
"Happy reading"
ππππππππππππππ
Sikapku kembali canggung, saat Kak Shopia bertanya kenapa, aku tau Kak Shopia tidak akan mepermasalahkan nya.
"Soal yang ... tadi, Aku _"
"Yang tadi ya?" potong Kak Shopia.
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, kamu juga jangan terlalu banyak pikiran, kasihan bayi kamu, kan?" entah kenapa ucapan Kak Shopia berhasil membuatku tenang.
"Mama!" panggil Adelia sambil berjalan menghampiri kami.
Gadis kecil itu merentangkan tangannya, seolah meminta gendong
Kak Shopia yang sangat mengerti anaknya itu, langsung menggendong anaknya yang lucu itu.
"Kenapa, sayang?" tanya Kak Shopia. aku memperhatikan interaksi antara ibu dan anak itu. mereka terlihat dekat.
"Eugh ... Dar!" seru Kak Shopia.
"Ya?" tanyaku bingung.
"Aku kayaknya harus pergi," ujar Kak Shopia.
"Sekarang banget, Kak?" tanyaku dengan memasang raut sedih.
"Duh ... jangan gitu wajahnya, kakak harus pergi sebelum anak ini bikin repot nanti." katanya sambil tertawa kecil.
"Apaan sih, kak?" ucapku seraya terkekeh.
"Lagian ... Adel sama sekali nggak merepotkan kok, ya kan?" gadis itu mengaggukkan kepalanya dengan semangat.
"Ck, kakak masih banyak pekerjaan, jadi nggak masalah kan?" tanya Kak Shopia dengan raut wajah cemas.
"Apaa sih, nggak masalah kok ... kan kapan - kapan bisa kesini lagi," simbatku.
"Atau mungkin aku yang akan ke tempat kakak, lagian bosen di rumah seharian." ucapku sambil cengengesan.
"Yaudah kalau gitu, kakak tunggu." simbatnya.
"Delia! pamit sama tante," pinta Kak Shopia.
"Tante ... Lia pamit ya." ucapnya dengan wajah polos.
"Jaga diri tante, sama dedek bayinya, ya." sambungnya aku hanya terkekeh.
"Iya sayang ... kalau kamu mau punya adek, minta aja ke mama sama papa, ya," ujarku dengan menahan tawa.
"Dara!" mata Kak Shopia melotot ke arahku, aku hanya cengengesan menanggapinya.
"Emang bisa, ya Aunty?" aku hanya menahan tawa mendengar pertanyaan polos dari seorang Delia.
Kak Shopia menatap tajam ke arahku, itu membuatku tak kuasa menahan tawaku.
"Ayo, Delia!" ajak Kak Shopia seraya menggandeng tangan Delia.
"Dah ... tante Rara!" gandis itu melambaikan tangan ke arahku, aku membalas lambaiannya seraya tersenyum.
***
__ADS_1
Malam harinya ...
Aku mencari keberadaan Arkan, kerena setelah makan malam aku tak melihat tanda - tanda Arkan akan pergi ke kamar.
Saat tengah mencarinya, aku melihat pintu ruangan kerja Arkan. terbuka sedikit dengan lampu menyala, aku bisa menebak itu adalah Arkan yang tengah lembur.
"Arkan ... lembur?" aku berjalan ke dapur, di dapur aku membuatkan kopi untuk Arkan.
Saat ke ruangan Arkan. aku melihat Arkan tengah sibuk dengan dokumen dan komputer yang menyala.
Aku berjalan masuk dengan membawa kopi yang tadi aku buat, dengan sangat hati - hati, aku memperhatikan Arkan yang tengah tampak fokus dengan pekerjaannya.
"Kopinya, Pak?!" ucapku seraya menyodorkan kopi di hadapan Arkan.
Arkan tampak terkejut, dan matanya memperhatikan tanganku yang memegang gelas kopi, lalu mengambilnya dari tanganku.
"Dara ... kenapa bukan bibik, yang bikin?" tanya Arkan.
"Kenapa? buatan aku nggak enak?" tanyaku dengan nada nyolot.
"Bukan gitu ... aku cuma nggak mau kamu kecapean, Sayang!" aku hanya tersenyum menanggapi Arkan.
"Kamu jangan khawatir, bikin kopi nggak bikin aku kecapean kok." ucapnya menenangkan Arkan.
Arkan menghela nafas, kemudian matanya kembali melihat komputer.
"Kamu lembur?" tanyaku.
