Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Picnic dan Arkan


__ADS_3

"Gaish ... aku laper nih ... ada yang tau, kapan pesanan kita datang?" tanyaku, sontak Shane dan Vivia menatap serius ke arahku.


"Dar ... kamu bisa serius nggak?" tanya mereka berdua dengan nada dingin.


"Malah aku serius nanya," simbatku, saat ku edarkan pandangan, aku melihat waiters yang tadi mencatat pesanan datang dengan membawa pesanan.


Aku menghela nafas lega, karena setidaknya perdebatan mereka teralihkan.


Saat waiters itu tiba di meja kami, dia langsung menata dengan rapi di meja, kemudian pergi meninggalkan kami.


"Kalian hentikan sesaat perdebatan kalian, sekarang waktunya menikmati hidangan yang ada di depan mata," ucapku dengan mata berbinar - binar.


"Bentar." ucap Shane hendak menahanku ketika ingin menyantap makanan yang sudah di depan mulutku.


"Kenapa?" tanyaku bingung.


"Memangnya ibu hamil, boleh makan- makanan pedas?" tanya Shane


"Memangnya kenapa?" tanyaku pura - pura tidak mengerti.


"Nggak baik Adara sayang ... jadi kamu makan yang lain aja, ya." Vivia memindahkan makanan yang tadi hendak aku lahab, dan di ganti dengan makanan terdapat sayurannya.


"Kenapa?" tanya Shane melihat wajah cemberutku, aku mengabaikannya tapi Shane malah terkekeh.


...****...


...Malam harinya .......


Aku menunggu Arkan mengabariku apakah Arkan. sudah sampai atau belum, karena sejak kepergiannya Arkan tidak menghubungiku sama sekali.


"Arkan ... kenapa belum ngabarin, ya?" aku tak bisa melepaskan rasa khawatir yang terus bergejolak di dalam hatiku, sebagai istri rasanya wajar kalau aku khawatir.


Aku menunggu Arkan hingga tengah malam, namun Arkan tak juga mengabari, tanpa aku sadari aku sudah tertidur.


...^^^Keesokan paginya ....^^^...


Aroma masakan yang amat familiar tercium sampai kamar, hingga membuat aku terbangun dari tidur.


Ku singkirkan selimut yang membalut tubuhku, kemudian berhabur keluar menuju asal aroma menggoda itu.


Aku di buat terkejut, setibanya aku di dapur pemandangan yang aku lihat, adalah Mama Arkan yang sibuk memasak dengan bibik.


"Mama?" wanita yang aku panggil itu menoleh, dan saat melihatku dia tersenyum.


"Maaf ... Mama jadi bangunin kamu, ya?" tanya Mama dengan nada lembut.


"Nggak kok, Mama masak apa?" tanyaku penasaran dengan sedikit mengintip.


"Kamu mandi gih, habis itu kita kesuatu tempat," ujar Mama Arkan.


"Hah? kemana, Ma?" tanyaku bingung.


"Nanti juga kamu tau ... udah sana mandi, dandan yang cantik." ucap Mama kemudian beralih ke masakkannya. aku hanya menatap wanita itu dengan tatapan bingung.


......***......


Di dalam mobil aku terus mengecek ponselku, ternyata chatku dari semalam belum di balas, bahkan di lihat pun juga, tidak, aku menarik nafas berat, sontak itu menarik perhatian Mama Arkan.


"Kamu kenapa?" tanya Mama sambil berusaha fokus untuk menyetir.


"Eh?!" sentakku terkejut.

__ADS_1


"Kamu mikirin, apa?" tanya Mama Arkan.


"Ibu hamil nggak boleh banyak pikiran, kamu pasti mikirin Arkan, iya kan?" Aku hanya menganggukkan kepala menanggapinya.


"Arkan ... dia sudah hubungi, kamu?" tanya Mama Arkan. lagi - lagi aku hanya menggelengkan kepala untuk menanggapinya.


"Ck, anak itu ... kamu jangan khawatir ... nanti akan Mama marahi habis-habisan, ya." aku tersenyum menanggapi ucapan Mama. aku sedikit terhibur dengan kehadiran Mama Arkan saat ini.


...***...


Aku dan Mama tiba di sebuah taman, disana banyak orang yang sepertinya tengah menghabiskan waktu dengan keluarga.


Disana banyak anak - anak yang tampak ceria bermain dengan teman - teman barunya. aku tersenyum melihat mereka.


"Kita mau ngapain, Ma?!" tanya Arkan.


"Picnic," ucap Mama sekilas lalu berjalan mendahuluiku.


