Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Ancaman Dari Maura


__ADS_3

Arkan berjalan mendekat ke tempat tidur, lalu menutup dirinya dengan selimut. Arkan sepertinya marah besar kepadaku.


Aku berjalan ke tempat tidur, dengan posisi membelakangi Arkan. malam itu kami tidur dengan perasaan kami masih - masing.


...***...


...Besok paginya ......


Aku terkejut, karena untuk pertama kalinya Arkan mendiamiku. hal itu membuat perasaanku sangat tidak nyaman.


"Kalian kenapa?" tanya Mama yang bingung setelah memperhatikan kami berdua.


Arkan dan aku seketika terdiam, tidak ada satupun dari kami yang menjawab.


"Loh ... kok nggak di jawab?" tanya Mama lagi.


Aku melirik Arkan. dari sikapnya dia tidak akan mau menjawab.


"Nggak kok, Ma!" jawabku menenangkan.


"Kalian, yakin?" tanya Mama tidak percaya.


"Iya ... Ma!" jawabku. sepertinya Mama masih tidak percaya dengan ucapanku, tapi Mama memilih untuk diam.


Aku memperhatikan Arkan yang masih sibuk dengan makanannya, untuk pertama kalinya Arkan tidak memperdulikanku.


Deretan pikiran terus menghantuiku, termasuk rasa bersalah karena sudah membuat Arkan marah. karena mengkhawatirkan aku.


Setelah sarapan selesai aku dan Arkan berpamitan, selama di jalan rasa canggung melimuti kami berdua.


Aku ingin memulai, tapi tak tau harus mulai dari mana.


Ku kumpulkan semua keberanian yang bisa aku dapat, aku memberanikan menatap Arkan.


"Kenapa?" pertanyaan Arkan yang tiba - tiba. membuat aku terkejut.


"Aku ... aku minta maaf." ucapku dengan rasa cemas.


"Kenapa?" tanya Arkan. tanpa melirik ke arahku.


"Karena sudah pergi tanpa memberitahu," simbatku.


"Terus?" tanya Arkan lagi. sepertinya Arkan sengaja memancingku.


"Sudah membuat kamu khawatir," jawabku.


Setelah mendengar apa yang aku katakan, Arkan melihat ke arahku. jantungku berdegub kencang seperti pertama kali Arkan menatapku.


"Bagus kalau kamu sadar kesalahan kamu, aku minta kamu jangan ulangi lagi ya," pinta Arkan dengan raut wajah sedih.


"Maaf." ucapku dengan raut wajah menyesal, tiba - tiba aku merasakan ada sesuatu di kepalaku, ternyata itu tangan Arkan, dengan sangat lembut Arkan mengusap kepalaku.


Usapan tangan Arkan di kepalaku, membuat aku bukan hanya nyaman tapi juga menjadi tenang.


Sepanjang jalan kami akhirnya tidak canggung lagi, semuanya kembali seperti biasa hingga Arkan mengantarku ke rumah.


......***......

__ADS_1


Aku mulai risih saat Arkan kembali meninggalkan aku sendiri di rumah, sedangkan dia pergi bekerja, tapi setiap kali aku meminta ikut dia tidak pernah mengizinkan karena takut terjadi sesuatu denganku dan juga bayinya.


Demi menghindari rasa bosan di rumah, aku melakukan kegiatan di rumah, seperti eksperimen memasak.


"Non kenapa nggak suruh saya saja, nanti tuan muda marah gimana?" terlihat raut khawatir di wajahnya.


"Udah ... bibik tenang aja, masak nggak akan bikin capek kok." ucapku menenangkan.


"Tapi, non ... "


"Lagian bibik kan bantuin aku, jadi jangan khawatir berlebihan, ya," mau tak mau bibik mengiyakan ucapanku, lalu kembali membantuku.


...Beberapa jam kemudian .......


Makanan yang aku masak tadi sudah siap, tinggal aku yang harus mencobanya.


Pertama yang akan aku coba adalah, puding buatanku, setelah aku coba, syukurlah rasanya tidak mengecewakan.


Berikutnya aku mencoba cakenya, setelah aku coba rasanya benar - benar memanjakan lidah, syukurlah mengikuti di internet cukup berhasil.


"Bagaimana, non?" tanya Bibik yang menghampiriku setelah pekerjaannya selesai.


"Syukurlah tidak mengecewakan, bibik mau ikut coba?" tanyaku dengan senyum mengembang di wajahku.


