Red Thread Destiny

Red Thread Destiny
Menyerah Atau Masih Dengan Keputusan


__ADS_3

"happy reading"



"Iya, Arkan!" gadis itu menghela nafas, seraya berkacak pinggang, entah berapa kali suaminya itu, mengingatkan dirinya untuk makan siang bersama.


"hmm...ok, Bye!" Arkan mematikan sambungan telponya, dan percakan mereka di telpon berakhir disana.


***


di kantor Arkan, setelah selesai menelpon Adara, Arkan kembali fokus ke pekerjaannya.


Tok tok tok....


Arkan menghentikan kegiatannya sebentar, dan menoleh ke pintu ruangannya.


"Masuk!" seru Arkan, kemudian kembali ke pekerjaannya


"Maaf pak, ada tamu," ungkap gadis itu, Arkan menaikkan sebelas alisnya, dan menatap bingung gadis itu.


"Tamu? siapa?" tanya Arkan heran.


"Gue!" seru seseorang, Arkan dan sekretarisnya itu menoleh ke sumber suara, dan dia di buat kaget, karena yang datang adalah Maura.


Mau apa lagi gadis itu, bukankah semalam sudah cukup untuknya.


"Kamu boleh pergi." sekretarisnya itu mengangguk kan kepala dan menunduk memberi hormat, kemudian gadis itu pergi dari ruangan Arkan.


"Lo, ngapain kesini?" tanya Arkan dengan nada dingin.


"Apa semalam masih, nggak cukup juga buat, lo?!" nada suara mulai meninggi, dan gadis itu semakin mendekat ke Arkan.



"Apa kamu pikir, kejadian semalam akan membuat aku takut?" tanya Maura, mulai melancarkan rencananya.



gadis itu mengubah posisinya, kemudian memainkan dasi Arkan.


"Ayolah sayang, kamu lebih kenal, aku." ucapnya.


"Aku nggak akan nyerah, sampai aku mendapatkan hak ku, kembali." Arkan beranjak dari tempatnya kemudian menjauh dari Maura.


"Pergilah, Maura!" seru Arkan seraya membukakan pintu ruangannya.


"Selagi gue, masih bersikap baik, dan jangan pernah kembali lagi." mendengar pengusiran Arkan, membuat Maura kesal, dan mengepalkan tangannya, kemudian beranjak dari tempatnya.


Gadis iti berjalan ke pintu, dan berhenti tepat di depan Arkan, dan menatap Arkan sejenak, kemudian berlalu pergi.


Arkan menutup pintu ruangannya, dan menarik nafas panjang.


karena hal itu membuat Arkan, jadi tak fokus dengan pekerjaannya


.



Arkan melirik ponsel di sampingnya, dan berpikir untuk menelpon Adara, Arkan pun meraih ponselnya, dan menelpon Adara.


***



drrrrrtttt.....


Adara melirik ponselnya, kemudian meraih ponselnya, di lihatnya nama Arkan, gadis itu tersenyum.



"Hallo!" ucap Adara.


"Dara!" balas Arkan.


"hmm..." gumam gadis itu, seraya memangku dagunya.


"Aku ketempat kamu, ya," ujar Arkan.


Gadis itu sedikit terkejut, gadis itu awalnya bingung harus menjawab apa, namun akhirnya gadis itu kemudian mengiyakan.


sebenarnya gadis itu cukup bingung karena ini lebih cepat dari rencana, Adara sempat berpikir apakah terjadi sesuatu, akhirnya gadis itu memutus kan untuk menunggu sampai Arkan tiba di kantornya.


***



"Kenapa tiba - tiba, kesini?" tanya Adara bingung.


"Emang Aku nggak boleh, kesini?" tanya Arkan, yang masih merangkul dirinya.


"yah...boleh, sih." jawab gadis itu.


"Nah yaudah," Arkan mempercepat langkahnya, sedangkan Adara terkeheh dalam rangkulannya.


****



"Apa semua baik - baik, saja?" tanya Adara, yang melihat ekspresi suaminya yang tampak banyak pikiran, dan kemudian memutuskan menghampiri nya.


karena sebelumnya Arkan membiarkan Adara menyelesaikan pekerjaannya, namun mana mungkin dia fokus kerja, kalau melihat. ekspresi suaminya yang tampak memikirkan sesuatu dengan serius.


