"Sudahlah, lupakan saja," pintanya, Dean tampak menahan diri untuk mendesak Arkan agar menjawab pertanyaannya, sampai akhirnya ia memutuskan untuk pergi.
Meski ragu, Namun akhirnya ia memutuskan untuk memanggil sekretarisnya setelah Dean pergi.
__ADS_1
Dari sekretarisnya itu dia mendapatkan semua informasi yang dia inginkan, dan semua itu membuatnya terdiam.
...Flash Back off...
...***...
Aku tidak percaya apa yang terjadi, aku bertanya - tanya apa yang dia pikirkan sampai berani memelukku.
"Aku merindukanmu, Adara." ucapan yang tiba - tiba aku dengar itu membuat aku terdiam.
Aku sampai tidak tahu harus bersikap seperti apa, aku menyadari seseorang hendak masuk keruanganku.
Dengan cepat aku memisahkan dirinya dariku, sampai akhirnya orang itu masuk.
Salah satu karyawanku masuk dan memberitahuku bahwa semuanya sudah siap, sontak aku melirik ke Arkan.
...Beberapa menit kemudian ......
"Jadi bagaimana menurutmu?" tanyaku, Arkan tampak masih mengamati pakaian di hadapan kami.
"Bagus, ini akan mempunyai harga jual yang tinggi." terdengar nada puas, dari cara bicaranya.
Arkan sempat melirik ke arahku, sebelum ia beralih ke pakaian yang lain.
"Sepertinya kau sangat detail sekali ya, Adara." aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Seperti itulah kira-kira, semoga kau tidak kecewa dengan hasilnya," ujarku penuh harapan.
"Justru sebaliknya." aku tersenyum menanggapi ucapannya.
Ia menatapku penuh dalam, lalu kemudian ia beralih ke sisi yang lain.
"Arkan." panggilku, ajaibnya Arkan langsung menoleh ketika aku memanggil namanya.
"Bisa aku bertanya sesuatu?" tanyaku, Arkan menatap bingung ke arahku.
Awalnya aku kebingungan harus memulai dari mana, sampai akhirnya aku menemukan kembali yang ingin aku tanyakan kepadanya.
"Saat kau bilang kau merindukan aku ... "
aku mematap wajajnya, aku ingin melihat reaksi yang di tunjukan oleh Arkan, sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
"Bisa kau jelaskan, maksudnya apa?" tanyaku.
Aku pikir Arkan akan menunjukkan reaksi terkejut atau semacamnya, Namun Arkan malah menunjukkan sebaliknya. Ia tampak santai, seperti tidak ada apapun yang terjadi.
"Bukannya sudah sangat jelas?" tanya Arkan, aku tertegun mendengarnya.
Arkan menatapku sambil terus berusaha mendekat, seketika jantung berdebar kencang.
Untuk kesekian kalinya ia membuat jantungku berdebar sangat kencang, hingga aku terheran di buatnya.
Jantung itu semakin tak karuan, saat Arkan sudah berada pada jarak yang sangat dekat denganku.
Pandangan kami saling bertemu, sikap yang Arkan tunjukkan membuat aku tak bisa berkutik.
...🌼🌼🌼🌼...
Hai ... semoga suka sama ceritanya.
Jangan lupa like and komen, vote dan juga review-nya
Kalau ada masukkan silahkan komen di bawah, silahkan komen sebanyak - banyaknya.
__ADS_1