"Iya ... karena aku sementara memegang perusahaan ayah kamu ... jadi pekerjaan aku bertambah sedikit." jelasnya.
"Arkan ... bagaimana kalau ... "
"No!" potong Arkan dengan nada tegas.
"Ish ... aku belum selesai!" desisku kesal.
"Aku tau apa maksud kamu, dan jawabannya masih sama, No!" tegas Arkan.
"Tapi, Arkan!"
"Nggak, Dar!" aku mendengus kesal, kemudian keluar dari ruangan Arkan.
***
Besok paginya ...
Ku lihat Arkan tidak ada di sampingku, sementara jam masih sangat pagi. aku beranjak dari tempat tidur, kemudian mencari keberadaan Arkan.
Aku menelpon Arkan. barang kali Arkan sudah berada di kantornya, namun suara dering ponsel Arkan terdengar dari arah ruangan kerja Arkan.
"Arkan ... masih di ruangan kerjanya?' batinku lalu berjalan menuju ruangan kerja Arkan.
Aku membuka pintu ruangan kerja Arkan. ku kulihat Arkan tengah tidur di sofa kerjanya.
Perlahan aku mendekati Arkan. lalu menyentuh bahunya.
"Arkan!" panggilku dengan nada lembut.
Ku lihat Arkan mulai membuka matanya. setelah melihatku Arkan merubah posisinya menjadi duduk.
"Dara ... ada apa?" tanya Arkan dengan suara parau dan mata sayup.
__ADS_1
"Kamu kenapa tidur disini, sih?" tanyaku heran.
"Aku pikir kamu marsh, dan aku tidak boleh tidur di kamar." jelasnya.
Aku tertegun mendengar hal itu, bayangkan Arkan yang tidur semalaman di sofa, hanya karena aku yang marah dengannya.
"Mau aku marah atau enggak ... seharunya kamu tidur di kamar, kan kita punya kamar tamu," ujarku.
"Aku lupa ... lagian aku udah terlalu capek jadi aku pikir akan lebih baik, kalau langsung tidur." jelas Arkan.
"Astaga ... yaudah kamu mandi, nanti aku siapin sarapan kamu," uajrku.
"Makasih ya, sayang!" Arkan mencium pipiku, lalu langsung pergi ke kamar mandi.
Aku pun pergi ke dapur, dan menyiapkan sarapan untuk Arkan.
***
Tak berselang waktu lama, Arkan datang dengan segala persiapannya.
"Kamu ngerjain proyek baru, sampai harus begadang begitu?" tanyaku.
Arkan menatapku sekilas, kemudian menganggukkan kepalanya. menanggapi pertanyaanku.
"Tadinya Ayah kamu yang mau mengerjainnya, tapi setelah aku pikir - pikir kalau aku bisa kenapa enggak, iya kan?" aku hanya tersenyum menanggapi Arkan di sertai dengan anggukan kepala dariku.
Rasanya ini waktu yang tepat untuk membahas, apa yang Maura katakan, tapi aku harus memulai dari mana?
Aku memperhatikan Arkan. yang tengah sibuk dengan makanannya. saat Arkan memergokiku sedang melihatnya. dengan cepat aku alihkan pandanganku.
"Kamu kenapa?" tanya Arkan bingung.
"Eh?!" ucapku kaget.
"E-eng ... anu ... ada yang ingin aku tanyakan," ujarku dengan nada gugup.
"Soal?" tanya Arkan yang mulai serius.
"Eung ... "
Drttt!
Sial!! padahal tadi itu waktu yang tepat, tapi perhatian Arkan jadi terpecah, karena Arkan menerima telpon.
Aku memperhatikan Arkan. yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Ini dari papa ... aku harus pergi sekarang, soalnya aku ada janji dengan papa." ucap Arkan.
"Yaudah ... kamu hati - hati, ya," pintaku.
"Kamu juga, ya." Arkan mencium keningku, lalu setelah mengambil tas kerjanya. Arkan melenggang pergi.
Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahasnya dengan Arkan. tapi lain kali aku harus bisa membahasnya. atau aku sendiri yang akan mencari tau.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Hai semoga suka ya, kalau kalian punya masukkan silakan komen di bawah.
Jangan lupa buat like and komen vote dan juga review-nya.
Kalau kalian ingin author mampir, silakan tinggalkan jejak, kalau author sempat pasti author mampir ke tempat kalian.
__ADS_1
Ig : S_anastayha
Facebook : anastayha silfa