"Tadi, Maura datang," ungkap Arkan, gadis itu sedikit terkejut, kemudian menyimak apa yang hendak Arkan sampaikan.


"Aku, nggak mau kamu salah paham, dan____"


"Aku nggak akan salah paham, kok," potong Arkan, kemudian menggenggam tangan Arkan.


"Makasih udah cerita, dan makasih udah jujur." Arkan tersenyum, dan gadis itu pun ikut tersenyum.


"Dan yang terpenting, aku percaya sama , kamu." ucap Adara.



Adara perasaan lega di dalam hati Arkan, karena mendengar ucapan istrinya itu.


Dan akhirnya dia bisa melepas, apa yang sendari tadi membebani pikiran nya.


"Yaampun, kenapa istriku ini, selalu terlihat cantik, ya." puji Arkan.



"Oh, ya?" tanya Adara, dengan senyum tipis di wajahnya.


Arkan menganggukkan kepalanya, seraya tersenyum, jarak wajah mereka sangat dekat, sehingga membuat suasana sedikit panas.


benar saja, Arkan mulai mendekatkan wajahnya, dan hendak mencium Adara, sampai Adara menahannya.


"No!" seru Adara, Adara mendengus kesal, dan menjauhkan wajahnya dari Adara.


cup...


Arkan di buat terkejut saat, Adara mengecup pipinya, dan kemudian menoleh Adara.


"Hehe..." gadis itu cengengesan, Arkan yang gemas dengan istrinya itu, mencubit kedua pipinya dengan gemas, Adara mementang kedua tangan Arkan, dan hendak melepasnya.


"Arkan!" gadis itu menyingkirkan tangan Arkan.


"Nanti kalau melar gimana," dumelnya, seraya memegang pipinya, Arkan meraih tangan Adara, kemudian menggegamnya.


"Masih tetap cantik, kok." gadis itu tersenyum, itu Arkan, dia selalu bisa membuatnya tersenyum.


"Jadi makan?" tanya Arkan, gadis itu mengangguk.


mereka beranjak, Adara kembali ke mejanya dan hendak mengambil ponsel dan tasnya.


Saat gadis itu melirik ponselnya, Adara menoleh ke Arkan, kemudian kembali ke ponselnya.


setelah mengetik kan sesuatu, gadis itu menasukkan ponselnya ke dalam tas, kemudian menghampiri Arkan.


"Ngapain, tadi?" tanya Arkan seraya merangkul Adara.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, kemudian merangkul tangan Arkan, dan membawanya pergi dari ruangannya.


***


di tempat Maura tampak gadis itu berada di sebuah caffe, setelah dari tempat Arkan.


dengan raut masih kesal, gadis itu menatap keluar caffe.


ting.


sebuah notif pesan berhasil mengalihkan pandangannya, dan di raih nya ponselnya, dan membuka notif tersebut.


[ gue denger lo di usir dari kantor suami, gue? ]


[ gimana rasanya? ]


[ udah nyerah ? tau masih dengan keputusan lo, buat ngerebut Arkan dari gue ? ]


gadis itu mengepalkan yang tangannya, dan tatapannya yang tampak tajam dan tampak kesal ke arah ponselnya itu.


***

__ADS_1


Gadis itu tampak memperhatikan Arkan, yang menghadapi hidangannya, dengan raut wajah yang murung.


gadis itu meletakkan tangannya di meja, dan menatap heran suaminya itu.


"Arkan!" panggil Adara.


Laki - laki itu menoleh, ternyata masih sadar, dia pikir panggilannya tidak akan di dengar olehnya.


"Kamu, kenapa?" tanya Adara bingung.


"Dari tadi kamu kayak nggak semangat, gitu," sambungnya.


Arkan menghela nafas nafas berat, dan meraih tangan Adara, gadis itu melirik tangannya, yang kini di genggam olehnya.



Arkan tersenyum, gadis itu menatap bingung ke Arkan, yang sebelumnya tanpak tak semangat, dan sekarang justru tersenyum di hadapannya.


"Bagaimana habis ini, kita jalan - jalan?" tawar Arkan.


"Jalan - jalan?" tanya Adara ulang.