"Eh?!" ucap bibik kaget, mendengar pertanyaanku.


"Boleh, Non?" tanya Bibi canggung.


"Loh ... kok tanya gitu?" tanyaku heran.


"Tapi ... "


"Duduk, Bik ... " Bibik menurut dan duduk di sampingku. aku memberikan bagian untuk bibik, kemudian membiarkannya mencobanya.


"Gimana?" tanyaku penasaran.


Aku mengamati Bibik. yang tampak masih mencicipi, aku senang melihat raut wajah senangnya.


"Enak, Non!" serunya.


"Saya tidak mengira .... non jago masak juga," pujian bibik membuat aku malu.


"Bibik bisa aja, itukan mengikuti resep ... aku mana bisa bikin." ucapku yang tidak ingin berbangga hati.


Kami berdua kembali menikmati makanan yang telah kami buat bersama, untuk sesaat rasa bosan itu akhirnya menghilang.


......***......


...Di kantor Arkan...


Arkan yang tengah rapat dengan para pegawainya, melihat ke semua pegawainya yang tampak tegang.


Belum pernah para pegawainya melihat Arkan, serius pada setiap rapat, tapi kali ini keseriusan Arkan. membuat seisi ruangan menjadi tegang.


"Kamu yakin, dengan rencana kamu?" tanya Arkan dengan nada dingin.


"Cukup yakin, Pak!" simbatnya.

__ADS_1


Arkan terdiam, namun seperti menimbang - nimbang sesuatu.


Otak Arkan berpikir keras, apakah ia harus menjalankan rencana yang di ajukan oleh karyawannya barusan.


"Ok ... kita lewatkan dulu, selanjutnya." Arkan yang terkenal hati - hati dan penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan, bukan hanya isapan jempol belakang, karena Arkan tidak ingin ada masalah kedepannya.


...***...


Karena soal ruangan rahasia itu terus menghantuiku, aku mencoba menemui Maura sekali lagi. karena cuma dia yang bisa aku minta informasinya.


"Ada apa, lagi?" tanya Maura dengan nada nyolot.


"Kamu benar soal, ruangan rahasia itu," ujarku, Maura tersenyum sinis mendengarnya.


"Katakan dari mana kamu tau soal itu, Maura?!" tanyaku dengan nada penuh penekanan.


"Kamu tau kan, semua tidak di dapat kan dengan gratis, ada harga yang harus di bayar." ucapnya dengan sombong.


"Bagaimana kalau aku menambahkan masa tahanmu, Maura?!" ancamku. Maura menatap tajam ke arahku.


"Kita lihat apa kau bisa bermain - makn lagi, jadi bagaimana?" aku mencoba menekan Maura dengan ancamanku, tapi sepertinya itu tidak berpengaruh.


"Silahkan saja," simbatnya dengan nada santai.


"Apa kau pikir ... kau bisa menekanku, Adara?!" ucap Muara menantangku.


"Tidak semudah itu, lagi pula ... bukannya sudah aku bilang, untuk sisanya kau cari tau sendiri?" aku semakin kesal melihat kepala semakin besar. hanya karena dia tau rahasia Arkan dan keluarganya.


"Kenapa kau tidak bisa, mencari tahunya sendiri?" tanya Maura dengan nada merendahkan.


"Ternyata di penjara di bisa merubah sikap jadi jauh lebih baik," ujarku.


"Kalau begitu aku akan bilang pada pengacaraku agar, mengurus masa penahanmu, agar di tambah." ancamku.


......Brakk!!......


Aku terkejut Maura tiba - tiba menggebrak meja, hingga aku tak bisa berkata - kata.


"Jangan coba - coba, atau aku tidak akan bisa menjamin apa yang akan aku lakukan," Muara dengan kemarahannya berbalik mengancamku.


Tak lama polisi datang dan membawa Maura kembali ke sel tahannya. aku tidak menyangka semua akan berakhir seperti ini.


Aku berpikir Maura bisa ku ajak bicara, tapi ternyata aku salah besar, atau mungkin dia memang sengaja mempermainkanku?


🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Hai .... semoga suka ya sama jalan ceritanya, jangan lupa untuk like and komen vote dan juga review.


Kalau ada masukkan silahkan komen di bawah, jangan lupa buat tinggalin jejak kalau kalian ingin author mampir ke tempat kalian.


ok see you gaish ...


sampai jumpa di cerita selanjutnya.


Ig : S_anastayha


FB : Anastayha silfa

__ADS_1


__ADS_2