Aku hanya melihat Mama dan bibik menyiapkan tempat picnic kami, karena Mama tidak membiarkan aku untuk membantu.


"Sebentar lagi ibu kamu, akan menyusul," ungkap Mama.


"Jadi kamu santai aja dulu, ya." ucap Mama, aku hanya tersenyum kemudian memperhatikan sekitar.


...***...


Di tempat Arkan, London pukul 08 : 30


Arkan yang tampak berwibawah dengan setelan jas, membuatnya menjadi menegaskan siapa dirinya. di dampingi kedua sahabatnya Dean dan Dion.


"Selamat pagi semua!" ucap Arkan dengan suara tegas


"Pagi ... " sahut semua yang ada di ruangan.


"Pak! belakangan ini ... perusahaan memilik saingan yang cukup berat," ujarnya.


"Lalu bagaimana kita menyelesaikan masalah ini?" tanyanya.Arkan terlihat berpikir dan amat serius.


"Selama ini apa yang di lakukan oleh, saingan berat kita?" tanya Arkan.


"Saat ini, mereka tengah gencar mencari investor baru, dan juga memperluas jangkauan mereka," ungkapnya.


"Jadi bagaimana, sebaiknya?" tanya Arkan.


"Sebaiknya kita juga memperluas jangkauan kita, dan menambah kolega kita." ucapnya.


Arkan tampak mempertimbangkan sesuatu. semua tampak menunggu keputusan Arkan.


"Baik, kita lakukan rencana ini." ucap Arkan.


"Saya minta laporan perusahaan, akhir - akhir ini, dan juga beberapa bulan lalu," pinta Arkan. setelah itu Arkan berdiri, kemudian pergi meninggalkan ruang rapat.


...***...


...Di ruangan Arkan 14 : 00...


Arkan tengah memeriksa dokumen yabg dia minta dengan serius, Dean dan Dion sibuk dengan laptop mereka memeriksa laporan yang di kirim melalui e-mail perusahaan.


"Btw, Arkan!" panggil Dean.


"Hmm ... " gumam Arkan masih fokus dengan dokumen di tangannya.

__ADS_1


"Kamu udah ngabarin istri kamu, kan?" tanya Dean.


Arkan terdiam, seraya melirik ke arah Dean.


"Kenapa tiba - tiba?" tanya Arkan menatap wajah Arkan dengan raut cemas.


"Nggak usah cemas gitu, istri kamu nggak apa - apa," ungkap Dean.


"Aku cuma tanya, karena Vivia tanya." lanjutnya.


"Katanya ... istri kamu sedih, karena kaku nggak kabarin dia." sambungnya.


Arkan mencoba menghubungiku, namun karena kesal aku merijek telpon darinya.


"Telpon aku, dirijek!" ekpresi Arkan berubah menjadi serius, bercampur dengan rasa khawatir.


"Masih, juga?" tanya Dean.


"******! jangan - jangan istri kamu marah, Arkan!" ucap Dion memanas - manas sih.


"Nggak usah manas-manas sih, bisa?" Arkan menatap tajam Dion karena kesal.


Melihat Arkan yang begitu tampak kesal, hanya tekekeh seraya menahan tawa.


"Coba telpon pacar kamu, Dean!" pinta Arkan.


"Hah? ngapain?" tanya Dean bingung.


"Buru!" seru Arkan. mau tak mau Dean menurut lalu menelpon Vivia.


"Gimana?" tanya Arkan harap cemas.


"Dia lagi nggak sama istri kamu, Arkan!" ungkapnya.


"Hah?!" Arkan memijat keningnya. tak tau apa yang harus di lakukan selanjutnya.


"Dion!" panggil Arkan.


"I-iya?" tanya Dion dengan nada terbata.


"Telepon, Shane!" pinta Arkan.


"Hah?! istri aku, juga?!" Arkan menatap tajam Dion, dengan terpaksa Dion menurut.


"Gimana?" tanya Arkan.


"Nggak juga," jawab Dion.


"Mungkin ... dia masih marah?" Arkan tak menanggapi ucapan Dean dan memilih kembali ke tempat meja kerjanya.


"Arkan!" panggil Dion. Arkan tak bergeming masih menatap layar ponselnya.


"Kalau misaknya kita telpon Mama kamu, sama ibunya Adara ... gimana?" saran Dion.


Ekpresi Arkan langsung berubah, dia seperti mendapat harapan untuk hidup.


"Ide, bagus!" seru Arkan. pertama Arkan menelpon mamanya terlebih dahulu.


[ Arkan! ] Arkan menjauhkan ponselnya. dari telinganya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


Jangan lupa like and komen vote dan juga review.


__ADS_2