Arkan mengangguk, gadis itu senang saja jalan - jalan bersama Arkan, tapi kenapa tiba - tiba.


***


Arkan membawa Adara untuk melihat laut, tanpa sepengetahuannya, setelah sampai disana tentu gadis itu sangat senang.


"Dara!" panggil Arkan.


Arkan menghadapkan dirinya ke hadapannya, tangannya yang di kedua bahunya, dan tatapannya yang serius.


membuat gadis itu bertanya - tanya.



"mungkin kita akan menghadapi masalah setelah ini, tapi aku mau, selamanya bersama kamu." gadis itu menatap kedua mata Arkan, mencari jawaban yang membuatnya bertanya - tanya.


"Arkan!" panggil Adara.


"hmmm...." gumam Arkan.


"Kamu, kenapa?" tanya Adara bingung.


Arkan diam sejenak, dan itu membuat Adara semakin bingung, dan khawatir.


"Arkan!" panggil Adara sekali lagi.


Arkan menghela nafas berat, dan akhirnya mau mengangkat suaranya, sedangkan Adara menahan air matanya, karena saking kebingungannya.


"kamu tau kan, Maura____"


"Jadi kamu masih kepikiran soal dia?" potong Adara.


Arkan mengangguk, gadis itu diam sejenak, gadis itu faham betul apa yang menjadi dilema suaminya itu, tapi dia juga nggak tau harus bagaimana.


"Muara itu, nggak akan nyerah, sebelum dia dapat yang di mau," ujar Arkan.


"Terus? kamu mau nyerah gitu?" sela Adara, dengan mata berair.


"Justru sebaliknya," simbat Arkan, gadis itu menaikkan sebelah alisnya, dan mencoba mencerna ucapan Arkan.


"Aku mau, apa pun nanti, kita hadapin sama - sama, ya," gadis itu menatap dalam mata Arkan, kemudian gadis itu menggerakkan tangannya untuk meraih tangan Arkan.


gadis itu tersenyum, kemudian memeluk Arkan, dan di balas pelukkan nya.


tak lama Arkan melepas pelukannya, dan mangkup wajah Adara.



cup...


Arkan mengecup pucuk kepala Arkan, sedangkan gadis itu terhanyut dalam suasana yang di ciptakan oleh Arkan.


***



Dilihat dari raut wajahnya, gadis itu tampak bahagia, di balik badan Arkan, yang menggendongnya di belakang, Arkan juga terlihat bahagia di lihat raut wajahnya.


"Dar!" panggil Arkan, seraya menoleh ke belakang.


"hmm..." gumam gadis itu.


"Kok, kamu makin berat, ya," sontak gadis itu mendengus kesal, seraya memukul pelan punggung Arkan.


"Yaudah, turunin kalo gitu," pintanya, dengan nada masih kesal, sambil cemberut.


Arkan hanya tertawa geli, dan masih menggendong Adara di belakangnya, gadis itu tampak heran kenapa Arkan belum menuruninya.


"Kenapa mau turun, emangnya?" tanya balik Arkan.


gadis itu mendengus kesal, saat Arkan bukannya menjawab pertanyaannya, tapi justru bertanya balik ke dirinya.


" katanya aku berat." masih dengan nada sedikit kesal.


Arkan masih terkekeh, dan tetap menggendong Adara di belakangnya.


Adara tampa memperhatikan Arkan yang pandangannya tampak lurus ke depan.


Tanpa sadar, gadis itu menyandarkan kepalanya di punggung lebar Arkan, gadis itu tampak nyaman di punggung Arkan.




mereka pun menghabiskan waktu bersama, hingga tanpa mereka sadari, matahari mulai tenggelam.


kebahagiaan yang berlangsung, tampak berlalu dengan singkat, tapi mereka tampak menikmati waktu mereka bersama.


***



Seorang gadis cantik tengah nongkrong di caffe seorang diri, seraya menikmati pesannya.


"Maaf." ucap seseorang, gadis itu menoleh ke sumber suara, dan menatap bingung laki - laki di hadapannya itu.


"L- Lo, kalau nggak salah temennya Arkan, kan?" tanyanya.


"Temennya Adara, kan?" tanya balik.


