Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Kencan?!


__ADS_3

...Drrrtt! ...


Aku bersiap untuk masuk ke mobil, namun suara dering dari ponselku menghetikanku untuk memasuki mobil


Aku berpikir sangat keras, Namun pikiranku teralihkan dengan suara dering dari ponselku lagi.


"Hallo." ucapku.


"Kafe Valkri jam 12, jangan lupa untuk datang." belum sempat aku mengatakan apapun, telponnya langsung di matikan oleh Mamaku.


Aku menatap ponselku, dalam hati aku bertanya - tanya. Apalagi kali ini?


...****...


Sesuai dengan permintaan dari Mama, pada Jam makan siang aku pergi menemuinya di kafe tersebut.


"Adara ... benar?" tanya seseorang yang tampak asing bagiku, kini dia berdiri di dekatku.


Otakku mencari informasi mengenai laki - laki tersebut, Namun aku tak berhasil mengenalinya.


"Kau siapa?" tanyaku dengan nada Dingin.


"Aku, Axel." ucapnya memperkenalkan diri seraya menyebutkan nama.


"Aku kesini atas permintaan dari, Mamamu," ungkapnya.


"Lagi?!' batinku mulai kesal.


Setelah mengetahui hal tersebut, aku kehilangan kata - kata. Seharunya aku sudah menduga mereka tidak akan menyerah.


"Boleh aku duduk?" tanyanya dengan nada sopan. aku hanya menganggukkan kepala menanggapinya.


Ini pertama kalinya aku duduk berdua dengan laki - laki, rasanya seperti kencan.


Suasana yang hening membuat situasi canggung diantara kami.


"Kau bekerja sebagai apa?" tanyanya menyelidik.


"Aku seorang desainer, ada masalah?" tanyaku dengan nada dingi, disertai wajah datar.


Saat dia terus bertanya mengenai diriku, aku hanya bisa menghela nafas. Diam - diam aku berharap semuanya cepat selesai, karena rasanya aku sudah tidak sanggup.


Aku mencari - cari alasan agar pertemuan itu cepat berakhir, dan itu ternyata cukup berhasil.


Setelah dia pergi, aku hanya fokus ke ponselku dan tak memperdulikan apapun di sekelilingku.


Setelah mengetahui jam makan siang hampir berakhir, aku mulai bersiap untuk pergi.


Sayangnya, di tengah jalan, aku kembali terjebak kemacetan yang cukup parah sehingga membuatku prutasi.


Dengan sabar aku menunggu lampu hijau kembali, begitu lampu sudah menunjukkan hijau aku melajukan mobilku dengan semangat.


...Drrr!!...


Aku berkonsentrasi penuh saat menyetir, Namun ponselku kembali berdering sehingga memecah konsentrasiku.


Dari tempatku saat ini, aku bisa melihat nama Mamaku tertera disana. Mengetahui itu aku memilih mengabaikan telpon darinya.


...Drrrt!...

__ADS_1


Fokusku kembali teralihkan, sontak aku meraih ponselku dan langsung mematikannya.


Sekarang aku kembali fokus menyetir dengan tenang, setidaknya untuk beberapa jam kedepan.


...****...


Arkan aku untuk datang ke perusahaan, untuk mengurusi beberapa hal disana.


Aku berusaha untuk berkonsentrasi, Namun kencan itu mengacaukan pikiranku.


Di balik pikiranku yang kacau, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, Itulah sebabnya aku berusaha untuk fokus.


Masih dengan pekerjaan yang sama, aku berusaha menyelesaikannya secepat mungkin.


Aku kembali berkonsentrasi, dan akhirnya pekerjaanku selesai dengan cepat.


Aku membereskan pekerjaanku, sebelum memutuskan untuk pergi.


Aku yang mengira tidak akan ada yang datang ke ruanganku, Tiba - tiba di buat terkejut dengan Arkan yang ada di ruanganku.


"Pekerjaanmu, sudah selesai?" tanyanya dengan nada ramah. Sambil tersenyum, aku menanggapinya dengan anggukkan kepala.


"Cepat sekali." gumam Arkan.


"Hah? apa?" tanyaku seraya menatap bingung ke arahnya.


"Bukan apa - apa." jawabnya dengan cepat, seketika aku menatapnya penuh curiga ke arahnya.


Tiba - tiba dia mengalihkan topik pembicaraan, sepertinya itu untuk mengalihkan pikiranku.


Sambil melihat dirinya, aku mengamati ada sesuatu darinya yang aneh, Namun aku masih harus mencaritahu lebih dulu.


