Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Berebut Remot Tv


__ADS_3

Ketika sadar kembali, aku melihat ruangan yang bisa membuat aku langsung tau, kalau aku masih berada di rumah sakit.


"Dara!" panggil Arkan.


Aku menoleh ke Arkan. terlihat raut khawatir di wajahnya.


"Kamu tadi, kenapa?" tanya Arkan.


Aku mencoba mengingat, tapi aku tak mengingat apapun.


"A-aku tidak tau, Arkan!" jawabku.


"Aku melihat seorang gadis tengah menyetir mobil, lalu tiba-tiba_" tiba - tiba aku tak sanggup melanjutkannya karena itu seperti trauma bagiku.


"Tiba-tiba_"


Greb!


Arkan mendekapku ke dalam pekukkannya. dia seperti tau apa yang aku rasakan saat itu, lalu tangisku kembali pecah di pelukkan Arkan.


"Sudah ... semua akan baik-baik saja, mengerti?"


Aku merasa sedikit tenang, saat Arkan mengatakan itu, aku tau Arkan akan selalu menjagaku.


"Kau tau, Dara!" ucap Arkan.


"Apa?" tanyaku.


"Ada sisi baiknya semua ini," ujar Arkan.


"Sisi baik, apa?" tanyaku.


"Pertama ... tuhan masih membiarkan kamu, masih bersama aku, Dara!"


"Terus?" tanyaku.


"Yang kedua ... kamu tidak melupakan aku, Dar!"


"Memangnya apa yang terjadi kalau aku, sampai melupakan kamu?" tanyaku.


"Kalau kamu sampai melupakan aku ... aku akan paksa kamu buat mengingat aku." jawab Arkan.


"Kenapa?" tanyaku.


"Karena aku tidak mau, kamu melupakan aku, Dar!"


"Kenapa?" tanyaku mencoba memancing Arkan.


"Because You're the reason preseved."

__ADS_1


"A-Arkan!"


Arkan menutup mulutku, dengan jari telunjuknya. seakan tak membiarkan aku bicara.


"You are my world."


"Your are My heart."


"You are my place to go home."


"And you are my reason for going home."


Air mata yang sejak tadi aku tahan jatuh begitu saja.


Semua yang dikatakan Arkan. benar - benar membuatku kehilangan kata - kata.


Greb!


Aku berhambur memeluk Arkan. lalu di balas pelukkan hangat oleh Arkan.


"Please ... Be strong for me, bisa kan?" tanya Arkan.


Aku menarik nafas berat sebelum akhirnya aku melepas peluk kan Arkan. lalu menatapnya.


"I will be strong."


"I will Try to remember everthing."


"Aku tidak mau kamu jadi kenapa napa, Dar!" kata Arkan dengan wajah memelas.


"Tidak, Arkan!" seruku.


"Akh harus mencari tau, karena aku merasa semuanya adalah disengaja,"


"Disengaja?" tanya Arkan.


"Apa maksud kamu, dengan disengaja?" tanya Arkan lagi.


***


"Tidak ada yang ketinggalan, kan?" tanya Arkan.


"Iya ... sudah berapa kali kamu menanyakan itu, Arkan!" keluhku.


"Kamu yakin, tidak apa-apa?" tanya Arkan.


Saat aku berada di depan mobil. tubuhku kembali begetar, tapi aku harus kuat demi Arkan.


"Aku baik-baik saja, Arkan!"

__ADS_1


Aku masuk lebih dulu, disusul oleh Arkan.


Arkan menoleh ke arahku, setelah yakin aku baik - baik saja, Arkan melajukan mobilnya.


***


2 jam kemudian ....


Aku melihat penampakan rumahku, begitu aku sampai, aku langsung keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Selamat datang, Non!" ucap Bibik.


"Terimakasih, Bik!" balasku.


"Sini tuan ... biar bibik bawa ke kamar," ujar Bibik.


Bibik mengambil tasku, dari tangan Arkan.


"Terimakasih ya, Bik!" ucap Arkan.


"Terimakasih, Bik!" ucapku.


"Sama-sama."


Bibik pergi dari hadapaku, lalu membawa tas itu, ke kamarku.


"Kamu mau sekalian, istirahat?" tanya Arkan.


Aku yang masih merasa lelah, akhirnya menuruti Arkan untuk istirahat.


***


Malam harinya ....


"Ih ... kan aku yang nonton duluan, Arkan!" gerutuku.


"Gantian ... kamu dari tadi drama mulu," ujar Arkan.


Saat aku ingin merebut remot tv. Arkan menjauhkannya dariku agar aku tidak bisa menjangkau dan mengganti channelnya.


Aku memutuskan untuk mengabaikan Arkan. lalu meninggalkan Arkan ke kamar.


🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼


Hai ....


Semoga semua suka ya ...


Kalau ada masukkan, krisan atau pertanyaan silakan komen di bawah.

__ADS_1


Jangan lupa like and komen, Vote dan review juga.


__ADS_2