Mereka berdua tak menyangka akan bertemu lagi, setelah sebelumnya mereka bertemu, untuk mencari Adara yang waktu itu menghilang.


Bagaimana mereka saling mengenal?


Sebenarnya mereka baru saling mengenal, saat Adara menghilang, saat Adara menghilang, mereka berdua kebingungan harus bertanya dengan siapa.


Akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya dengan mamanya Adara, dan mama Adara menyarankan untuk mengubungi mama Arkan, siapa tau Adara ada di rumahnya.


Dan Mama Arkan meminta tolong dengan kedua sahabatnya Arkan, untuk membantu Arkan, mencari Adara, selama Arkan masih belum bisa di hubungi.


Sebenarnya mereka para orang tua itu ingin marah, tapi setelah mengetahui, semuanya sudah baik - baik saja, mereka memutuskan untuk melupakan masalah tersebut, dan membiarkan itu menjadi masalah rumah tangga anak mereka.


"Boleh gue, gabung?" tanyanya, gadis itu tampak berpikir sejenak, kemudian mengangguk.


"kalau nggak salah, nama lo Shane, kan?" tanyanya ragu, gadis itu mengangguk, seraya tersenyum.


Laki - laki itu pun duduk di depan Shane, tampa dia sadari, dia terpesona dengan kecantikan, dan manisnya senyum Shane.


"Kalau nggak salah, lo Ken, kan?" tanya Shane.


Ken mengangguk kan kepalanya, kemudian tersenyum, Ken tampak begitu memperhatikan Shane, sehingga membuat Shane terheran.


"Lo, sama siapa, kesini?" tanya Ken.


gadis itu menaikkan sebelah alisnya, kemudian mengedarkan pandangan nya.


"Keliatannya?" tanya gadis itu.


"Sendiri." simbat Ken.


"Nah tuh, tau," sela Shane.


suasana sedikit akward membuat, Ken berpikir keras untuk mencairkan suasana, sehingga dia memanggil waiters, dan kemudian memesan makanan.


setelah mencatat pesanan Ken, waiters itu pergi, dan suasana kembali menjadi akward.


"Gue, nggak nyangka, sahabat gue, nikah sama sahabat, lo," ujar Shane.


ucapan Shane tersebut, akhirnya mencairkan suasana, yang awalnya akward.


"Gue, juga nggak nyangka, gue pikir semuanya cuma candaan, tapi ternyata bukan." simbat Ken.


"Temen lo, bisa di percaya, kan?" tanya Shane dengan nada dingin.


Ken menaikkan sebelah alisnya, dan menatap bingung Shane.


"Maksud, lo?" tanya Ken, yang tak mengerti dengan maksud Shane.


"Temen lo, nggak akan nyakitin, sahabat gue, kan?" tanya Shane, dengan nada serius.


"ya, enggak lah, dia sayang banget lagi, sama bininya itu," bela Ken.

__ADS_1


"Bagus, deh," sahutnya, gadis itu mulai menyeruput minumannya, dan mengalihkan pandangannya.


"Shane!" panggil Ken.


"Hmm..." gumam Shane, seraya menoleh ke Ken.


"L- lo udah ada pasangan?" tanya Ken dengan nada ragu.


"Ha?! Apa?!" Mata gadis itu melongong, gadis itu sedikit terkejut, mendengar pertanyaan yang terlontar dari Ken.


****



Di tempat lain, seorang gadis cantik, tampak tengah menunggu seseorang, dengan pandangan beralih ke keluar.


"Maura!" panggil seseorang.


Gadis itu menoleh ke sumber suara, kemudian gadis itu tersenyum, hingga laki - laki yang di tunggunya itu ada di hadapannya, gadis itu membenarkan posisinya sebelum nya.


"Jadi ada apa lo, tiba - tiba nelpon, gue?" tanyanya dengan nada serius.


"Ayolah, Kean!" seru gadis itu.


"Sejak kapan lo jadi, to the point, gini?" tanya gadis itu heran, dengan nada santai.


"Ck, ada apa?" tanya Kean, tampak tak ingin basa - basi.


"Ok, tampaknya lo nggak mau basa - basi, ya," gadis itu merogo tas di dekatnya, kemudian mengambil sesuatu di dalamnya, kemudian menyodorkan nya di depan Kean.