Aku merasa ada yang salah dengan diriku, Namun aku tidak terlalu memperdulikannya.


Aku menyusuri lorong untuk pergi meninggalkan kantor Arkan, sambil melewati orang yang berjalan melewatiku aku mengamati sekeliling.


Aku pikir aku baik - baik saja, Namun tiba aku merasa lemas hingga harus menghentikan langkahku sejenak.


Aku pikir berhenti sebentar akan membuatku jauh lebih baik, Namun tiba - tiba aku kehilangan ke seimbangan.


Aku yang berpikir akan jatuh, Namun siapa sangka Arkan datang entah itu di saat yang tepat atau tidak ia menangkapku lalu membawaku pada rangkulannya.


Jantungku berdebar kencang, saat dia merangkulku, sungguh aku tidak mengerti mengapa seperti itu.


Belum lagi pemikiran orang yang melihatnya, Namun sepertinya Arkan tidak memperdulikannya.


Saking terkejutnya aku, otakku rasanya tak mampu berpikir. Untung seseorang datang menghampiri kami, sehingga membuat aku kembali sadar.


"Nona Adara, anda baik - baik saja?" tanya wanita yang merupakan salah satu karyawan Arkan.


Aku berusaha berdiri dengan sempurna,


Namun Arkan masih merangkulku.


"Dia kelihatannya tidak sehat, kau bisa membawakan sesuatu?" tanya Arkan, ia mengangguk patuh lalu pergi, aku menatap punggungnya yang perlahan menghilang dari pandanganku.


...Beberapa menit kemudian .......


Aku duduk sambil menimati minuman hangat yang di bawakan oleh karyawan Arkan. di perhatikan olehnya sungguh membuat tidak nyaman.

__ADS_1


Aku meletakan gelas minumanku, tepat di meja yang berada di depanku.


Aku memberi isyarat agar karyawannya itu pergi, hingga akhirnya tinggal kami berdua.


Mendapatkan perhatian dari seorang pria, selalu menjadi kekhawatiranku.


Belum sempat aku memulai apa yang ingin aku katakan, Arkan menatapku dengan tatapan yang belum pernah aku lihat sebelumnya.


"Apa kau ... membutuhkan hal lainnya, Adara?" tanynya dengan nada lembut.


"Apa kau tidak takut, tersebar gosip?" tanyaku balik, aku melihatnya menaikan sebelah alisnya, aku berbalik menatap heran ke arahnya.


"Gosip seperti apa?" hampir saja aku kehilangan kesabaran, kerena Arkan malah kembali bertanya.


"Sudah lupakan, aku rasa kau hanya berpura - pura bodoh." sindirku dengan nada sinis.


Ia tertawa menanggapiku, sedangkan aku semakin emosi melihatnya seperti itu.


"Kau pikir akan muncul gosip seperti apa?" tanya dengan nada santai.


"Kalaupun akan muncul gosip, itu akan segera menghilang dengan cepat."


Kenyataan aku dan Arkan orang yang cukup berpengaruh, tentu saja bisa menghilangkan rumor dengan cepat.


Namun ketika mengetahui kenyataan yang lain, seketika membuatku kehilangan kata - kata.


Jika dua keluarga yang saling bermusuhan terlibat sekandal, dan sampai ketelinga Papaku. Tentunya itu bukan hal yang baik, seketika aku berpikir untuk menjaga jarak darinya.


Aku berpikir bagaimana caranya agar bisa membuat jaga jarak tersebut, setelah berpikir keras akhirnya suatu cara terpikirkan olehku.


"Aku harus pergi mengurusi hal lain, permisih Direktur." setelah membungkuk hormat aku bergegas pergi.


Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Arkan setelah aku pergi, Namun sku mencoba untuk tidak memikirkannya.


...Beberapa menit kemudian .......


Di pertengahan jalan, aku menepikan mobilku untuk menghubungi seseorang.


Setelah memutuskan untuk menyerahkan urusan di kantor Arkan kepada orang kepercayaanku,


aku berharap masalah selesai.


Aku kembali menjalankan mobilku, Namun pikiranku masih pada permasalah yang sama.


...Satu jam kemudian .......


...Apartement...


...17 : 00...


Sepertinya menyalakan ponselku, sebuah kesalahan yang besar.


Baru saja aku merasa tenang di apartementku, tiba - tiba ketenanganku di usik oleh telpon dari Mama.


💮💮💮💮


Hai ...


Jangan lupa like and komen, vote dan juga review-nya.

__ADS_1


__ADS_2