"Apa maksudnya ini?" tanya Kena tak mengerti, sembari melirik foto di hadapannya itu.


"lo, kenal cewek di dalam foto, itu kan?" tanyanya dengan nada serius, Kean menatap bingung Maura.


Kean benar - benar bingung dengan maksud dan tujuan Maura, menunjukan foto itu di hadapannya.


***


"lo, mau apa sebenernya dari, gue?" tanya Kean, dengan tatapan bingung.


gadis itu terkekeh, kemudian mendekat kan wajahnya dengan Kean, kemudian berkata.


"Gue, mau lo bantu gue, ngehancurin rumah tangganya," setelah mengatakan apa yang dia mau, gadis itu pun menjauhkan wajahnya, kemudian kembali menatap wajah Kean seraya melipat kedua tangannya.


Kean terdiam, dia sedikit terkejut dengan permintaan Maura, dan dia tak menyangka Maura akan meminta hal tersebut darinya.


Kean kembali menatap foto yang di sodorkan oleh Maura, foto itu adalah Adara, wanita yang sangat dia kenal.


Dan baru saja Maura meminta kepadanya, untuk menghancurkan rumah tangganya, semua seperti berputar di kepalanya, dan membuat kepalanya sedikit sakit.


***


Pagi ini Arkan terbagun dari tidurnya, dengan melihat ekspresi Adara yang tampak murung di wajahnya, dan hal tersebut membuatnya heran.


"kamu kenapa, sayang?" tanya Arkan, seraih mengais rambut Adara yang sedikit mengalingi wajahnya, kemudian menyikapkannya ke balik telinganya.


"Arkan!" seru gadis itu, seraya menoleh ke Arkan, tatapan gadis itu sayup, melihat hal tersebut membuat Arkan semakin tak mengerti.


Tanpa berkata apa - apa, gadis itu mendekat dan menggelamkan wajah nya ke dada bidang Arkan, dan memeluknya erat - erat.


"eh?" Arkan hanya tersentak kaget melihat tingkah istrinya itu, kemudian membalas pelukkannya.


"Dar, kamu nggak papa?" tanya Arkan khawatir.


"Nggak, aku cuma habis mimpi buruk aja," lirihnya di peluk kan Arkan.


"Mimpi buruk?" tanya Arkan, gadis itu hanya mengangguk pelan, kemudian mengerat kan pelukkannya.


***


"Arkan!" panggil gadis itu dari bawah.


"Ya!" sahut Arkan dari atas, kemudian buru - buru menuruni anak tangga.


setelah menuruni anak tangga, Arkan langsung menghampiri Adara, yang kini berdiri di hadapannya.


"Kamu, yakin udah nggak, papa?" tanya Arkan, dengan tatapan khawatir.


Gadis itu tersenyum sambil mengangguk kan kepalanya, Arkan membalas senyuman Adara, kemudian mengusap kepala Adara.


"Kita berangkat, sekarang?" tanya Adara, dengan nada lembut, dengan senyum yang masih tersimpul di wajah nya.


Arkan mengangguk, kemudian Arkan merangkul Adara pergi.


***


08 : 00 Adara tiba di kantornya, tampak semua karyawan yang melihat kedatangan Adara, membungkuk memberi hormat, kemudian kembali melanjutkan pekerjaan mereka.


Dari kejauhan tampak seorang karyawannya menghampirinya, sontak Adara menghentikan langkahnya.


"Selamat pagi, buk!" sapanya, seraya membungkuk memberi hormat.


"Pagi!" balasnya.


Gadis itu tampak memperhatikan, karyawannya itu yang tampak ragu - ragu.


"Ada masalah, apa?" tanya Adara penasaran.


"A-anu buk, di ruangan ibuk, ada wanita yang sedang menunggu, ibu," ungkap gadis itu dengan kepala tertunduk.


Adara sedikit terkejut mendengar hal tersebut, memangnya siapa yang datang ke kantornya ke sepagi ini.


"Apa? siapa?" tanya Adara dengan nada mulai sedikit meninggi.


"A-anu buk, maaf kita sudah melarangnya, karena dia belum buat janji temu sebelumnya, tapi dia terus memaksa kemudian menerobos, kalau tidak salah namanya, Maura!" gadis itu bicara panjang lebar, mendengar nama Maura, Adara langsung ke ruangannya.


Dengan raut wajah mengkerut gadis itu, berjalan cepat ke ruangannya, dan tanpa ragu langsung masuk ke ruangannya.


Setelah masuk ke ruangannya, gadis itu melihat Maura yang tampak duduk di kursi tamu dengan ekspresi santai.


"Ada perlu apa, lo sampai ke kantor, gue?" tanya Adara dengan nada dingin.


Gadis itu menoleh ke sumber suara, di lihatnya Adara dengan raut wajah mengekrut, gadis itu menyimpulkan senyum di wajahnya, dan menatap Adara dengan raut wajah menantang.


"Kalau masang ekspresi kayak gitu, entar cepat tua loh," sindir Maura, dengan senyum sinis dingin di wajah nya.


Adara memutar bola mata malas, kemudian berjalan ke meja kerjanya, meletakkan tasnya ke meja kerjanya, kemudian kembali ke Maura.


"Lo, mau apa?" tanya Adara dengan nada dan tatapan dingin.


"Lo, tau gue paling nggak suka, basa - basi." sambungnya.


Maura terkekeh, Adara melihat gadis itu berdiri, kemudian menghampiri dirinya.


Gadis itu mendekatkan wajahnya ke telinga Adara, kemudian berbisik.


"Gue, udah nggak tertarik lagi soal, Arkan!" Adara sedikit terkejut mendengar hal tersebut, dan setengah tak percaya.


Adara masih diam, dan memilih mendengarkan apa yang sebenarnya ingin Maura sampaikan.


"Tapi...." ucap gadis itu terpotong di telinganya, membuat dirinya melotot, dan menebak akhir dari ucapan Maura.


"Gue, nggak akan biarin, orang yang membuat hidup gue berantakan dan merenggut orang yang gue sayang, hidup dengan tenang," gadis itu terkejut, entah kenapa mulutnya tak bisa bersuara untuk membalas ucapan Maura kali ini, dan hanya diam.


Maura menjauhkan wajahnya, dan memasang senyum di wajahnya saat menatap dirinya


Hanya menahan kekesalannya di dalam


hatinya, dan mengepalkan tangannya, tampak Maura memperhatikan Adara yang mengepalkan tangannya.


Maura tersenyum, kemudian meraih tasnya, Maura berpamitan dengan Adara yang mematung dengan tatapan hendak marah kepadanya, kemudian melenggang pergi meninggalkan ruangannya.


Adara yang masih shock dengan yang terjadi barusan, dengan langkah yang lemas, Adara duduk di kursi tamu di ruanganya itu, seraya mengepalkan tangannya.


***


Di kantor Kean, tampak Kean sedang memperhatikan foto Adara bersama Arkan.


Dia tampak masih memikirkan permintaan Maura, yang memintanya untuk menghancurkan rumah tangga Adara dan Arkan.


Maura juga mengatakan kepada dirinya,


juga bisa mendapatkan Adara kalau dirinya bisa memisahkan mereka berdua.


Entah Maura tau dari mana soal perasaannya untuk Adara, yang pasti Maura pasti sudah mencari tau sebelumnya.


Dan sekarang dirinya di hadapi delema, apakah dia akan mengikuti rencana Maura, atau justru sebaliknya.


Kean tampak begitu mempertimbang kannya, sambil menatap foto Adara bersama Arkan, mereka berdua tampak begitu bahagia.


Dan apakah dia yakin akan menjadi alasan, mengapa kebahagiaan di keduanya itu menghilang.


🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼


Hai gimana ceritanya, semoga suka ya, maaf lama updatenya, tapi semoga kalian tetap tertarik buat baca cerita ini, ya.


kalau ada masukkan silakan comen di bawah, author tunggu masukkannya.


jangan lupa like and comen, vote and review nya juga ya.


oh, ya author sekarang bakal usahain bakal update tiap hari, bahkan double update.


Jadi terus pantengin setiap cerita author ya, pasti author berusaha membuat ceritanya semakin menarik untuk di baca.

__ADS_1


dan terimakasih buat dukungannya selama ini, dan buat masukkannya itu sangat membantu untuk membuat cerita ini semakin menarik lagi.


ok, see you


__ADS_2